Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 45 : Comback, Again


__ADS_3

..."Aku datang, memusnahkan parasit yang memang sudah seharusnya aku musnahkan."...


...-Mr.Adderson-...


...BSJ 45 : Comback, Again...


...****...


Bandara Ngurah Rai, pagi hari waktu setempat terlihat amat ramai. Banyak para turis asing yang singgah kesana, dengan tujuan berwisata kepulai dewata Bali. Diatidak datang dengan planning berlibur ketika singgah ketempat indah ini. Surganya nusantara ini hanya tempat singgahnya tuk sementara, mengingat sang istri juga tiba tiba ingin makan Ayam betutu di Bali. Jadilah dirinya yang notabenenya workholic ini harus rela meluangkan waktunya demi istri dan calon bayinga.


Cup


"Kita sudah sampai di Bali honey, tapi kamu malah asik tertidur." Ujarnya sambil mengecup singkat bibir ranum wanita yang bulan lalu telah ia nikahi.


Wanita yang kini tengah mengandung buah hatinya. Dengan santai ia mengendong sang istri ala bridal style, tanpa mengindahkan tatapan penuh tanya dari sekelilingnya.


"Resort yang anda minta sudah siap Mr." Lapor salah satu bodyguardnya.


"Hm, langsung kesana."


Dia-Logan Gallion Smith Andderson. Pria yang sering wara wiri menghiasi majalah bisnis itu, kini tengah berada di Indonesia. Negara yang dibencinya, karena menurutnya negara ini sangat terkenal akan kemacetanya. Namun demi istri dan calon bayinya, ia rela menginjakkan kakinya tuk kedua kalinya disini. Selain itu, ia juga memiliki satu tujuan lainya disini.


Cerahnya sinar mentari di Sanur, Bali. Menjadi pemandangan indah yang melengkapi view indah dimata biru milik pria tampan ini. Di hadapanya, sang istri terlihat sangat ceria setelah keinginanya terpenuhi. Sang istri terlihat sangat cantik diantara cantiknya bunga kertas disampingnya.


"Look at me honey, and smile." Intruksi pria itu, sambil mengarahkan handphone puluhan juta miliknya.


Ckrak



Sang istri nampak indah, dengan senyum manisnya. Perut wanita yang mengenakan dress putih agak semu itu, memang belum nampak membuncit sekali. Di usia kehamilan memasuki bulan ke-3, ia masih terlihat langsing. Walaupun geja geja ibu hamil pada umumnya, sudah sering ia alami seperti morningsickness, pusing, moodyan, ngidam dan sebagainya. Logan dan Nata sudah menikah memang, namun secara tersembunyi. Semua itu sengaja dilakukan demi menjaga privasi juga keselamatan istri dan buah hatinya.


"Logan?"


"Ada apa, apa babynya minta sesuatu lagi?"


Tanya pria berpakaian casual yang tengah merangkul pinggang sang istri mesra itu.


Gelarnya memang boleh terkenal diseluruh dunia gelap. Kekejiannya juga tentang masalalu buruknya sebagai ketua Mafia. Yang penting, semua itu tertutup rapih dari istrinya. Nata hanya tahu jika Logan itu pembisnis workholic juga seorang Bastard. Sementara kisah kelamnya, pria itu tutupi dengan amat rapat. Ia bahkan kini menjelma menjadi suami sekaligus calon ayah yang sigap dan tanggap.


"Hm, aku mau ayam geprek." Pinta Nata.


"Ayam geprek?" Ulang Logan bingung dengan nama makanan yang baru diketahuinya itu.


"Apa itu honey?"


"Ayam geprek itu, ayam crispy yang digeprek terus ditaburi sambal mentah. Itu sih, setahu aku. Baby nya mau ayam geprek Logan."


Ujar Nata memelas.


"It's okay. Aku akan minta Max membeli--"


"Aku mau kamu yan buat sendiri."


"What the f*ck?!" Umpat pria tampan itu kaget.


Tidak ada sejarahnya seorang Logan Gallion Smith Andderson pemilik LG CROP'S berkutat didapur. Big no, karena semua itu mustahil Logan lakukan. Ia benci dapur, lebih benci lagi minyak panas yang pernah membuat tanganya melepuh. Selain itu juga, Logan memiliki trauma buruk didapur. Yap, ibunya dulu ditemukan meninggal didapur rumahnya. Intinya, Logan benci menginjakkan kakinya didapur.


"Please Logan, baby-nya yang mau."


"Shit?!"


