Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 78 : Misteri Senyuman


__ADS_3

...“Di balik senyum seseorang, ada sesuatu yang kamu tidak akan pernah mengerti,” – Bacharuddin Jusuf Habibie....


...BSJ 78 : Misteri Senyuman...


...□□□□...


Seorang pria nampak kebingungan, menyusuri beberapa rak di area dapur. Tiga bulan melalanglang buana di alam, membuatnya lupa letak beberapa perabotan. Beberapa saat yang lalu, istri tercintanya hendak membuat susu hamil. Karena kasihan melihat sang istri harus naik turun tangga, akhirnya ia berinisiatif untuk membuatnya.


Dulu, saat istrinya masih hamil muda, kegiatan ini adalah rutinitasnya. Pasca ia melaksanakan tugas tiga bulanan itu, ia jadi rindu melakukan tugas kecil ini. Tetapi kini, ia lupa di mana susu khusus ibu hamil itu disimpan. Di lemari pendingin, ia juga tidak menemukanya. Di nakas lainya, ia hanya menemukan teh, kopi dan lain lainya. Van'ar lupa, di manakah gerangan toples berisi susu ibu hamil tersebut.


"Tuan sedang cari apa?"


"Astagfirullah." Ucap Van'ar yang terkejut akan suara gadis si pemilik manik coklat madu tersebut.


"Siapa kamu?" Tanya Van'ar datar, sambil kembali membuka laci laci di hadapanya.


Gadis mungil yang memiliki lesung pipi itu mengerucutkan bibirnya kesal. Padahal mereka pagi tadi sudah saling bertatap muka, masa dia lupa.


"Saya Ari, putrinya pak Budi dan bu Siti." Ujarnya memperkenalkan.


"Oh." Respon Van'ar acuh, sambil mencari dengan teliti.


"Tuan sedang mencari apa?" Tanyanya penasaran.


"Kotak susu ibu hamil." Jawab Van'ar datar.


"Saya tahu di mana kotaknya, biar saya bantu tuan." Ujar Ari, sambil membuka lemari kecil disampingnya.


Mengeluarkan sebuah toples transfaran, yang di dalamnya berisi sebuah plastik alumunium yang biasa digunakan sebagai wadah susu bubuk.


"Ini. Mau saya buatkan sekalian tuan?" Tanyanya.


Van'ar menggeleng kecil, ia kesini itu untuk membuatkan sang istri tercinta. Bukan untuk di buatkan oleh orang lain.


"Saya buat sendiri." Ujarnya sambil mengambil alih toples tersebut.


Mengambil sendok dan gelas, lalu beralih membuka tutup toples tersebut. Mengambil tiga sendok makan, sesuai takaran sang istri biasanya gunakan. Dengan telaten menuangkan air panas, lalu mengaduknya pelan. Semua itu tentu tidak luput dari perhatian gadis di sampingnya.


"Terimakasih, telah memberitahu saya." Ujar Van'ar datar, sebelum berlalu. Setidak nyaman apapun hubungan diantara mereka, Van'ar selalu diajarkan berterimakasih kepada seseorang yang telah membantunya.


"Sama-sama, tuan." Jawab Ari kecil, sambil menyunggingkan senyumanya. Senyuman yang tak luntur, hingga sosok itu hilang di balik dinding.


"Ekspresimu berlebihan." Ari tersentrag, lalu berbalik menuju arah suara tersebut.


Di belakangnya, entah sejak kapan dia berada di sana. Tetapi yang pasti, wanita itu sudah berdiri sambil bersidakep dada.


"M-maaf nona, saya cuma-"


"Apapun yang berlebihan itu tidak baik. Sebaiknya kamu berhenti, sebelum terlambat."


Ujarnya mengingatkan, sebelum berlalu pergi begitu saja.


Airra-wanita cantik itu awalnya akan segera pulang. Anzar sang kekasih hati juga sudah menunggu di mobil, tetapi gadis itu kembali ke dapur karena meninggalkan sesuatu di sana. Saat memasak tadi, Airra melepaskan jam tangan kenang kenangan dari rekan ayahnya. Jam yang harganya lumayan, keluaran brand ternama. Bukan soal harganya, namun soal nilai historisnya yang berharga bagi Airra.


