
..."Orang orang yang saling mencintai dengan keagungan-ku, bagi mereka menara dari cahaya, para nabi dan syuhada iri dengan mereka."...
...-Saling mencintai karena keagungan Allah-...
...BSJ 54 : Bumu Rindu Ayamu...
...🕊🕊...
Cuacana yang tak bersahabat pagi ini. Dari kemarin malam bumi tanah air di guyur hujan tanpa henti. Menyisakan awan kelabu juga suasana dingin yang menyelimuti. Seorang wanita cantik berhijab syar'i, baru saja memarkirkan kendaraan roda dua kesayanganya. Kendaraan hemat polutan yang sudah dua tahun belakangan rutin mengantar jemputnya. Ia selalu menolak jika diantar jemput oleh supir, menurutnya bersepeda lebih nyaman dan efisien.
Dengan langkah ringan diiringi lantunan salawat nabi dari bibir mungilnya. Wanita berpenutup wajah itu melangkahkan kakinya menuju lobby tempatnya bekerja. Sapaan para OB juga OG tak jarang menghampirinya. Terlebih lagi pak Sarimin-penjaga cafetaria yang rutin memberikan tumpukan hadiah atas nama Dr.Aurra P Haidan. Wanita cantik berhati mulia itu memang memiliki banyak penggemar.
Semua itu datang atas kemuliaan hatinya.
Sebagian besar gajinya setiap bulan, ia rutin donasikan untuk pasien pasien yang membutuhkan. Bahkan Aurra turut serta menjadi Donatur dengan sumbangan terbesar untuk membangun panti asuhan dan panti jompo.
"Assalamualaikum, selamat pagi bumil."
Wanita cantik itu tersenyum di balik penutup hijabnya, sebelum membalas sapaan wanita paruh baya dihadapanya.
"Waalaikumsalam, selamat pagi juga ibu."
Ujarnya ramah.
"Ya ampun, ini bumil kapan gemuknya ya? Kok lagi hamil badanya kecil terus." Ujar wanita paruh baya yang datang membawa beberapa paper bag tersebut.
"Ini juga sudah gendutan ibu." Aurra tidak berbohong, memasuki bulan kedua di kehamilanya, dia merasa nafsu makanya mulai bertambah.
"Waah, itu bagus toh. Udah berapa bulan usia kandunganmu dek?" Tanya sambil mengelus perut rata Aurra di balik gamis longgarnya.
"Dua bulan sekarang ibu."
"Sehat sehat selalu ya bumil sama dedek bayinya. Ini, ibu ada oleh oleh untuk kalian."
Wanita paruh baya itu memberikan salah satu paper bag-nya. Memang kebiasaaan wanita ini, jika pulang dari suatu tempat pasti karyawan kepercayaan suaminya di beri oleh-oleh.
"Tidak usah repot repot ibu." Tolak Aurra.
"Tidak tidak, ibu tidak merasa repot. Ambil ini, ini khusus untuk kalian." Ujarnya sambil menyerahkan paper bag tersebut kepada Aurra, memaksa.
"Kalau begitu terimakasih ibu, sudah repot repot memberi buah tangan."
"Ibu saja tidak repot, jadi tidak usah sungkan. Sehat sehat ya bumil, udah gak sabar ibu nunggu lahiran."
Aurra mengangguk ramah. Beliau adalah istri direktur utama rumah sakit ini. Wanita paruh baya yang baik hati juga penyayang. Pantas saja putranya-Dokter Andre juga tumbuh menjadi pribadi yang baik hati dan berbudi luhur. Selain Aurra memang ada beberapa perawat dan dokter wanita yang tengah hamil. Namun entah mengapa, seakan-akan Aurra lah yang selalu dinanti nanti momen kelahiranya.
"Waktunya kamu temani bunda kerja ya baby, karena ayah juga sedang kerja disana." Gumamnya kecil sambil mengelus perut ratanya yang mulai berubah seiring dengan berjalanya waktu.
Van'ar sang suami memang tidak pulang hampir satu bulan ini. Terakhir kali berkomunikasi pun pada dua minggu yang lalu. Sebagai seorang istri, sudah sepatutnya Aurra menjaga kesetianya walaupun suaminya tengah bertugas. Diberi jarak puluhan kilo meter jauhnya, tidak membuat cinta itu meragu atau meredup. Di setiap sujudnya, selalu ada nama sang suami. Selalu ada doa untuk keselamatanya di manapun ia berada.