"Jangan mengumpatiku, aku tidak suka Logan."


Ujar Nata kesal.


"Okay, sorry. Akan kulakukan sesuai maumu."


See, good husband, good father. Pria itu dengan mudahnya meneruti permintaan sang istri.


"Sial*n. Kenapa jenis tepung ini banyak sekali, bahkan aku tidak mengerti bahasanya."


Rutuk pria yang tengah memandangi 10 kantong terigu berbeda merk dan varian tersebut.


"Segi-ti-ga bir-bir apa ini maksudnya? Tepung ini berbahan dasar bir begitu? Hell, ini tidak baik untuk bayiku." Ujarnya sambil melemparkan tepung berbungkus biru itu, tanpa membaca komposisinya.


"Ah sial*n, aku tidak mengerti ini."


Kesalnya hingga teralihkan oleh getaran disaku celananya.


"Hallo."


"...."


"Ok. Habisi secepat mungkin, bawa tubuhnya ketempat yang keminta." Ujarnya sambil tersenyum evil.


"..."


Seringai menakutkanya terbit, setelah ia mendengar kabar dari salah satu anak buahnya. Tujuan lainya ia kesini akan segera tercapai.


"Ah, perset*n dengan ayam geprek. Aku akan membelinya secara online." Pusingnya sambil berlalu meninggalkan dapur.


"I comback, again mr.Al-faruq." Ujarnya dalam hati penuh dendam.


****


Dengan langkah riang nan ringan selepas melaksanakan salat isya, dokter muda itu melangkah menuju ruangan pribadinya. Hari ini ia bertukar jadwal dengan sahabatnya, dikarenakan sahabatnya itu ada janji bertemu calon istrinya jadilah Aurra bertukar shif denganya. Sambil mengechak handphonenya,ia membuka satu pesan dari kontak bernama 'Mas Mas Suami💕' sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


Mas Mas Suami💕


Assalamualaikum, istriku.


Apa kabar?


Mas rindu.


Ia tersenyum kecil, ini adalah kali pertamanya pria yang berstatus sebagai suaminya itu memberikan pesan singkat kepadanya. Itu juga setelah diberi wejangan tentang pentingnya menberi informasi dan kabar. Tiga bulan sudah, Aurra menjadi istri Van'ar. Hari hari nampak cepat dilalui dengan berbagai warna didalamnya.


Hingga detik ini pula, Aurra belum bisa mewujudkan mimpi sang suami untuk cepat cepat menjadi ayah. Pasalnya anugrah itu belum diberikan tuhan kepada dirinya. Aurra memang belum memeriksakan dirinya, namun sebelum menikah ia pernah periksa kepada dokter kandungan dan ia juga suaminya dinyatakan subur. Satu bulan pasca menikah pula, Aurra kembali memeriksakan dirinya. Tetapi semuanya baik-baik saja. Entahlah, mungkin Allah belum memberinya kesempatan itu kini.


Van'ar sendiri menerimanya, pria itu selalu berkata 'tidak apa apa mungkin belum rezeki.' Begitu katanya. Dari orang tua sendiri, mereka mendukung jika Van'ar dan Aurra tidak menunda untuk memiliki momongan. Toh, mereka adalah pasangan pertama dikeluarga masing masing. Tentulah akan menjadi kado terindah jika Aurra hamil nanti.


To : Mas Mas Suami💕


Waalaikumsalam


Alhamdulillah baik mas. Mas juga gimana kabarnya disana?


Aurra juga rindu.


Ketiknya sebagai jawaban. Saat ini Van'ar tengah bertugas diluar kota. Tepatnya di Kalimantan selama satu minggu. Jadilah kini mereka LDR-an ceritanya.


To : Mas Mas Suami💕


Jangan lupa makan yang teratur, dan istirahat yang cukup. Suplemenya juga jangan lupa diminum mas.


Lanjutnya dipesan kedua, sebelum ia kembali meraih stetoskop yang tergeletak diatas meja kerjanya. Beranjak menuju UGD, dimana para pasienya tengah menunggu.


â–¡â–¡â–¡â–¡


"Please, tolongin saya dokter Aurra."


Pinta pria yang sama sama mengenakan snelli dokter tersebut.


"Tapi dokter Herwan, saya."


Potong Aurra, pasalnya ia juga menjadi tak enak hati meñolak permintaan seniornya ini.


"Tolanglah saya dokter Aurra. Istri saya lagi ngidam es serut yang ada di Bogor, saya mau langsung kesana."


