Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 68 : Pelakor dan Pembinor


__ADS_3

..."Ada banyak pengartian yang berbeda antara mengambil dan merebut, tetapi efeknya sama sama menyakitkan jika dilakukan secara paksa."...


...BSJ 68 : Pelakor dan Pembinor...


...****...


"Aurra?"


Manik tajam milik pria berseragam office boy itu memincing. Mengikuti setiap gerak gerik subyek yang tengah dalam pengawasanya. Di sana, dari mereka keluar gedung pencakar langit ini, menyebrang jalan hingga duduk di sanalah satu angkringan pinggir jalan. Mereka terlihat mengobrol, satu sama lain. Terkadang pria yang paling muda tertawa lepas sambil menggoda pria lainya.


Sedangkan wanita berhijab juga berpenutup itu terlihat sering sekali menunduk demi menjaga pandangan. Bagaimanapun juga ia wanita bersuami yang memiiki batasan dalam bergaul. Kedua pria berjas itu terlihat lahap menikmati sepiring somay, sementara wanita yang tengah hamil muda itu hanya menemani. Puncak rasa kesalnya bertambah seiring waktu. Membuat langkah lebarnya, membawa mendekat menuju ketiganya.


"Aurra?" Hingga panggilan yang sarat akan kekesalan itu tercipta dan mengalihkan perhatian ketiganya.


"Mas Anzar, ada apa?" Tanya Aurra, wanita itu bisa melihat kobaran amarah dari wajah iparnya tersebut.


'Jadi ini suamimu, Ra.' Batin Aksara.


'Hoalah, suaminya datang.' Batin Arkan.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Anzar to the point.


"Dia menemani kita, pak." Ujar Arkan, menjawab.


"Jadi, apa keperluan anda mengajak wanita bersuami menemani anda makan?" Desis Anzar.


Aurra merasa percakapan ini mulai melantur. Ia merasa tak enak akan sikap iparnya terhadap anak tetangganya semasa di Bandung dahulu.


"Maaf kami lancang mengajak istri anda untuk makan bersama. Kami, cuma bernostalgia pak."


Ujar Arkana.


"Bernostalgia denga istri orang tanpa izin, apa itu baik menurut anda?"


"Maaf, apa nada bicara anda ini tidak terlalu keterlaluan?" Sela Aksara.


"Kita cuma di temani makan sambil mengobrol, apa salahnya?"


Aksara pikir, tipe pria posseaive seperti Anzar ini tak cocok untuk bersanding dengan Aurra yang lembut dan baik hati. Perbedaan terlalu tercetak jelas diantara mereka.


Anzar tersenyum meremehkan, sepertinya pria yang tengah berbicara denganya ini memiliki rasa lebih terhadap adik iparnya.


Grep


"Kita pulan Ra!" Ujarnya sambil menarik paksa pergelangan tangan Aurra yang terhalang oleh lengan gamis panjangnya.


"Mas." Cicit Aurra, merasa cekalan Anzar begitu nyeri ditanganya.


"Jangan kasar woi, dia perempuan."


Kesal Arkan tak terima.


"Jadi begini, cara anda memperlakukan wanita?" Cibir Aksara tak terima.


Bagaimanapun juga Aurra wanita yang tak pantas dikasari, apalagi disakiti.


"Mas, sakit." Cicit Aurra.


"Kita pulang!" Ujar Anzar final.


"Jangan kasar kepada wanita, anda cuma memperlihatkan sikap bajing*n anda dengan itu." Desis Aksara mencoba menghalangi kepergian mereka.


Raut muka Anzar merah padam menahan amarah. Ia kesal karena Aksara terus menghalangi jalanya. "Anda tidak perlu ikut campur. Dia itu-"


"Dear?" Pekikan dari sebrang membuat manik tajam Anzar menoleh cepat, saat dirasa suara itu amat familiar di telinganya.


Di sana, ada seorang wanita tengah berbadan dua yang sedang berjalan dengan tergesa gesa menuju dirinya. Menarik koper yang dibawanya cepat, sambil tersenyum bahagia.


"Nata?"


Grep


"I miss you Dear." Ujar wanita cantik berperut buncit yang memeluk tubuh tegap Anzar.


Anzar hanya bisa diam mematung ditengah tengah pelukan yang terasa menganjal tersebut. Tubuhnya kelu, tak mau bergerak sedikipun. Hingga cekalanya di tangan Aurra terlepas begitu saja.


'Pelakor bang!' Bisik Arkan kepada Askara yang hanya bisa diam mematung, melihat interaksi Anzar dan Nata.


'Kasian, punya istri solihah malah disia siain.

__ADS_1


Cih, godaan malaikat berwujud pelakor.' Batin Arkan geleng geleng kepala sendiri.


"Ayo Ra, kita pergi." Ajak Aksara tanpa babibu langsung meraih pergelangan tangan Aurra cepat, tapi tak sekasar Anzar.


