Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 59 : Cerita Karma is Real


__ADS_3

...اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن .....


...“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim)....


...BSJ 59 : Cerita Karma is Real...


...□□□□...


Cerahnya mentari pagi, tak sempat kembali membawa senyuman bagi wanita cantik satu ini. Tubuhnya yang tengah berbadan dua, beberapa kali ambruk kelantai pasca dirinya mengetahui sebuah fakta tentang sang suami. Setelah sadar dari pingsanya, dia tahu tahu sudah berada di New York. Di berondong dengan berbagai pertanyaan tentang pekerjaan suaminya, kehidupan mereka, transaksi haram yang sering di lakukan suaminya, hingga orang orang yang bekerjasama denganya. Pertanyaan pertanyaan yang ia sendiri kurang tahu jawabanya.


Setalah lebih dari lima jam diintrogasi, wanita cantik itu tak bisa lagi menahan tangisnya. Semua kejahatan suaminya telah dibeberkan. Dari transaksi barang haram, penjualan budak dari berbagai negri, pembunuhan berencana, percobaan pembunuhan hingga penculikan. Ada dua nama yang paling ia kejutkan diantara banyaknya korban kejahatan sang suami.


Pertama, Jeo Alwind Dedora-wanita berusia 32 tahun yang berprofesi sebagai manager dirinya. Wanita berambut pirang itu di kabarkan hilang lima bulan yang lalu, sehari setelah ia terlibat cekcok dengan suaminya. Pasalnya Joe-yang notabenenya sudah seperti kakaknya sendiri menentang pernikahanya dengan pria brengs*k seperti suaminya. Yang menyakitkanya lagi, ternyata suaminya itu adalah dalang dari menghilangnya Joe. Dengan sadis Logan menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh dan membuang jasad Joe ke tempat yang jarang tersentuh oleh manusia.


Yang kedua, Keevanzar Radityan Al-Faruq-mantan kekasih hatinya, yang rela ia tinggalkan demi menjaga keselamatanya. Siapa sangka, Logan-pria itu malah melakukan percobaan pembunuhan kepada pria yang masih dicintai oleh istrinya. Nyawa Anzar memang selamat, tapi akibat insiden itu pria tampan berkebangsaan Indonesia itu harus jatuh koma berbulan bulan lamanya.


Sambil memeluk perut buncitnya, wanita dengan dress rumahan itu terisak pilu. Statusnya kini masih sebagai saksi, dan sewaktu waktu bisa berubah menjadi korban. Mengingat penganiyaan dan penyekapan yang di lakukan suaminya secara tidak langsung telah membahayakan nyawanya.


Pria itu sendiri terancam hukuman kurungan penjara seumur hidup, dengan denda triliunan juta beserta seluruh asetnya akan disita. Atau kemungikinan terburuknya adalah hukuman mati bagi kejahatanya yang amat fatal dan melanggar banyak hukum internasional.


Sambil memeluk perut buncitnya dan menangis, dia mencoba menjawab semampu mungkin pertanyaan yang diajukan untuknya. Setelah mengetahui apa yang menimpa putrinya, orang tua Nata langsung terbang ke New york untuk menjemput sang putri. Nata sempat jatuh pingsan akibat shok berat, hingga menunda jadwal introgasi. Setelah selesai dengan urusan ke polisian, Leena-ibu Nata meminta sang suami untuk mengurus segalanya.


Hari itu juga gugatan cerai di layangkan. Hari berikutnya, kedua orang tua Nata membawa wanita yang akan merangkap status single parents tersebut kembali ke kampung halamanya. Bukan lagi tanah di negeri kincir angin, melainkan tanah di negri gingseng. Tempat di mana Nata remaja di besarkan, dan tempat di mana dia akan menjadi single parents untuk membesarkan buah hatinya kelak.


Karma terlalu nyata dan cepat menghakimi.


Selama masih di New york hingga tiba di Busan, tak henti hentinya banyak nomer wanita tak di kenal meminta pertanggung jawaban suaminya. Entah benar atau tidaknya, mereka mengaku telah hamil benih dari suaminya. Nata ingin untuk tidak mempercayai itu, tetapi ia tahu sendiri kebej*tan suaminya yang suka menabur benih di mana-mana.


Sekali lempar, dua pulau terlampau. Rasa rasanya cukup untuk mengambarkan getah yang mengimbas kepadanya. Ia hamil dan akan membesarkan buah hatinya sendiri. Kariernya hancur, beriringan dengan issue panas tentang tertangkapnya sang suami sebagai ketua mafia yang di buru berbagai negara. Hatinya sakit, menerima takdir karma yang datang tiba tiba.


