Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 31 : Awal Kehancuran


__ADS_3

..."Janganlah sekali kali seorang laki laki berduaan sengan seorang wanita kecuali bersama muhrimnya"...


...(Muttafaq 'Alaihi)...


...BSJ 31 : Awal Kehancuran...


...****...


Semilir angin sejuk pagi pagi buta, menyambut langkah sepasang kaki diatas tanah ketinggian tersebut. Bola mata cantiknya menatap takjub, kearah hamparan bintang yang bertebaran di atas angkasa. Ini masih terlalu pagi untuknya berjalan kaki sendiri, namun entah mengapa kedua kakinya menuntun kemari. Sambil mengeratkan peganganya pada ujung jaket waterproof yang di desain nyaman dan hangat kala dikenakan dicuaca dingin. Angin pagi yang menyambutnya, membuat bawahan roknya berkibar kibar bebas diterpa angin.


Ini adalah waktu paling favorit untuknya ketika mendaki. Menanti sang raja siang meninggi. Memancarkan cahaya kemuning yang menyinari bumi. Pemandangan eksotis yang selalu berhasil membius mata.


"Disini dingin Ra."


Ia menoleh, saat suara bass berat itu mengintrupsi.


Pria tegap dengan wajah rupawan itu tersenyum tipis, sambil menyodorkan gelas stainlish yang terlihat masih mengepulkan uap-nya. Siempunya nama menerimanya dengan senang hati, tanpa ada sentuhan dua kulit yang berarti.


"Duduklah disini."


Ujarnya, mengarahkan telunjuk tanganya ke sebuah batu yang cukup besar ukuranya.


Gadis itu menurut, tersenyum kecil di balik kain penutupnya.


"Disini dingin, tidak baik untuk kesehatan kamu." Ujarnya, sambil memberikan mantel hangat yang sengaja ia pinjam dari rekannya, mengingat gadisnya ini tidak boleh terlalu banyak kedinginan.


"Terimakasih mas."


Deg


Refleks pria tampan bermanik tajam itu menoleh. Membenarkan pendengaranya yang baru saja ia dengar. Mas, apa baru saja gadis itu memanggilnya dengan sebutan itu?


"Kenapa? Tidak suka aku panggil-"


"Sstt." Sela Van'ar sambil mengisyaratkan untuk berhenti berbicara.


"Subhanallah, aku bisa sesenang ini mendengar kamu memanggilku mas."


Aurra menunduk, menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya. Kini keduanya sama sama duduk, dengan jarak yang cukup membentang sambil menatap kearah sang surya akan datang.


"Hmm, jadi kapan mas pulang?"


Tanya Aurra memecahkan keheningan, sambil menatap lurus kedepan.


Van'ar, pria tampan itu menoleh. Sebelum kembali menatap kedepan, seulas senyuman tipis menghiasi bibirnya. Ia tahu kecanggungan melipiti keduanya kini, namun tetap saja gadisnya itu selalu memiliki topik untuk dibicarakan. Tidak seperti dirinya yang masih kaku dengan keadaan.


"Insaallah pekan depan, jika tidak ada halangan." Jawabnya sambil menatap kedepan, sejalan dengan objek yang tengah ditatap lawan bicaranya.


"Semoga mas pulang dèngan selamat ya, Insaallah aku akan selalu doakan keselamatan mas kepada Allah."


Ah, hati seorang Van'ar menghangat. Mengingat kini ada anggota baru yang tengah menunggu kepulanganya. Sungguh, ia tak pernah lagi mau menyerah begitu saja tentang rasa cintanya. Kini cinta itu sudah mengakat kuat dihati karena kehendak Allah. Dan ia pun berjanji, akan senantiasa mempertahankanya.


"Aku berjanji, akan segera pulang setelah misiku selesai. Dan segera meminangmu."


Ujarnya mantap, tepat dengan munculnya sang raja siang membuka pagi.


Menyinari bumi dengan segala sinarnya. Menandakan bahwa hari ini akan di mulai. Memancarkan sejuta cahaya kuning keorenan yang indah. Kembali menjadi saksi ikrar janji dua insan yang saling mencintai karena Allah untuk tetap saling menjaga rasa.

__ADS_1


"Amiin. Semoga saja Allah selalu menyertakan ridhonya untuk niat baik itu." Jawab Aurra.


Yang pasti, tidak ada kebohongan lagi dihati. Menerima dan membuka kesempatan untuk pria yang bersungguh sungguh mencintainya, juga memberi kesempatan agar rasa itu diterima oleh pemiliknya dengan respon yang benar. Aurra menerima Van'ar apa adanya, terlepas dari kekurangan dan kelebihanya. Resiko beserta konsekuensinya di kemudian hari, hingga perbedaan usia yang membentang diantara keduanya. Yang penting ia selalu berpegang teguh kepada janji sang maha kuasa. Manusia diciptakan berpasang pasangan, dan sudah semestinya ia menerima jodohnya dengan ikhlas kelak jika ada kekuranganya.


