
..."Kamu berarti, berharga lebih dari yang orang lain pikirkan."...
...-Keevanzar Radityan Al-faruq-...
...BSJ 66 : Kamu Berarti...
...○○○○...
"Mas, lepasin tanganku." Lirih wanita cantik tersebut.
"Mas, malu dilihatin orang."
"Mas." Lirihnya lagi dan lagi, saat pria tampan itu tak menghiraukan ucapanya.
"Mas."
Pria tampan itu membuka pintu penumpang depan. Lalu berbalik menatap wanita di sampingnya. "Masuk Irra, kita bicara. Tapi bukan disini."
Airra mengangguk patuh, lalu masuk dan mendudukkan dirinya dikursi penumpang.
"Kenapa sih kamu diam saja tadi?" Tanya pria tampan itu setelah melajukan mobilnya pelan, menjauhi area minimarket.
"Karena kamu diam, ibu ibu itu jadi seenaknya mempermalukan kamu Airra."
Selama perjalanan yang dipenuhi oleh kediaman Airra, dibubuhi celotehan penuh kekesalan Anzar. Pria tampan itu tak terima jika kekasihnya dipermalukan begitu saja. Siapa wanita itu, berani sekali mempermalukan wanitanya yang hebat ini.
"Aku pantas kok dipermalukan, aku miskin mas."
Anzar menengok sejenak. "Irra?"
"Aku miskin dan sebatang kara, oleh karena itu mereka mudah mempermalukanku." Ujarnya diiringi senyuman simpulnya.
"Aku cukup sadar diri dengan keadaanku, oleh karena itu aku tidak melawan. Tapi tidak melawan bukan berarti aku terima harga diriku diinjak injak, aku juga akan bertindak jika mereka melukai harga diriku."
Tangan pria tampan itu terangkat, meraih jemari milik wanitanya. "Aku sempat ragu untuk melamarmu Irra." Tutur Anzar yang langsung membuat si empunya menyerngitkan dahinya.
"Aku ragu karena kamu terlalu baik untukku."
Lanjut Anzar.
Airra tersenyum kecil sambil menggeleng.
"Manusia itu diciptakan untuk saling melengkapi pasanganya satu sama lain. Terlepas dari tanggung jawab pribadi, pasangan kita adalah sumber yang nantinya memberi energi positif untuk melengkapi diri."
"Jangan pernah merasa kamu tidak pantas, karena di luaran sana ada yang lebih kekurangan dari kamu, mas. Tetapi semangat hiduplah yang utamanya membuat mereka bertahan hidup berdampingan dengan cinta mereka, tanpa ada rasa minder sedikitpun."
Anzar tersenyum kecil, sungguh luar biasa hati kekasihnya ini. Cantik, baik hati, cerdas juga memiliki segala hal yang tidak pernah ditemukanya pada mantan kekasihnya.
"Terimakasih Irra, sudah mau berkomitmen denganku."
"Ssstt, udah ah jangan terimakasih mulu. Toh aku gak kasih apa apa ke mas." Ketus wanita cantik tersebut.
"Kamu kasih aku cinta paket lengkap, Irra."
Blushh
Pipi wanita cantik itu merah merona saking blusshing-nya. Ucapan sederhana Anzar ternyata mampu membuatnya melting juga salting.
"Pipi kamu, merah sayang." Goda Anzar makin gencar.
"Apaan sih mas, ini tuh blush on." Sangkalnya.
"Aku baru tahu blush on yang kamu pakai merahnya pas speechless aja. Merk apa itu?"
"Tau ah." Ketus Airra sambil keluar dari mobil.
Anzar tersenyum senang, saat berhasil menggoda kekasihnya habis habisan. Dengan senyuman yang masih terpatri di bibir, ia keluar menyusul kekasihnya karena mereka sudah berada di depan rumah Airra.
"Diminum dulu mas kopinya." Tawàr Airra kecil.
"Terimakasih, sayang." Goda Anzar kecil.
"Gak usah lebay deh, gak inget udah tuir." Protes Airra.
Kini keduanya tengah duduk di bangku taman, di pekarangan belakang rumah Airra. Lahan sempit yang dialih fungsikan menjadi lahan bercocok tanam yang subur. Tanaman sayur mayur tumbuh subur di sana, ada juga pohon cempedak yang nampak berbuah lebat.
"Itu-nangka ya Ra, kecil kecil ya buahnya." Ujar Anzar sambil meneliti pohon berbuah lebat tersebut.
"Bukan, itu cempedak mas."
"Cempedak?"
__ADS_1
"Iya. Mirip mirip nangka penampilan luarnya, tapi isi dan rasanya beda." Tutur Airra.
"Owh, aku baru tahu."
"Dari pertama aku tinggal di sini, pohon itu sudah ada disini." Cerita Airra.
