
...يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ...
..."Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” [8]...
...BSJ 24 : Datangnya Putra Yang Lain...
...****...
Kelam dan pekatnya lagit malam ini, seperti mewakili banyak hati yang tengah terluka. Dinginya angin malam ini, seperti menusuk setiap sendi sendi dalam tubuh. Satu keluarga besar terlihat tengah mengobrol serius di ruang tamu. Hingga jarum jam menunjukkan pukul delapan malam lewat pun, mereka tidak ada yang memikirkan makan malam untuk sekedar mengisi perut. Keenamnya terlalu larut dalam keadaan pelik saat ini.
"Bunda?"
Higga suara bass berasal dari ambang pintu mengalihkan perhatian mereka. Keempat manik berbeda warna itu menatap pria muda yang terlihat gagah dengan setelan formalnya. Wajah tampan penuh karisma-nya benar benar mewakili dirinya yang berprofesi sebagai Lawyer juga Jubir (Juru Bicara) untuk intelegen rahasia yang bekerja di bawah naungan FBI.
"Galaksi?" Ujar siempunya suara lembut yang merasa dirinya terpanggil.
Pria muda tampan yang memiliki selisih usia satu tahun dengan Van'ar dan Lunar itu tersenyum. Mempercepat langkahnya, lalu segera meraih punggung tangan Arkia. Mencium punggung tanganya sayang, dengan penuh kerinduan.
"Bunda apa kabar?" Tanyanya Ramah, setelah menyalami semua orang yang ia anggap lebih tua diatasnya.
"Baik, bunda baik baik saja nak."
Arkia sungguh tidak menyangka, bocah lelaki yang dari dulu selalu meminta di peluknya kini sudah tumbuh dewasa.
Dia Galaksi Reynand Pradipta--Putra sulung dari pasangan Bara Pradipta dan Babyanza La~Susan Luthears. Pria muda tampan yang sejak dulu memang selalu memanggil Arkia dengan panggilan 'bunda'.
"Bunda kenapa menangis?" Tanya Galaksi cemas.
Bagi Galaksi, Arkia itu seperti bundanya sendiri. Mungkin jika ayahnya di jodohkan dengan Arkia oleh takdir, pasti ia akan terlahir dari rahim wanita ini. Namun, ini sudah suratan takdir-Nya. Dia lahir dari rahim bunda tecintanya--Babyanza La~Susan Luthears.
"Galaksi sudah besar?" Lirih Arkia sambil mengusap rahang tegas milik putra sahabat semasa mudanya dahulu.
"Iya bunda, ini Galaksi yang suka merengek minta gendong sama bunda dulu."
Arkia kembali menitihkan air matanya, pria muda ini mewarisi sembilan puluh sembilan koma sembilan persen ketampanan seorang Bara Pradipta. Mengingat Bara, membuat Kia sedih. Mengingat pria tampan itu sudah berpulang bersama istrinya dalam insiden kecelakaan tunggal yang mereka alami. Bara dan Baby meninggalkan Galaksi kecil dan juga adiknya yang saat itu mereka masih berusia 17 dan 15 tahun.
Galaksi Reynand Pradipta dan
Gemintang Reynando Pradipta adalah dua putra tampan yang di tinggalkan Bara dan Baby untuk Arkia. Galaksi dan Gemintang sempat tinggal bersama Kia selama dua tahun lamanya, sebelum keduanya memilih tinggal di luar negri bersama kakek dari pihak Ayah mereka.
Kini Arkia kembali melihat putra tampan lainya. Ia sungguh bahagia, ternyata di balik semua kesulitan ini Allah membawa sebuah pertemuan manis untuknya.
"Putra bunda sudah besar ya Allah."
Lirihnya penuh sykur sambil menitihkan air matanya.
Vano, Halim, Ibra, Van'ar dan Lunar yang melihat itu merasa lega juga senang. Setidaknya, Arkia bisa kembali tersenyum kembali karena kehadiran Galaksi.
