Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 95 : Lentera Jannah


__ADS_3

(Semua fhoto bukan milik saya,tapi milik beberapa sumber)


HAPPY READING ALL READERS🖑🖑



..."Arrsyad An-nass Senopati Az-zzioi & Arabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi dua lentera jannah yang tuhan titipkan kepada kami."...


...-Keevan'ar Radityan Az-zzioi-...


...BSJ 95 : Lentera Jannah...


...****...


Oeeekk


Oeeekk


Oeekkk


"Lunar, jangan ganggu Arsyad sama Arra!"


"Enggak kok bang!"


"Jangan bohong Aisyahnya abang!" Seru suara bass berat milik pria yang berseragam TNI tersebut.


"Mas sudah pulang?" Sapa sang istri tercinta, menurunkan luapan kekesalanya seketika.


Pria tampan itu tersenyum tipis, saat tanganya diraih sang istri untuk diciumnya. Kemudian ia juga beranjak, mengikis jarak diantara mereka.


Cup


"Kangen kalian, jadi mas pulangnya cepat." Ujarnya sambil mengecup pucuk kepala istrinya sayang.


"Arsyad sama Arra rewel ya dek?" Tanyanya, sambil mengenggam tangan sang istri bersamanya.


"Sedikit, mungkin karena Arra lagi kurang enak badanya."


"Arra sakit?" Tanya Van'ar cemas.


Aurra menggeleng tipis. "Enggak, cuma badanya aget dikit." Ujar Aurra.


"Yasudah, selesai mandi kita bawa Arra ke rumah sakit buat chak kedokter." Ujar Van'ar final.


"Mas lupa, bundanya Arra juga dokter?"


Pria tampan itu lagi lagi tersenyum tipis.


Cup


"Maaf, mas tidak lupa kok." Ujarnya sambil mengecup ujung hidung sang istri yang tertutup kain tipis penutup wajahnya.


"Mas sayang sama kamu Ra." Ujarnya penuh kasih, masih dengan posisi kening masih sama sama bersentuhan.


"Aurra tau mas, Aurra juga sayang sama mas."


Jawab Aurra.


"Mas cinta sama kamu Ra, lebih dari yang kamu tahu."


"Iya Ayamu, bumu juga sudah bisa melihat kebesaran cinta itu." Jawab Aurra sambil tersenyum tipis di balik kain penutupnya.


"Ekhem, bang, mbak." Intruksi suara melengking Lunar yang langsung membuat keduanya terkejut.


"Ada apa?" Tanya Van'ar datar.


Bukan hanya Lunar yang berada disana sambil menggendong Arra. Ternyata, ada Arkan juga yang tengah menggendong Arsyad bersamanya.


"Kita mau bawa Arsyad sama Arra main di taman. Boleh ya?" Pinta adiknya itu, sambil memperlihatkan puppy eyes andalanya.


"Tidak." Maklumat Van'ar tak dapat ditolak.


"Yah, kok gitu bang. Sebentar kok?" Rayu Lunar lagi.


"Bentar doang kok bang, cuma ketaman depan."


Ujar Arkan ikut memohon.


"Sekali tidak, ya tidak." Ujar Van'ar datar.


Aurra yang melihat itu tentunya merasa tak enak. Arsyad dan Arra memang banyak dilimpahi kasih sayang, sebagai cucu pertama di keluarga Radityan turunan kedua. Lunar bahkan sering sekali mengakui, jika keduanya itu merupakan anak-anaknya sendiri.


"Ayo dong bang, cuma jalan jalan sore

__ADS_1


aja kok." Ujar Lunar lagi membujuk.


"Abang bilang tidak ya-"


"Enggak, sana jauh-jauh dari Irra mas."


Sela suara ketus dari arah anak tangga tersebut.


"Irra sayang, mas minta maaf deh. Mas sudah mandi tujuh kali pakai bunga tujuh rupa sesuai keinginan kamu kok." Lirih pria tampan berwajah pucat tersebut, mengejar istrinya dari belakang.


