
..."Di setiap momen selalu ada hikmahnya. Oleh karena itu, kita selalu di bekali dengan kesabaran menghadapi segala cobaan."...
...-Keevanzar Radityan Al-faruq-...
...BSJ 64 : USG...
...□□□□...
Semilir angin pagi, menyambut kedatangan ibu muda yang tengah hamil tersebut. Bibirnya yang tertutup kain penutup berceloteh ria melantunkan salawat nabi, sambil mengelus perut buncitnya. Pagi ini ia ada beberapa jadwal temu dengan para pasien yang ingin berkonsultasi. Sekalian, dirinya juga ada jadwal temu dengan dokter kandunganya-Adnia.
Dua minggu telah berlalu, setelah fakta takenya sang kakak ipar. Semua anggota keluarga Radityan terkejut, termasuk dirinya. Mereka pikir Anzar membual, tetapi nyatanya tidak. Pria itu bersungguh sungguh saat mengatakan telah melamar seorang gadis. Bahkan dalam waktu dekat ini, ia akan memperkenalkan calon istrinya. Semua orang penasaran, termasuk Aurra.
Ya, setidaknya sebagai adik ipar ia turut bahagia saat mengetahui kakak dari suaminya itu telah move on, dari mantan kekasihnya. Terlebih lagi ia tahu sepak terjang pria itu, agar mampu mencapai titik ini. Van'ar-suaminya pun awalnya terkejut, tetapi seiring berjalannya waktu, sebagai seorang adik ia turut berbahagia atas kabar baik yang dibawa kakaknya.
Ngomong-ngomong tentang Anzar suaminya, sudah dua minggu ini pria itu tak pulang ke rumah. Dia bertugas di kesatuan dan belum bisa kembali. Sebagai istri, Aurra audah memakluminya. Terkadang ia juga bertukar kabar lewat telpon, untuk sesekali. Seperti pagi tadi, suaminya itu sempat menelpon dan menanyakan kabarnya.
Mungkin karena adanya jarak yang menghadang, beberapa malam belakangan ini dirinya sering mimipi buruk hingga membangunkanya di tengah malam. Oleh karena itu, saat ia terbangun ia selalu menyempatkan diri untuk salat istihkarah agar hatinya damai kembali.
Siang ini ia ada jadwal USG dengan sokter kandunganya-Adnia. Kegiatan pemeriksaan bulanan rutin yang selalu di lakukanya, dari awal ia mengetahui kehamilanya. Untuk USG sendiri, ini baru pertama kalinya di lakukan. Pemeriksaan sebelum sebelumnya Aurra hanya chak up kesehatan janinya saja.
"Bismillah, sekarang baby temenin bunda kerja dulu ya." Celotehnya kecil sambil mengusap perut buncitnya.
"Dokter Aurra, pasien anda sudah menunggu."
Ujar suster Santi, memberi tahu.
"Baik, lima menit lagi saya keruangan." Ujarnya membalas ramah.
□□□□
Waktu istirahat makan siang mulai membuat beberapa orang memadati kantin Rumah sakit. Beberapa orang berlalu lalang, membawa berbagai macam makanan. Nampak juga beberapa anggota tim medis yang tengah menikmati waktu istirahatnya. Waktu luang sejenak di mana mereka bisa makan sambil berkumpul dan bercengkrama dengan rekan rekan sejawat. Sebelum tugas kemanusiaan kembali memanggil tentunya.
Sementara itu, jauh dari keramaian kantin. Wanita cantik berhijab syar'i yang baru saja menyelesaikan ibadah dzuhur itu, cepat cepat meraih handponenya. Beberapa menit yang lalu, benda pipih itu terus saja bergetar.
"Hallo, Assalamualaikum mas?" Tanyanya saat sambungan telponya terhubung.
"Waalaikumsalam, Ra."
Senyumanya mengembang di balik penutup hijabnya. Mendengar suaranya saja, sudah sangat membuatnya bahagia luar biasa.
"Mas sudah makan?" Tanyanya lembut, sambil membenahi alat salatnya.
"Sudah, kalau bumu?" Tanya sang suami disebrang sana,berbalik menanya.
"Belum."
"Kok belum? Makan dulu bumu, jangan suka telat makan. Kan kasihan babynya." Lirih sang suami cemas.
