
...'Tidak ada misi semenegangkan ini, selain menunggu jawaban dari si pemilik hati.'...
...-Keevan'ar Radityan Az-zzioi-...
...BSJ 28 : Jawaban Dari Pemilik Hati...
...****...
Sinar mentari pagi yang terasa mulai menyengat,menyudahi rutinitas pagi hari ini. Puluhan pria berbadan tegap yang hanya mengenakan celana panjang berwarna hitam, mengekspos dada bidang dengan hiasan six pack atau eight pack yang menggiurkan. Sudah menjadi rutinitas mereka melakukan latihan fisik disetiap pagi atau sore hari. Sudah satu minggu berlalu, pasca hari meninggalnya almarhumah. Kini pria tampan yang tengah melakukan push up dengan sebelah tangan itu lalui dengan menunggu.
Peluh yang mulai membanjiri, membuat kulitnya yang sudah bening sejak lahir menjadi mengkilat. Membuat kaum hawa yang melihatnya pasti menelan saliva saking menggodanya ciptaan tuhan yang satu ini. Bahkan di saat tubuh rekan rekan sejawatnya menggelap eksotis saat terkena sinar mentari, lain halnya dengan miliknya. Tubuhnya malah akan memerah saat tersengat matahari, tetapi tetap akan kembali kewarna semula.
Selepas latihan rutinya, pria rupawan itu mengistirahatkan sejenak dirinya. Memilih duduk menjauh dari teman sejawatnya. Satu botol air mineral ia minum hingga tandas. Membiarkan air itu membasahi tenggorokanya, sementara otaknya berkelana. Satu minggu sudah berlalu, dan ia tengah menunggu. Menunggu jawaban si pemilik hati dari terakhir kali mereka berbincang. Ia ingat betul, bagaimana hari itu ia menyatakan perasaanya.
--FLASHBACK--
"Kakakmu.... sudah membatalkan khitbahnya untukku."
Deg
Van'ar mendongrak, menatap gadis yang tengah menatap jauh kesana dengan tatapan datarnya tersebut. Entahlah, kini Van'ar hàrus senang atau sedih. Tentu ia lega kakaknya itu sudah memutuskan khitbahnya, namun ia juga bimbang kala melihat kesedihan dimata Aurra.
"Ra?" Lirihnya.
"Ini." Gadis itu menyodorkan sebuah kertas yang di ambilnya dari saku gamisnya.
Van'ar menerimanya. Aurra memang tidak pernah membuang atau merobek surat itu. Ia membawanya saat ia pingsan kala itu. Hingga detik ini pun, surat yang di tulis diatas kertas putih itu masih dalam genggamanya. Ini bukan apa apa, hanya saja Aurra hanya ingin mengingat bagaimana hubungan yang di terimanya dengan segenap hati kandas melalui media secarcik surat.
'Bodoh!' Batin Van'ar sambil mengepalkan tanganya kuat, hingga buku buku jemarinya memutih.
"Dia, juga memberikan ini." Ujar Aurra sambil mengeluarkan kotak beludru tersebut dari saku gamisnya.
'Bodoh, bodoh, bodoh. Kamu bahkan meninggalkan begitu saja cincin pemberian bunda.' Batin Van'ar merutki kebodohan kakaknya.
Ia hafal isi kotak beludru tersebut. Di dalamnya ada sebuah cincin yang di buat dari berlian pemberian Vano untuk Arkia istrinya. Bundanya pernah bilang, jika putra putrinya menikah ia akan menjadikan berlian jutaan dollar itu menjadi cincin untuk mas kawin menantunya. Dan dengan segala kebodohanya, Anzar yang telah menyakiti hati bundanya kini malah membuang begitu saja pemberian sang ibu secara tidak langsung.
"Itu cincin yang di desain sendiri sama bunda Ra." Tuturnya.
"Bunda harap cincin itu akan di pakai seorang perempuan yang nantinya akan menjadi meantunya. Aku yakin, bunda memberikan itu kepada abang." Lanjutnya.
