
..."Jika sebuah kepastian yang kamu butuhkan untuk menetap, maka akan aku berikan itu agar kamu menetap disisiku."...
...-Keevanzar Radityan Al-faruq-...
...BSJ 63 : Anzar Sudah Taken???...
...****...
Dengan senyum mengembang, pria tampan itu keluar dari mobil SUV silver yang biasanya digunakan untuk mengantarkan bundanya belanja kepasar. Ya, karena cuma mobil ini yang dapat diakses olehnya. Ingatkan, seorang Radityan tak pernah main main soal hukuman. Bahkan hingga kini pun, uang sakunya masih dibatasi. Ayahnya memberikan 100.00 rupiah perhari, sedangkan diam diam sang bunda memberinya 200.00 ribu rupiah sebagai tambahan.
Tidak ada lagi black card atau platinum card yang bisa ia gunakan sesuka hati. Tidak ada lagi mobil mobil super car mewah miliknya, tidak ada lagi moge mewah miliknya pula. Kini hanya tersisa mini bus yang biasa di gunakan ke pasar ini, untuknya beraktivitas keluar rumah. Untung saja, wanita yang akan dia ajaknya amat sederhana. Jangankan naik mini bus biasa seperti ini, naik angkot atau bajai saja dia tidak minder. Itulah nilai plus dari wanitanya.
Eh, wanitanya??
"Mas, udah dateng?" Sapaan kecil dari depan pintu itu membuyarkan lamunanya.
Wanita yang baru saja di pikirannya itu, terlihat menyembulkan kepalanya yang masih terbalut mukena putih dari celah pintu.
"Masuk mas, tunggu di dalam dulu sebentar." Ujarnya sambil membuka pintu.
Pria dengan outfit casual itu melenggang masuk. Semerbak aroma makanan langsung menyambut indra penciumanya. Ia memilih mendudukkan dirinya di sofa single yang hanya ada satu disana. Mengenal dan dekat dengan wanita satu ini, membuat dirinya tak minder lagi makan makanan yang dulu menurutnya receh.
Wanita cantik itu selalu saja bisa membuatnya kekeyangan, dengan berbagai olahan receh yang dimasaknya. "Aku buat bakmie jawa tadi, mau gak mas?" Tanya nya, ketika baru keluar dari kamar sederhana miliknya.
Iya mengangguk sebagai jawaban. Makanan enak, jangan ditolak. Apalagi wanita cantik nan baik hati yang membuatnya.
"Sebentar, Irra ambil dulu."
Awalnya Anzar tak percaya gadis se-perfecionis sepertinya bisa dengan mudah makan makanan receh seperti di angkringan pinggir jalan. Hidup sebatang kara bertahun tahun lamanya, menjadikanya wanita tangguh yang siap hidup di segala lapisan masyarakat. Dengan kecerdasanya, kemiskinan saja tidak akan membuatnya mati cepat karena kelaparan.
Selain bekerja sebagai lawyer, dia juga membuka katring daring. Semua masakan bisa dipesan kepadanya secara online, tetapi itu berlaku di kala waktu sengganya. Karena lawyer adalah dunianya, inti dari cita-cita yang di harapkan oleh kedua orang tuanya dahulu.
Rencananya, malam ini Anzar dan Airra akan menghabiskan waktu untuk keliling Jakarta.
Menikmati keindahan malam ibu kota, sambil menjajal makanan receh nikmat rekomendasi ala Airra. Oleh karena itu, selesai acara 4 bulanan adik iparnya. Setelah pulang kemansion Radityan, selesai isya tadi ia langsung tancap gas kerumah Airra. Walaupun ya, butuh sedikit perjuangan alot antara perdebatan ia dan adiknya Lunar yang kepo akan kepergianya.
"Yuk, kita berangkat. Keburu malem nanti!" Seru suara halus siempunya rumah tersebut.
Anzar mendongrak, menatap dari mana asal suara itu datang. Setelah menikmati bakmie jawa tadi, si empunya rumah memang pamit untuk berganti pakaian untuk mereka jalan.