Aurra tersenyum kecil sebelum menjawab.
"Iya, habis periksa aku makan siang mas."
"Jangan telat ya?"
"Iya, mas mas suami." Ujar Aurra tersenyum kecil di ujung kalimatnya.
"Hari ini Aurra USG, mas mau lihat kan?"
__ADS_1
"Tentu, maaf mas tidak bisa menemani." Terdengar gurat gurat penyesalan di setiap katanya.
"Gak papa mas, kan mas lagi tugas. Babynya tahu kok, Ayamu lagi kelja." Ujar Aurra menirukan suara anak kecil diujung kalimatnya.
"Iya, mas janji nanti saat USG lagi mas temenin."
"Insaallah." Jawab sang istri.
"Iya, insaallah bumu."
Disela sela percakapanya dengan sang suami, Adnia datang dari balik pintu.Mengisyaratkan untuk segera menuju ruanganya. Dengan anggukan kecil, Aurra meng-iyakan.
"Mas, sudah dulu ya telponanya. Nanti Aurra hubungi via video call, mas mau lihat dedek bayinya kan?"
"Iya, malah kalau bisa mas mau pulang kesana sekarang juga." Lagi lagi Aurra hanya bisa tersenyum kecil.
Di momen pertama melihat buah hatinya ini, sang suami tidak bisa menemaninya. Ya, mau bagaimana lagi. Semua ini sudah ada yang mengaturnya.
"Insaallah, nanti ada kesempatan lainya buat Ayamu."
"Iya."
"Kalau begitu Aurra matiin ya mas?"
"Iya dek."
"Assalamualaikum mas."
"Waalaikumsalam dek."
□□□□
"Iya."
Hari ini Aurra memang mengenakan pakaian potongan, mengingat dirinya yang akan di periksa dan janinya. Jadilah ia mengenakan rok panjang yang menjuntai kelantai, dengan atasan berwarna calm berkancing. Di padukan dengan hijab longgar yang hampir menutupi seluruh perut bagian depanya, plus dengan penutup hijabnya.
"Mas mas suamimu nugas ya Ra?" Tanya Adnia yang tengah mengoleskan gel di atas perut buncit Aurra.
"Iya."
"Haduh, kasian ya debay. Pertama kali mau dilihat, tapi ayahnya lagi nugas. Sabar ya bumu." Ujarnya menyemangati.
"Iya, makasih Ra."
Aura hampir saja lupa dengan suaminya. Pasti pria itu tengah menunggu sambungan video call darinya. Dengan cepat ia meminta bantuan Adnia untuk mengambilkan handphonenya, membuka salah satu aplikasi chat dan menghubungi suaminya via video call.
"Assalamualaikum mas, mas bisa lihat Aurra kan?" Tanyanya memastikan, pasalnya yang terlihat samar samar kegelapan.
"Waalaikumsalam, iya dek. Maaf, barusan di dalam ruangan jadi gelap."
Kini nampaklah wajah tampan suaminya yang berbalut seragam dinas, plus dengan baret kebanggan diatas kepalanya. Rasa rasanya, kerinduan itu menguap begitu saja saat melihat wajah suaminya. Hatinya langsung di dera kelegaan tiada tara. Syukur Alhamdulillah, suami tercintanya baik baik saja disana.
"Dek, kok nangis. Kenapa hm? Ada yang sakit?"
Risau Van'ar disebrang sana.
Wanita cantik itu menggeleng meyakinkan.
__ADS_1
"Aurra cuma rindu sama mas."
Adnia yang melihat semua itu hanya bisa diam terpaku. Ia tahu rasanya LDR-an, tapi tidak untuk selama dan sesering seperti sahabatnya-Aurra. Mengingat profesi keduanya yang amat di butuhkan untuk hajat orang banyak. Jarak adalah perantara yang membentang diantara keduanya, namun tak lantas menggoyahkan sedikit pun. Cinta mereka kuat karena diridhoi oleh Allah. Satu satunya yang sering mengganggu adalah adanya Rindu tak bertemu. Bersarang di hati, memenuhi jiwa raga hayati. Menekan segala rasa pedih di hati, hanya untuk melihat dia yang teramat dirindukan hati.
