
⚠⚠⚠
17+
(Anzar & Airra part)
---HAPPY READING---
...“Kamu itu orang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah aku kenal. Tapi jika aku harus mengulang hidupku, aku akan tetap memilih kamu,” – Bacharuddin Jusuf Habibie....
...BSJ 90 : Honeymoon Minimalis...
...****...
Sinar mentari pagi yang nampak muncul dari celah tirai sesekali terlihat menganggu tidur nyenyaknya. Belum lagi dengan keadaan tubuh yang masih letih, membuatnya enggan tuk beranjak. Tubuhnya terasa remuk dan terbelah saking letihnya.
Sreeekk
Silau sang surya itu nampak kembali menganggunya begitu nyata. Kini, malahan seluruh tubuh bagian atasnya yang topless tersinari oleh kemilaunya.
"Wake up, my husband." Lirih suara yang sudah genap sepekan ini mengisi pagi di awal hari harinya.
Dirinya masih tak beranjak, enggan rasanya beralih dari ranjang yang tidak sebesar king size nyamanya di mansion. Namun, ranjang ini terasa nyaman karena harumnya sang istri sesekali yang tertinggal disana.
"Wake up, sayang." Ujarnya lagi, sambil menepuk-nepuk punggung yang tidut tengkurap tersebut.
"Ayo, sudah siang loh. Aku mau ke pasar, anterin yuk." Ujarnya lagi, sambil menarik lengan kekar tersebut.
"Hmm, five minute again." Lirih suara serak layaknya orang hendak bangun tidur tersebut.
Wanita cantik berpasmina baby unggu itu mendengus kecil. Begini ya rasanya memiliki suami workholic yang kadang kadang susah bangun pagi.
"Yasudah, aku pergi sama bang Asèp." Putusnya sambil beranjak.
Asep itu nama seorang ojek yang selalu nongrong di pangkalan depan, tak jauh dari kediaman mereka. Mendengan nama Asèp, pemuda jangkung yang suka merayu itu pria tampan itu bereaksi spontan.
"Ok, aku udah bangun." Ujarnya sambil beranjak dari posisi rebahanya.
"Tunggu sebentar, aku mau mandi dulu." Ujarnya sambil beranjak mengambil handuk dan keluar kamar kecil milik mereka.
"Awas ya kalau jadi pergi sama Asèp, aku kurung dikamar seharian." Ujarnya sebelum benar benar berlalu.
Airra yang mendengan ancaman suaminya itu hanya menggeleng kecil. Ternyata selain over negatif thingking, over protectif, juga over possesive, suaminya itu pecemburu ulung pula.
Sepekan genap mereka membangun rumah tangga. Selama itu pula, perubahan itu terasa amat nyata.Dari saat ia masih single, hingga kini ia sudah bersuami. Tak jarang, banyak dari sahabat juga kerabatnya yang gencar menanyakan perihal momongan. Airra sendiri sih awalnya ingin tunda dulu, mungkin sekitaran setahun.
Pasalnya, tahun ini foker-nya di salah satu organisasi perkumpulan lawyer yang di ikutinya bakalan menumpuk. Belum lagi, Airra yang mendapatkan promosi menjadi lawyer inti di salah satu cabang firma hukum yang kini didiaminya, membuat tumpukan job-nya semakin menggunung. Oleh karena itu ia ingin tunda dulu untuk rencana memiliki momongan. Tapi sayangnya, keputusan sang suami terlalu mutlak yang ingin segera memiliki momongan. Bukan satu momongan, tapi tiga pintanya ditiap doa setelah salat. Airra sampai pusing sendiri, jika mengingat keinginan suaminya yang satu ini.
"Hayo, mikirin apaan nih pagi-pagi?" Lirih suara sang suami yang baru memasuki kamar tersebut.
Rambutnya basah, tubuh bagian atasnya topless. Hanya menyisakan sehelai handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya.
"Kebiasaan ihh." Kesal sang istri, sambil meraih handuk kecil ditanganya.
"Rambutnya dikeringin dulu, nanti flu. Pagi-pagi begini kan kamu rawan bersin kalau dingin."
Kesalnya, sambil mengusap pelan rambut lepek tersebut.
Anzar tersenyum kecil mendengar celotehan sang istri. Celotehan yang sepekan ini menjadi salah satu bumbu di rumah tangga mereka. Sambil memperhatikan wajah cantik yang nampak serius dihadapanya, Anzar berinisiatif memegang pinggang sang istri yang nampak sedikit berjinjit tersebut.
"Kalau lama, keringin pake hairdryer aja. Nanti kita telat ke pasarnya kalau kesiangan. Sayuranya keburu bagian yang sisa." Ujarnya kecil, sambil sibuk mengusap rambut lepek suaminya dengan handuk.