Bukanya tak mau membatu pria berusia 34 tahun itu. Aurra tak enak hati saja jika ia disuruh melakukan pengecekan rutin pasien yang katanya misterius itu. Lagi pula itu bukan jobdesk-nya.


"Saya mohon dokter Aurra, ini. Istri saya sudah telpon lagi." Ujar pria berkacamata itu sambil memperlihakan layar handphone.


Aurra menghembuskan napasnya lemah.


"Baik dokter, saya akan menggantikan anda."


Senyuman penuh kelegaan terbit diwajah pria yang tengah menanti kelahiran anak ketiganya ini.


"Iya. Waalaikumsalam."


Karena dokter Herwan yang bertugas melakukan pengechakan rutin luka luar kepada pasien misterius dilantai empat itu pergi, jadilah Aurra yang mendapat amanah untuk menggantikanya. Setelah menerima rekapan chak up medis sebelumnya, Aurra menyergit bingung saat tak menemukan nama sipasien. Hanya ada nama Mr.Faruq disana. Tak mau ambil pusing, Aurra lebih memilih segerà memasuki lift untuk menuju lantai empat. Bersamaan dengan dua orang pria berpakaian serba hitam yang juga menuju kelantai yang sama.


Tiga bulan sejak adanya pasien 'misterius' yang kerap diperbincangkan itu, Aurra sendiri sebagai staf medis disana tidak tahu pasti siapa dan kenapa pasien itu hingga dirawat begitu intensifnya. Dan kini, ia akan menuntaskan rasa penasaranya.


"Saya dokter Aurra, dokter penganti Dokter Herwan." Ujar Aurra menuturkan.


Pasalnya dua penjaga berpakaian serba hitam itu, menayakan siapa Aurra. Bukanya mengijinkan, salah satu bodyguard itu berbisik keteliga sahabatnya.


"Hm, apakah saya boleh masuk?" Tanya Aurra.


"Silahkan." Ujarnya.


Aurra akhirnya diperbolehkan masuk, kedalam ruangan VVIP yang memang disediakan untuk beberapa pasien berkebutuhan khusus hingga kalangan khusus.


"Nona tidak mengenalinya." Bisik bodyguard itu kepada temanya, setelah melihat gelagat Aurra.


"Betul, sepertinya tidak." Timpal satunya lagi.


Tak lama kemudian datanglah dua pria berpakaian serba hitam yang sama dengan mereka mendekat.


"Ini waktunya Rooling, tuan sudah memerintahkan kalian untuk istirahat."


Ujar salah satu diantara keduanya sambil memperlihatkan kartu namanya.


Dua pria yang tengah berjaga itu mengangguk.


"Ok, didalam ada dokter yang sedang melakukan chak up rutin." Pesanya, sebelum berlalu.


"Kami sudah masuk tuan." Ujar pria berpakaian serba hitam itu, melalui intercom yang tersambung ke pria diujung sana.


"Bagus, lakukan seperti rencana."


"Siap tuan."


â–¡â–¡â–¡â–¡


Aurra menatap wajah pasien yang katanya 'misterius' itu. Untuk seperkian detik ia terbelalak tak percaya, sebelum bibirnya berujar.


"Mas?"


Iya--Aurra hafal pria yang tengah terbaring dengan berbagai alat penunjang kehidupan ini. Dia pria yang sudah ditemuinya secara tidak sengaja, tiga kali berturut turut. Pertama,saat di taman, kedua di alfam*rt hingga berakhir mengobati lukanya, ketiga ditaman rumah sakit. Dan oh iya, dibandara merupakan pertemuan keempatnya.


Aurra menatap prihatin pria dihadapanya. Dari rekapan medisnya, Aurra bisa meñebak seberapa parah pria itu. Aurra mulai melakukan tugasnya, mengechak keadaan pasien misterius ini. Dari tekanan darah, suhu tubuh, luka luarnya, mengganti perban, hingga seluk beluk luka yang dialaminya.

__ADS_1


"Sudah selesai dokter?" Tanya sebuah suara berat disampingnya, Aurra menoleh dan langsung dihadiahi senjata api yang mengarah tepat kepelipisnya.


"Ada apa ini?" Tanya Aurra tenang, sambil meletakkan papan tulis berisi rekapan medis pasienya.


"Anda harus segera pergi, kami akan membawa tuan muda."


