Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 76 : Pulang


__ADS_3

...“Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada di sisi kita,”- Bacharuddin Jusuf Habibie....


...BSJ 76 : Pulang...


...****...


Mentari sudah mulai menutup hari. Kemuning jingga menyinari, berpamit utuk kembali esok hari. Untuk kini, hari akan mulai berganti. Malam akan datang menggantikan si raja siang. Kemuning di ufuk barat merupakan pertanda, jika sang fajar akan berpulang.


Sudah tiga hari berlalu, kediaman besar ini terasa mati rasa. Atas adanya kabar memekatkan jiwa dan raga. Rencana baik yang seharusnya dilaksanakan dipenghujung tahun, kiranya urung terlaksana. Hingga tahun telah berganti pun, kepekatan tetap datang menghalau kebahagiaan. Tak ada lagi tawa, canda dan bahagia. Saat semua itu tersendat karena kabar tak menyenangkan di hati. Semua orang kehilangan, sedih dan tak terbayangkan apa yang dirasakan.


"Hasil uji forensiknya sudah keluar. Golongan darahnya sama, tapi kromosom DNA nya tidak cocok."


"Tidak cocok?" Ulang pri paruh baya tersebut.


"Iya. Cromosom DNA nya tidak cocok dengan Ayah, ataupun bunda." Tutur pria tampan tersebut.


"Jadi, masih besar kemungkinan jika itu bukan Van'ar." Ujar Anzar-pria itu sudah menyelidiki lebih lanjut tentang jasad yang membawa surat wasiat adikya.


"Maksud abang, Van'ar bisa saja masih hidup?"


Tanya Kia.


Anzar mengangguk mantap. "Lagi pula, jasad itu belum di identifikasi sebagai Van'ar. Bisa saja, surat itu hanya kebetulan dititipkan."


"Van'ar masih hidup. Jadi-"


PRANG


Bunyi benda pecah menyentuh lanntai, membuat empat orang itu beralih fokus.


"M-maaf nyonya, tadi Ari kepeleset." Cicit si tersangka kecil.


"Kamu tidak apa apakan Ari?" Tanya Kia cemas, takut takut gadis berusia 19 tahun itu terluka.


"Ari tidak apa apa, kalau begitu Ari pamit mengambil pelan dan sapu." Arkia mengangguk, sambil menatap kepergian gadis kecil tersebut.


"Siapa bun?" Tanya Anzar, pasalnya ia baru pertama kali ini melihat gadis asing tersebut.


"Putrinya pak Budi sama bu Siti. Arini, yang tinggal di pavilium belakang." Tutur Arkia.


Anzar hanya mangut-mangut kecil Ia hanya sedikit aneh saja, saat melihat ekspresi yang ditunjukan gadis pemilik mata coklat madu tersebut. Matanya berkaca kaca saat mendengar nama Van'ar disebutkan. Mungkin Anzar salah lihat, tapi ia merasa sangat yakin.


"Jadi, bagaimana hasil pemeriksaan lainya?"


Tanya Vano memecahkan keheningan.


"Menurut data dari kesatuan yang berada di Sumatra, malam itu ada dua pesawat yang lepas landas dengan tujuan berbeda."


"Maksudnya?"


"Satu pesawat terbang ke timur negri. Sedangkan satunya lagi, pesawat yang jatuh sebelum tiba ditujuan." Ungkap Anzar.


Ia juga baru mengetahui ini, saat ia datang langsung ke kesatuan yang ada di tempat Van'ar mengabdi.


"Jadi-"


"Assalamualaikum, bunda hiks." Ucapan Vano terpotong, saat putri bungsunya datang sambil terisak dan langsung memeluk sang istri.


"Wa-alaikum salam, ada apa Lunar?" Tanya Vano bingung.


"Lunar kenapa sayang?" Lirih Kia, sambil mengelus pucuk hijab putrinya lembut.

__ADS_1


Tak lama kemudian datang Ibra juga Arkan.


"Kamu apain Lunar, sampai nangis begitu?" Tanya Anzar tajam.


"E-eh, saya tidak tahu bang. Lunar tahu-tahu sudah nangis begitu." Ujar Arkan membela diri.


"Sudah sudah. Lunar cuma ingat Van'ar. Dia menangis saat melihat upacara pemakaman rekan sejawat Van'ar tadi." Tutur Ibra, sambil mengambil posisi duduk di samping Anzar.


Ibra, Lunar dan Arkan memang baru saja pulang selepas menghadiri acara pemakaman rekan sejawat Van'ar yang telah gugur. Awalnya Ibra ingin berangkat sendiri, mengingat yang meninggal itu merupakan cucu dari sahabat seperjuanganya dahulu. Tetapi, Arkan menawarkan diri untuk mengantar Ibra.


Nyatanya, Lunar juga akhirnya ikut bersama keduanya.


Lunar tak kuasa menahan tangis, saat jenasah mendiang dikuburkan dengan sesi upacara kemiliteran .Gadis itu jadi teringat abangnya, dan terbawa suasana karena membayangkan abangnya yang berada disana.


"Kamu kenapa? Kok nangis begini putri Ayah?"


