Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 44 : Ada Yang Tersembunyi


__ADS_3

...'Adanya benteng yang menutupi hingga mengungkungmu, tetap saja takdir lebih berpihak kepada diriku.'...


...-Keevanzar Radityan Al-faruq-...


...BSJ 44 : Ada Yang Tersembunyi...


...****...


Dua minggu telah berlalu dengan begitu cepatnya. Tak terasa hari hari begitu berlalu tanpa ada sekat yang berarti. Sejauh ini, hubungan dua pasangan muda yang menikah dua minggu lalu baik baik saja. Sepulangnya dari Bandung, mereka disambut bahagia oleh keluarga besar mereka. Hingga kini, mereka hidup dengan harmonis dan saling mengerti akan keadaan masing masing.


Dari cara mereka mengabdi, dari dua profesi yang bertolak belakang. Van'ar adalah abdi negara yang bertuga menjaga, juga mengayomi. Sedangkan sang istri sebagai seorang Dokter-bertugas memberikan pertolongan pertama juga menyembuhkan luka yang masih bisa ditangani. Kini keduanya sudah kembali bertugas, dipisahkan oleh rindu juga dibentengi oleh jarak.


Sang suami masih aktif dikesatuan, sehingga jarang sekali bertukar kabar. Sedangkan sang istri akhir akhir ini disibukkan dengan keadaan UGD yang terus menerima pasien gawat darurat yang melebihi batas.


"Makan yang banyak Ra, nanti kurus loh."


Sindir wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter kandungan tersebut.


"Iya. Ini sudah banyak."


Jawab wanita berhijab syar'i tersebut.


Kini keduanya tengah menikmati makan siang diruangan Adnia- wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter kandungan tersebut.


"Ra?" Panggil wanita cantik yang baru saja resmi menjadi istri Dr.Radien, seminggu yang lalu itu.


"Ada apa sih, kalau lagi makan itu jangan ngobrol dulu." Koreksi wanita yang kini melepaskan sejenak penutup khimarnya, mengingat mereka cuma berdua disini.


"Itu, kayaknya pasien yang dirawat di lantai 4 itu orang kaya ya?" Tanya Adnia tampa mengindahkan ucapan Aurra.


"Yang mana?"


Tanya Aurra sambil mengakhiri makanya.


"Itu loh, yang dirawat di ruangan VVIP. Yang ada bodyguardnya. Sultan kali ya?"


Bingung wanita cantik yang suka sekali asal berbicara itu.


"Mungkin iya." Tanggapan Aurra memang acuh tak acuh, pasalnya ia sendiri jarang menyambangi lantai 4. Di karenakan ia lebih sering berada di UGD, ada pula ruangan praktiknya di lantai 3.


"Hm, kayaknya sih iya. Soalnya my honey bunny husband juga bilang yang di izinin buat ngerawatnya cuma dokter senior."


Wanita cantik berhijab syar'i itu tersenyum kecil. Lucu saja mendengar sahabatnya itu memanggil sang suami dengan sebutan 'My Honey bunny Husband' sedangkan dirinya cukup dengan embel embel 'mas' saja.


Derrt


Derrt


"Hallo?"


Bunyi getaran yang berasal dari saku snelli milik Adnia.


"...."


"Ok, saya segera menuju kesana. Segera siapkan ruang operasi."


"....."


"Baik."


"Ra ,aku duluan. Ada bumil yang mau melahirkan." Ujar Adnia sambil bergegas membenahi tempat makanya.


"Ya sudah, ini biar aku yang beresin."


"Makasih ya Ra, aku duluan."


Wanita cantik itu tersenyum, sahabatnya yang humoris itu memang selalu terlihat lebih dewasa jika sudah berhubungan dengan pasienya.


Aurra tahu sendiri bagaimana perjuangan sahabatnya itu hingga bisa menjadi seperti ini. Wanita yang awalnya benci darah,kini hampir setiap hari berjibaku dengan simbahan darah. Aurra tersenyum kecil, sepeninggalanya sang sahabat ia juga kembali standby. Sebelum makan siang tadi, ia sudah salat dzuhur jadilah kini ia tinggal kembali melaksanakan tugasnya.


Berjibaku dengan para pasien dengan luka bervariasi, akibat berbagai macam kecelakaan pula. Simbahan darah hingga raungan menyayat hati, semuanya datang dari para pasienya setiap hari. Hari ini Aurra memang menangani beberapa operasi, juga bagian shif pagi di Unit Gawat Darurat.


"Alhamdulillah, frakturnya sudah mulai memasuki proses pemulihan." Ujar wanita berhijab syar'i itu ramah.