Bukanya menemukan jam tanganya, Airra lebih dahulu menemukan pemandangan yang membuat alisnya menyerngit. Sang adik ipar-dan seorang gadis yang dia ketahui putri asisten keluarga Radityan, nampak berada disana. Bukan itu yang menganggu Airra, hanya saja senyuman itu yang menganggu. Ada makna tersendiri, di balik senyuman tersebut. Ada makna kuat dan berlebihan yang nampak terpancar. Entah Van'ar bisa menyadarinya atau tidak, tapi Airra yakin ada yang tidak beres dengan Ari-gadis muda itu.


"Ada apa hm? Kamu melamun terus dari tadi?"


Tanya pria di sampingnya penasaran.


"Gadis itu aneh!" Ujar Airra to the point.


"Ari?" Tebak kekasihnya.

__ADS_1


"Hu'um. Dia, kayaknya ada something ke adikmu."


Anzar mengangguk sebagai jawaban mengiyakan. "Hm, aku juga merasa begitu."


"Kira-kira, adikmu sadar tidak mas?"


"Pasti."


"Pasti?" Bingung Airra. "Maksudnya, Van'ar tahu begitu?"


Anzar mengangguk kecil. "Dia itu pandai membaca mimik muka seseorang. Katakanlah, dia itu bisa membaca pikiran orang."


Airra menoleh tak percaya. "Dia dulu kuliah ambil jurusan psikolog. Salah satu alasan ia dijuluki BigLear itu, karena dia punya jiwa leadership yang apik, juga punya ingatan dan pengamatan yang baik untuk membaca situasi."


Ujar Anzar menuturkan.


"Dia bukan saja pintar baca pikiran, intuisi dia juga good."


Ibarat kata, jika bergantung kepada otak untuk bertahan hidup, maka Anzarlah yang akan mati terlebih dahulu. Anzar akui, adiknya itu memiliki otak kritis yang terasah dan ampuh. Bukan saja pandai membaca situasi, penguasaan dirinya pun Van'ar patut diacungi jempol. Pria itu akan dengan mudah menguasai dirinya, agar tidak mudah terpengaruh. Lain halnya dengan Anzar, yang akan mudah terpengaruh oleh beberapa opsi.


"Van'ar pasti tahu, dan mengerti benar apa yang harus dilakukanya untuk mengatasi masalah ini." Ujar Anzar bermonolog. Karena memang, ia yakin adiknya itu akan bisa mengatasi semua ini.


****


"Dek, diminum dulu. Mumpung masih hangat."


Ujar Van'ar yang baru saja memasuki kamarnya.


"Sebentar mas." Jawab sang istri pelan, yang tengah fokus menyisir rambut panjangnya.


Van'ar tersenyum kecil, sambil menutup pintu di belakangnya. Tiga bulan bertugas jauh dari rumah, ternyata banyak yang telah ia lewatkan. Bukan saja perkembangan buah hatinya, ada dua acara spesial yang dilewatkanya. Seperti acara lamaran sang kakak dan sang adik kembaran. Walaupun semua itu sudah terlewat, Van'ar turut bahagia untuk saudara saudarinya.


"Sini, bias mas bantu."


Wanita cantik itu mengangguk kecil. Tiga bulan selama Van'ar pergi, rambutnya memang tumbuh semakin panjang. Hingga kini, sudah mencapai bawah pinggul.


"Mas suka, kamu cantik begini." Ujar Van'ar sambil mengecup pucuk kepala sang istri.


Van'ar tak bohong, rambut istrinya itu panjang, lebat, hitam juga halus. Belum lagi, rambutnya selalu beraroma wangi, khas aroma perpaduan buah segar dan bunga yang menyenangkan saat di kecup.


"Selesai." Ujar Van'ar, setelah acara mengepangnya usai.


Pria tampan itu beralih, menatap sang istri dari posisinya yang kini berlutut.


"Ada apa mas?" Tanya Aurra bingung.


"Benda itu gak di pakai dek?" Aurra menyerngitkan alisnya bingung.


"Yang mana mas?"


"Benda yang mas kasih sebagai kado, saat kamu mau menikah sama bang Anzar."


Aurra ingat sekarang. Benda yang Van'ar maksud adalah kotak kayu yang kala itu di berikanya. Ia langsung beranjak, membuka lemari kecil di samping tempat tidurnya. Mengeluarkan sebuah kotak persegi yang cukup besar dari sana.


"Ini ya, mas?" Ujarnya sambil menyodorkan kotak kayu tersebut.


