Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 21 : Memilih Pergi


__ADS_3

...'Aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.'...


...-Ali Bin Abi Thalib-...


...BSJ 21 : Memilih Pergi...


...****...


Sebuah ikatan atas dasar sama sama memiliki setiap kerumitan dalam penempatanya. Apalagi ďengan keadaan yang tak saling kenal seperti ini. Niatnya memang baik, ingin mengenal lebih dalam satu sama lain sebelum keduanya mengikat ikrar sehidup semati. Tapi, ada ragu yang mulai mengganjal di hati si mempelai. Dua kali, terhitung sudah calon suaminya itu melemparkan janji tetapi ia ingkari sendiri olehnya. Padahal, dari janji itu Aurra berharap besar. Ia pikir mereka bisa ta'aruf terlebih ahulu sebelum menikah, namun nyatanya ia harus menelan pil pahit kembali. Sudah dapat di hitung oleh jari, hari menjelang hari H. Namun ia belum melihat keseriusan dari pihak calon suaminya tersebut.


Seperti kata Ali Bin Abi Thalib, 'Aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.' Dan ia memang merasakan itu. Aurra sempat berharap banyak dari perjodohan ini, karena ia pikir mungkin ini adalah takdirnya.


Oleh karena itu ia mencoba menerimanya dengan lapang dada. Namun apa boleh di kata, sepertinya hanya dirinya yang berharap besar pada pernikahan ini.


H-2 menuju pernikahan, semua persiapan terbilang rampung sembilan puluh persen.


Semenjak malam itu, Aurra tidak pernah lagi menerima telpon atau pesan singkat dari calon suaminya tersebut. Ia bahkan sempat sakit flue dan batuk ketika esok harinya setelah insiden kehujanan tersebut. Kini Aurra hanya positif thingking, pasalnya dari pihak keluarga si mempelai pria pun terlihat baik baik saja.


"Selamat pagi Dokter Aurra?" Sapa salah seorang perawat.


Wanita berhijab syar'i berwarna dusty purple tersebut tersenyum hangat dari balik penutup wajahnya.


"Selamat pagi juga dokter Santi."


"Dokter Aurra terlihat senang sekali, maklum calon manten ya?" Goda perawat yang bersia 30-an keatas tersebut.


Gadis cantik itu menunduk kecil, pasalnya ia jadi malu sendiri jika sering di beri ucapan selamat ataupun apapun itu menyangkut pernikahanya.


"Pokoknya, saya doakan semoga pernikahan dokter Aurra berjalan dengan lancar, dokter dan suami nantinya bisa menjadi pasangan yang sakinah mawadah warohmah."


"Iya, terimakasih untuk doanya suster Santi."


Aurra memang tidak pernah bohong jika ia sudah menerima perjodohan ini dengan lapang dada. Masalah calon suaminya yang belum juga menunjukkan batang hidungnya, apalagi keseriusanya Aurra masih mencoba memaklumi. Mungkin calon suaminya itu tengah sibuk dengan pekerjaanya. Yang penting ia tahu jika calon suami pilihan kedua orang tuanya ini tepat untuknya. Karena tidak mungkin Didi dan Bundanya menjodohkan dirinya dengan sembarangan pria. Biarlah suatu saat nanti Aurra yang melihat secara langsung konsekuensinya. Yang pasti ia percaya dengan keputusan yang di pilihkan kedua orang tuanya. Van'ar saja bisa sebaik dan seperhatian itu kepadanya, apalagi calon suaminya nanti. Setidaknya Aurra bisa men-sugesti dirinya sendiri untuk saat ini.


"Memangnya pesawat yang di tumpangi Dokter Feredick landing pukul berapa sih?"


Tanya salah satu teman dokter Aurra.


"Pukul delapan pagi ini. Saya rasa sebentar lagi dokter Feredick tiba." Jawab Ilham-seorang dokter syaraf.


Aurra dan dua teman sejawatnya ini memang mendapatkan tugas untuk menjemput seorang profesor pertukaran yang datang dari Inggris. Pagi ini Aurra, Safa, dan Ilham mendapatkan amanat untuk menjemput beliau langsung. Bukan karena apa apa pihak rumah sakit mengutus ketiganya, tetapi karena ketiganya dulunya adalah salah satu murid Dokter Feredick semasa berkuliah di Britania Raya dahulu.


"Kalau gitu kita duduk dulu yuk, pegel nih!"


Ujar wanita bernama safa tersebut.


"Ya sudah, disana saja."


Ujar Ilham sambil menunjuk bangku panjang di tempat menunggu di dekat pintu kedatangan.


"Lama ya Ra?"


