
..."Bukan apa apa, jangan salah mengartikan perbuatanku. Aku melakukan semua ini, demi menjaga cinta adikku."...
...-Keevanzar Radityan Al-faruq-...
...BSJ 67 : Datangnya Cinta Masalalu...
...****...
"Dia adik ipar lo, bukan istri lo. Jadi gak usah ngejauhin dia dari gue, sans aja." Bisik pria tampan tersebut pelan, di teliga Anzar.
"Kalian saling kenal?" Kini giliran Arkia yang bertanya.
Anzar memasang wajah datarnya juga malas menjawab, jika boleh memilih ia lebih baik tidak pernah mengenal pria ini. Lain halnya dengan pria berkemeja biru muda tersebut, ia malah menyunggingkan senyuman ramahnya.
"Iya tante, kita sahabat dari SMP." Ujarnya gamblang.
"Ralat, mantan sahabat bunda." Ujar Anzar meralat.
"Kamu ini ada ada saja bang, masa ada istilah mantan sahabat." Koreksi Arkia.
Andreas Brawijaya-atau sering dipanggil Andre. Putra pemilik rumah sakit tempat Aurra bekerja. Salah satu dokter bedah terbaik yang selalu menjadi patner kerja yang memiliki loyalitas tinggi ketika bekerja dengan Aurra.
Pria tampan yang dulunya pernah bersahabat dengan Anzar, namun kandas di tengah jalan. Hubungan persahabatan itu kandas hanya karena kesalahfahaman. Andre yang kala itu memegang gelar second moswantes, di bawah sang winner Keevanzar. Sering kali ingin bisa menyaingi kepopuleran Anzar. Hingga suatu ketika, gadis yang kala itu di sukai oleh Anzar tiba-tiba menjadi milik Andre.
Pupuslah persahabatan mereka hanya hal klise kala itu. Andre yang maunya menikung, padahal kala itu tidak berpacaran dengan siapapun. Tetapi, Anzar sudah terlebih dahulu termakan issu issu hoax.
"Kalau gitu masuk dulu nak Andre, minum dulu."
Ujar Arkia menawari.
Andre menolak kecil, sedari awal tujuanya hanya mengantarkan Aurra pulang dengan selamat. Saat pulang dari RS tadi, ia tanpa sengaja melewati halte buss yang tengah dijadikan tempat menunggu oleh Aurra.
Dengan i'tikad baiknya, Andre menawarkan ajakan untuk mengantarkan wanita itu pulang.
Sebelum wanita itu mengungkapkan ingin makan sate madura, jadilah mereka menjelajah sejenak untuk mencari sate madura.
"Ini sudah malem tante, mungkin lain kali saya mampir. Lagi pula Aurra sudah pulang dengan selamat."
Dengan ucapan terimakasih sebesar besarnya, akhirnya Andre baru di perbolehkan pulang oleh Arkia dan Vano. Kemudian Kia langsung memboyong menantunya untuk segera masuk kerumah.
"Untung saja ada dokter Andre yang menolong kamu Ra." Ucap Kia penuh syukur.
"Kita khawatir banget sama keadaan kamu Ra."
Wanita bercadar itu menggeleng kecil, ia juga merasa tak enak hati telah membuat keluarganya risau. Semenjak di tinggal Anzar tadi, Aurra menunggu di halte terdekat hampir sata jam lamanya. Belum lagi tiba-tiba ia ingin sate madura, saat sebuah pejalan kaki lèwat di hadapanya sambil membawa seporsi sate.
"Maaf bunda, Aurra membuat semua orang khawatir." Ujar Aurra kecil.
"Sudah tahu buat orang khawatir, kenapa juga kelayapan." Ujar Anzar sinis.
"Jaga bicaramu, Anzar!" Koreksi sang ayah.
"Maaf, Aurra salah." Cicit Aurra. Tapi benar adanya, ia ingin sate madura sejak tadi pagi. Tapi tak kunjung terlaksanakan.
"Kalau begitu, Aurra izin kekamar dulu Ayah, bunda." Arkia mengangguk, putra sulungnya itu memang nol besar dalam pelajaran menghargai perasaan orang. Ditilik dari segi manapun, menantunya itu pasti sakit hati.
