Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 74 : Ikatan


__ADS_3

..."Diantara banyak kesempàtan yang aku miliki, aku cuma mau diberi kesempatan untuk selalu berada disisimu."...


...-Aurra Putri Haidan-...


...BSJ 74 : Ikatan...


...****...


Semilir angin lembut, menyambut terbukanya manik hazel teduh tersebut. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali, memcoba menyesuaikan dengan cahaya putih yang mendominasi. Dirinya beranjak dari tempatnya terbaring. Menyentuh perutnya yang rata, sambil menatapnya bingung. Seingatnya-dia tengah hamil besar dengan dua janin didalamnya. Lalu, kemanakan buah hatinya yang telah ia kandung tujuh bulan ini?


Dengan tergesa gesa, wanita cantik berhijab syar'i itu membuka satu satunya pintu yang ada disana. Berjalan tergesa gesa sambil mencari dua buah hatinya. Air matanya sudah mengalir tak terbendungkan. Pikiranya kacau untuk saat ini. Sayup sayup, dia bisa mendengan suara celotehan bayi. Dengan langkah lebar, dia mengikuti asal suara tersebur. Tiba di sebuah ruangan yang di penuhi bunga lilac-bunga yang melambangkan kasih sayang. Dia termenung lama, menatap kearah seorang wanita berdress putih bersih selutut.


Wanita itu cantik, Aurra bisa menebak usianya masih sekitaran di bawah kepala tiga. Rambut bergelombangnya tergerai indah, terhembus angin yang menyapa ramah. Wanita itu tengah duduk di sana, di bawah pohon rindang yang di hiasi lilin lilin menyala. Ada sebuah ayunan bertali putih di sana.


Wanita cantik itu berbalik, menatap Aurra dengan senyum mengembang. Memperlihatkan manik hazel cantik yang sama persis seperti milik Aurra. Wanita itu melambaikan tanganya, mengisyaratkan agar Aurra mendekat. Aurra berjalan perlahan, mendekat kearah wanita yang masih tersenyum kearahnya. Dia mengendong seorang bayi, sambil mengayunkan ayunan berisi bayi pula. Dia tersenyum manis, lalu menyerahkan bayi dalam gendonganya kepada Aurra.


Senyumanya tak luntur di wajah cantiknya.


Wajah blasteran yang nampak kental di wajahnya. Tapi, Aurra rasa mereka memiliki banyak kesamaan. Seperti warna mata, juga senyuman yang sama. Bahkan, jika dilihat lihat dari struktural wajah juga hampir sama persis.


Wanita cantik itu berjalan mendekat kearah Aurra, tersenyum sambil memeluk Aurra singkat. Lantas meninggalkan kecupan singkat di kening Aurra. Setelah itu ia berlalu, berjalan menjauh seraya berkata.


"Bunda, sayang Aurra."


Deg


Aurra terdiam seketika saat wanita cantik itu berkata. Jantungnya bergemuruh tak karuan saat ini. Benarkan wanita cantik itu bundanya?


Wanita yang sangat dirindukanya. Wanita yanģ telah melahirkan ia keduania ini.


"Bunda...." Lirihnya, saat dilihat wanita itu telah hilang entah kemana.


"Bunda..." Panggil Aurra penuh harap.


"Bunda, Bunda?"


"Bunda, hiks. Aurra juga sayang bunda." Lirihnya sambil terisak kecil.


Rasa sesak terasa menggila di dadanya. Belum lagi, saat dua bayi di sisinya ikùt menangis. Seakan akan tahu, apa yang tengah di rasakan Aurra saat ini.


"Sssstt, jangan menangis." Lirih suara bass berat milik kekasih hati tercinta.


Datang menenangkan hati yang lara, sambil memeluknya erat. Membagi kehangatan juga keyakinan, karena semuanya akan baik baik saja. Menghujani pucuk kepala Aurra dengan kecupan sayang, sebelum memanggil namanya sayang.


"Aurra...."


"Aurra...."


"Dek?!"


Manik hazel itu membuka sempurna, memperlihatkan iris cantik miliknya. Sambil mengumpulkan segala kekuatan di tubuhnya, wanita hamil itu merubah posisinya menjadi duduk. Menyisir setiap ruangan yang di tempatinya, sambil berpikir.