"Ayah, kakek, Opa"
Sapa Galaksi sambil menyalaminya satu persatu, terakhir kepada Vano sambil memeluk pria paruh baya tersebut.
"Anak ayah satu lagi pulang" Ujarnya lirih.
"Galaksi pulang, karena disini rumahku tempat berpulang." Ujarnya sambil melepaskan pelukan mereka.
"Bukanya bang Anzar mau menikah? Lalu, kenapa semuanya terlihat murung?"
__ADS_1
Tanya Galaksi bingung.
Pria tampan bersurai hitam itu beralih menatap sang bunda yang terlihat kembali menitihkan air matanya.
"Don't crying bunda, Galaksi tidak suka lihat bunda menangis." Ujarnya sambil menghampiri Arkia. Mengusap air mata yang jatuh berderaian, kemudian mengajak bundanya itu untuk duduk disofa.
"Jadi, boleh Galaksi tahu ada apa sebenarnya ini bunda?" Tanyanya sambil mengenggam kedua tangan Arkia.
Akhirnya Vano angkat bicara, menuturkan segalanya tanpa dusta. Dari awal hingga akhir yang penuh luka. Pria tampan yang kini bekerja di bawah naungan FBI langsung itu bergegas meraih smartphone-nya. Menelpon orang oranya, berbicara dalam bahasa inggris dalam sekali ucap.
"Bunda tenang ya, bunda tidak boleh menangis."
Galaksi mencoba menenangkan wanita yang di sayanginya ini, karena bagaimanapun Kia sudah seperti bundanya sendiri. Sedangkan ia juga tahu, Anzar yang notabenenya putra sulung Kia telah mengecewakan bundanya.
Galaksi juga terkejut dan kecewa. Bagaimana tidak terkejut, pria yang sedari kecil ia idolakan ternyata bisa buta karena cinta. Menurut Glaksi cinta itu klise, bagaikan kupu kupu di keindahan taman. Jika di kejar, dia lari. Jika diam, dia juga akan datang sendiri. Oleh karena itu ia belum mau mengurusi dunia percintaan, karena ia belum ingin di perbudak oleh rasa. Walaupun ia termasuk pria yang handal mengendalikan diri tetapi tetap saja, wanita adalah aset paling menonjol untuk menghambat hidup seorang pria karier sepertinya.
"Ayah, kirim orang orang Ayah ke Ankara. Bang Anzar terdeteksi di sana pagi ini." Ujar Galaksi setelah menerima pesan email dari orang orangnya.
Vano diam sejenak, dalam beberapa menit Galaksi bisa menemukan keberadaan putranya. Memang, putranya yang satu ini memiliki Koneksi yang tak terbatas. Pria paruh baya itu langsung menelpon tangan kanannya, memerintahkan mereka untuk mengechek rumahnya yang ada di Ankara. Kemungkinan besar Anzar singgah kesana bersama kekasihnya.
"Kita harus kerumah sakit."
Ujar Lunar memecahkan keheningan, tiba tiba ia menerima telpon dari seseorang yang memintanya untuk segera datang kerumah sakit.
"Ada apa Lunar?"
"Oma kritis." Ujar Lunar berkaca kaca.
Semua orang disana mulai tersentrag, termasuk juga Galaksi. Mereka langsung bergegas ke rumah sakit. Bahkan Van'ar saja masih mengenakan seragam dinasnya.
"Sabar bang, semuanya akan baik baik saja!"
Ujar Galaksi menyemangati.
"Oma gimana keadaanya?" Tanyanya cemas, ketika baru saja sampai di depan ruang rawat inap sang oma.
Vano dan Kia yang datang bersama Ibra dan Halim menatap Van'ar sejenak. Kemudian sang bunda mengintrupsi agar Van'ar ikut membantu mendoakan sang nenek agar bisa kembali stabil.
"Oma sedang di tangani. Kita bantu doa ya bang." Ujarnya sambil mengenggam tangan kekar sang bunda.