Aurra menyerngitkan dahinya bingung, ia menemukan kejanggalan dari dua orang pria asing yang ditemuinya di lift tadi. Bukan dua pria yang tadi menanyainya didepan pintu. Kecurigaanya semakin bertambah, saat satu orang pria lainya mendekati kearah ranjang. Mengeluarkan satu suntikan yang masih belum terpakai, beserta botol kecil yang Aurra tidak ketahui isinya.


"Jangan sentuh pasien saya." Titahnya, sambil mendekat kearah pria yang sedang berdiri didepan brangkar.


"Jangan ikut campur dokter." Titah pria dibelakang Aurra, sambil mencekal tangan Aurra.


"Jangan sentuh tangan saya." Geram Aurra, karena pria itu lancang memegang tangan Aurra yang tidak terhalang apapun pada bagian pergelanganya. Biasanya Aurra menggunakan handcok/sarung tangan steril yang nyaman digunakan jika tengah bertugas. Namun karena tadi jadwalnya memeriksa, jadilah Aurra tidak menggunakanya.


"Jangan ikut campur urusan kita, dan pergilah."


Titah pria dibelakang Aurra mulai naik darah.


Aurra beralih, menatap pria yang tengah mengarahkan jarum suntik berisi cairan entah apa itu, kepada selang infus.


"Berhenti!"


Titah Aurra sambil memutar pergelanganya yang masih tercekal, secara cepat. Berlari kearah pria lainya yang tengah berdiri siap melancarkan aksinya.


PLAK


"SIAL*N! APA APAAN KAU?!"


Bentaknya murka, saat Aurra berhasil menjatuhkan suntikanya.


"Siapa kalian?" Tanya Aurra memburu, sambil mengatur napasnya.


"Sial, apa apaan wanita ini?" Bentak pria yang tadi mencekal Aurra.


"Jangan main main dengan kami dokter."


Titah pria yang tadi bersiap menyuntik selang infus.


"Pergi, atau saya panggil keamanan."


Gertak Aurra.


"Cih, sebelum itu terjadi kau sudah lebih dahulu mati." Ujarnya penuh penekanan sambil melayangkan satu bogeman mentah kearah Aurra. Dengan cekatan dan gerakan refleks yang akurat, Aurra mampu mengelak.


BUGH


"Maaf." Cicit Aurra yang berhasil mengenai perut bagian kiri lawanya.


"Main main lo?!" Kesal pria satunya lagi, saat Aurra berhasil memukul temanya.


BUGH


BUGH


BUGH


"Maaf, kalian memaksa saya melakukan ini."


Cicit Aurra saat melihat lawanya terkapar tak berdaya.


Aurra sejak dulu punya keahlian di beberapa cabang bela diri. Jadilah pertahananya kuat, ketika itu memang benar benar diperlukan hingga kini. Bahkan, hanya segelitir orang yang tahu akan kelebihan Aurra saking tertutupnya dia.


"SIAL*N."


BUGH


"Ahk." Aurra meringis tertahankan, saat perutnya didera sakit yang luar biasa akibat pukul pria yang diawal dikalahkanya hingga membuatnya tersungkur kelantai.


Pria itu menyeringai penuh kemenangan, sebelum mengarahkan satu bogeman mentah lagi. Namun Aurra masih mampu mengelak, memberikan serangan dua jari mematikan diurat vital bagian leher. Membuat si saingan terkena kelumpuhan otot sementara.


Melihat dua pria itu tak berdaya, Aurra mencoba menekan tombol darurat. Sebelum dirinya juga luruh keatas lantai.


"D-darah?" Lirihnya saat melihat gamis silver yang dikenakanya terkena noda merah dibagian kakinya.


Belum sempat Aurra mempertahankan kesadaranya, rasa sakit melilit itu kembali datang bersamaan dengan hilangnya kesadaran yang ditutupi kegelapan.


"Nona?"


"Nona, nona muda bangun?!" Teriak dua bodyguard yang datang tiba tiba, panik melihat kekacauan yang terjadi.


Apalagi melihat nona muda, menantu tuanya tergeletak tak berdaya dengan simbahan darah disekitar kakinya.


"Cepat panggil dokter?!"


****


To Be Continue


Holla guys?


Hayooo, gimana part ini??


Aku update pagi, karena takut gak sempet nanti. Soalnya mau laksanain tugas PSBB.


Oh iya, Aku lihat kolom komentar pada parno semua😂😂Maaf yo, ikuti alurnya dulu.Trus nikmati prosesnya😊😊


Yo, jangan lupa like🖒 vote💯 dan komen yo💬

__ADS_1


Sukabumi 01 Juni 2020


06.03


__ADS_2