Sambil menatap cemas kearah perutnya, wanita cantik berhijab syar'i tersebut bergumam lega. Syukur alhamdulillah, saat ia tahu kandunganya tidaķ apa-apa. Seingatnya, saat pingsan tadi dia sangat merasa kesakitan di area perutnya. Aurra takut, sungguh ia sudah cemas akan keadaan yang tidak menyenangkan akan menimpa para buah hatinya.


Tetapi ia cukup lega, saat terbangun buah hatinya masih dalam keadaan baik baik saja.


Sambil mengelus perut buncitnya, Aurra bergumam kecil membaca hamdalah. Di dalam sana, sang buah hati nampak merespon sambil menendang nendang kecil.


Padahal Aurra harap, sayup sayup suara yang ia dengar tadi berasal dari sang suami. Tapi, kenyataanya tidak sesuai dengan imajinasinya. Kini ia berada di sebuah posko darurat, dengan bad berkerangka besi yang berjajar rapih. Tapi, yang menarik perhatianya adalah banyaknya ransel juga peralatan yang tertentu yang kurang ia hafal fungsinya. Yang Aurra tahu, ada banyak seragam yang nampak familiar ďimatanya.


"Dek, kamu sudah siuman?"


Dek?

__ADS_1


Aurra menoleh, menatap kearah sumber suara tersebut. Dari radius beberapa meter di hadapanya, pria itu berdiri dengan tegapnya memegang sebuah kantong kresèk berwarna hitam.


"Kamu sudah siuman, ada yang sakit? Perut kamu sakit? Apa kamu pusing kepalanya? Perlu panggil dokter?" Tanya pria itu bertubi tubi, sambil berjalan mendekat kearah bad yang digunakan Aurra.


Berlutut sisamping Aurra, sambil menatapnya harap harap cemas. "Kada Bidan desa sini, tadi kamu kontraksi ringan karena benturan saat kamu jatuh. Kamu sering mengalami flek? Dedeknya suka nendang nendang aktif ya? Perut kamu sering sakit ya, dek?" Cerocosnya tiada henti.


Aurra bahkan tak bisa mengedipkan matanya, saking terkejutnya. Ia takut semua ini hanya ilusi, ia takut semua ini cuma mimpi. Mimpi yang hilang kala ia mengedipkan mata.


"Dek, kamu kenapa? Ada yang sakit ya, mau mas panggilin dokter?" Tanya pria tersebut cemas.


Aurra menggeleng kecil di bawah alam sadarnya. Apa benar, pria yang tengah berdiri dihadapanya ini adalah suaminya. Apa cuma halusinasi karena efek rindu menahun semata.


"Mas?" Cicitnya.


"Iya, kamu butuh sesuatu?" Tanya pria tampan terebut.


"Mas?"


"Iya dek, ada apa? Perutmu sakit? Jagoan jagoan kita nendang bersamaan ya? Kata Bidan tadi itu wajar, mereka merespon apa yang kamu rasakan dek." Tuturnya sambil mengenggam jemari mungil milik wanita dihadapanya.


"Ini-benaran mas?" Pria tampan itu menautkan alisnya bingung.


"I-ini benar mas Van'ar suami Aurra?" Tanya Aurra mulai terisak.


Pria tampan tersebut tersenyum kecil. Ia mengerti kemana maksud dari pembicaraan ini.


"Ini aku bumu, Ayamu." Ujarnya sambil tersenyum hangat.


Aurra tidak mau menerka nerka lagi. Wanita yang tengah hamil besar itu beranjak, langsung memeluk sosok yang amat dirindukanya beberapa bulan ini. Rasanya semua seperti mimpi, terlalu takut Aurra tanggapi jika hanya menyakiti. Ia takut semua ini halusinasi, seperti yang sudah sudah. Tapi, Aurra yakin jika kali ini semuanya real kenyataan.


"Aurra rindu mas, Aurra rindu." Lirihnya sambil menangis tersedu sedu.


Menumpahkan segala kerinduanya didada bidang yang dirindukanya. Memeluknya erat, sambil menghirup rakus aroma khas yang dirindukan indra penciumanya. Ini Suaminya, sosok yang dirindukanya selama ini. Prianya yang sangat ingin ia temui dari jauh jauh hari.


"Mas kemana saja, Aurra khawatir?" Ujar Aurra sambil menangis tersedu sedu.


Pria tampan itu tahu kekhawatiran sang istri. Apalagi,saat ini istrinya ini tengah hamil tujuh bulan. Selama kehamilan itu pula, dapat dihitung oleh jari kebersamaan dengan istrinya. Kini, ia juga belum bisa berjanji bisa terus berada di samping istrinya. Dikarenakan, ada tugas yang tentu harus diselesaikan olehnya.