"Lumayan Fa." Ujar gadis berhijab syar'i itu angkat bicara sambil memandangi sekelilingnya.


Bandara Soekarno Hatta pagi ini terlihat ramai sekali. Lalu lalang ribuan manusia memadati bandara Internasional tersebut. Ada yang hendak pergi keluar negri, ada juga yang sekedar menjemput seseorang seperti yang tengah di lakukanya kini. Hingga manik hazelnya menantap sosok yang tidak familiar di matanya.

__ADS_1


Dari radius sepuluh meter dari tempatnya duduk kini, ia yakin mengenali sosok tinggi tegap yang tengah berjalan santai bersama seorang wanita yang tengah bergelayut manja di lengan kekarnya. Keduanya terlihat serasi dengan balutan casual stayle. Si pria menggunakan bawahan jeans hitam yang di padukan dengan T-shirt putih di padu padankan dengan jaket Levis dan topi hitam, juga sneekers hitam yang melekat di kaki panjangnya. Lain dengan si wanita yang terlihat mempesona dengan rok jeans tiga senti diatas lutut yang di padukan dengan T-shirt berlengan panjang berwarna putih. Ia juga mengenakan topi hitam kompak seperti sang pria, yang beda ia mengenakan sneekers putih polos.


Keduanya terlihat menyeret koper mini. Aurra pikir mereka pasti akan pergi kesuatu tempat bersama sama, awalnya Aurra ingin menyapa. Namun ia mengurungkan niatnya saat keduanya terlihat terburu buru memasuki pintu pemberangkatan. Iya,Aurra hafal pria tinggi nan rupawan tadi. Mereka sempat beberapa kali bertemu bahkan mengobrol. Aurra memang hafal wajah rupawan pria tadi, namun ia tidak tahu namanya. Karena setiap kali mereka bertemu, Aurra selalu lupa untuk menanyakan nama pria yang pernah di tolongnya tersebut.


Ah sudahlah, mungkin lain kali ia akan bertemu dengan pria yang selalu ia sebut 'mas' tersebut.


"Ra, Dokter Feredick sudah datang!'


Gadis itu tersentrag, lalu dengan segera ia berdiri mengikuti kedua teman sejawatnya.


Melakukan amanah dari atasanya, sekaligus melupakan pemikiran tentang pria misterius yang sudah beberapa kali ia temui tersebut.


Sementara itu, di dalam kabin pesawat tujuan London, sepasang kekasih tengah duduk manis sambil menatap tautan jemari milik mereka. Si wanita sesekali melemparkan senyum bahagia, karena akhirnya perjuanganya tak sia sia.


Sedangkan pria di sampingnya, sesekali tersenyum kecil membalas senyuman sang kekasih. Padahal hati dan pikiranya tengah berkelana kesana kemari. Bagaimana tidak, dia yang notabenenya calon pengantin yang dua hari lagi akan melangsungkan pernikahan malah pergi keluar negri bersama kekasihnya tanpa sepengetahuan siapapun. Ya, lebih tepatnya ia lari dari pernikahanya sendiri. Sinting bukan? Pria ini bukan saja sinting tetapi pengecut tingkat dewa.


Pria tampan itu melepaskan topi hitamnya. Sesekali menguyar rambut hitamnya frustasi. Apa benar yang dilakukanya ini adalah jalan keluarnya? Apakah malah dengan ini ia akan lebih banyak menambah luka?


Ahk, Entahlah.


Yang ia pikirkan saat ini hanya satu, ia ingin bahagia. Ia ingin egois sekali saja, ia ingin meraih kebahagianya. Ia ingin hidup dengan wanita yang di cintainya. Biarlah saat ini begini, tetapi ia pasti akan kembali suatu saat nanti. Ia akan menjelaskan semuanya, walaupun ia tahu sebelum itu ia telah banyak menyakiti hati orang orang yang dicintainya.


Sejenak ia mengingat saat ia izin pergi untuk menginap di apartemen miliknya kepada sang bunda. Padahal ia berbohong, berbohong demi pergi dengan sang pujaan hati.


--FLASHBACK--


"Memangnya abang mau kemana, bawa bawa tas segala?" Tanya wanita paruh baya tersebut bingung.


Pasalnya putra sulungnya itu turun turun membawa sebuah ransel yang cukup besar di punggungnya.


"Sibuk banget ya bang?"


"Iya bunda. Abang kan mau menikah, jadi pekerjaan yang harusnya di lakukan pas cuti menikah nanti, abang handle dari sekarang."


Ujarnya meyakinkan.


Pria paruh baya yang menatap putranya dalam diam itu menerima alasan putranya. Karena logis memang, tugasnya sebagai CEO pasti menumpuk barang sehari saja mengambil cuti. Apalagi putranyà ini akan menikah dan mengambil cuti kurang lebih dua minggu. Pasti jadwalnya sangat padat nanti.