"Udah ya dek, jangan sedih. Mas juga sedang berusaha supaya tugasnya cepat selesai."
Aurra mengangguk sambil menghapus air matanya. Ini bukan drama melan kolis yang bikin mewek mewek, Adnia tahu memang selama kehamilan emosi seorang bumil memang cenderung naik turun dan tak stabil.
"Kita bisa mulai sekarang Ra?" Tanya Adia yang dijawabi anggukan oleh Aurra.
Aurra juga sudah mengarahkan panggilan videonya mengarah ke layar yang menampilkan gambaran buah hati mereka. Untung saja sekarang sudah segala galanya canggih, tidak bisa bertemu ya bisa bertukar kabar lewat telponan, video call, voice note, dan sebagainya.
"Itu bayi kalian, yang berbentuk seperti kacang." Tutur Adnia.
Aurra bisa melihat sesuatu yang nampak di gambar hitam putih dilayar tersebut. Semacam gumpalan berbentuk biji kacang, dengan detak jantung yang bisa di dengar dengan jelas.
"Yang kamu dengar itu detak jantung bayi kalian Ra."
Aurra kembali menitihkan air matanya, rasa haru mulai menyelimuti hati kecilnya. Hatinya amat tak bisa mengambarkan perasaanya, saat pertama kali mendengar detak jantung buah hatinya. Di sebrang sana pula, Van'ar tak kalah termangu. Matanya menatap lekat gambar hitam putih yang memenuhi layar handphonenya. Di sana,di gambar itu menunjukkan buah hatinya yang tengah berkembang di rahim istri tercintanya.
Hatinya tiba tiba dipenuhi berjuta juta kebahagiaan, ya walaupun ia tidak bisa mendengar secara langsung detak jantung buah hatinya untuk pertama kalinya. Tetapi ia tatap bersyukur karena istri dan buah hatinya tengah dalam keadaan baik baik saja.
"Itu, tapi kenapa gumpalanya ada dua?" Tanya Van'ar di sebrang sana ragu ragu.
"Ah iya, selamat. Aku saking antusianya melihat keponakanku, sampai lupa menyampaikan kabar bahagia ini." Ujar Adnia sambil tersenyum lebar.
"Selamat, bayi kalian kembar."
"Kembar?" Ucap Van'ar dan Aurra bersamaan.
"Iya, kalian akan punya dua baby gemes sekaligus." Ujar Adnia sambil menunjuk dua gumpalan di gambar hitam putih di layar monitor tersebut.
Aurra benar benar tidak menyangka, dirinya akan langsung menjadi ibu bagi dua orang buah hati sekaligus. Ia sungguh bersyukur, ternyata Allah menganugrahi dirinya menjadi ibu dua orang bayi sekaligus.
"Anak kita kembar dek?" Tanya Van'ar memecahkan keheningan diantara mereka.
"I-iya mas." Cicitnya kecil sambil menahan air mata kebahagiaanya.
"Alhamdulillah, mas bahagia sekali dek. Kita akan memiliki dua bayi sekaligus, mas bersyukur sekali. Terimakasih dek, mas mencintaimu dan anak anak kita." Ingin sekali Van'ar memeluk istrinya di sebrang sana.
Aurra pun, ingin rasanya ia menghambur kepelukan hangat sang suami. Menangis didada peluk-abblenya, mencurahkan semua tangis kebahagiaan dengan suami tercintanya. Tetapi bagaimana lagi, ia hanya bisa puas dengan mendengar dan melihat melaĺui layar monitor handphonenya. Karena saat ini, tugas negara tengah memanggil sang suami. Menciptakan kembali jarak yang membentang, dengan rindu sebagai sebuah rintangan.
"Aurra juga sayang mas, baik baik di sana mas. Di sini Aurra sama si kembar setia menunggu mas pulang."
□□□□
Selamat pagi guys😊😊
Huahhh😭😭😭 Ada yang baper ndak??
Kalau aku sih kaciaaan sama Ayamu dan bumi.
Tapi ya, gimana lagi namanya juga lagi nugas kan?? Ohiyaaah, jangan lupa like, vote dan komentar yang banyak yaa😊😊
Sukabumi 19 Juni 2020
__ADS_1
06.05