Seorang pria tua berusia 70 tahun itu, adalah pasien Aurra untuk hari ini. Beliau mengalami Fraktur terbuka (Patah tulang terbuka, contohnya patah tulang yang terlihat ada luka robek dan mengeluarkan darah), di ibu jarinya juga pergelangan tanganya, karena kecelakaan motor yang dialaminya. Sedangkan bagian tubuh lainya mengalami luka gores dan memar yang tidak terlalu parah.


"Jadi, besok sudah bisa pulang dokter?"


Aurra tersenyum ramah, sambil mengeluarkan tensimeter untuk mengukur tekanan darah sipasien.


"Insaallah, jika besok hasil scen tulang rusuk bapak sudah baikan, bapak diijinkan pulang."


Ujar Aurra sambil melihat benda kecil pengukur tekanan darah tersebut.


"Seratus per delapan puluh, bapak masih suka pusing?" Tanyanya.


"Sedikit, mungkin kalau banyak bergerak."


"Bapak masih mengalami anemia, bapak harus banyak istirahat. Nanti biar suster kasih suplemen tambah darahnya."


"Iya dokter."


Selesai dengan pasien terakhir yang masih dirawat intensip itu, Aurra berlalu menuju ruanganya. Hari sudah mulai sore, saat melewati koridor menuju ruanganya, ia melihat sosok sang mertua di ujung sana.


"Ayah?"


Bingungnya, sambil mencoba memanggil sosok itu yang sedang berlalu dengan dua orang pria berjas disampingnya.


"Ayah sedang apa disini, apa ada yang sakit?"


Pikirnya, namun ia menggeleng kecil.


Ia mencoba berpikir positif saja, mungkin ayah mertuanya itu sedang chak up kesehatan rutin, atau menjenguk kerabatnya.


Setelah menampik keraguanya, Aurra kembali bergegas menuju ruanganya. Hari sudah mulai sore, dan shif nya sudah berakhir hari ini.


Kleek


Decitan pintu ruanganya yang begitu nyaring, menyambut kedatangan siempunya. Ia langsung bergegas membenahi tempat makanya, kedalam tas yang biasanya ia bawa untuk membawa mukena. Hingga sebuah tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, istri."


Bisik suara nge-bass tersebut lirih disamping wajah cantik Aurra. Si empunya tersenyum kecil, ia hafal betul pemilik suara familiar juga aroma familiar ini.


"Waalaikumsalam, mas." Jawabnya sambil kembali membenahi barang barang miliķya.


"Mas sudah pulang dari kesatuan?"


Tanyanya setelah selesai membenahi barang barang miliknya. Tak banyak memang, keperluan makan, buku catatan medisnya, juga alat salat miliknya. Itu saja.


"Sudah, mau jemput istri. Makanya pulang cepat." Jawabnya sambil tersenyum kecil.


"Jangan gitu, tugas mas itu nomer satu, keluarga nomer dua." Sanggah Aurra.


Cup


"Iya istriku, ini kan mas habis tugas. Makanya sudah menjemput kamu, dek. Kan sudah waktunya pulang." Ujarnya menuturkan setelah mengecup pucuk kepala sang istri.


"Gitu."


"Iya, dek."


Wanita cantik itu berbalik, menatap sang suami yang masih menggunakan seragam dinas lengkapnya. Gurat gurat keletihan terlihat samar diwajah tampanya. Ia tersenyum kecil, ditengah tengah letih selepas kerja,suaminya itu masih sempat sempatnya menjemput sang istri kerumah sakit.


"Capek ya mas, kelihatan banget." Ujarnya sambil menyeka peluh yang menghiasi pelipis sang suami.


"Enggak kok, cuma sedikit gerah habis lari maraton tadi."


"Lari maraton?" Bingung sang istri.


"Iya, di koridor rumah sakit. Takut takut kamu sudah pulang duluan dek." Jawabnya jujur yang langsung di hadiahi senyuman manis sang istri.


"Lain kali, kalau mau jemput telpon dulu"


"Handphone mas mati, seminggu tidak di charger."


Aurra melogo kaget atas penuturan sang suami.


"Astagfirullah, kenapa gak di charger mas?"


"Lupa. Mas kan jarang pakai handphone."


Aurra mengelengkan kepalanya tak percaya. Suaminya ini, memang tipikal orang yang jarang sekali memegang handphone. Saking jarangnya, dia terkadang lupa mengisi daya handphonenya hingga berminggu minggu lamanya.


"Ya sudah, nanti biar Aurra charger dirumah. Punya handphone itu digunain, buat komunikasi misalnya, buat bertukar kabar juga. Jadi gak buat orang khawatir nantinya." Celoteh Aurra mengingatkan.


Van'ar bukanya marah mendengar celotehan sang istri, ia hanya tersenyum kecil. Karena baginya sang istri sangat menggemaskan jika tengah mengomel.


"Ish orang ngasih tau itu didengerin, bukanya mesem mesem sendiri." Ketus Aurra akhirnya.