Lirih Vano.


Putrinya itu memang tengah dalam keadaan buruk akhir-akhir ini. Sebagai anak yang terlahir kembar, kehilangan kembaranya membawa dampak tersendiri bagi Lunar. Mereka itu seperti satu hati yang terpisah di dua jiwa. Jika salah satunya merasakan sakit, maka pasangan kembaranya akan merasakanya pula.


Arkia sebagai bundanya mengerti sangat. Begitupun dengan dia yang terlahir kembar bersama Dezka-adik kembarnya. Mereka juga memiliki intuisi yang kuat, karena terlahir sebagai kembaran. Bahkan, ada artikel yang penah memuat ujaran seorang pujangga. Jika anak kembar sepasang itu merupakan sepasang kekasih yang telah ditakdirkan lahir bersama. Bahkan ada yang mengatakan pula, anak kembar sepasang itu sudah membawa jodohnya sendiri, yaitu kembaranya.


Tapi, terlepas dari semua itu. Anak yang terlahir kembar memang terkadang memiliki intuisi yang kuat akan kembaranya. Mengingat mereka itu seperti satu hati dalam dua jiwa.


"Bang Van'ar masih hidup, hiks. Lunar percaya itu bunda, hiks." Lirihnya kecil sambil menangis dipelukan sang bunda.


Arkan yang melihat tunanganya menangis,ingin sekali menenangkanya. Memeluknya erat, dan mengatakan jika semuanya akan baik baik saja. Hanya saja, jika ia nekat melakukan semua itu. Ia pasti akan segera di pecat sebagai calon menantu Keluarga Radityan. Mengingat, mereka sangat overpritectif terhadap si bungsu-Lunar. Jadi, sebagai seorang kekasih hati, Arkan hanya bisa menahan diri hingga waktunya tepat saja nanti.


"Abang insaallah baik baik saja, kita berdoa saja kepada Allah ya sayang." Ujar Arkia menyemangati sang putri.


Lunar melonggarkan pelukanya, mendongkrak sambil menatap bundanya intens.


"ABANG PULANG?!" Semua orang yang ada disitu menoleh reflesk, menatap dari mana asalnya suara lantang yang amat dirindukan tersebut.


"ABANGGG!!" Lunar beranjak, berlari cepat menuju sosok tampan yang datang sambil mengandeng istri tercintanya tersebut.


"Lunar kangen hiks, Lunar kira-abang udah hiks... meninggal hiks." Cicitnya kecil sambil menangis hebat didada bidang sang kakak.


Semua orang tentu menatapnya tak percaya. Dia baru saja diperbincangkan, soal keberadaanya yang hilang. Dan beberapa orang menganggapnya sudah meninggal. Kini, dia berdiri dengan tegap dihadapan semua orang. Tersenyum kecil dibalik wajah tampanya.


"Lunar kira hiks hiks, abang...."


"Sssttt, abang baik baik saja Aisyahnya abang. Alhamdulillah, abang sehat wala'fiat Lunar."


Ujar Van'ar menyakinkan sang kembaran.


Manik tajamnya beralih, menatap anggota keluarganya yang nampak masih tak percaya. Setelah pelukanya terlepas, Van'ar beranjak mendekat kearah sang bunda. Berlutut tepat dihadapan wanita yang puluhan tahun lalu melahirkanya kedunia ini. Menyentuh kakinya, lalu menatapnya dengan senyuman menyaķinkan terpatri dibibir.


"Maaf, abang membuat bunda menangis."


Ujarnya sambil menghapus air mata yang membasahi pipi wanita yang pertama kali paling dicintainya didunia.


"Abang pulang bunda, dengan selamat dan sehat berkat do'a bunda." Arkia tak lagi dapat membendung air matanya.


Dengan segera, ia memeluk tubuh putranya tersebut. Wanita yang telah menjadi ibu bagi ketiga anaknya itu sangat lega kini. Disaat tubuh tegap milik buah hati tercintanya, kembali berada dalam pelukanya. Tanpa kurang apapun ,putra gagah perkasanya ini kembali kedalam dekapanya.


"Alhamdulillah, kamu pulang dengan selamat bang. Bunda sangat bahagia, bunda bahagia bang." Lirihnya sambil melonggarkan pelukanya.


Menatap wajah tampan putranya intens. Memindai tiap lekuknya tanpa absen sedikitpun.


"Terimakasih ya Allah, telah memberikan keselamatan juga kesehatan untuk putraku."

__ADS_1


Doanya kecil. Arkia lega-saat ia sudah bisa melihat putranya baik baik saja.


Setelah memeluk bundanya, Van'ar beralih kepada Ayahnya. Sosok yang telah membuatnya berada di dunia ini. Pria paruh baya itu tersenyum kecil, namun syarat akan kelegaan. Dengan pelan, Vano merentangkan tanganya. Kebiasaan yang selalu dilakukanya, jika Van'ar muda baru pulang dari sekolah dasar.


"C'mon, capten." Lirih pria paruh baya tersebut.


Van'ar beranjak, memeluk tubuh pria paling di idolakanya sejak kecil. Pria yang membuat dirinya merasakan indahnya dunia, walaupun awalnya karna egois.