"Gak mau, mas bau bunga ******!"


Glek


"I-irra."


"Buahahaha... bang Anzar bau bunga ******."


Tawa Lunar dan Arkan pecah bersamaan.


"Aku gak salah dengarkan Ai?" Cicit Arkan disela sela tawanya.


"Astagfirullah, enggak kok mas." Ujar Lunar sambil tersenyum senyum.


"Ish, kamu buat Arra takut Ai." Intruksi Van'ar saat melihat putri cantiknya mulai berkaca kaca karena terkejut.


"Et, mas tunggu dulu." Cegah sang istri.


"Kenapa sayang?"


Blush


Aurra salting sendiri, ia yakin pipinya sudah semerah kepiting rebus kini. Ibu dua anak itu memang kerap kali speechless jika diperlakukan seperti ini oleh sang suami.


"Haduh, manis banget. Padahal udah punya anak dua ekor." Kekeh Lunar yang melihat interaksi kakaknya.


"Ai!" Lerai Van'ar, yang langsung membuat Lunar bungkam. "Kenapa dek?" Tanyanya lagi kepada sang istri.


"Emm, mas habis dari luar. Sebaiknya mas bebersih dulu sebelum gendong si kembar. Soalnya takut ada kuman, atau virus yang nempel dari luar." Tutur Aurra sambil menunduk.


Srukk


"Bumu yang pinter." Puji Van'ar sambil menyentuh pucuk hijab sang istri.


"Tapi, si kembar gimana mas?" Tanya Aurra.


"Mas izinin kalian bawa Arsyad sama Arra, tapi cuma empat puluh limat menit." Ujarnya yang langsung membuat Lunar tersenyum sumringah.


"Yeay, alhamdulillah. Yasudah, kita pergi dulu-"


"Dengerin dulu Ai!" Ujar Van'ar menyela.


"Jika lebih dari empat puluh menit, abang hukum kamu gak boleh main sama si kembar selama seminggu."


Lunar maupun Arkan melongo mendengarnya. Bapak muda satu ini memang over protectif sekali dengan keluarga kecilnya.


"Tapi bang-"


"Waktunya dimulai dari sekarang." Ujar Van'ar sambil melirik arloji dipergelangan tanganya.


"Dasar, Mr.Tepat waktu." Ketus Lunar sambil berlalu membawa Arra bersamanya.


"Kita pergi piknik dulu bang, mbak. pinjem si kembarnya ya." Lanjut Arkan sebelum berlalu bersama Arsyad.


"Yuk dek, temenin mas." Aurra mengangguk sambil mengekor dibelakang sang suami.


Sepeningalan keduanya, sepasang suami istri yang tadi cekcok diudakan tangga kembali muncul dari arah dapur.


"Kok, si kembar gak ada?" Bingung wanita berpasmina peach tersebut.


"Sayang, Irra?" Panggil sang suami yang mengekor dari belakang.


"Gara gara mas ihh, makanya si kembar jadi pergi." Ketus wanita cantik tersebut.


"Irra sayang, mas kan hilaf semalam." Ujar Anzar memohon.


Sungguh, sepertinya pria dikeluarga Radityan memang diberi nilai minus jika soal wanita. Apalagi saat wanita mereka tengah berbadan dua, ada kalanya para suamilah yang mengalami morningsickness dan gejala kehamilan lainya. Sang istri malahan tidak mengalami gejala berat apapun.


"Khilaf apanya, mas kan juga keenakan."


Anzar menggaruk belakang tengkuknya yang tak gatal. Sepertinya, dirinya memang membuat kesalahan besar semalam.


"Kan mas cuma mau nengok dedek bayi, masa Irra gak ngerti?" Dalihnya membela diri.

__ADS_1


Wanita cantik itu merenggut lagi. "Tapi kalau caranya kayak semalam, mas sama aja hampir nyakitin dedeknya."


"Maaf sayang." Lirih Anzar memelas. "Mas janji, gak bakal ngulangin itu lagi." Janjinya.