Karena ini adalah jalan kisah cinta mereka.
Dua profesi yang saling bertolak belakang. Cara sang suami mengabdi berbeda denganya, begitu pula dengan dirinya. Tetapi di hati tetaplah sama, tujuan mereka mengabdi untuk hajat orang banyak. Biarlah jarak membentang sejauh apapun, selama keduanya saling berpegang teguh kepada takdir sang ilahi. Biarlah tak bertemu rindu sekalipun, karena semua itu tak akan mengurangi apapun. Cinta mereka tulus karena ilahi, oleh karena itu hanya akan terputus oleh maut yang menjemput.
"Ini udah berapa minggu sih Ra? Kok buncitnya udah lumayan ya?" Tanya wanita cantik berdress floral yang di lapisi snelli dokter tersebut.
"Tujuh minggu, minggu depan delapan minggu. Kan kamu dokter kandungan aku Ni?" Wanita berambut sepinggang itu terkekeh.
"Ngechak doang Ra. Kamu masih sering mual?"
Wanita berhijab itu menggeleng. Sejak awal ia memang tidak mengalami semua itu, karena suaminyalah yang mengalami semua itu.
"Enggak,kan mas Van'ar yang sering mual."
__ADS_1
"Hm, kasian ya mas mas suamimu. Udah nugas di luar kota, mana sering mengalami morning sickness. Pasti berat tuh." Adnia benar, Van'ar pasti mengalami kesulitan. Belum lagi suaminya itu sering mengeluh mual dan pening. Tetapi bagaimana lagi, semua itu hanya gejala ringan bagi suaminya. Karena, Aurra tahu bagaimana tipikal prianya itu.
Selama hamil dan suaminya pergi dinas, Adina rutin sekali mengajak Aurra jalan-jalan di sela sela waktu luang mereka. Adinia memang belum kepikiran untuk hamil, wanita itu sudah setuju untuk menunda memiliki momongan seperti usulan sang suami. Sedangkan ketika pulang ke rumah, Aurra yang kini tinggal dirumah keluarga suaminya lebih banyak beraktifivitas di luar ruangan. Seperti bercocok tanam, berkebun, membaca, membuat kue, hingga berjalan jalan santai di sore hari.
Mengingat kakak iparnya itu sudah pulang ke mansion keluarga Radityan, Aurra sebisa mungkin menjaga interaksi antara ia dan Anzar. Pria itu terkadang sering memperhatikan Aurra ketika berkebun, tetapi Aurra tidak pernah menanggapinya. Aurra sendiri sering meminta Zega dan tunanganya untuk bermain kerumah keluarga besar Radityan untuk menemaninya dikala bosan.
Jujur Aurra kesepian tinggal di rumah besar itu. Tetapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk menghibur dirinya. Bahkan, kaki kakinya sudah gatal ingin segera menjajal tanjakan pegunungan yang dirindukanya. Belum lagi Zega-adiknya sering sekali mengiming-ngimingi view beberapa tempat mendaki yang indan nan menakjubkan.
"Ihh, ini mah baper tingkat dewa kalau nonton teh." Gerutu wanita cantik berdress floral tersebut.
Ia gemas sendiri ketika menonton untuk kesekian kalinya, drama Descendents Of The Sun. Di mana peran utamanya adalah seorang dokter wanita yang berpasangan dengan seorang kapten tentara. Drama romansa Action itu sering kali membuat dirinya baper sendiri.
"Ini mah kayak kamu di dunia nyatanya Ra?"
Komentarnya saat salah satu soundtrack flim tersebut diputar.
"Apanya Na?"
"Kisahnya, mas mas suamimu kan tentara. Ganteng lagi, kek Kapt Yo si jin. Kita tukeran peran yuk Ra!" Candanya garing.
"Astagfirullah haladzim, ada ada saja kamu Na."
Ralat Aurra, wanita yang tengah sibuk melipat baju tersebut.