"Ini jam berapa ya mas?" Tanya gadis itu, dirasa mereka sudah cukup lama mengobrol di belakang rumah.
"Setengah sepuluh Irra, memanya kenapa?"
Tanya Anzar sambil melirik arloji di pergelangan kirinya.
"Di minimarket tadi, aku lupa-"Belum sempat Airra menyelesaikan ucapanya, pria di sampingnya sudah berdiri. Membuat dirinya terkejut dan penuh tanya.
"Kenapa mas?" Tanya Airra melihat wajah keterjutan kekasihnya.
"Aurra?"
Deg
Airra membelalakkan matanya, otak cantiknya langsung tahu kemana arah pembicaraan berikutnya.
"Tadi kamu sama mbak Aurra?" Tanya Airra penuh selidik, sementara Anzar hanya diam.
"Kamu tinggalin mbak Aurra demi aku?" Lagi, Anzar hanya diam mematung.
"Mas jawab dong, mbak Aurra lagi hamil dan kamu tinggalin sendirian. Jangan bilang kalau perkataanku benar?" Tanya Airra mulai kesal.
"Iya Irra, aku lupa." Ujar Anzar pasrah.
"Astagfirullah mas, masa kamu tega nelantarin adik iparmu. Di mana perasaan kamu sih?" Kesal Airra sambil mencubit keras perut prianya.
"Aww, sakit dong sayang." Rintih Anzar tak terima perutnya dicubit sang kekasih.
"Sayang sayang, adik iparmu gimana mas?" Ketus Airra.
Bagi Anzar, ketika jutek dan ketus kekasihnya ini akan semakin imut. Apalagi saat alisnya saling bertaut seperti ini.
"Mas, aku marah loh. Kalau aku jadi mbak Aurra, aku bakal marah loh. Coba bayangin, istri kamu lagi hamil terus ditinggalin gitu aja sama kakak iparnya. Keselkan?" Celotehnya.
"Kalau aku kakak iparnya, gak akan aku biarin wànita hamil secantik kamu ditinggalin sendirian diminimarket." Uzar Anzar gombal.
"Receh, gak bakal mempan." Ujar Airra sambil mengibas ngibaskan tanganya.
"Cepetan mas, ih kok mager." Gerutunya.
"Iya iya, ini aku pulang." Ujar Anzar final.
"Jaga diri baik baik ya, selamat malam my Airra." Ujarnya sambil meninggalkan senyuman manis diudara.
Airra yang melihat keromantisan pria yang notabenenya datar itu hanya bisa tersenyum kecil. Bohong jika hatinya tak berbunga bunga, pria itu selalu mampu membuatnya melayang di udara. Airra tak pernah meragu sedikitpun tentang perasaanya, karena ia yakin akan pilihanya.
○○○○
"Mana Aurra?" Tanya pria paruh baya yang tengah sibuk dengan laptop dihadapanya tersebut.
Sedangkan yang ditanya hanya bisa menelan salivanya kasar. Tadi dirinya sudah kembali lagi keminimarket tempat ia meninggalkan Aurra. Tetapi yang ia dapatkan hanya kenihilan di sana, Dua jam lamanya, ia meninggalkan adik iparnya yang tengah mengandung tersebut.
"Bang, Aurra mana. Ketemu kan tadi?" Tanya bundanya lirih.
Anzar berdeham kecil untuk menetralisir kegugupànya. Ia tahu ayahnya itu pasti akan marah besar jika mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Kalau ditanya itu jawab, kamu tidak bisu kan?"
Sindir Vano tanpa melepaskan matanya dari laptop di pangkuanya.
"Mas, jangan begitu." Lirih sang istri.
"Lagian ditanya, diam saja. Bisu putra kita kayaknya bun." Ujar Vano tak segan segan.
"Ayah, gak boleh bicara begitu. Allah tidak suka,masa putra sendiri dibilang bisu." Ujar sang istri mengoreksi.
"Maaf Ki." Ujar Vano melembut.
Wanita cantik pemilik manik teduh itu tersenyum sambil mengangguk. "Aurranya sekarang di mana bang?" Tanyanya lagi.
"Aurra, abang tinggal diminimarket bun!"
"APA?!" Jawab Vano kaget sambil mengebrak meja, laptopnya saja hampir berpindah haluan ke lantai.
"Astagfirullah, Aýah." Lerai Arkia.
__ADS_1
"Kamu, berani beraninya meninggalkan menantu Ayah?!" Ujar Vano naik pitam.
"Sabar yah." Vano menurut, mengembuskan napasnya kasar sambil meredam emosinya yang sudah mencapai ubun ubun.
"Jadi, sekarang Aurra di mana bang? Ini sudah malam, dan Aurra belum pulang. Dia lagi hamil."