Dan kini, wanita cantik berusia 28 tahun itu berdiri dengan cantiknya. Malam ini ia tidak mengenakan pakaian wah, karena itu bukan stylenya. Ia hanya mengenakan dress terusan berwarna semu oranye. Dengan lengan panjang seperempat, yang ia lapisi dengan cardigan rajut berwarna putih. Rambut panjang terurai bebas, ia juga mengenakan flathsoes biasa berwarna senada dengan terusanya. Simple but perfect, Anzar akui itu.
Iya memang sering melihat wanita berpakaian glamour yang berlalu lalang disekitarnya, apalagi saat tinggal di luar negri. Tapi tidak dengan wanita wanita dikeluarganya, mereka menjaga betul aurat mereka. Dan style sederhana seperti ini, baru juga Anzar temui di hidupnya. Ya, mengingat mantan kekasihnya yang merupakan seorang model top yang selalu perfecionis dan profesional dalam hal berpakaian. Bahkan wanita berpakaian kurang bahan, dulu sering di temuinya saat masih berpacaran dengàn Nata.
"Mas, kenapa?" Anzar menggeleng mantap.
Lamunanya buyar sudah. Lagi pula, untuk apa membandingkan Airra dengan Nata, mereka sangat berbeda. Sungguh berbeda, seperti langit dan bumi. Jika Nata adalah langit yang tinggi tempat berada tuk di gapai, Airra adalah bumi yang rendah, nampak mudah di gapai tapi nyatanya sulit. Sesulitnya menjelajahi langit, saat jatuh dan terhempas akan terasa amat sakit. Apalagi saat di campakkan, langit hanya akan menghempaskan dirinya bak sampah. Sedangkan bumi, sejatuh jatuhnya dia dari tempat yang merendah itu tidak akan sesakit jatuh dari langit.
Bumi tempat berpijak, mengajarkan kita untuk merendah dan menghargai apa yang ada didalam kesederhanaanya. Karena bagaimanapun juga, bumi mengajarkan jika langit hanya sebuah tujan yang perlu di capai untuk menggapai sebuah target. Tapi bumi, adalah tempat menetap yang realitanya tidak dipenuhi kedustaan.
Jika disuruh memilih antara langit dan bumi, Anzar kini menetapkan pilihan untuk memilih bumi. Sekalipun langit menjatuhkan egonya demi dirinya, tetap saja langit cuma mimpi belaka untuknya. Cerita selengkapnya antara dia adalah dengan bumi, yang selalu apa adanya.
"Mas?"
__ADS_1
"Bumi." Ujar Anzar tersentak.
"Bumi?" Bingung Airra yang sudah duduk di kursi penumpang.
"Ah, kamu kayak bumi. Menyejukkan sekaligus teduh untuk tetap di tinggali." Celetuk Anzar tiba tiba.
"Fffftt, gombal ceritanya mas?" Tanya Airra sambil menahan tawanya yang hampir mengudara.
"Siapa bilang mas gombal, orang mas baca papan spanduk sebelah."
"Apaansih, udah ah jalan. Keburu malem!" Seru Airra sambil tersenyum kecil.
Ada ada saja memang sifat pria datar satu ini. Lucu ya, jika pria datar sedang ngegombal. Garing garing kriuk gimana gitu? Namanya juga orang datar kena kutukan bucin, ya salting jadinya.
Pukul setengah delapan lewat lima menit, keduanya tancap gas membelah jalanan ibu kota. Menyusuri pusat pusat keramaian di malam hari, layaknya sepasang muda mudi yang tengah di mabuk asmara. Mungkin ini lebih cocok di sebut masa penjajakan atau lebih kerennya PDKT-aan gitu. Jalan jalan bersama, ala orang biasa yang penting asik.