"Ssstt, tenang ya. Mas ada di sini, mas sehat. Jadi kamu tidak perlu khawatir, mas baik baik saja." Ujarnya menenangkan sang istri.


Dia-Keevan'ar Radityan As-zzioi yang dirindukan banyak orang. Sosok rupawan yang disangka telah berpulang ke-rahmatullah. Sosok yang akhir akhir ini tengah gencar-gencarnya dicari keberadaanya. Dia di sini, memeluk sang istri tercinta erat alih alih sebagai penebus rindunya tiga bulan ini.


Ia sudah tau jika kekasih hatinya itu berada di sini kemarin malam. Awalnya Van'ar juga terkejut,ia ingin marah saat mengetahui sang istri tercinta yang tengah hamil besar berada ditempat berbahaya seperti ini. Bukanya mengambil cuti hamil, istrinya itu malah nekad ikut menjadi relawan. Malam itu juga, Van'ar menemui Andre-putra pemilik rumah sakit tempat Aurra bekerja, yang juga nampak hadir menjadi relawan.


Dari penuturan Andre-sejak hamil empat bulanpun Aurra sudah ngidam ingin kembali menjadi relawan. Saat teman teman mereka dikirimkan ke jalur perbatasan, untuk menjadi relawan. Andre tentu menolak mentah mentah permintaan Aurra kala itu. Kini, wanita itu kembali lagi meminta untuk menjadi relawan. Sebagai sahabat yang baik, dengan berat hati kali ini Andre menyetujui keinginan Aurra.


Dengan perhatian lebih tentunya, Andre tanpa diketahui banyak orang telah mengatur segalanya dengan baik. Dari kenyaman Aurra dan si kembar selama perjalanan, hingga helicopter keluarga Radityan yang selalu siaga jika keadaan tak terkendali terjadi. Tapi ya, keadaan bumil di medan berbahaya itu tentu saja tak dapat dihindari dari hal hal yang kurang menyenangkan. Seperti saat ini, keadaan ini memang tidak pernah ada yang mengira sedikitpun.


"Sudah ya, sekarang kamu makan dulu. Kata temanmu, kamu belum makan dari pagi. Betul dek?" Tanya Van'ar sambil melonggarkan pelukanya.


"Aurra belum mau makan mas." Cicit Aurra kecil.


"Iya, mas tahu. Tapi dek, sekarang ini ada dua nyawa yang bergantung hidup kepadamu." Ujar Van'ar memberi pengertian.


"Mereka butuh nutrisi yang cukup, jadi bunda harus makan ya?"


Aurra mengangguk kecil, ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Hatinya sungguh di dera kelegaan yang luar biasa. Pria yang dirindukanya ada dihadapanya. Keadaanya sehat jasmani dan rohani, semua itu sudah merupakan anugrah terindah dihari ini.


"Baca doa dulu dek!" Titah Van'ar yang sudah siap menyuapkan sendok berisi bubur tersebut.


"Makan dulu seadanya ya dek, yang penting kamu dan si kembar ada asupan untuk saat ini."


Ujarnya sambil menyuapi Aurra dengan telaten. Bubur sederhana itu adalah menu untuk pagi tadi, yang dimasak di dapur darurat.

__ADS_1


Keheningan tercipta diantara mereka. Van'ar sibuk menatap sang kekasih hati, sedangkan yang ditatap sibuk mengunyah pelan makananya.


"Adek gak dapat surat dari mas?" Tanya Van'ar setelah acara menyuapi makananya selesai.


Aurra menggeleng kecil sebagai jawaban. Wanita cantik itu menatap sang suami seolah olah bertanya kenapa. Van'ar terdiam untuk berpikir, seharusnya surat dan fhoto yang dititipkanya sudah tiba untuk sang istri. Malam itu, seharusnya teman teman sejawatnya tiba di Jakarta. Begitu pula dengan surat yang dititipkanya. Tapi, ternyata sampai saat ini dua titipanya itu belum juga tiba.


"Memagnya surat apa mas?" Tanya Aurra.


"Mas, titip surat buat Aurra dan fhoto USG si kembar kepada teman sejawat mas. Mas kira, surat itu sudah sampai ketangan kamu."


Aurra menggeleng sebelum menjawab.


"Tidak, Aurra tidak menerima surat apapun dari mas."