Anzar tertegun melihat kepergian adik iparnya tersebut. Kini dirinya merutuki kebodohan bibir embernya, pasti hati wanita itu tersinggung tadi. Ah dasar, pengacau segalanya dia ini.
♤♤♤♤
Riak air hujan mulai membasahi bumi, membuat sebagian insan enggan beranjak dari kasur empuknya. Memilih bermalas maĺasan, dari pada beraktivitas diluar ruangan dengan cuaca tak bersahabat seperti ini. Awan kumolonimbus masih banyak mengantung di langit, membawa berjuta juta air di kegelapan warnanya. Angin yang berhembuspun tak bersahabat, kencang dan berkesan menakutkan. Tapi semua itu tak menyururtkan keunginan seorang wanita hamil untuk berangkat bekerja. Orang orang yang membutuhkan pertolonganya telah menunggu dirinya.
Pagi ini, ia sengaja pergi lebih awal dengan alasan ada jadwal operasi pagi. Memang benar adanya jadwal operasi pagi itu, tapi pukul sempilan nanti. Tanpa mau diantarkan oleh supir, wanita cantik berhijab syar'i juga berpenutup itu mengeratkan peganganya kepada payung yang di bawanya.
Ia sengaja jalan kaki, rencananya ia akan naik bus kota. Mengingat Aurra tidak mau menjadi beban terus menerus bagi keluarganya.
"Mbak, mau berangkat kerja ya?" Tanya seorang pria berjas rapih tersebut bertanya.
__ADS_1
"Naik saja mbak, kayaknya mau hujan lebat.
Nanti mbak kehujanan kalau nunggu bus." Ujar pria lainya yang berada di kursi kemudi.
Aurra menggeleng kecil tanda menolak, ia tidak terlalu suka merepotkan orang lain. Apalagi, kedua pria ini baru di temui olehnya.
"Eh, kamu Aurra iya kan?" Tebak pria yang duduk di kursi penumpang tersebut.
Aurra mengangguk kecil, yang langsung membuat senyum pria itu megembang.
"Ra, ini aku Arkana. Kamu lupa?" Tanyanya.
Aurra mendongrak sejenak,menatap kilat pemilik suara yang terasa familiar tersebut.
"Arkana? Arkan?" Tanya Aurra.
Seingatnya, dahulu ia memiliki tetangga bernama Arkana Hadijaya Prameswari. Pemuda yang juga suka sekali berlatih bela diri sama seperti dirinya. Arkan juga memiliki kakak, kalau tidak salah namanya Aksarana Hadijaya Prameswari. Pria yang kini duduk dikursi kemudi.
"Masuk Ra, kita antar kamu." Awalnya Aurra ingin menolak, tetapi karena Arkan terus memaksa. Jadilah ia meng-iyakan ajakan tersebut.
Rasanya sedikit canggung, berada satu mobil dengan keduanya. Apalagi si pemilik mata elang di balik kemudi tersebut. Aksara-seorang eksekutif muda di salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia dan Asia. Pria yang dari dulu pendiam, dingin, datar juga jarang angkat bicara. Pria yang siapa sangka, objek pertama yang pernah Aurra impikan menjadi miliknya di kemudian hari.
Tapi mimpi itu hanya angan angan, mengingat perasaanya tak terbalaskan sedikitpun. Jatuh cinta dalam diam, hingga ia memutuskan untuk pergi melanjutkan kuliahnya di luar negri. Rasa suka itu hanya di buatnya sebatas kagum tak lebih. Karena ia tahu, Allah sudah memilihkan jodoh yang terbaik untuknya.
"Kamu kerja dirumah sakit Swasta itu Ra?" Tanya Arkan. Karena sedari tadi, hanya Arkan yang mau angkat bicara. Selebihnya mereka hanya diam.
"Iya, sudah beberapa tahun." Jawab Aurra apa adanya.
"Om dan Tante sehat Ra?"
"Alhamdulillah, Ayah dan Bunda sehat."
"Kamu sudah menikah Ra?" Pancing Arkan, siapa yang tidak tahu jika dua insan diantaranya ini pernah terlibat rasa.