Anzar mana pernah seperti ini, PDKT-an dengan Nata saja dulu ia menjelajah indahnya kota venus, kota romantis di Perancis, atau negara negara eropa lainya. Naik yatch berdua, sambil berpelukan atau sesekali berciuman mesra. Makan malam di hotel berbintang, berbanding terbalik dengan keadaan kini.
Menyusuri pasar malam sambil berjalan kaki, berceloteh kecil sambil menikmat guĺali yang bahkan baru pertama kali dinikmatinya setelah puluhan tahun hidupnya. Ia lupa rasanya, mungkin saat SD dulu terakhir kali menikmat jajanan manis ini. Bukanya menikmati tempat romantis lagi seperti dulu, jemari mungil yang digenggamnya itu terus membawanya ke tempat tempat yang baru ditemuinya. Mereka memasuki rumah hantu, wahana kora kora, bianglala hingga pancingan. Menikmati popcorn yang di jual kios Pedagang kaki lima, dengan cara mengantungkanya di pinggir jalan. Menikmati Kerak telor, gulali, tahu bulat yang suara penjualnya sangat Anzar benci.
Hingga makan makanan di angkringan pinggir jalan. Semua itu hal baru yang Airra kenalkan. Wanita cantik itu selalu berkata,bahagia itu sederhana dan tidak selamanya harus mahal. Bahkan kini, mereka tengah makan di angkringan pinggir jalan.
"Waktu SMA, aku sering banget bohong sama mama demi bisa makan disini." Ceritanya sambil mengurai senyumanya.
"Ternyata kamu badgrils ya dulu?" Tebak Anzar yang duduk dihadapan Airra.
Wanita cantik itu tersenyum kecil.
Anzar mengangguk mengerti, ia juga jadi tahu akan sesuatu. Kebaikan dan kesederhanaan Airra memang sudah ada sejak dini. Lihatlah, walaupun ia lahir dari keluàrga berada tetapi ia tetap saja tumbuh menjadi gadis yang sederhana. Oleh karena itu, saat kemiskinan menjemputnya ia bisa beradabtasi dengan mudah. Belum lagi soal perusahaan ayahnya yang dialih kuasakan kepada orang lain.
"Dimakan mas, ini kwetiaunya enak loh. Apalagi yang pake seafood." Ujarnya memberi tahu.
Airra memang tadi memesan dua Kwetiau, satu kwetiau biasa dan satu lagi kwetiau seafood. Kini, wanita cantik itu mulai menyuapkan makanya setelah melapalkan doa mau makan.
"Kenapa, mas gak suka?" Tanya Airra menghentikan acara makanya, saat melihat Anzar tidak menyentuh kwtiaunya sama sekali.
"Suka." Ujar Anzar kecil.
"Kalau begitu makan mas, kan sayang kalau gak dimakan. Mubazir."
"Aku suka kamu."
Deg
Airra mematung di tempatnya seketika. Ia pikir pria tampan di hadapanya ini mengatakan suka untuk kwetiaunya, ternyata suka untuk maksud yang lain.
"Airra, kamu mau menikah denganku?"
Anzar tak butuh waktu berpikir lebih lama lagi. Ia sudah dewasa dan sudah cukup matang untuk menetapkan pasangan hidup terbaiknya. Selama berhari hari dekat dengan Airra ia sudah mempertimbangkanya. Walaupun mereka memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi biarlan itu menjadai sebuah penyatu. Keputusan Anzar sudah mantap, karena hanya Airra wanita yang tulus mencintainya tanpa memandang marga di belakang nama panjangnya. Hanya Airra pula, yang dengan ketulusanya memperlihatkan jika uang bukan segalanya. Cinta dapat berkembang sebagaimana mestinya, ketika kita mengendalikanya dengan baik. Bukan cinta itu berkembang karena kita di kendalikan olehnya, itu yang salah. Bukan cinta yang mengendalikan kita, tapi kita yang mengendalikan cinta.
"Aku tahu aku tidak punya apa apa tanpa nama Radityan di belakang namaku. Tapi ini aku, Keevanzar yang mengajakmu menikah sebagai pria biasa, bukan pria bermarga Radityan."