Malam itu, rekan rekan sejawat Van'ar dan Van'ar sendiri harusnya pulang ke Jakarta. Namun, karena ada panggilan mendadak, Van'ar harus ikut terbang dengan helicopter yang berbeda tujuan. Teman teman satu teamnya pulang ke Jakarta, sedangkan Van'ar terbang ke timur negri untuk memenuhi panggilan misi baru. Singkat cerita sebelum terbang Van'ar menitipkan sepucuk surat dan juga fhoto USG si kembar kepada temanya. Dengan harapan, dua benda tersebut dapat mengurangi sedikit etensi kerinduan diantara mereka.


Padahal Van'ar tidak tahu, pesawat yang membawa teman teman sejawatnya telah gugur di tengah jalan. Van'ar belum tahu, jikalau dirinya pun sudah disangka meninggal dunia. Padahal dirinya masih ada di dunia ini dengan sehat wal'afiat. Karena pada saat itu, yang mengetahui dirinya terbang kesini dengan pesawat berbeda hanya segelintir orang. Jadilah kemungkinan terbesarnya, Van'ar di perkirakan menjadi salah satu korban yang gugur.


"Apa mereka belum sampai ya dek?" Pikirnya.


"Aurra juga kurang tahu mas. Selama di sini, Aurra tidak pegang handphone. Jaringan di sini juga kurang bagus." Van'ar mengangguk sebagai jawaban. Entahla, mungkin rekan rekanya terlambat tiba ditujuan, pikir Van'ar.


"Kenapa dek?" Tanya Van'ar saat melihat manik hazel istrinya berkaca kaca.


"Ada yang sakit? Perlu mas panggilin bidan?"


Cemas Van'ar.


Aurra menggeleng tanpa suara, diiringi tangisanya yang kembali mengudara. Van'ar didera kecemasan, ia takut istrinya itu kembali mengalami kontraksi atau flek. Dengan sigap ia memeluk sang istri, mengusap punggung mungil bergetar itu lembut. Ia tidak tahu apa yang tengah dirasakan istrinya, tapi setidaknya Van'ar mencoba memberikan tekenangan bagi istrinya.


"Kenapa dek? Kenapa?" Tanyanya cemas saat mendengar istrinya merintih pelan.


"Mereka nendang bersamaan."


Van'ar bernapas lega, ia pikir istrinya merasakan sakit di perutnya lagi. Kalau urusan si kembar, ia tentu cara menanganinya.


"Hay, jagoan jagon ayah? Apa kabar di dalam sana?" Sapanya sambil berlutut disamping bed yang di tempati Aurra. Mengelus perut buncit istrinya pelan sambil menyapa buah hatinya didalam sana.


"Maaf, ayah baru bisa menyapa kalian lagi." Ada nada penuh penyesalan disana.


Aurra tahu, jika suaminya itu tidak mau melakukan semua itu tanpa disengaja. Ia tahu tugas suaminya itu berat. Penyesalah biarlah berlalu, karena sekarang mereka sudah bisa bersatu.


"Ayah janji, akan selalu menyempatkan waktu sesering mungkin bersama kalian dan bunda." Ujar Van'ar berjanji, sambil memeluk perut buncit istrinya. Mengecupnya pelan, saat dirasa para buah hatinya menyapanya lewat gerakan menendang disana.


Aurra yang melihat semua itu hanya bisa menangis haru, sambil membelai surai hitam milik suaminya. Ia bahagia, dan berharap jika kebahagiaan ini senan tiara melingkupinya hingga akhir hayat. Namun, tiba tiba dua suara yang tak familiar digendang telinganya membuat fokusnya teralih. Di tambah raut keterkejutan dari salah satunya, di lanjut dengan bogeman mentah yang membuat Aurra shok.


"Aurra?!"


"SIAPA KAU, BERANI BARANINYA MEMELUK ISTRI ORANG."


BUGH


"Mas?!"


□□□□


Hayoo update lagi yo😊😊


Maaf kemarin aku gak update. Soalnya kemarin ada acqra perpisahan sampai sore. Belum lagi jaringanya buruk kemarin malam. Maaf juga nelum bisa double up🙏🙏 Aku lagi banyak pekerjaan didunia nyata. Mohon dimaklumi ya🙏🙏


Jangan lupa like, komentar dan vote ya😋😋


Sukabumi 01 Juli 2020

__ADS_1


06.24


__ADS_2