Arkia kembali angkat bicara, ia tidak marah seperti Vano. Tapi kerisauan nampak jelas di wajahnya.
"I-itu, abang juga tidak tahu."
"APANYA YANG TIDAK TAHU KEEVANZAR?!"
Bentak Vano murka.
"DIBERI AMANAT BEGITU SAJA KAMU LALAI, BAGAIMANA KALAU DIA DAN BAYINYA CELAKA?!" lanjut Vano Emosi.
"Yah, sudah cukup. Sabar dulu, istigfar."
Sesuai intruksi istri tercintanya, Vano beristigfar kecil sambil mengatur napasnya yang mulai memburu. Pria itu emosional, hanya karena menantunya yang menyandang status sebagai ibu hamil hilang entah kemana.
"Jadi, sekarang Aurra tidak ada diminimarket tadi bang?" Tanya Aurra kecil.
Ia dilanda kecemasan tentunya, apalagi menantunya itu tengah hamil muda. Suaminya tengah bertugas di luar kota. Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa menantu dan calon cucunya.
"Ayo bun, kita cari menantu kita. Punya anak kok gak becus dikasih amanah." Ujar Vano datar, sambil meraih kunci mobil di tangan putra sulungnya.
"Yah...." Lirih Anzar, ia tahu kelalaian ini salahnya. Tadi itu hanya refleks, ia kalut saat melihat kekasihnya dipermalukan, hingga melupakan adik iparnya.
"Jika Van'ar tahu, adikmu itu akan semakin tidak menyukai kamu bang." Lirih Arkia, mengingat hubungan kedua putranya yang mulai merenggang.
Anzar diam diam terpaku, benar adanya perkataan sang bunda. Mengingat Aurra adalah ibarat harta kesayangan adiknya. Belum lagi, wanita itu tengah mengandung. Van'ar pasti akan semakin membencinya.
"Kalau terjadi apa apa degan Aurra, bukan saja Van'ar yang akan kecewa, bunda juga bang."
Ujar Kia sambil berjalan menjauhi putra sulungnya tersebut.
"Arrggg, kenapa semuanya jadi seperti ini."
Geramnya frustasi.
Ia salah, Anzar akui itu. Bahkan diapun tidak akan memaafkan dirinya sendiri, jika sesuatu yang buruk menimpa adik ipar dan calon bayinya.
"Assalamualaikum, Ayah, Bunda." Namun seketika itu juga perhatianya teralihkan oleh suara lembut yang sedari tadi dicari cari olehnya. Dengan cepat ia memutar tubuhnya, dan segera berlari menuju depan rumah.
"Ya Allah Ra, kamu tidak apa apa kan?"
Tanya Kia cemas, sambil memeluk tubuh mungil menantunya.
"Alhamdulillah, Aurra tidak apa apa bunda." Ujar wanita berhijab syar'i itu meyakinkan.
Sedangkan Vano tengah berbincang bincang dengan sorang pria tampan yang telah menolong Aurra.
Anzar yang baru keluar itu, diperlihatkan adegan yang cukup melegakan jiwanya. Adik iparnya terlihat baik baik saja, dan pulang dengan selamat. Ia harus berterimakasih kepada pria yang telah membawa adik iparnya ini, kembali dengan selamat.
"Terimakasih sudah-LO?!" kaget Anzar, ketika melihat rupa dari pria yang telah menolong Aurra.
"Kalian saling kenal?" Tanya Vano bingung.
"Ngapain lo disini Dre?" Tanya Anzar datar.
Bukanya menjawab, pria tampan berkemeja biru laut itu hanya tersenyum kecil, menanggapi sahabat rivalnya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Lama, gak jumpa bro." Ujarnya santai.
Anzar tak mau lagi berterimakasih, ia menarik ucapanya untuk berterimakasih kepada orang yang telah menolong Aurra. Jika penolong adalah dia, Anzar tak sudi berterimakasih. Bahkan, ia tak segan segan untuk menjauhkan Aurra dengan pria dihadapanya ini. Aurra harus menjauhinya, titik.
"Dia adik ipar lo, bukan istri lo. Jadi gak usah ngejauhin dia dari gue, sans aja." Bisik pria tampan tersebut pelan, di teliga Anzar.
Anzar menggeram di dalam hati, tak peduli dengan status adik iparnya. Intinya, Aurra harus menjauhi pria di hadapanya ini, harus.
Karena dia, Rival abadi seorang Keevanzar.
○○○○
To Be Continue
Hallo guyss, tahu Andŕe kan?
Dokter muda itu, gimana jadinya kalau dia deketin Aurra secara Van'ar gak Ada.
Trus, kira kira Anzar gimana, secara dia punya Airra? yuk, jangan lupa like❤komen💬 dan vote💯💯yaa😄😄
__ADS_1
Sukabumi 21 Juni 2020
13.58