Gadis cantik itu bergetar menahan tangisnya, ternyata cincin itu amat bermakna. Lalu kenapa pria itu meninggalkanya begitu saja dengan luka menganga dihatinya.
"I-ini, tidak seharusnya aku memiliki ini."
Ujarnya sambil menyodorkan kotak cincin tersebut.
Van'ar berdiri dari posisinya, menyamakan tinggi badanya. Namun tetap saja gadis di hadapanya itu terlihat sangat mungil.
"Simpan saja Ra, itu sudah menjadi milikmu."
Ujarnya sambil mendorong tanganya, memberikan isyarat tanpa ada sentuhan yang berarti.
Aurra menghargai usaha pria dihadapanya. Van'ar menjaganya, juga menghormatinya sebagai perempuan.Ia tak menyentuhnya, kecuali sebatas sentuhan refleks atau urgen yang mengharuskan. Aurra amat menghargai itu, pria dihadapanya tahu posisinya sebagai perempuan yang menjaga setiap inchi auratnya.
"Dan ini,"
Van'ar membuka kotak cincin yang di bawanya. Memperlihatkan sebuah cincin sederhana berhiaskan permata biru keuguan, cantik bersamaan di saat kesederhanaan membalutnya. Bahkan ada tangkai bunga kebiruan yang asli, menghiasi di dalam kotaknya.
__ADS_1
"Semoga saja cincin ini punya kesempatan untuk tersemat dijarimu." Lanjutnya.
Aurra tertegun akan kesederhanaan juga kecantikan cincin tersebut. Ia juga dibuat bimbang secara bersamaan. Bukanya canggung, ia sedari dulu mengenal lebih awal Van'ar. Ia tidak canngung namun masih bimbang dengan pernyataan tiba-tiba ini.
"Van'ar?"
"Ya, ada apa Ra?"
"Boleh aku memintamu menunggu." Ujarnya to the point.
Senyum tipis tersinggung dibibir kissable miliknya.
"Tentu, bahkan aku rela menunggu karena aku selalu ikhlas dengan apapun keputusanmu nantinya." Jawabnya.
Lega Aurra rasakan di dadanya, seakan-akan beban yag menghimpitnya menguap entah kemana.Tanpa sadar seulas senyuman terbit di balik cadar miliknya.
"Terimakasih, karena sudah mau menunggu."
Ujarnya lirih.
Van'ar senang bukan main, setidaknya respon Aurra bisa di katakan positif sejauh ini.
'Iringi langkahku ya-Rabb, karena semua ini tak lepas dari kehendakmu.' Batinya berdoa, sambil menatap gadis di sampingnya dari sisi.
Beberapa detik telah berlalu, tak pernah ada kecanggungan yang menyela diantara mereka. Kini mereka masih berdiri menatap rimbunya pekarangan rumah itu. Dengan perasaan sedikit lebih lega.
--FLASHBACK END--
Ya, mengingat itu Van'ar menjadi senyum senyum sendiri. Setidaknya masih ada harapan untuknya bukan.
"Ada apa?"
Tanya Van'ar kembali datar.
"Ya tuhan, baru saja aku lihat kapten mesem mesem kayak orang kasmaran. Sekarang sudah lempeng lagi." Gerutunya sambil menatap teman temanya yang tengah menertawakan dirinya.
"Yuk, saya duluan."
Ujar Van'ar sambil berlalu meninggalkan temanya tersebut.
"Ya tuhan, kapten satu ini."
Gerutunya sebelum ikut berlalu mengejar Van'ar.
Minggu sore di rumah singgah tentara Angkatan Darat yang bertempat di pusat negri. Sebuah surat beramplop peach mampir dengan tujuan Kapten Van'ar. Sore itu ditemani kemuning fajar yang akan segera tenggelam, ia duduk di bawah pohon mangga besar yang di tanam disamping kamp mereka. Surat yang biasanya di gunakan beberapa kerabat para tentara untuk bertukar kabar, kini Van'ar juga berkesempatan untuk mendapatkannya. Tidak ada nama sander (pengirim) disana. Namun tujuanya di isi lengkap dengan nama Van'ar.