Untuk saat ini, kemerdekaan yang telah di deklarasikan atas desakan bersama, telah membawa kelegaan dimana mana. Hingga hari dimana mereka akan bersatu nanti, yang ia pinta hanya satu. Kelancaran akan terlaksananya niat baik ini. Terlepas dari banyaknya kerikil yang nantinya menerjang.


Terlepas dari kebahagiaan keduanya, kebahagiaan pasangan satu ini juga tak kalah indah tuk saat ini. Masih tiñggal di pulau yang menjadi salah satu tempat destinasi honeymoon pasangan baru. Mereka tinggal bersama dengan penuh cinta setiap harinya. Walaupun mereka tahu betul, mereka tengah di buru keberadaanya untuk saat ini. Sejuknya angin di siang hari, tak dapat mengurangi etensi matahari yang menyengat kulit. Sepasang kekasih ini tengah asik menghabiskan waktu menyusuri bibir pantai bersama. Sambil bergandengan tangan, berpelukan terkadang saling mencuri kecupan.


Hawai-tenpat dengan lingkaran pantai indahnya itu, menjadi tempat yang mereka singgahi kembali. Dua minggu yang lalu mereka sudah singgah disini, sebelum terbang ke Swissterland. Kemudian kembali lagi ke pulau romantis ini. Menghabiskan waktu setiap hari bersama sang kekasih, tanpa peduli akan namanya yang di coret dari daftar keluarga Radityan ataupun posisinya yang telah di lengserkan begitu saja. Uang bukanlah hal sulit yang ia dapatkan. Setidaknya sebagai peraih gelar Magister mangemen Bisnis yang diraihnya dengan kejeniusanya, menghasilkan pundi-pundi rupiah bukanlah hal sulit.


Dari jauh jauh hari ia sudah memprediksi akan kejadian ini. Inilah resiko dari kebohonganya karena menentang keluarganya sendiri. Maka, tanpa ada yang tahu ia sudah mengalihkan beberapa aset atas nama dirinya. Juga beberapa kekayan yang ia dapatkan selama menjabat menjadi CEO RADITYAN CROP'S, ia sudah menyimpanya atas nama dirinya di beberapa bank dinegara yang berbeda beda. Ia sudah berpikir sejak lama, jika ia di depak dari keluarga RADITYAN setidaknya ia sudah mengambil haknya bukan. Walaupun itu bisa di bilang 'mencuri secara halus'.


Kini ia tak perlu khawatir, tentang uang untuk hidupnya dengan kekasih dan anak anaknya kelak. Puluhan resort di dalam negri dan luar negri atas namanya, ditambah peternakan di swissterland dan perkebunan anggur yang luasnya berribu ribu hektar. Hingga beberapa perusahaan properti menengah yang ada dibeberapa negara eropa atas namanya, sudah lebih dari cukup untuk membuat kantongnya selalu tebal. Tak apa puluhan platinum card atas nama keluarga Radityan yang ia miliki di blokir. Yang penting ia masih memiliki kartu kartu itu atas namanya sendiri. Setidaknya, saat dibuang dari keluarganya sendiri ia tidak jatuh miskin semudah itu. Walaupun namanya tidak akan semelambung dulu, saat ia menjabat sebagai CEO RADITYAN CROP'S. Bucin boleh, bodoh jangan, pikirnya. Jadilah ia mengambil keputusan yang menurutnya bijak ini. Bahkan, ia riam diam sudah menjual 20 % saham milik Radityan Crop's kepada pengusaha asal Dubai tanpa di ketahui oleh ayahnya.


Kini ia dan sang kekasih masih berlibur di Hawaii. Melupakan berbagai masalah diluaran sana. Ia sengaja menulikan dan membutakan dirinya tentang kabar tentang keluarganya. Bahkan ia juga tidak tahu omanya telah berpulang ke rahmatullah.


"Dear, aku haus?" Ujar suara lembut yang bisa dibilang manja tersebut.


Pria tampan itu menoleh, melirik wanita cantik dengan topi pantainya tersebut.


"Kamu mau minum apa?" Pekanya.


Jika orang Indonesia yang melihat orang sekelas CEO yang tampanya seperti Lee Min hoo ini pasti akan segera bersorak BUCIN akan kepatuhanya.


"Es kelapa muda, sepertinya segar."


Pinta wanita cantik berambut coklat bergelombang tersebut.


Cup


Ujar pria tampan tersebut, sambil mencuri kecupan singkat dibibir ranum kekasihnya.