Van'ar mengangguk, dalam hati ia tak henti hentinya melapadzkan doa demi keselamatan sang nenek. Belum lagi melihat kekacauan yang menimpa keluarganya yang tengah terpuruk, membuat diri harus tegar menghadapi semuanya.
"Oma pasti sembuh kan bang?"
Cicit saudari kèmbarnya dengan mata berkaca kaca.
"Oma kuat, oma pasti sembuh demi kita."
Ujar Van'ar meyakinkan.
"Kita bantu oma dengan doa ya!" Ucap Galaksi yang kini ikut angkat bicara.
Keheningan menyelimu mereka, terlihat Halim beserta istrinya yang tadi menjaga Silvia ijin ke mushola. Kini tinggal Ibra, Vano, Arkia, Lunar, Van'ar dan juga Galaksi.
"Bunda pucat sekali, bunda sakit?" Tanya Galaksi khawatir.
Wanita paruh baya itu menggeleng lemah. Ia tidak sakit, cuma beban pikiran yang begitu banyak sampai sampai membuat kepalanya pening.
"Bunda baik baik saja."
__ADS_1
"Tapi bunda belum makan dari pagi?" Sela Lunar.
"Bunda belum makan?"
Ulang Van'ar kaget, pasalnya bundanya ini memiliki gangguan kronis pada lambungnya.
"Kenapa bunda telat makan? Kalau bunda sakit gimana?" Ujar Van'ar mengingatkan.
Arkia tersenyum kecil, sungguh ia bersyukur telah diberikan para malaikat kecil yang kini begitu menyayanginya. Anzar, Van'ar, Lunar,
Glaksi, Gemintang, dan Aurra adalah malaikat kecil yang di titipkan sang khalik kepadanya. Tiga di antaranya lahir dari rahimnya, tiga yang lainya lahir dari benih pria yang berjasa dalam hidupnya. Kini lihatlah mereka, walaupun mereka bukan terikat oleh ikatan darah, tetapi kasih sayang mereka tak pernah berbeda beda. Tetapi mengapa, diantara keenamnya putranyalah yang sangat berbeda. Merusak kepercayaanya, bahkan mengecewakan banyak hati.
"Bunda harus makan, setelah itu minum obat."
Ujar Van'ar sambil beranjak.
"Biar abang belikan makanan buat bunda."
Lanjutnya sambil izin pergi ke kantin rumah sakit.
****
"Air mineral dalam botolnya sekalian dua bu."
"Ini nak, jadi semuanya delapan puluh lima ribu."
Setelah membayar pesananya, Van'ar kembali melangkahkan kakinya. Sebelum manik tajamnya melirik sesosok pria yang familiar di matanya.
"Zega?"
Panggilnya kepada pria yang tengah menelpon sambil memungguninya tersebut.
"Bang Van'ar?" Nampak ekspresi keterkejutan dari wajah tampan pria berambut agak kecoklatan tersebut.
"Abang sudah pulang?" Tanyanya antusias.
Lebih tepatnya lega, entah mengapa Zega merasa semuanya akan baik baik saja saat melihat pria dihadapanya kini adalah Van'ar.
"Kamu sedang apa disini?" Tanya Van'ar penasaran.
Zega terdiam sejenak, apa pria ini sudah tahu tentang perginya calon suami Aurra?
"Mbak Aurra dirawat disini" Ujar Zega akhirnya.
Deg
Van'ar mematung seketika, tatapanya terkunci pada Zega yang baru saja melontarkan perkataan yang membuatnya shok.
"Aurra sakit?"
**
To Be Continue
Hollaaa guysss😊😊
Met pagiii, rehat dulu dari tugas UAS Online yang bikin mumedddd. Aku update dulu ya, takut kalian cemua rindu. Eakkk😉😉
Yo wiss, jangan lupa vote komentar yang banyak dan like ya😉😉😙
__ADS_1
Sukabumi 05 Mei 2020
09.46