"Hm, aku pegang janji mas."


Anzar tersenyum sumringah. Entah mengapa, setelah mengetahui fakta jika sang istri tengah hamil, ia menjadi sering trun on jika melihat istrinya. Bawanya pengen sentuh istrinya itu setiap saat. Akibatnya, ia bahkan sudah tujuh kali tidur di depan pintu karena istrinya ngambek.


Walaupun sempat kecewa karena istrinya tidak mengandung bayi kembar tiga, seperti keiinginanya. Ia tetap menerima kehadiran buah hatinya yang hadir sepulang mereka honeymoon. Gercep sekali memang, karena salah satu anugrah itu diberikan para pria dikeluarga Radityan. Kemudan memiliki keturun dalam sekali coblos, kalau Arkan bilang mah.


Hanya saja, di samping itu tak jarang jika si pria lah yang akan mengalami gejala-gejala kehamilan yang tidak dialami istrinya. Seperti Anzar ini contohnya, ia bahkan sampai tidak bisa berjalan hanya mengalami morningsickness diawal awal kehamilan sang istri.


"Mas?"


"Iya, kenapa sayang?" Tanya Anzar sigap.


Setelah lima bulan menikah, ia telah berusaha menjadi suami juga calon ayah yang siap dan siaga. Apalagi soal masalah ngidam, ia juga berusaha sesigap mungkin.


"Kamu mau sesuatu sayang?" Tanyanya sambil menghampiri sang istri yang duduk diatas single sofa di depan televisi.


"Kayaknya iya." Ujar wanita itu menimang-nimang.


"Yes, akhirnya kamu ngidam juga yang." Soraknya gembira.


Anzar memang sudah menunggu kesempatan ini sejak awal awal kehamilan istrinya. Hingga menginjak bulan keempatpun, nyatanya sang istri belum menginginkan apapun yang biasanya disebut 'ngidam'.


"Kami mau apa sayang, biar mas beliin."


Ujarnya gembira.


"Bukan gitu mas, tapi kayaknya dedeknya lagi pengen sesuatu."


"Iya, ingin apa sayang? Mas akan belikan walaupun harus ke negara tetangga sekalipun."


Ujarnya tak main main sambil tersenyum senang.


"Aku mau...."


"Mau apa sayang?" Tanyanya sambil mengenggam tangan istrinya.


"Aku mau-eh maksudnya dedeknya mau mas naik roller coaster."


"Roller coaster, gampang!" Ujar Anzar sombong.


"Besok kita ke-"


"Dengerin dulu mas, aku maunya mas naik roller coaster tertinggi di negara tetangga sambil pake daster."


Deg


"S-sayang, maksudnya?"


"Kita ke Singapura, mas naik roller coaster tertinggi disana sambil pake daster bik Maemunah yang warna pelangi."


"Sayangnya mas, Irra." Lirih Anzar.


"Mas mau nolak? mau dedeknya ileran? Tega banget ya!" Sela Airra ketus.


"Ya sudah, aku minta Leon aja yang turutin permintaan dedek bayi." Putusnya sambil melenggang pergi.


"Sayang, bukan gitu makasudnya Irra!"


"Sayang?"


"Irra?!"


Mungkin begini nasibnya, ketika sedang senang senangnya mau menuruti ngidam sang istri untuk pertama kalinya. Eh, pada akhirnya Anzar harus kena batunya sendiri.Membayangkan naik roller coaster tertinggi pakai daster saja, Anzar sudah malu dibuatnya. Mau disimpan dimana coba harga dirinya sebagai CEO. Ahh, ada-ada saja permintaan istri tercintanya ini.Tapi ya, demi orang tercinta mah ego bisa ditunda.



(Roller coaster tertinggi disingapura-Universal Studio Singapura)


****


To Be Continue


Selamat pagi readers🖑🖑


Jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow @nrisma. IG karisma022 juga boleh👐


Sukabumi 01 Agust 2020


07.56

__ADS_1


__ADS_2