"Abang pulang, Ayah." Lirih Van'ar, sambil menitihkan setitik air matanya.


Dapat terhitung oleh jari, kebersamaanya bersama sang ayah sejak dahulu. Jika tidak Van'ar yang sibuk dengan studynya-maka ayahnya yang sibuk. Jika Vano memiliki waktu senggang, maka Van'ar sibuk dengan latihan kemiliteranya.


"Capten kecil Ayah pulang dengan selàmat."


Ujar Vano sambil menepuk nepuk bahu putranya.


Dari segi manapu, Vano akan selalu lemah jika menyangkut orang orang terkasihnya. Seperti istri dan anak anaknya. Saat Anzar melakukan kesalahan fatal saja, Vano menyelahkan dirinya sendiri untuk itu. Hingga saat Anzar hampir merengang nyawa karena ulah Logan, Vano juga sempat menitihkan air matanya kala itu.


Bukan masalah cengeng, ia merasa telah gagal sebagai seorang ayah. Ia merasa tidak becus, membimbing anaknya kala itu. Lain dengan Van'ar, sedari kecil dia tipikal anak yang mandiri dan jujur. Van'ar selalu bisa melakukan apa apanya sendiri. Jika Anzar memilih jalan mengikuti sang ayah, Van'ar lebih memilih mengikuti jejak sang kakek. Karakter Van'ar itu kuat dan independen.


Kadang kala, Vano mersa minder menjadi ayah yang memiliki tabiat buruk di masalalu. Anzar dan Van'ar memiliki sifat bertolak belakang. Tapi, kedua merupakan bagian dari hidupnya. Darah dagingnya, yang kadang membuatnya risau tiada tara saat mereka dalam bahaya.


Setelah memeluk Vano, Van'ar beralih kepada sang Opa. Sosok yang juga menjadi panutan besar dalam pembentukan karakter kuat di dalam hidupnya. Di rengkuhnya tubuh guru, panutan, sekaligus tutor kebanggaanya tersebut. Sosok paruh baya diujung senja, yang sedari kecil telah memupuk rasa bela cinta kepada negara yang besar di hati Van'ar. Sosok yang selalu mensupportnya, dalam suka dan dukanya seorang abdi negara.


"Cucu Opa yang tangguh, opa pasti yakin kamu pasti akan pulang dengan selamat." Van'ar mengangguk sambil beranjak.


Menatap saudara laki laki satu satunya. Pria dengan tatapan datarnya yang menajam di tiap lirikan matanya. Van'ar dan Anzar memang tidak terlalu dekat dari kecil. Tapi Van'ar yakin, di balik tatapan itu ada rasa yang tak dapat dijabarkan. Karena bagaimanapun juga, ada rasa sayang tidak tergambarkan.


"Mana, pelukanya Biglear?" Ujar Anzar membuka suara, sambil tersenyum tipis.


Van'ar beringsut, memeluk tubuh tegap saudaranya. Pelukan entah keberapa dalam puluhan tahun terakhir ini. Dari pada pelukan, Van'ar dan Anzar lebih banyak salahpaham karena berselisih. Tapi, jauh dari kata kata atau tatapan menusuk yang selalu dilemparkan. Mereka adalau saudara yang saling sayang. Putra Radityan yang sama sama berharga.


"Abang kira, kamu.... sudah pergi." Lirih Anzar sambil menahan luruhan air matanya mati matian.


"Abang kira, kamu akan ninggalin kita semua."


Van'ar tersenyum tipis, sambil mengeratkan pelukanya di bahu sang kakak. Ya, dia menyayangi saudaranya ini. Terlepas dari segala luka, duka, juga kecewa yang telah dia torehkan.


"Van'ar gak akan pergi bang. Si kembar sama Aurra, mau siapa yang jagain." Jawabnya keçil.


"Van'ar gak akan pergi bang, kalau belum mastiin abang sama lunar ada yang milikin."


Dug


"Aish." Lirih Van'ar, saat tulang keringnya terasa ditendang kecil.


"Kamu gak akan pergi kemanapun, tanpa izin. Jangan asal datang kedalam mimpiku dan nitipin istri." Ujar Anzar sambil melepaskan pelukan mereka.


Van'ar tersenyum tipis, lalu berujar. "Thanks, udah jagain tiga harta berharga punya Van'ar bang."


"Abang, yang terbaik." Ujar Van'ar lagi, sambil tersenyum kecil.


Semua orang bisa kembali bernapas dengan lega. Karena sang pemilik sang Biglear telah kembali ke pelukan keluarga Radityan. Putra kebanggan mereka, juga calon bapak muda yang punya dua calon bayi untuk ditunggu kedatanganya kedunia.


○○○○


Update ya guys😊😊


Maaf ya, baru bisa update sore, pasti udah pada nunggu ya😅😅 Aku lagi ada tugas lain didunia nyata, jadi tlat tlat updatenya. Yang sabar aja nunggunya yo😙 Ok, jangan lupa like, komentar dan votenya yaa❤


Sukabumi 03 Juli 2020

__ADS_1


__ADS_2