Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 93 : Ayah Siaga


__ADS_3

...Catching a glimse of you make me feel dizzy (menangkap sekilas kamu bikin pusing)...


...-Keevan'ar Radityan Az-zzioi-...


...BSJ 93 : Ayah Siaga...


...****...


"Dek?"


"Dek kamu di mana?" Panggil pria tampan yang baru saja keluar dari kamar mandi tersebut.


"Dek, sayang?" Panggilnya lagi, sambil menyisir area utama tempat tidur mereka.


"Dek, kamu-"


"Aurra disini mas." Ujar si empunya panggilan, sambil muncul dari area walk in closet.


"Lagi nyapain dek?" Tanyanya sambil mendekat kearah sang istri.


"Lagi beres beres bajunya dedek bayi mas."


Ujar wanita berperut buncit tersebut sambil tersenyum tipis.


"Itu kenapa?" Tunjuknya.


"Apanya yang kenapa dek?" Bingun Van'ar sambil mengikuti arah pandangan sang istri.


"Gerah sayang." Ujarnya sambil tersenyum tipis.


"Sayang? geli ih dengarnya mas." Komentar Aurra sambil tersenyum tipis.


Van'ar tersinyum, sambil berjalan menuju sang kekasih hati. "Gak papa, itu sebagai bukti spontanitas rasa sayang mas kepadamu dek."


Ujarnya sambil menyentuh helaian rambut panjang istrinya. Menyelinapkanya di belakang telinga, sambil menata istrinya dalam.


Cup


Aurra terhenyak kecil, kala ciuman tipis itu mampir di bibir mungilnya. Terdiam sejenak, sebelum gerakan berikutnya membuat dadanya penuh oleh ribuan kupu kupu yang berterbangan.


"Humairanya mas." Ujar Van'ar lembut, sambil mengelus pipi istrinya yang merona hebat setelah ciumanya terlepas.


Akhir akhir ini Van'ar memang sering memanggil Aurra dengan sebutan Humaira saat berdua begini. Humaira yang dalam bahasa arab berarti kemerahan, Humaira juga dipercaya sebagai panggilan istimewa dari rasulullah untuk istri tercintanya-Aisyah R.A. Karena beliau memiliki rona pipi yang merona dan kemerah-merahan.


"Eh, kok jadi malu begini?" Kekehnya kecil, sambil memeluk balik sang istri.


Jika mau menyerangnya, akhir-akhir ini Aurra sering memeluk suaminya untuk menyembunyikan diri. Acak kali, sang suami membuatnya merona tiap tingkah laku manisnya. Bersiap menjadi suami plus ayah siaga. Van'ar selalu siap, sedia, dalam menyiapkan segala sesuatu yang siap untuk disiapkan. Perkiraan Adnia-dokter kandungan Aurra, istrinya itu akan melahirkan sekitaran minggu depan. Itupun masih perkiraan, karena terkadang ada yang kurang dari perkiraan atau lebih.


Sebagai suami siaga, Van'ar selalu berupaya memberikan energi energi positif untuk istrinya. Menurut beberapa artikel healtpedia yang sering dibacanya, wanita yang mengandung bayi kembar di kehamilan pertama cenderung memiliki banyak resiko yang ditanggungnya. Kebanyakan, resiko tersebut akan menganggu kesehatan fisik maupun psikis si calon ibu.


Oleh karena itu, baiknya sang suami untuk pandai pandai menyikapinya. Menjaga mood dan kesehatan bumil agar selalu stabil, lalu mengisi aktivitas bumil dengan kegiatan-kegiatan positif tiap harinya.


"Dek, sini mas pijitin dulu kakinya."


"Gak usah mas." Tolak sang istri halus.


Van'ar tahu, akhir akhir ini istrinya itu sering merasa letih dan pegal terutama di area kaki yang mulai membengkak. Walaupun tak pernah mengeluh, Van'ar tahu semua itu tiap kali matanya mengamati gerak gerik istrinya.


"Sini, mas pijitin pokoknya." Ujarnya sambil menuntun sang istri untuk duduk dipinggiran tempat tidur.


"Maaf ya." Izinya, sebelum menaikkan keatas gamis yang menutupi betis istinya.


Aurra mengangguk, suaminya itu memang terkadang kelewat sopan. Terkadang, apapun hal yang menurutnya perlu izin akan dimintainya izin.


"Dedek bayinya masih sering nendang dek?"


Tanya Van'ar disela sela kegiatanya.


"Sekarang sih gak terlalu aktif mas, mungkin karena mereka juga sudah berpindah posisi."

__ADS_1


Van'ar mengangguk tipis, minggu yang lalu istrinya itu memang di landa kecemasaan saat merasa nyeri lumayan hebat seperti kontraksi. Van'ar saja sampai kelimpungan kala itu. Namun setelah diperiksa, nyeri itu diakibatkan karena si jabang bayi berputar posisinya karena menjelang proses lahiran.