Adnia memang tengah menemani Aurra. Tadinya sepulang dari rumah sakit, wanita itu ingin mengajak Aurra shopping. Tetapi urung dilakukanya karena bumil satu ini tidak mau. Jadilah kini Adnia bermain di mansion Radityan hingga suami tercintanya menjemput nanti.
"Suami gantengmu kapan pulang Ra?" Tanya Adnia penasaran.
Aurra melirik tak suka. "Ettt, sabar bumu. Cuma nanya." Adnia ini memang wanita yang suka iseng. Sipatnya yang humoris terkadang membuatnya memancing masalah baru.
"Kasian aku tuh, suamimu kan kayak jelmaan bang toyyib. Jadi aku kaciaan sama calon keponakanku ini." Ujarnya sambil mengelus perut Aurra.
Aurra tersenyum kecil, ada ada saja memang sahabatnya ini. Tetapi karena adanya Adnia juga, keseharianya tidak terlalu membosankan.
Tin
Tin
"Kalau gitu aku pamit dulu ya bumil." Aurra mengangguk kecil, sebelum mengantarkan sahabatnya hingga kedepan rumah.
Sepeninggalan Adina, Aurra mulai menyimpan baju baju yang sudah rapih ia lipat. Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas. Rumah megah ini terasa sepi, karena tuan rumahnya tengah berada di luar kota. Sedangkan putra sulungnya ada di kamarnya, juga putri bungsu keluarga ini yang tengah sibuk bekerja didepan laptopnya.
"Hmm, Bumu rindu Ayamu." Lirihnya saat melihat fhoto keluarga yang diambil saat mereka menikah dahulu.
Terpangpang besar di dinding khusus fhoto Keluarga. Suaminya nampak gagah berbalutkan seragam kebangganya kala itu. Dengan senyum kecil, Aurra memutuskan untuk pergi kedapur. Ia tiba tiba ingin memakan mangga muda malam malam begini. Seingatnya mbak Asih masih menyimpan persedian mangga muda di lemari pendingin. Namun belum sempat ia mencapai lemari pendingin, dia sudah di kagetkan dengan sosok lain yang tengah sibuk dengan penggorengan. Walaupun Aurra tahu dari gerakan pasifnya, ia tengah kesulitan.
"Mas sedang apa?" Tanyanya mengejutkan pria tampan berkaos hitam polos tersebut.
"Masak mie." Ujarnya kikuk, ia tahu adik iparnya itu juga merasa kurang nyaman denganya.
"Mas lapar? kenapa tidak panggil bibi?"
Tanya Aurra melihat berbagai macam mie dan sayuran ada diatas meja.
"Bibi Asih sudah tidur, saya tidak mau menganggu." Ujarnya mencoba sedatar mungkin.
Aurra mengangguk mengerti, sebelum akhirnya ia mendekat kearah pantry.
"Mie tidak baik untuk kesehatan organ pencernaan mas yang masih belum stabil. Biar Aurra masakkan makan malam yang lebih sehat, mas tunggu saja di meja makan."
Anzar-pria tampan itu tidak berniat menolak. Ia akui, ia kesulitan bergerak dengan kondisi tanganya yang belum sembuh total. Belum lagi hatinya mencelos, saat adik iparnya ini terlihat membatasi interaksi mereka.
"Terimakasih." Ujarnya lirih sambil berjalan menuju meja makan, sesuai intruksi adik iparnya.
__ADS_1
Dari sana ia bisa melihat, punggung kecil itu sangat cekatan memasak. Tanganya dengan aktif memotong sayuran, mengiris, juga mengaduk masakanya di dalam panci.
Hati kecilnya kembali terasa di tampar, lagi. Adai, dahulu ia tidak gegabah karena buta akan cinta. Mungkin tidak akan seperti ini ujungnya. Wanita cantik dan baik hati itu pasti akan menjadi istrinya. Tetapi, ia juga sadar jika Aurra terlalu baik untuknya yang penuh dosa. Dilihat dari segi manapun, adiknya Van'arlah yang memang cocok bersanding denganya.