Tanpa diduga, juga di rencana. Ia harus siap menghadapi semua kenyataan pahit ini.


"Dear, I need you." Lirihnya ketika netranya mengingat satu sosok.


□□□□


"Mas makan dulu, itu ada makan siang istimewa." Ajak pak Ahmad kepad pria tampan yang tengah menyeka banjiran peluh di pelipisnya.


"Makanan istimewa?" Bingung pria tampan yang tengah berkutat dengan toilet kotor tersebut.


Keevanzar Radityan Al-faruq-pria itu sudah terbiasa dengan pekerjaan yang di lakoninya selama seminggu ini. Berangkat menggunakan trans Jakarta di pagi hari, pulang menjelang malam dengan tubuh bau keringat menggunakan kendaraan umum yang sama pula. Terbiasa di beri uang saku seratus ribu rupiah, makan dengan seadanya di siang dan malam hari jika dirinya lembur. Terbiasa dengan sikap lapang dada jika sengaja di perintah berulang kali. Semua itu dilakoninya dengan sesabar mungkin, demi memupuk rasa empatinya yang tinggi suatu saat nanti. Karena semua ini proses, untuk mengembalikan jati dirinya sebagai putra seorang Radityan.


"Iya mas, setiap Jum'at siang ada makanan istimewa dari si nona baik hati." Jawab pak Ahmad menuturkan.

__ADS_1


"Nona baik hati?"


"Iya. Itu loh, adik iparnya mas Anzar."


Deg


Pria berseragam office boy itu refleks berhenti dari kegiatan bersih bersihnya.


"Hampir setiap jum'at pagi atau siang, non Aurra nganterin nasi kotak untuk staf OB atau OG disini." Tutur pak Ahmad.


"Yasudah mas, ayo istirahat dulu." Anzar mengangguk sebagai jawaban.


Sampai di tempat para office boy makan siang, netra tajamnya di suguhi pemandangan yang membuat hatinya kembali merasa bersalah, karena telah menyakiti sosok sebaik wanita hamil itu. Di sana, dia tengah membagi-bagikan nasi kotak bersama teman teman sejawatnya.


Wanita berhijab syar'i yang tengah berbadan dua itu terlihat sangat ramah membagikan nasi kotak bawaanya, tanpa merasa jijik atau minder sedikitpun.


Sesekali Anzar bisa melihat wanita cantik itu mengangguk kecil, sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit. Andai saja, kebodohanya kala itu tidak membutakan mata dan menulikan telinganya. Pasti sekarang ini wanita itu menyandang status sebagai nyonya Keevanzar bukan Keevan'ar. Mengandung buah hatinya, bukan calon keponakanya. Namun berandai-andai saja tak akan membuat semua mimpinya terealisasikan, jika sudah ada takdir yang ambil bagian di dalamnya.


Dengan langkah kecil ia berjalan mendekat. Ia juga ingin makan makanan yang katanya di masak langsung oleh tangan wanita solihah di hadapanya.


"Mas, geli ih." Namun baru saja dua langkah, kakinya mematung di tempat.


"Abis mas gemas, dek."


Dengan langkah tegap, pria yang lima tahun lebih muda darinya itu tak sungkan menyalami pak Ahmad. Menyapanya tanpa pandang kasta, mengajaknya mengobrol seperti keluarga sendiri, kemudian ikut membagikan kotak nasi untuk makan siang bersama istri tercintanya.


Hati kecilnya berdenyut nyeri, seakan akan ada taburan garam menekat luka di ulu hatinya. Luka yang memang dibuatnya sendiri. Tak tahan dengan keadaan romantisme pasangan baru di hadapanya, Anzar memilih berlalu. Meninggalkan ruangan itu sambil membawa luka penyesalan yang menganga dihati.


Hingga kaki yang berjalan tanpa arah itu sampai di sini. Di taman yang di dirikan di samping perusahaan Radityan crop's. Taman yang di bangun mengusum tema Keluarga bahagia, lengkap dengan patung satu kekuarga yang amat bahagia bersama dua putra dan satu putrinya. Seperti gambaran keluarganya sendiri, sebelum kebutaan yang di sebabkan oleh cinta membuatnya gelap mata, dan menjauhkan dia dari keluarganya.


Anzar sadar kesalahanya amàt fatal, dan benar adanya penyesalan selalu datang di akhir. Kini ia menyesal, amat menyesal malah. Ia juga tengah mencoba untuk memperbaiki semuanya kini, walaupun tidak bisa ia kembalikan secara utuh seperti sedia kala.