Sudah empat minggu kurang dua hari, semenjak pernikahan Anzar dan Airra. Sekarang, keadaan mansion Radityan kembali seperti sedia kala. Hanya ada orang tua Van'ar, para pelayan dan istri tercintanya. Kakak dan kakak iparnya tengah menikmati liburan di Eropa yang tinggal dua hari lagi, setelah tiga minggu melanglag buana berdua. Adik kembaranya tengah berkunjung kerumah orang tua tunanganya di Bandung. Jadilah rumah besar ini nampak sepi.


"Mas gak mau pake baju tidurnya?" Tanya Aurra saat mereka sudah bersiap untuk tidur.


"Kan biasanya juga begini dek." Ujar Van'ar santai sambil menyusul sang istri tuk berbaring.


"Nanti masuk angin gimana mas?"


Van'ar tersenyum tipis, lalu beranjak mengecup pucuk kepala sang istri yang nampak harum khas istrinya. "Kan bisa peluk bumu biar hangat." Jawabnya sambil memeluk sang istri sayang.


Aurra tak bertanya lagi, senyum tipisnya berkembang. Ia memilik merapatkan pelukanya, sambil mencari posisi ternyaman dalam rengkuhan suaminya.


"Selamat tidur, Ayamu." Gumamnya sebelum memejamkan mata.


"Selamat tidur juga, Bumu sayang." Balas Van'ar lirih sambil ikut memejamkan matanya.


Tak dapat dipungkiri lagi, jika namanya hidup seorang Keevan'ar kini memasuki tahap tahap paling membahagiakan. Memiliki karier yang cemerlang di kesatuan, memiliki istri solihah, juga tengah menantikan kelahiran para buah hatinya. Banyak yang mungkin iri di luaran sana. Namun sekali lagi, semua kebahagian itu tak didapatkan dengan begitu saja. Butuh kesabaran, keuletan, juga keikhlasan dalam tiap cobaan yang melintang.


"Dek..." Lirihnya serak, saat ia terbangun dari tidur di tengah malamnya.


Ketika meraba tempat tidur di sampingnya, ia tidak menemukan sosok yang selalu berbagi kehangatan ditiap malamnya. Ada kehilangan, saat sosok pemilik hati itu tak ada di sampingnya. Istrinya, Van'ar langsung bangun saking kagetnya. Matanya langsung terjaga, sambil menatap kesekeliling kamar. Manik tajamnya langsung tertuju ke pintu kamar mandi yang terbuka.


"Dek, kamu di dalam?" Panggilnya sambil beranjak.


"Astagfirullah, dek kamu kenapa?" Tanyanya kaget, saat melihat sang istri terduduk di pinggir bath up dengan ringisan nyeri diwajah ayunya.


"Mas..." Lirihnya sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri hebat.


"Dek, kamu kontraksi?" Tanya Van'ar sambil menghampiri sang istri cepat.


"Ketubanmu sudah pecah dek?" Aurra mengangguk sebagai jawaban.


Rasa nyeri di perutnya begitu nyata kini. Awalnya, ia memang sudah merasakan ini sejak sore. Namun ia tahan karena ia pikir cuma kontrakasi biasa. Lama kelamaan, nyerinya nampak menggila. Puncaknya, ketika nyeri diiringi rasa mulas ketika rasanya seperri ingin buang air besar itu terjadi di tengah malam.


"Kita kerumah sakit sekarang." Ujar Van'ar sambil membawa istrinya ala bridal style.


"Mas, tenang." Ujar Aurra sambil menatap sang suami, memberinya isyarat agar tenang.


"Kamu mau lahiran dek, gimana mas bisa tenang!"


Di tengah tengah nyeri yang melandanya, Aurra masih nampak tersenyum tipis. Pria yang tengah menggendongnya tanpa rasa keberatan itu nampak mulai kelimpungan. Tiba diruang tengah, Van'ar langsung menyuruh supir untuk menyiapkan mobil. Menyuruh pelayan lainya untuk menyiapkan keperluang istri dan buah hatinya.


"Mobil sudah siap den." Van'ar mengangguk, sambil mengendong istrinya kembali. Di ikuti oleh Vano dan Arkia yang membawa keperluan Arkia dan cucu mereka dirumah sakit.


"Nak, nyetirnya yang tenanglah. Kalau begini caranya, kamu bisa membuat kita semua masuk rumah sakit." Intruksi Vano yang duduk di samping Van'ar.


"Maaf ayah, abang cemas." Lirih Van'ar sambil mengutangi kecepatan mobil yang dibawanya.


Saking kalutnya, seorang Van'ar sampai membawa mobil ngebut hampir ugal-ugalan. Kia ngeri sendiri, melihat cara putranya tersebut menyetir tersebut.


"Istigfar bang, Aurra dan anakmu tidak akan kenapa-kenapa." Ujarnya angkat bicara.


"Kalau abang mengemudinya begitu, kita semua yang akan kenapa-kenapa."


Van'ar beristigfar kecil, entah mengapa ia amat kalut saat mengetahu fakta jika istrinya itu akan segera melahirkan .Stok sabarnya seperti menguap entah kemana. Kecemasan seakan akan menyelimuti dirinya begitu kuat.