"Eh, bang loe mau kemana?" Panggil Arkan yang tak didengar sedikitpun oleh siempunya nama.


"Itu bini orang bang." Kesal Arkan yang tidak didengar sedikitpun oleh Aksara.


Anzar yang sadar Aurra telah dibawa pergi baru sadar, dengan cepat ia mendorong tubuh mantan kekasihnya tersebut.


"Dear?" Kaget Nata, tak menyangka Anzar akan mendorongnya.


"Ada apa Dear, kenapa kamu mendorong aku?"


Tanya Nata sambil mengenggam jemari milik Anzar.


"Ck, kemana kakak lo bawa Aurra?" Tanya Anzar tak peduli dengan Nata.


Arkan hanya mengedipkan bahunya acuh, sambil kembali duduk di tempatnya tadi.


"Pak, somaynya satu lagi." Ujarnya santai.


"Ok mas." Jawab si penjual.


"Sial*n." Geram Anzar tertahan.


"Dear, aku rindu kamu. Kamu gak rindu aku?"


Tanya Nata dengan mata yàng mulai berkaca kaca.


"Aku-"


"Mas?!" Panggil suara dari sebrang jalan sana.


Ingin sekali Anzar menghilang saja dari muka bumi ini. Di sebrang sana, sang kekasih tengah berdiri sambil menatapnya penuh tanya.


'Wah, menarik. Pelakornya ada dua toh?' Batin Arkan sambil menikmati Somaynya.


"Airra?"


"Siapa dia Dear?" Tanya Nata penasaran.


"Seharusnya saya yang bertanya, siapa anda berani menganggu suami saya."


Pukulan telak dihati Nata. Terasa seperti tersambar petir di siang bolong.


'Hoah, istri? Jadi Aurra dimadu, begitu?' Arkan membatin dalam kunyahan nikmatya.


"Dear, apa maksud dari semua ini?" Tanya Nata sambil menguncang guncangkan tangan Anzar.


Awalnya, kedatang wanita cantik itu untuk meminta maaf dan merajut kasihnya kembali yang sempat kandas. Berbekal tekad dan keyakinan akan cintanya yang besar, Nata terbang dari Negri gingseng menuju tanah air demi menemui kekasihnya yang dulu ia campakkan begitu saja.


Kini ia kembali dengan harapan besar dan memutus rasa malunya, hingga menumbangkan harga dirinya demi mengemis cinta Anzar. Katakanlah ia tak tahu malu, tetapi cinta mampu membuatnya sampai sejauh ini. Tetapi, kini yang didapatkanya adalah pil pahit yang harus ditelanya. Kenyataan yang menamparnya, karena kesalahan fatalnya dahulu.


"Dia, istriku. Wanitaku yang satu satunya kucintai di dunia ini, calon ibu dari anak anakku."


Deg


Nata menatap nanar pria yang dicintainya itu. Kini pria itu tengah memeluk pinggang wanita lain dengan possesive. Memperlihatkan keseriusan dari ucapanya. Mematahkan harapan besar yang telah membawanya kesini.


"Kamu tega Dear, tega." Ujarnya mulai terisak kecil.


Tubuh Nata bahkan hampir oleng, jika ia tidak berpegangan kuat pada pegangan kopernya. Ia terlalu terkejut, kenyataan ini terlalu menyakitkan untuknya.


"Dear?"


Sebenarnya Anzar iba melihat mantan kekasihnya itu menangis pilu. Hanya saja, ia memilih untuk menulikan dirinya demi menjaga perasaan kekasihnya. Toh, diantara mereka sudah tidak ada apa apa lagi. Sekarang Anzar maupun Nata sudah memiliki jalan hidup pilihan masing masing.


"Maaf, tapi dia wanita yang aku cintai. Hubungan kita sudah selesai, semenjak kamu berkhianat dan berselingkuh." Ujar Anzar final, sebelum berlalu dan meninggalkan Nata seorang diri.


Pria itu tak menoleh barang sedikitpun. Ia berjalan acuh sambil mengandeng kekasihnya mesra. Meninggalkan Nata yang menangis tersedu sedu di sana. Beberapa orang nampak iba, tapi enggan menyapa atau membantu. Mereka yang melihat drama itu sejak awal, pasti sudah mengira jika wanita yang tengah hamil besar itu seorang pelakor yang ditinggalkan pasanganya.


"Sayang, cantik cantik tapi bakatnya jadi pelakor." Gumam Arkan kecil sambil menyerahkan selembar uang pecahan lima puluh ribu, untuk membayar tiga porsi somay dan 2 es teh yang ia dan kakaknya sempat nikmati.


"Shit, sekarang abang gue ceritanya lagi jadi pembinor nih?" Umpatnya kecil, saat mengingat kepergian sang kakak yang membawa istri orang.


♤♤♤♤


"Terimakasih sudah mau mengantar Aurra kesini, kak." Ujar Aurra kecil sambil menunduk.