Anzar tersenyum tipis sambil mengangguk.
Sepekan ini, sungguh perubahan yang manis untuk hidupnya. Tak sangka, pria sepertinya akan mendapatkan istri se-perfect istrinya ini. Bukan saja cantik, ia juga cerdas, solihah, rajin, baik hati dan apa adanya.
Alih-alih memilih honeymoon di luar negri, seperti usulan Kia dan Vano. Istri cantiknya ini malah memilih honeymoon di dalam negri saja, lebih tepatnya dirumah sendiri. Rumah minimalis milik Airra yang kini menjadi rumah mereka.
Cup
"Sweeth." Ujar Anzar tak berdosa, setelah mencuri satu kecupan dibibir sang istri.
"Mas ihh." Rajuk sang istri merona.
"Tunggu diluar gih, aku mau pakai baju dulu."
Ujar Anzar sambil mengecup pucuk khimar sang istri sayang.
"Gak mau ihh."
Anzar tersenyum miring, sepertinya menggoda sang istri akan menyenangkan pagi ini.
"Yasudah, ayo bantuin mas pake baju."
"Bukan gitu maksudnya, aku-"
"Celana dalam hitamku dimana ya?" Tanya sang suami sambil berkacak pinggang santai.
"Mas ihh, aku keluar deh." Ujar sang istri final, sambil segera berlalu.
"Sayang, katanya mau bantuin mas?"
"Tau ah, kesel." Ujar sang istri dari luar sana.
Anzar tersenyum tipis, hidupnya indah sekali setelàh berhasil memperistri kekasih hatinya tersebut.
Sudah dua hari ini, ia dan sang istri tinggal d irumah lama wanitanya. Semua ini karena usulan honeymoon yang di tolak mentah-mentah oleh sang istri, jadilah opsi kedua agar acara mereka berdua tak diganggu adalah dengan tinggal disini. Dengan begini, mereka akan lebih segan menghabiskan waktu bersama. Dua hari ini, mereka benar benar hidup layaknya suami istri yang hidup sederhana. Pergi kepasan untuk membeli bahan makanan untuk sehari hari, memetik sayuran di pekarangan rumah, saling membantu soal urusan rumah, menonton berdua jika urusan rumah telah usai. Pokoknya, waktu kebersamaan mereka terasa amat ternikmati kini.
"Beli daging sapi sayang, kayaknya di coolkas udah habis." Ujar sang suami mengingatkan.
"Iya, tapi satu kilo aja deh. Soalnya stok daging ayam sama telur juga banyak." Monolog sang istri.
Cup
"Iya, gimana istri aja." Ujar Anzar yang tampa malu mengecup pucuk kepala sang istri.
Awalnya Anzar nampak jijik dan enggan jika diajak kepasr. Karena memang seumur hidupnya, ia tidak pernah menginjakkan dirinya ditempat yang menurutnya kotor ini. Namun bersama sang istri, semua itu ia tumbangkan begitu saja.
__ADS_1
"Mas malu ihh, banyak orang juga." Lerai sang istri malu.
"Ora popo to dek, penganten baru yo maklum."
Ujar ibu ibu penjual sayuran dihadapan mereka tersebut.
Anzar dan Airra tersenyum tipis menganggukinya.
"Telor Ayam kampungnya dek, bagus buat stamina suaminya." Ujar ibu ibu disamping kios lainya lagi.
"Direbus setengah mateng, buat suaminya kalau habis melakukan itu. Biasanya manten gitu kalau dikampung ibu."
Airra menyerngit tak mengerti arah ucapan ibu ibu tersebut.
"Maksud ibu apa-"
"Beli buk, satu keranjangnya berapa?" Sela sang suami santai.
"Mas ihh." Intruksi Airra.
"Gak papa sayang, buat stok juga." Santai Anzar.
"Uluh, penganten anyar lengkete." Ujar ibu ibu penjual sayur dimana Airra dan Anzar tengah belanja tersebut.
"Semoga cepat diberi momongan ya dek." Ujar ibu penjual telor tersebut ramah.
"Amiin buk, do'akan saja dapat tiga sekaligus."
Ujar Anzar sambil tersenyum tipis.
"Dasar." Ketus sang istri dalam hati.
Sepulangnya dari pasar tadi, Anzar langsung membantu menata barang belanjaan yang mereka beli. Sementara sang istri memilih untuk memasak sarapan pagi untuk mereka. Menikah dengan Airra, membawa banyak dampak positif bagi Anzar. Banyak perubahan kecil yang dirasa dari hidupnya kini. Dari hal-hal kecil yang tidak pernah dilakukanya,kini ia lakukan setelah menikah dengan sang istri. Hidup sederhana bersama sang istri begini, membawa kebahagiaan tersendiri bagi keduanya. Terutama Anzar yang begitu bersyukur atas kesederhanaan yang dimiliki istrinya tersebut.