To.Kap Loreng
Kutip goresan tinta yang tertuang rapi dan amat mungil itu, tulisan dokter sekali batinya.
Assalamualaikum Warrohmatullahi Wabarakatu.
Maaf menganggumu, dan membuatmu menunggu dua minggu lebih dua jam empat puluh menit ini.
Bunyi prakata pertama yang langsung membuat Van'ar menyunggingkan senyum tipisnya. Ia tahu sekarang, siapa pengirim surat berwarna peach kalem ini.
__ADS_1
Bagaimana kabarmu kap? Pasti letih ya?
Tanyanya basa basi, namun baru kali ini Van'ar senang bukan main saat ada seseorang yang berbasa-basi denganya.
Semoga saja Allah selalu melindungimu dan menyertaimu ya, Amiin.
"Amiin."
Cicit Van'ar kecil.
Jadi, datangnya surat ini aku cuma ingin memberitahukan kepada salah satu hamba Allah yang tengah berada jauh disana. Maaf telah membuatmu menunggu, dan dengan ucapan bismillah hirrohma nirrohim aku mau menjawab pertanyaanmu.
Van'ar berdebar debar bukan main. Ternyata secarcik kertas ini mampu mengguncang jiwanya.
Bismillah, aku menerima pinanganmu jika memang semua pihak telah menyetujui hubungan ini. Semua ini atas nama Allah, juga atas kehendak-Nya. Aku sudah bicara dengan keluarga kita, Karena Anzar telah memutuskan khitbahnya secara tidak langsung mengijinkanku di khitbah pria lain. Keluarga kita menyetujuinya.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah."
Gumam Van'ar gembira, sungguh hatinya terasa ditumbuhi ribuan bunya ya-Allah.
Maaf jika aku menjawabnya melalui secarcik surat. Aku janji, sepulangnya kamu nanti, aku akan menjawabnya secara langsung. Jadi aku harap, kamu bisa menunggu sedikit lagi hingga kamu pulang. Dan semoga Allah selalu melindungi kamu, juga niat baik ini.
-Aurra-
Ah,bolehkan Van'ar berteriak kini?
Saking bahagianya ia sampan tak sadar senyum lebarnya membuat teman teman sejawatnya menganga. Mereka terkejut, tentu saja. Bertahun-tahun mengenal Keevan'ar Radityan Az-zzioi belum pernah mereka melihat pria itu tersenyum selebar ini.
"Terimakasih, terimakasih atas jawaban doa hambamu ini ya-Rabb." Ujarnya bahagia sambil melipat surat itu dan memasukkanya kedalam saku.
"Semoga saja, semua niat baik itu terlaksanakan dengan seharusnya."
Ujarnya sebelum berlalu meninggalkan tempatnya duduk barusan.
"Sepertinya kapten kesambet jin manggah. Buktinya, dia senyum secerah mentari."
Komentar salah satu teman sejawat Van'ar yang menyaksikan keajaiban dunia tersebut.
"Ngaco kamu."
"Apa jangan jangan kapten habis ketibanan durian runtuh?"
Mereka tidak tahu saja, yang membuat Van'ar sebahagia itu bukan karena kesambet jin, apalagi ketibanan durian runtuh. Namun kejatuhan salah satu bintang di langit yang ingin di gapainya. Angan-angan yang selalu terlantun di setiap doanya.
***
To Be Continue
Selamat siang semua??
Gerimis kecil jatuh di halaman rumahku siang ini. Dengan suasana hati lebih baik aku update lagi hari ini. Gimana, buat part ini??
maaf untuk ketelatan yang terjadi, soalnya ada beberapa hal yang didunia yang harus kuselesaikan🙏🙏
Maaf juga kalau masih banyak typo yang bertebaran
Ok, jangan lupa vote, like, dan komentar yang buanyakkk yaa😊😊
__ADS_1
Sukabumi 10 mei 2020
12.10