Wanita cantik itu tersenyum sambil mengangguk. Namun, setelah siluet sang kekasih hilang di kejauhan senyumanya luntur seketika. Di gantikan tatapan penuh tanya kepada sosok pria yang baru saja keluar dari mobil mewah jutaan dollar miliknya, yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"What's wrong??" Tanyanya ketus sambil melirik sinis kesamping.



"What's wrong??" Ulang pria dengan sungless hitam yang mengantung di hidung bangirnya tersebut.


"Aku cuma tidak suka milikku disentuh pria lain." Lanjutnya penuh penekanan dengan bahasa britisnya yang kental.


"Dia kekasihku, perlu kuingatkan itu."


Jawab Nara tak gentar.


"Dan apa perlu kuingatkan, kamu adalah wanitaku. Calon ibu dari bayi yang--"


"Stop it?!" Sela Nata geram.


Pria tampan itu menyeringai penuh kemenangan. Sungguh kucing liar yang berkedok kucing anggora yang berkelas dihadapanya ini takluk dengan mudahnya, hanya karena satu gertakan.


"Ok. Asal kamu ingat, statusmu sa-yang."


Ujarnya penuh penekanan pada kata 'sa-yang' yang sengaja ia ucapkan dalam bahasa Indonesia.


"Jangan lupa, sudah hampir tiga minggu, kamu tidak menghangatkan ranjangku Ms.Kim."

__ADS_1


Seringai evill terlihat menghiasi bibir kissable-nya.


Pria dengan setelah formal mahal itu terkekeh, melihat ekspresi wanita dihadapanya.


"Jangan lupa jika aku sedang-"


"Ya aku ingat, karena aku yang menamanya di rahimu, Honey." Ujarnya menyela.


"Tapi ingat juga, priamu itu bukanlah apa apanya di bandingkan dengan diriku. Dan jangan lupa, temui aku di hotel lotus pukul delapan malam ini. Jika kamu tidak datang, tanggung sendiri resikonya." Ujarnya penuh penekanan sambil merapatkan tubuh wanita cantik di hadapanya yang masih terdiam.


"Tapi Log-"


"Tidak ada penolakan honey, aku ingin mengunjungi baby kita." Ujarnya sedikit berbisik sebelum meninggalkan wanita cantik itu.


Dia--Nata menggeram menahan segala kekesalan di dalam hatinya. Tanganya terkepal kuat, mengingat ancaman dari pria yang baru saja berlalu dengan mobil jutaan dollarnya tersebut. Ingin sekali ia menangis meraung raung, bahkan mencakar cakar wajah pria tampan itu jika bisa. Tapi sayang, ia tidak bisa melakukan semua itu. Mengingat nyawa orang orang terkasihnya bisa saja melayang begitu saja ditanganya.


"Hei darl, ada apa?"


Tanya suara bariton yang mengintrupsinya dari samping tersebut.


Wanita cantik itu berbalik, menghambur kepelukan pria yang di cintainya. Terisak saking sakit dadanya kini, memberikan sejuta pertanyaan dibenak pria yang menerima pelukan tiba tiba tersebut.


"Ada apa hm?"


Lirih pria bermanik hitam tajam itu,sambil memeluk tubuh sang kekasih. Memberinya ketenangan dan kehangatan secara bersamaan disana.


"Aku rindu mommy." Dalihnya, sambil melonggarkan pelukan mereka.


"Mommy?"


"Iya, entahlah." Alibinya, sambil mengusap air matanya.


"Dengar, kita disini untuk liburan. Setelah ini kita akan pulang ke Denmark, dan aku akan meminta restu untuk menikahimu di depan orang tuamu." Ujar Anzar, meyakinkan.


Wanita cantik itu tersenyum sambil kembali memeluk tubuh prianya. Ia menangis kembali, hatinya sakit. Sangat sakit seperti di tikam belati saat melihat keseriusan di mata pria yang di cintainya. Ia sadar, ia telah melukai pria yang mencintainya tanpa syarat ini.


'Sorry dear, I'am sorry.' Batinya dalam hati.


Ia tidak mau kehilangan Anzar, biarlah ia egois untuk beberapa saat ini. Ia tidak mau hubunganya kandas begitu saja, namun disini dia yang memulainya. Menghancurkan kepercayaan pria yang di cintainya. Bahkan ia sudah tega membatalkan pernikahan kekasihnya, karena keegoisanya.


'Sorry dear.'


**


To Be Continue


Hollaa, readerss🖑🖑


Hayooo,jadi gimana menurut kalian buat part ini??


Cung cung, yang mau komen pedesss.


Cus ah, komentar yang banyaakkk, like dan vote juga ya😊😊 Maaf jika typo masih bertebaran🙏🙏


Sukabumi 14 mei 2020


05.17

__ADS_1


__ADS_2