"Sarapan dulu mas, mumpung masih hangat."
Ujar sang istri mengajak.
Anzar mengangguk, setelah itu beralih mencuci tangan dan menyusul sang istri kemeja makan. Pagi ini, sarapan sederhana ala sang istri tercinta akan kembali mengisi perutnya yang keroncongan. Tumis daging sapi dengan brokoli, sayur kecambah/toge dengah tahu, tahu tempe goreng, sambal dan beningan bayam. Menjadi pilihan menu sehat pagi ini.
"Mas kenapa sih akhir-akhir ini suka banget sama sayur toge?" Tanya sang istri yang tengah menyiukkan sayuran tersebut.
Pria tampan itu tersenyum kecil sebelum menjawab. "Katanya, toge itu baik buat kesuburan."
Glek
Airra menoleh cepat kearah sang suami.
Kemarin terung, sekarang kecambah/toge dan telur ayam kampung. Besok apa lagi coba? Makanan yang katanya baik untuk kesuburan ala Anzar suaminya.
"Mas?"
"Iya, kenapa sayang?" Tanya Anzar sebelum menyuapkan sesuap nasi sekalipun.
"Bisa tidak, kita tunda punya momongan dulu."
Deg
"Hm, begini mas..." Lirih Airra, menimang nimang kata kata yang tepat tuk diutarakanya, agar tak menyakiti hati sang suami.
"Aku, mau kita nikmati waktu kebersamaan kita dulu mas." Ujarnya kecil.
Anzar diam diam tersenyum tipis mengerti tujuan dari ucapan istrinya ini.
"Aku cuma mau kita nikmatin waktu kebersamaan ini berdua dulu, tanpa adanya baby. Aku mau mas waktu mas Anzar buat merhatiin aku, begitupun sebaliknya."
Anzar mengerti sangat jelas arah pembicaraan sang istri. Ia tak tersinggung, setiap pasanganpun pasti akan menginginkan hal yang sama. Kebersamaan bersama pasanganya tanpa gangguan, sebelum nantinya hadir buah hati yang akan membagi waktu kebersamaan mereka.
"Sayang, dengar." Ujar Anzar meraih tangan istri cantiknya.
"Masalah momongan aku gak maksa, kita bisa tunda sampai kamu siap." Ujarnya sambil menatap wajah cantik sang istri yang kini tengah menatapnya intens.
"Kapanpun kamu siap, karena punya baby itu kamu yang akan lebih cenderung mengalami susah senangnya. Aku yang nantinya akan mendampingi kamu, selama masa masa itu berlangsung. Semua itu bisa ditunda, karena memang betul kita juga butuh menikmati waktu kebersamaan berdua saja." Ujar Anzar menuturkan.
"Jadi kamu gak usah khawatir sayang, aku gak akan maksa." Ujarnya diakhiri senyuman manisnya.
Airra mengangguk mengerti, ternyata suaminya ini lebih pengertian dari pemikiranya.
"Tapi, buka puasanya tetap nanti malam ya sayang?" Celetuk Anzar disela sela acara makan mereka.
"Uhuk uhuk." Membuat Airra tersedak karenanya. "M-maksud mas?" Bingungnya.
"Kamu sudah selesai halanganya kan?"
Deg
Ah itu, Airra baru ingat jika ia juga sudah selesai masa halangnanya kemarin sore.
Jadi, apa harus malam ini juga suaminya itu menangihnya?
"Nanti malam pokoknya aku buka puasa." Ujar Anzar sambil terkekeh keci.
"Mas ihh, masa bahas begituan di meja makan."
Kesal Airra, sambil berusaha keras menutupi rona merah dipipinya.
Sepertinya, malam ini dirinya harus bersiap.
🐳🐳
"Mas sudah pulang?" Sapa Airra lembut, sambil meraih punggung tanga suaminya untuk dicium.
"Hm" Jawab sang suami santai.
"Ini pesanan kamu yang." Ujarnya, sambil menyerahkan keresek hitam tersebut.
"Makasih ya mas, biar aku ambil piring dulu."
__ADS_1
Sepeninggalan sang istri, pria tampan itu membuka peci hitam serta baju kokonya. Ia baru saja pulang dari pengajian dirumah pak RT. Walaupun baru dua hari tinggal disini, ia berusaha menjaga sosialisasi dengan baik dengan para tetangga dilingkungan sang istri. Pulangnya, sang istri menitip untuk membelikan martabak manis rasa ketan hitam di depan rumah pak RT.