"Alhamdulillah sudah." Jujur Aurra.
"Wahh, udah taken kok gak ngundang ngundang Ra?" Tanya Arkan dengan nada yang dibuat seolah-olah kecewa.
"Maaf, sejak pindah ke Jakarta, Aurra kehilangan nomer om dan tante Prameswari, termasuk nomer kak Arkan." Ujar Aurra jujur.
Memang benar adanya, nomer handphone kenalan kenalanya yang dibandung banyak hilang. Seiring dengan hilangnya handphone miliknya yang kala itu di jambret orang.
Setelah mengantarkan Aurra selamat sampai tujuan, kedua pria tampan itu melanjutkan perjalananya menuju tempat tujuan mereka.
"Sabar mas bro, dia nya sudah menikah." Kekeh Arkan sambil melirik sang kakak.
Ia juga tahu, bujang lapuk satu ini tadi pasti penasaran. Hanya saja, karena egonya yang tinggi menjulang membuatnya memilih bungkam. "Udah taken, jadi lo gak usah cari peluang buat jadi pembinor."
Pria yang dituding itu menoleh cepat.
"Pembinor?"
"Perebut Bibi Orang, bang." Aksara mendelik tak suka, tidak ada niatan sedikt pun untuk melakukan tindakan keji itu. Walaupun ia tidak menampik jika rasa itu masih sama di hatinya.
"Jaga bicaramu, atau aku tendang dari sini."
Desisnya tajam.
"Hih, punya abang kok gak ada selera humor sedikipun." Kesal Arkana sambil kembali fokus kepada tablet di tanganya. Lagi pula Arkan tahu, jika kelajangan kakaknya ini karena susah move on dari gadis bercadar yang dulu rumahnya di sebrang rumah mereka.
♤♤♤♤
Suara riuh para office boy, di ruangan istirahat khusus staf office boy/office grils itu sudah terbiasa ia lihat ketika menjelang jam makan siang di tiap hari Jum'at. Apalagi, jika bukan kedatangan menantu pertama keluarga Radityan yang membawa puluhan nasi kotak untuk di bagikan cuma cuma.
"Makan dulu mas, hari ini lauknya spesial." Ujar pak Ahmad mengajak pria yang tengàh membersihkan kaca pembatas tersrbut.
"Bapak duluan saja, saya masih menyelesaikan ini." Ujarnya yang dijawabi anggukan oleh pak Ahmad.
__ADS_1
Dari balik kaca transfaran tersebut, dirinya bisa melihat sang adik ipar yang beberapa hari ini menjaga jarak denganya. Ya, Anzar rasa sejak perkataanya kala itu Aurra menjadi menghindarinya. Apa perkatanya waktu itu sangat keterlaluan? Oleh karena itu Aurra sakit hati.
Anzar bingung sendiri, di satu sisi ia memang kesal rivalnya itu dekat dengan adik iparnya. Sebagai kakak yang baik, ia hanya ingin menjaga adik iparnya selama adiknya bertugas. Tapi sepertinya jalan yang diambilnya salah. Manik tajamnya kembali memincing, apalagi saat melihat dua pria berjas rapih yang beberapa hari ini nampak sering berkeliaran di perusahaan ini. Dua client dari perusahaan properti ternama, yang kini terlihat sangat dekat dengan adik iparnya. Heh, ada apa ini?
Batin Anzar berkelana.
Kemarin Andre, sekarang dua pria gagah itu.
Apa pesona kehamilan Aurra yang begitu kuat, sehingga membuat banyak pria tampan mendekatinya. Hah, Anzar harus menyelesaikan semua itu.
"Jadi Ra, mau makan siang bersama kami?" Tanya pria tampan tersebut untuk kesekian kalinya.
Aksara sudah ingin sekali menyumpal mulut ember adik kandungnya itu. Sedari tadi, pria itu selalu saja mencari kesempatan untuk makan siang bersama Aurra. Wanita yang sudah ia ketahui, ada kisah masalalunya dengan kakaknya.
"Tapi aku-"
"Sebentar yuk Ra, sekalian ngobrol ngobrol kecil. Hitung hitung tanda terimakasih tadi kan?"