Ujar Anzar yang memperlihatkan kesungguhan dan keseriusanya.
__ADS_1
Airra bahkan hampir menitihkan air matanya. Bukan malu memon teromantis di dalam hidupnya di saksikan puluhan pengunjung angkringan penjual Kwetiau langgananya, hanya saja ia terharu saat ini. Rasanya seperti mimpi, melihat pria yang terkenal angkuh, dingin, bossy dan pemilik ego menggunung ini berlutut di hadapanya. Disaksikan pemilik dan pembeli Kwetiau di pinggir jalan tersebut.
"Aku janji, akan selalu menjadikanmu satu satunya di dalam hidupku." Airra mengangguk mantap sambil menitihkan air matanya.
Orang orang yan menyaksikan momen romantis itu langsung bersorak riuh mengucapkan selamat. Ada pula yang memfhoto dan mengambil video.
Dengan hati gembira di terbangi ribuan kupu kupu, Anzar menyematkan cincin putih berhiaskan satu permata. Cincin yang di belinya dari sisa uang sakunya selama seminggu belakangan ini juga sisa uang tips hasil pemberian beberapa petinggi yang sering menyuruhnya membeli coffe. Benda pertama, yang ia beli dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Ia janji, akan menganti cincin itu suatu saat nanti dengan yang lebih layak.
"Terimakasih, sudah menerimaku Airra." Ujarnya sambil merengkuh tubuh wanita dihadapanya.
"Aku janji, akan menjadikanmu satu satunya di dalam hidupku." Janji seorang Keevanzar.
Malam ini di depan beberapa pengunjung akringan di pinggir jalan, seorang Keevanzar Radityan Al-faruq berjanji akan menjaga dan membahagiakan Airra, wanita satu satunya di dalam hidupnya kelak. Dengan ini, sèorang Keevanzar taken dari status jomblo gagal move one nya.
□□□□
"Bunda, abang senyum senyum sendiri dari kemarin malam. Lunar takut abang kesurupan bun?" Cicit gadis berhijab unggu muda tersebut.
"Hust, bicaranya gak boleh ngelantur." Lerai Arkia.
Putrinya itu benar, sejak pulang semalam. Putra sulungnya itu tak henti hentinya menyunggingkan senyuman sumringahnya. Ada apa ini?
"Mas Anzar kenapa sih mas, dari tadi senyum senyum mulu?" Tanya Aurra kepada sang suami yang tengah mengambilkan lauk untuk suaminya.
"Tidak tahu, taken kali dia." Ujar Van'ar datar, padahal ia juga penasaran.
"Kamu kenapa Anzar, senyum senyum kayak orang gilak begitu?" Tanya Keevano membuka pembicaraan, memutuskan banyak kepenasaran di meja makan pagi ini.
Anzar yang di panggil Ayahnya beralih, menatap pria paruh baya itu. Ayahnya benar, sejak tadi ia memang senyum senyum sendiri, maklum. Sedang di mabuk cinta pengacara cantik dirinya itu.
"Abang kemarin ngelamar seseorang." Ujarnya gamblang yang langsung di jawabi pelototan oleh banyak pasang mata.
"Maksudnya?" Bingung Van'ar.
"Bang Anzar udah taken?" Selà Lunar penasaran.
Sedangkan yang di tanya hanya tersenyum kecil sambil mengangguk samar. Meninggalkan banyak tanya juga kepenasaran diantara mereka. Mereka sih kurang yakin, kalau Anzar sudah taken. Kalau kalian?
□□□□
To Be Continue
Pagi guyss😊😊
Update nie yaaah, gimana part AnRa nih?
Setujukan mereka bersatu, tapi jalanya masih panjang😊😊 Part berikutnya VanRa yaa🤗🤗
Jangan lupa like, komentar dan votenya.
Sukabumi 18 Juni 2020
04.29
__ADS_1