__ADS_1


Aksara, pria berwajah tampan dengan ekspresi flat itu berdeham kecil sebagai jawaban. Setelah membawa Aurra dari kepelikan tadi, Aksara membawa Aurra kembali ketempat kerjanya.


"Maaf, tadi aku sempat memegang pergelangan tanganmu, aku refleks." Ujar Aksara meminta maaf akan kesalahanya.


Bagaimanapun juga, ia tahu jika wanita dihadapanya sempat merasa canggung. Walaupun tidak bersentuhan secara fisik, Aksara bisa mengetahui jika Aurra pasti merasa canggung. Ia sudah tau hal itu dari dulu, Aurra itu amat menjaga auratnya. Agar kelak, aurat itu tidak menjadi aib dan boomerang bagi dirinya sendiri dan orang làin.


"Iya, Aurra sudah memafkan kakak." Ujar Aurra jujur.


Aksara mengulum bibirnya yang hampir menyunggingkan senyum tipis. Setidaknya,dia bisa meraih kata maaf itu secara langsung.


"Apa-suamimu sering kasar seperti tadi Ra?"


Tanyanya hati hati karena penasaran.


Aurra menarik ujung khimarnya gemas, karena kesalahpahaman itu membuatnya harus menjelaskanya.


"Dia, bukan suami Aurra." Jujurnya.


Aksara sempat terkejut, tetapi ia dengan mudah mengendalikan ketekejutanya.


"Lalu, suami kamu di mana?" Tanya Aksara, penasan pria tampan satu ini.


"Dia lagi tugas di luar kota."


"Tugas di kuar kota, dia pembisnis?" Fix, Aksara orangnya berubah jadi banyak tanya.


"Mas Van'ar, suami Aurra tentara. Dia sering tugas di luar kota."


Deg


Tentara cuy,abdi negara yang sudah pasti tidak ada apa apanya jika Aksara bersanding dengan kekasih halal Aurra. Mengingat, banyak dari wanita diluaran sana bermimpi menjadi pendamping hidup seorang abdi negara.


"Aurra, menikah sama mas Van'ar adik mas Anzar." Ceritanya melengkapi, agar tak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka.


Pupus sudah, angan anganya kini. Semuanya terjawab langsung dari bibir pihak yang bersangkutan. Jadi, wanita yang hingga kini mendiami hatinya telah menikah dengan seorang abdi negara. Putra kedua Dari keluarga besar Radityan, yang secara usia tepaut lima tahun lebih muda dari Aurra. Tapi, nampaknya usia bukanlah halangan.


Dilihat dari segi manapun, sepertinya wanita yang hingga kini memenuhi otaknya itu bahagia dengan status barunya. Jadi, tidak ada lagi celah untuknya.


Derrt


Derrt


Sambil mengusap rambut hitamnya kasar, pria yang duduk di kursi kemudi itu mengangkat telpon dari adiknya. Setelah mengantarkan Aurra hingga memasuki lobby Rumah sakit, kini Aksara masih diam mematung didalam mobilnya.


"Hall-"


"BANG, LO DIMANA? LO MAU JADI PEMBINOR? INSAF BANG! STOK CEWEK DI DUNIA MASIH ADA JUTAAN, GAK HARUS ISTRI ORANG JUGA. DIA PUNYA SUAMI BANG?!" Rongrong sang adik dari sebrang sana.


Aksara menhembuslan nafasnya kasar. Pasti adiknya ini berpikir yang tidak tidak.


"Arkan-"


"TADI SUAMINYA UDAH DIGANGGU PELAKOR, SEKARANG DIA PERGI SAMA ISTRI MUDANYA. NAH LOH, MALAH ABANG SEKARANG IKUT IKUTAN JADI PEMBINOR. HADUH, JANGAN MALU MALUIN KELUARGA BANG, INGET AYAH, BUNDA, DI RUMAH!"


Aksara memejamkan matanya sejenak, adiknya ini memang mulutnya seperti toak rusak jika sudah salahpaham.


"BANG, KELUARGA KITA GAK DILATIH JADI PEMBINOR LOH, INGET AZAB BANG. INGET BANG KARMA-"


tuttt tutt


Pusing dengan celotehan adiknya, Askara memilih mematikan sambunganya sebelah pihak. Ia meraih kunci mobilnya, menancap gas mulai menjauhi area Rumah sakit.


"Siapa juga yang mau jadi pembinor?" Gerutunya kecil.


Ada ada saja tudihan adik satu satunya itu, ganteng ganteng gini kok di bilang pembinor. Hadohh, tamatlah dunia pelakor jika pembinornya seganteng ini.


♤♤♤♤


To Be Continue


Pagi guys😊😊


Holla, masih mau munculin pembinor berkualitas gak nih?? Hayoo, pada kangen Ayamu ya?


Jangan lupa komentar yoo, like dan vote😊😊


Terimakasih masih setia menunggu VanRa update hingga kini🌾🌾


Thanks readers❤

__ADS_1


Sukabumi 23 Juni 2020


09.21


__ADS_2