"Iya maaf istriku. Mas dengerin kok."


Ujar Van'ar sambil tengusap pucuk khimar sang istri.


"Ya sudah, kita pulang ya?" Ajaknya yang langsung diangguki oleh sang istri.


"Bisa naiknya dek?" Tanya memastikan.


"Alhamdulillah, bisa mas." Jawab wanita cantik yang sudah duduk manis di jok penumpang tersebut.


"Pegangan yang erat, takut jatuh."


Intruksi sang suami.


"Modus ih."


"Aww sakit dek." Ringis Van'ar saat pinggangnya dihadiahi cubitan mau sang istri.


"Makanya gak usah modus."


"Sedikit dek, kan sama istri sendiri."


Ujarnya membela diri, sebelum melajukan motornya membelah jalanan. Menikmati kemuning sore hari bersama sang istri tercinta.


Sesampainya dirumah keluarga Radityan, mereka berdua berpapasan dengan Lunar yang terlihat tengah tergesa-gesa. Gadis cantik berhijab syar'i itu terlihat membawa tas besar bersamanya.


"Lunar, kamu mau kemana?"


Sapa Aurra bertanya.


"Ah mbak, aku mau kerumah sakit.Mau-" Gadis itu menjeda ucapanya, merutuki kebodohanya.


"Kerumah sakit? Siapa yang sakit?"


Tanya Aurra penasaran. Pasalnya tadi ia juga melihat ayah mertuanya ada di Rumah sakit.


"Ah, teman Lunar ada yang lahiran. Jadi Lunar mau nengokin ke Rumah sakit. Sekalian bawain selimut tambahan buat kerabatnya yang ikut nginep disana, kasihan." Elaknya sambil mengangkat tas besar bawaanya.


"Teman yang mana?"


Kini giliran sang kakak yang bertanya, menatapnya penuh selidik lewat tatapan tajamnya.


"Teman SMA bang, dia melahirkan anak pertamanya tadi."


Van'ar tak merespon, setidaknya ada yang terasa janggal dari sikap adiknya ini.


"Ya sudah, kamu hati hati dijalan ya Lunar."


"Iya mbak."


"kamu pergi sama siapa?" Tanya Aurra lagi.


"Sama supir. Kalau gitu Aurra duluan ya bang, mbak." Ujar Lunar pamit. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Aurra dan Van'ar.


Sepeninggalanya Lunar, Aurra dan Van'ar kembali melanjutkan langkahnya. Memasuki rumah megah yang terasa sepi itu. Keheningan amat kentara, saat biasanya ada ibu mertuanya di ruang tamu juga kakek mereka-Ibra.


"Bunda sama yang lain pada kemana sih mas?"

__ADS_1


Tanya wanita cantik itu, mengingat hingga pukul delapan malam rumah tetap sepi.


"Kata bibi sih, Ayah sama bunda lagi keluar. Kalau Opa lagi di Makasar." Ujar pria tampan yang baru saja menganti pakaian kokonya dengan pakaian rumahan yang lebih santai.


"Hm, pantas saja sepi."


Ujar Aurra sambil mencabut charger handphone milik sang suami.


Duduk di samping ranjang, sambil mengaktifkan handphone tersebut. Menunggu hingga layarnya terbuka, dan mulai menjelajahi handphone milik sang suami seiizin suaminya tadi. Hanya ada beberapa aplikasi chat, beberapa aplikasi komunikasi khusus. Tanpa ada aplikasi medson seperti IG, FB, Line atau sejenisnya. Ia beralih menuju kontak, dan wow. Aurra tertegun melihat daftar kontak sang suami. Tak lebih dari dua puluh orang.


"Kontak kamu cuma segini mas?" Tanyanya penasaran.


"Iya." Jawab pria tampan yang tengah berjalan kearahnya itu.


Di sana hanya ada kontak orang orang terdekatnya, juga para petinggi dan sahabat sejawatnya dikesatuan. Aurra beralih membuka galeri, hanya ada tiga folder disana. Camera, Whatsapp dan sreenshoot. Isinya tidak lebih dari 100 fhoto, banyaknya fhoto surat kesatuan yang tak Aurra faham. Lebihnya, fhoto candid Lunar juga fhoto pasca pernikahan mereka. Pantas saja wallpapernya merupakan fhoto pengantin mereka, Aurra jadi tersenyum sendiri melihatnya.


"Lihatin apa sih dek, sampe senyum senyum sendiri." Ujar Van'ar yang datang sambil merebahkan kepalanya dipangkuan sang istri.


"Mas."


Lirih sang istri memperingati, saat Van'ar menganti posisinya menjadi mengarah ke perut ramping Aurra sambil memeluknya.


"Sebentar, maunya gini."


Pinta Van'ar.