"Cie yang mau menikah, ngebut kerja dari sekarang. Biar bisa enak leha leha pas cuti nanti." Goda sang adik-Lunar yang tengah duduk di kursi samping ayahnya.


"Lunarr!"


"Iya, bercanda bunda."


Pria tampan itu menyunggingkan senyum terpaksanya agar dapat meyakinkan. Sebenarnya ia tak mau membohongi keluarganya seperti ini. Namun apalah daya, cinta telah membutakan dirinya kini.


"Yaudah, kalau gitu abang makan malam dulu."


Malam itu malam terakhir ia bersama keluarganya di iringi canda dan tawa setelahnya. Tidak ada yang curiga dengan kepergianya, bahkan kakek dan neneknya pun.


"Istirahat yang cukup ya bang, calon manten gak boleh sakit." Pesan sang bunda sambil memasukkan suplemen yang biasa putranya itu konsumsi kedalam saku ranselnya.


"Iya bunda."


"Kalau gitu abang pamit ya bun." Pamit menjajal jalan hidup abang sendiri bunda. Lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


"Iya, hati hati ya bang."


Pria tampan itu mengangguk, lalu beralih mencium punggung tangan sang bunda, ayah, kakek, nenek, dan adik bungsunya.


Ia pamit dalam artian yang sebenarnya dari balik kebohonganya. Pamit untuk membangun hidup barunya bersama sang kekasih di negri orang sana. Berat memang rasanya, namun àpa boleh dikata. Beban berat di hati itu juga akan langsung menguap rasanya, saat sebuah senyuman manis terpatri di wajah cantik sang kekasih yang menyambutnya.


"Dear?"


Sapanya dengan senyuman mengembang ketika pintu terbuka.


Grep


"Aku kira kamu tidak akan datang."


Lirihnya sambil memeluk tubuh tegap sang kekasih.


Pria tampan itu meraih sisi wajah sang kekasih, membawanya mendongkrak sebelum bibir penuhnya turun mencari bibir mungil sang kekasih. Pria tampan itu menciumnya lembut, menyalurkan segala hasil dari pengorbanan demi bisa bersama wanita cantik yang kini berada dalam rengkuhanya.


"I love you Nata." Ujarnya setelah ciuman singkat namun mengesankanya berakhir.


Wanita cañtik bermata indah itu tersenyum melihat keseriusan di mata sang pria. Maka ia tampa ragu menjawab setiap ucapan cinta dari bibir kissable prianya.


"Love you too, dear." Jawabnya tak kalah serius.


Keduanya kembali berpelukan, tanpa peduli posisi mereka yang kini masih berada di depan pintu apartemen.


Anzar maupun Nata tidak peduli. Bagi mereka kini tidak ada detik detik paling membahagiakan selain detik ini juga. Keduanya bahagia cinta mereka kembali bersatu walaupun mereka juga menghalalkan segala cara untuk meraih kebahagiaanya.


--FLASHBACK OFF--


Anzar-pria tampan itu kembali melirik wanita cantik yang kini terlelap dalam pelukan lenganya. Ia tersenyum bahagia, karena pada akhirnya cinta kembali membutakan dan menguasai dirinya. Sedangkan untuk calon istrinya yang ia tinggalkan dan belum sempat ia temui. Ia sudah mengirimkan sebuah surat beserta cincin nikah mereka kepada calon istrinya langsung melalui paket.


Maaf maaf saja, dia ini terlalu egois untuk bersanding dengan dirinya. Dia ini terlalu cinta mati kepada kekasihnya, dari pada harus besanding dengan wanita yang tak pernah di kenalnya. Maaf maaf saja, menurutnya calon istrinya itu berhak mendapatkan calon suami yang lebih baik darinya.


"Maaf, jikapun kamu mengutuk diriku hingga tujuh turun natinya. Aku akan memaklumi itu, karena itu semua tidak sebanding dengan harapan palsu yang selama ini kujanjikan. Karena kamu pantas untuk mendapatkan pria yang lebih baik dariku."


****


To Be Continue


Hoammmm😧😧


Malming guysss,,, Jangan lupa baca yooo.


Aku double update untuk malam ini, khusus untuk kalian cemua😚😚


Terimakasih buat dukunganya ya, jujur aku senang sekali😄😄


Pokoknya jangan2 bosan bosan baca cerita ini. Di komen juga kalau banyak typo, jangan lupa bantu dukung juga.


ok, met malam minggu😉😉


Sukabumi 02 mei 2020


21.56

__ADS_1


__ADS_2