"Mas boleh pinjam dulu?" Aurra mengangguk mengiyakan.


Aurra memang menyimpan segala sesuatu yang di berikan Van'ar didalam kotak kecil ini. Seperti surat, setangkai bunga edelweis, juga beberapa barang lainya. Walaupun menurut sebagian orang itu hal sepele, tapi bagi Aurra itu sangat berarti.


"Ya Allah, manisnya." Puji Aurra, saat benda di dalam kotak kayu itu dikeluarkan.


"Sini, mas pakaikan." Ujar Van'ar.

__ADS_1


Aurra tak lepas menguarkan senyumanya. Suaminya ini memang sangatlah tidak bisa di tebak.


"Ini handmade ya mas? Cantik banget."


"Kamu suka dek?"


"Iya mas." Ujar Aurra jujur.


Van'ar tersenyum senang,saat benda tak seberapa yang diberikanya itu amat membuat wanitanya bahagia. Sebuah kalung berbandulkan nama mereka yang disingkat menjadi VanRa. Awalnya Van'ar juga menganggap itu kekanak-kanakan. Tapi, menurut temanya yang andil bagian dalam pembuatanya. Itu menurut dia wajar wajar saja.


Benda itu Van'ar buat, bersamaan dengan pembuatan box bayi dahulu. Saat dirinya saja masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Awalnya Van'ar juga ragu, saat inisial namanya disatukan dengan nama Aurra. Padahal, ia juga tidak tahu kapan akan bertemu dengan Aurra kembali kala itu. Tapi ya, jika Allah sudah berkehendak, semua akan indah pada waktunya.


Cup


"Mas sayang Aurra, dari dulu sampai sekarang."


Ujar Van'ar sambil mengecup singkat bibir mungil sang istri.


Rona merah mulai menjalari pipi mulus sang istri, membuat Van'ar terkekeh kecil.


Istrinya itu speechlesh.


"Merah, kamu gak demam kan dek?" Tanyanya jail, sambil mengelus pipi sang kekasih hati. Bukanya mereda, rona merah itu malam makin menjadi.


"Kok makin merah, kamu demam ya?" Tanya Van'ar lagi gencar.


"Mas ih, kenapa cium cium sembarangan di sana." Kesal Aurra yang akhirnya angkat bicara.


"Cieee, bumu salting." Goda Van'ar sambil tersenyum manis.


Aurra hanya mampu menundukkan dirinya, saking malunya. Jujur, seumur hidupnya baru kali ini ia merasakan jatuh cinta sedalam ini. Dulu, tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranya akan sebahagia ini. Ia bersyukur, memiliki suami yang segalanya. Baik, mengerti keadaanya, imam yang dewasa, semuanya ada dalam diri sang suami.


Cup


"Mas suka, selama semua ini cuma milik mas."


Ujar Van'ar sambil mengecup singkat kening sang istri.


"Ini, Ayamu boleh kiss lagi?" Tunjuknya, tepat dibibir sang istri.


Mereka memang sering skinship cuma sebatas cium kening, pipi atau pucuk hidung Aurra. Van'ar jarang melakukanya di sana, karena istrinya juga selalu canggung jika melakukan semua itu.


Aurra mengangguk kecil sebagai jawaban.


Van'ar tersenyum kecil, lalu mendekatkan wajahnya. Pria normal manapun, tidak akan tahan melewatkan wanita secantik istrinya ini. Selain istri yang solehah, Aurra ini memang wanita yang memiliki pesona kuat tak terelakan.


Manik hazel milik Aurra sudah terkatup rapat, saat dirasa wajah sang suami tinggal beberapa centi dihadapanya. Deru napas hangat Van'ar membelai wajahnya, membuat hatinya berdebar tak karuan. Sejengkal lagi, mereka akan bertemu. Sebelum suara nyaring menghentikan aktivitas mereka.


BRAKK


"A-apa itu mas?"


□□□


To Be Continue


Selamat siang guys😊😊


Hayoo, pada nunggu update yo😅😅


Kemarin pada kaget ya,ada bibit bebet bobok pelakor. Dari part ini kedepan, yang namanya bibit pelakor mulai bermunculan. Disimak ae yoo. Jangan lupa, like, komentar dan vote ya😙😙


Ok,Jumpa lagi nati❤

__ADS_1


Sukabumi 05 Juli 2020


13.37


__ADS_2