Aurra tak menolaknya, ia kembali membuka fhoto di folder Camera. Hanya ada beberapa fhoto siempunya disana, masih mengenakan seragam putih abu. Memakai jas hitam berlambangkan logo OSIS, wow. Aurra baru sadar jika suaminya itu dulu adalah Ketos alias Ketua Osis.


"Mas dulu ketua OSIS?"


"Hm." Gumam Van'ar yang masih membenarkan wajahnya dihadapan perut Aurra.


Aurra kembali menscrool kesamping, ternyata ekspresi suaminya itu sedari dulu sudah datar bin lempeng. Walaupun di anugrahi wajah rupawan yang tak kalah dibandingkan cogan cogan dinovel romantis. Aurra meyakini ini semua fhoto hasil jepretan Lunar. Pasalnya lebih banyak fhoto Lunar disana. Ada juga fhoto masa kecil Van'ar saat masih SMP .SMP saja sudah tampan, walaupun ya ekspresinya masih datar.



Aurra kembali melihat fhoto sang suami, ada yang menarik perhatianya. Fhoto dirinya menggenakan jaket bomber bertuliskan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Tengah memegang spanduk kecil bertuliskan presma, sambil menatap datar kearah kamera. Disampingnya nampak ada beberapa orang berjaket sama, yang Aurra yakini seniornya.


"Mas, kamu dulu PRESMA?" Tanyanya lagi penasaran.


"Hm."


"Kamu ambil jurusan apa dulu mas?" Penasaran Aurra sambil membelai lembut surai hitam sang suami.


"Psikolog."


"Psikolog? Kenapa?"


"Mau saja, biar mudah baca pikiran orang dalam situasi apapun." Ujarnya santai masih dalam posisinya.


"Jadi mas bisa tahu kalau orang bohong?"


"Hm."


'Termasuk gelagat adikku yang berbohong tadi.'


Batin Van'ar.


Van'ar mengambil jurusan psikolog, bukan karena tanpa alasan. Banyak yang ia dapatkan dari saja, juga dapat ia realisasikan saat tengah menjalankan tugas. Ijazah psikolog juga merupakan salah satu cabangan perwira karier. Karena salah satu kelebih perwira yaitu menjadi perwira karier yang memiliki ijazah profesi (Kedokteran, Farmasi, Psikologi), Sarjana (SI) dan Program Diploma III Negeri atau yang dipersamakan, sesuai jurusan/program studi yang ditentukan Melalui Ikatan Dinas Pendek untuk di TNI-AU,Al dan AD.


Perwira umumnya menerima pelatihan kepemimpinan dan manajemen, selain pelatihan yang berkaitan dengan spesialisasi mereka dalam unit militer yang dijurusi. Beberapa militer di negara maju bahkan mewajibkan gelar sarjana sebagai prasyarat untuk komisi menjadi perwira, tetapi di TNI itu bukan suatu keharusan namun dianjurkan.


"Dia kapan tumbuhnya sih dek?"


Ucap Van'ar dengan suara agak tertahan karena posisinya.


Aurra terbegong sejenak, ucapan suaminya itu membuyarkan lamunanya yang tadi tengah membayangkan cerita sang suami tentang akademi militernya.


"A-apanya mas?"


"Kapan perut kamu buncit dek?"


Deg


Aurra speechless, suaminya ini memang selalu bisa membuatnya jantungan tanpa diduga.


"Aku mau lihat kamu hamil, anak kita."


Lanjutnya sambil ngedusel-dusel di perut ramping sang istri, yang terhalang gamis longarnya.


"K-kita berdoa saja kepada Allah ya mas, biar doanya cepet dikabulin." Ujar Aurra sambil mengusap usap surai hitam milik sang suami.


"Mas gak sabar pengen jadi Ayah." Lanjut Van'ar sambil mengecup singkat bagian luar gamis bagian perut Aurra.


Pria muda itu tak main main, ia memang ingin segera menjadi seorang ayah. Terlepas dari usianya yang masih terbilang muda, tetapi ia sudah siap lillahita'ala jika Allah berkenan memberikan anugrah itu segera kepada rahim sang istri. Karena akhir akhir ini ia sering memiliki bunga mimpi yang cukup membuatnya risau.


"Semoga kamu cepat tumbuh, di dalam sana."


Lirihnya kecil penuh harap kepada yang maha kuasa.


**


To Be Continue


Hayooo, update lagi nih😄😄


Jangan lupa, kalian krisar kalau ada yang salah atau mengganjal ya.


Jangan lupa like, vote dan komenya.


Penasaran gak sama mimpi Van'ar??


Hayoo, jangan kepo yà😄😄


Ok, sampai jumpa lagi guys😊😊


Sukabumi 31 mei 2020


11.37

__ADS_1


__ADS_2