"Mas, ngelamunin apa?" Suara lembut yang berasal dari hadapanya itu berhasil membuyarkan lamunanya.


Manik tajamnya mendongrak, menemukan siluet wanita cantik berkemeja putih dengan bawahan rok span berwarna peach tengah berdiri sambil menengteng sebuah paperbag yang cukup besar.


"Mas ngapain ngelamun sendiri di sìni?" Tanya si pemilik manik menenangkan tersebut.


Anzar memang sudah terbiasa dipanggil 'mas' oleh wanita cantik dihadapanya, dari pada harus dipanggil 'tuan muda' olehnya. Sejak beberapa minggu kebelakang, persahaatan mereka mulai akrab seiring dengan berjalanya waktu.


"Aku bawain mas makan siang. Belum makan kan?" Tanyanya yang dijawabi gelengan oleh Anzar.


Gadis cantik itu mengembangkan senyuman manisnya. Lalu ia mengambil tempat duduk di samping Anzar. Mulai mengeluarkan isi dari paperbag yang di bawanya dengan telaten.

__ADS_1


Menyodorkan sebotol air mineral kepadanya.


"Cuci tangan dulu, aku bawa sendok kok. Tapi tangan mas harus bersih." Ujarnya yang dijawabi anggukan oleh Anzar.


Satu kotak nasi merah dengan lauk berupa potongan empal sapi goreng, sambel merah ulek, serta tumis samur mayur seperti buncis, wortel, jagung dan brokoli ikut mengisi wadah makanya. Wanita cantik ini memang sering beberapa kali membawakanya makan siang atau sekedar sarapan pagi. Jadi ia sudah cukup hafal dengan cita rasa makananya yang tak kalah lezat dari bundanya.


"Kamu gak makan?" Bukanya menjawab, wanita cantik itu malam menggeleng sambil tersenyum.


"Kenapa?"


"Kenyang." Jawab wanita cantik bernama Airra tersebut.


Gadis yatim piatu yang sudah dua belas tahun hampir tiga belas tahun ini tinggal sebatang kara dalam garis kemiskinan. Dengan kejeniusan otaknya, Airra bisa berkuliah di Harvard dengan jalur beasiswa full selama empat tahun di sana. Karena kepintaranya juga, kini Airra di terima bekerja disalah satu kantor firma hukum yang cukup ternama di Jakarta.


"Makan, kamu juga harus makan."


Anzar juga tidak tahu kenapa dengan hatiñya. Hanya saja, ia merasa wanita seperti Airra membutuhkan perlindungan. Di balik senyum cerianya, terdapat kesulitan yang hakiki. Anzar belum tahu apakah ini iba yang berlebihan atau apa, yang pasti ia mulai terbiasa dengan kehadiran sosok Airra di dalam hidupnya.


Sosok yang baik hati, pekerja keras, pintar, cerdik juga cantik. Wanita berpendidikan yang rela berbuat bodoh demi membalas budi dengan caranya sendiri.


"Sendoknya juga cuma satu, jadi mas pakaì sendok saja. Biar Irra pakai tangan." Ujarnya sambil menggulung lengan kemeja yang di kenakanya.


Bibir cantik itu bergumam kecil setelah mencuci tangan, ia melapadzkan doa mau makan. Sambil tersenyum kecil, jemari mungilnya mulai menyuapkan nasi beserta lauknya. Memakanya perlahan juga anggun, tetapi tetap mempelihatkan kenyamananya saat makan maknan sederhana.


Anzar memilih menyimpan sendoknya, ia juga mencuci tanganya lagi dan mulai menyuapkan menu makan siangnya menggunakan tangan, sampai membuat orang di hadapanya terbelalak tak percaya.


"Mas, kok makanya pakai tangan?" Tanya Airra heran, pasalnya ia tahu kecanggunngan yang dirasakan pria tampan dihapanya.


"Biar sama kayak kamu." Ujarnya enteng sambil kembali menikmati makananya.


Airra hanyamenangpinya dengan senyuman kecil. Toh, hubungan mereka masih abu abu. Jadi Airra mencoba menekan lebih kuat lagi perasaanya.


□□□□


To Be Continue


Pagi guyss😊😊


Sesuai permintaan yo, semua hadirr. Jangan lupa, like, vote dan komentarnya.


Trus gimana nih sama Anzar? ada yang mau berpendapat?


Sukabumi 14 Juni 2020

__ADS_1


05.38


__ADS_2