'Dasar adik laknat.' Dengus Askara tak suka.
"Hm, tapi makanya siomay di depan ya kak?" Arkan mengangguk antusias.
Ia memang cukup terkejut, saat menemukan tetangga masa kecilnya itu tengah membagikan nasi kotak di perusahaan yang di kunjunginya. Ia berpikir Aurra itu relawan untuk para buruh kecil, namun kenyataan membungkamnya. Ternyata, Aurra adalah menantu dari pemilik perusahaan ini. Cukup mengejutkan memang mengetahui semua ini. Mengingat pemilik perusahaan ini memiliki dua putra. Satu seumuran dengan Aurra, satu lagi 5 tahun di bawahnya. Arkan maupun Aksara yakin, Aurra pasti istri dari putra pertama pemilik perusahaan ini.
"Apa ini?" Tanya Aksara hingung,pasalnya ia baru kali ini makan makanan berbumbu kacang tersebut.
"Ini somay bang, S-O-M-A-Y." Ejah Arkan.
Ada ada saja kakaknya ini, pemilik perusahañ properti terbesar di Indonesia dan Asia tidak tahu makanan bernama Somay. Hellow, kemana saja pria berusia 30 tahun ini selama hidupnya.
Kini keduanya duduk bertiga di angkringan pinggir jalan. Tempat yang menyediakan jajanan pinggir jalan seperti Bakso, somay, mie ayam, nasi goreng dan banyak lagi. Tempat yang mungkin sedikit tidak nyaman bagi Arkan dan Aksara, terutama Aksara. Pria itu baru pertama kali makan di tempat seperti ini.
"Silahkan di makan, di sini somaynya enak kok. Higienis juga, Aurra jamin."
"Kamu tidak makan?" Tanya Aksara.
Aurra menggeleng kecil, ia tidak bisa makan diruang terbuka seperti ini. "Aurra tidak lapar, kakak makan saja. Ini sebagai tanda terimakasih dari Aurra."
Arkan mengangguk antusias saja, sambil menikmati somaynya. Sedangkan Aksara hanya menatapnya penuh tanya, ada banyak pertimbangan di otaknya untuk menikmati makanan satu ini.
"Makan kak, enak kok." Ujar Aurra tanpa membiarkan gerakan yang berarti.
Walaupun ia berada satu tempat dengan dua pria tampan di hadapanya, ia tetap menjaga jarak juga pandanganya. Ia sering menunduk demi meminimalisir bersirobaknya manik mereka. Membatasi gerakan fisik yang akan membuat kulit mereka bersentuhan. Bukan saja hati, Aurra juga amat menjaga mata dan tanganya.
Setelah berpikir begitu lamanya, akhirnya Aksara mau menikmati makananya. Makanan berbumbu kacang yang terasa cukup pedas mulai menggoyang lidahnya.
"Enak kak?" Tanya Aurra.
"Enak, pasti kurang itu." Sela Arkan yang sudah menghabiskan satu porsi somaynya.
"Eh, enggak bang." Ralat Arkan saat melihat manik tajam kakaknya.
Aurra hanya terenyum kecil dari babirnya. Ketiganya larut dalam pembicaraan nostalgia masalalu. Keluarga Aurra dan keluarga mereka memang cukup akrab dahulu. Bahkan Arkan sering sekali bermain dengan Zega dahulu. Asik mengobrol, ketiganya tidak sadar akan kedatangan seorang pria dengan raut wajah yang tak dapat ditebak.
"Aurra?"
♧♧♧♧
Selamat siang guys😄😄
Kembali lagi nih, hayoo. Calon pembinor itu ada apa enggak Ya? Ada Andre, Arkan juga Aksara yang lebih dominan. Disini Aksara itu kayak Aditama di masalalu bunda Kia. Penasaran yo lanjutanya?? Yang kangen babang Van'ar sabar yo😭😭 Aku umpetin dulu untuk beberapa part ini.
Yok, jangan lupa like, komentar dan vote ya.
Supaya aku semangat updatenya❤
Sukabumi 22 Juni 2020
__ADS_1
11.45