Anzar sudah tahu, perkara kebodohanya yang membuat omanya kecewa hingga akhir hayatnya. Malu yang harus ditanggung orang tuanya, hingga pengorbangan besar dan aksi heroik sang adik menyelamatkan segalanya. Awalnya Anzar pikir Van'ar terpaksa melakukan semua ini, saat mendengan ceritanya dari adiknya-Lunar. Namun faktanya, dirinyalah yang telah menghancurkan harapan adiknya akan cinta pertamanya. Dari sudut pandang manapun memang dia lah yang bersalah. Cinta membuatnya buta dan mudah diperalat oleh rasa itu sendiri. Kini, ia menanggung segala konsekuensinya sendiri.
"Silahkan dinikmati mas, selagi panas."
Aroma harum dari sayuran berkuah bening itu menguar, menggoda indra penciumanya.
Semangkuk soun dengan kuah bening diisi beberapa jenis sayuran, seperti bayam, oyong, juga wortel terlihat disana. Ada pula bakso bakso kecil, irisan seledri dan taburan bawang goreng yang ikut melengkapinya. Sayuran yang bahkan sudah Anzar lupa akan rasanya.
Sepiring nasi juga tersimpan di hadapanya, kuah mengepul dari soup itu menggugah selera makanya.
"Terimakasih." Ujarnya senang, setidaknya hubungan canggung diantara mereka, tidak mengurangi sisik baik dihati adik iparnya.
Wanita berhijab syar'i dengan penutup wajah itu mengangguk. Sebelum dirinya beranjak mengambil dua buah mangga muda dari lemari pendingin, mencucinya lalu mengupasnya. Meletakkan daging buah kekuning itu di atas piring, lalu mengulek sambel untuk pendampingnya. Senyum sumringahnya terbit saat makanan yang diinginkanya terhidang di hadapanya.
Diam-diam semua itu tak luput dari manik Van'ar. Ia tersenyum kecil melihat kebahagiaan di mata indah adik iparnya. Sederhana saja, hanya karena ngidam mangga muda. Wanita itu bisa sebahagia itu, apakabar dengan suaminya yang tengah bertugas. Dia tetap menjadi istri juga calon ibu yang mandiri.
"Jika sudah selesai makan, piring kotornya dicuci. Sisa makananya bisa dimasukkan kedalam lemari pendingin."
"Hm." Anzar merespon sedikit, kemudian wanita itu berlalu dengan sepiring mangga muda yang dibawanya.
----
Dengan hati riang Aurra menikmati daging mangga asam tersebut. Bibir ramun dengan warna alaminya terlihat mengunyah hidmat. Di tengah tengah kunyahanya, air matanya lolos tanpa diminta.
"Hiks....."
"Hiks....."
Isakan kecil mulai lolos dari bibirnya, ia teringat akan suaminya. Ia rindu suaminya, pemilik tubuh pelukable itu, suami tercintanya.
"Kamu mau Ayah nyanyiin lagu Everytime ya baby, hiks..." Lirihnya sambil terisak kecil memeluk perutnya sendiri.
Entah mengapa tiba tiba mood-nya turun dan ia menjadi teringat sang suami. Ia ingin sekali suaminya itu pulang dan menyanyikan lagi Everytime, Ost Descendents Of The Sun untuk mengantarkan tidurnya. Ia tidak tahu, pokoknya ia ingin suaminya menyanyikan lagu itu untuk menghantarkan tidurnya. Lama terisak, akhirnya bumil itu tertidur di sofa karena kelelahan.
"Bumi..... rindu Ayamu." Lirihnya dalam tidurnya, satu bulan tak berjumpa. Entah mengapa ia sangat merindukan sosok sang suami.
Cup
"Ayamu juga rindu bumu." Ujar suara nge-bass itu setelah mengecup singkat kening wanita di hadapanya.
Aurra menerjapkan matanya, rasanya sang suami terlihat amat nyata hadir di hadapanya. Mengecup keningnya sayang sambil mengelus perutnya.
"Mas...."
â–¡â–¡â–¡â–¡â–¡
To Be Continue
Met pagi guyss😄😄
Update lagi nih, hayooo ada yang mau bantu Bumu gak? ngidam rindu Ayamu buat nyanyi.
Terus Anzar baiknya gimana ya, sementara Logan masih berkeliaran🤔🤔
Yoo, jangan lupa like🖒komennn💬 dan votee💯💯
Sukabumi 09 Juni 2020
08.33
__ADS_1