"Astagfirullah, maafkan mas dek." Ujarnya lirih sambil menatap sang istri lewat pantulan kaca.


Istrinya itu tersenyum tipis, sambil mengangguk. "Ayo Ayamu, bawa kita kerumah sakit dengan selamat." Ujarnya lirih.


Van'ar mengangguk, sambil melajukan kembali mobilnya yang sempat terhenti tadi. Setelah drama kekalutan dalam perjalanan tadi, dua puluh menit kemudian mereka sampai dirumah sakit. Di depan rumah sakit, Adnia sudah menunggu bersama para tim medis lainya.


Van'ar dengan sigap membuka pintu, mengendong istrinya ala bridal style sebelum dibaringkan diatas bad dorong. Ketika istrinya sudah di bawa tim medis, Van'ar yang ingin ikut membuntuti merasa ada yang mencekal tanganya.


"Kenapa Ayah?"


"Pakailah bajumu dulu nak!"

__ADS_1


Van'ar mengerjapkan matanya sejenak, jangan bilang jika ia lupa memakai baju.


"Astagfirulah." Ujarnya sambil meraih kaos di tangan sang ayah.


Vano tersenyum tipis melihat kekalutan putranya. Sedangkan Arkia hanya menggeleng kecil melihat kekalutan putranya tersebut. Saking kalutnya, Van'ar bahkan untak mengindahkan tatapan kagum para suter yang menatap tubuh bagian atasnya yang peluk-able tersebut. Ia saja ingat untuk mengambilkan hijab instan untuk di pakai istrinya sebelum berangkat ke sini. Sedangkan dirinya sendiri, ia lupa pakai baju saking kalutnya.


"Anakmu mas." Lirihnya tipis.


"Anak kita berdua bunda." Ujar Vano sambil merangkul bahu istrinya sayang.


Kesigapan tim medis, langsung membuat Aurra mendapatkan penanganan lanjutan. Ia dibawa keruangan bersalin dengan segera karena Adnia telah menyatakan sahabatnya itu sudah memasuki pembukaan delapan.


Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit, ruang persalinan nampak riuh. Air ketuban yang sudah hampir mengering, agaknya membawa dampak buruk tersendiri.


"Sudah pembukaan sembilan." Ujar Adnia memberi intruksi.


Masih tahap belum sempurna seutuhnya. Semua tim medis sudah ber APD lenģkap. Van'ar saja yang menemani sang istri sudah mengenakan APD lengkap. Dokter sudah menyatakan untuk melakukan operasi caesar untuk alternatif yang lebih baik. Hanya saja, Aurra menolaknya karena ingin merasakan keistimewaan melahirkan buah hatinya secara normal.


"Dek, sayangnya mas." Lirih Van'ar sambil mengenggam tangan mungil yang tak henti hentinya ia kecup tersebut.


Hati pria mana yang tak menceleos, saat istri tercintanya berjuang hidup dan mati untuk melahirkan buah hati mereka. Van'ar bahkan merasakan rintihan istrinya itu amat menyayat hatinya. Ia cemas, takut ketiganya mengalami hal hal buruk yang tidak diinginkan.


"Kita lakukan operasi caesar saja ya dek, supaya kamu tidak kesakitan." Ujarnya meyakinkan.


Wanita yang nampak tenang di tengah tengah kesakitanya tersebut tersenyum tipis.


"Jangan khawatir mas."


"Aurra insaallah bisa melewati semua ini." Ujarnya sambil tersenyum tipis kembali.


Van'ar menghela nafasnya berat, ia hanya bisa bertawakal jika sudah begini. "Mas, lantunkan surat Maryam ya." Pinta sang istri yang langsung diangguki mantap oleh sang suami.


Dengan suara di buat setegar mungkin, Van'ar melantunkan ayat demi ayat suci tersebut. Menyalurkan kekuatan lewat supportnya, sementara sang istri terus berusaha melahirkan buah hati mereka.


"Euggh, bismillah ya-Rabb." Lirihnya sambil terus mengejen kuat sesuai intruksi Adina.


"Ya-Rabb talong berilah hambamu ini kekuatan untuk melàhirkan buah hati hambamu ini."


Do'anya didalam hati, kala rasa sakit itu kembali memuncak.


"D-dek...?"


"Dek, kamu kenapa?"


"Dek?!"


⛄⛄


To Be Continue


Selamat pagi readers🖑🖑


Gimana nih kabarnya semua🤔🤔


Yang baca part ini wajib jawab😅😅


Ok, siapa nih yang kangen sama VanRa,hayoo??


Udah yo, sampe part depanya juga VanRa.


Cus, jangan lupa tinggalkan jejaknya💜


Ok, jumpa lagi besok.


Maaf jika typo masih bertebaran🙏🙏


Selamat berpuasa juga bagi yang menjalankan🖑🖑


Sukabumi 30 Juli 2020

__ADS_1


05.57


__ADS_2