"Mas gak mau?" Tanya sang istri, yang sudah mulai menikmati martabaknya dengan lahap.
"Manis loh mas." Ujar istri cantiknya tersebut.
"Masa?" Anzar tertarik untuk mencobanya, terbukti perhatianya dari televisi yang menyala di depan sana teralihkan.
"Iya, nih cobain deh mas." Ujar Airra sambil menyodorkan satu potong martabak ke arah sang suami.
Ia sendiri masih sibuk mengunyak kecil martabak dimulutnya.
"Bukan gitu mas maunya," Airra menyerngit bingung diantara kunyahanya.
"Terus, gimana?" Ujarnya pelan.
"Begini, sayang." Ujar Anzar, detik berikutnya ia sudah mendaratkan bibirnya di atas milik sang istri.
Airra yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba tersebut hanya bisa diam kaku, apalagi saat dirasa suaminya itu mulai menggerakkan bibir kiss-able miliknya. Membiarkan suaminya itu mengambil alih, memanipulasi keadaan dengan gerakan menggodanya yang sarat akan kelembutan tersebut. Cukup lama mereka berciuman dengan agak panas. Sebelum si pelaku utama melepaskan tautanya.
"Manis sayang." Ujarnya sambil tersenyum manis, dengan ibu jarinya menyapu ujung bibir sang istri.
Airra speechless, mereka baru saja berciuman sepanas itu. Pengalaman baru yang baru pertama kali ia dapatkan pula.
"Lagi yang." Ujar Anzar bersemangat.
Belum sempat Airra mengutarakan nitanya untuk protes, suaminya itu sudah kembali menjatuhkan ciumanya. Membuatnya lupa niatan antara menolak atau mengiyakan.
Lagi pula, siapa yang bisa menolak jika dicium selembut ini oleh pria tampan. Terlebih lagi itu suaminya sendiri.
Lama kelamaan, Anzar kalut sendiri karena permainanya. "Pindah ke kamar yang." Ujarnya yang langsung membawa tubuh sang istri ala bridal style, tanpa mengindahkan pekikan kaget sang istri yang kembali di bungkan oleh ciumanya.
Meninggalkan ruang tamu dengan keadaan televisi masih menyala, dan keadaan ruangan yang masih terang benderang. Lagi pula, ada yang lebih penting dari itu untuk dituntaskan oleh Anzar. Ya, sepertinya ia harus berbuka puasa malam ini juga.
🌒🌒🌒
Kumandang seruan untuk menunaikan ibadah salat subuh, menyeruak diindra pendengaran pria tampan yang masih terlelap nyenyak tersebut. Ia menggeliat kecil, saat kumandang kalimat Assalatu khoirum minan na'um itu mendera pendengarannya. Iya, salat lebih baik dari pada tertidur.
Sambil mengumpulkan nyawanya, ia membuka mata dengan perlahan. Matanya mengerjap, menyesuaikan cahaya yang mulai masuk keretina matanya. Sayup'sayup ia bisa mendengar suara televisi yang masih menyala.
'Astagfirullah.' Ia beristigfar kecil sambil merubah posisinya, tetapi tertahan oleh sosok lain dalam pelukanya.
Senyum kecil nampak terbit dibibirnya, apalagi saat menilik lebi jelas siapa sosok yang tengah tertidur pulas berbantalkan lenganya tersebut.
Cup
"Termakasih untuk semalam, my Irra." Gumamnya sayang, sambil mengecup pucuk kepala wanitanya.
Perempuan yang semalam telah ia ubah menjadi wanita seutuhnya. Anzar bahagia bukan main, karena faktanya ialah yang menjadi pria yang bisa mengambil kehormatan wanita tercintanya. Istrinya ini menjaga apa yang wanita berusia 27 tahun pada umumnya di era ini jarang miliki.
Ia bahagia sekali, rasanya amat menyenangkan. Seperti ada jutaan kupu-kupu memenuhi rongga dadanya.
Kumandang Adzan berikutnya, kembali mengingatkanya. Dengan gerakan kecil, ia membangunkan sang istri.
"Sayang, bangun."
"Eghh." Lenguh siempunya kecil.
"Bangun sayang, kita salat subuh dulu." Ujarnya sambil menjatuhkan ciuman singkat di kening sang istri.
Mendengar suara Adzan, wanita cantik bersurai hitam agak kecoklamatan itu membuka kelopak matanya. Menyadari jika posisinya tengah tertidur dalam pelukan suaminya, manik hazelnya membola seketika.
"Hey, kenapa sayang?" Bingung Anzar, sambil menahan punggung mungil itu dengan satu tanganya.
"M-mas, i-itu..." Cicitnya kecil, dengan rona merah yang hampir menutupi area pipi mulusnya ketika mengingat aktivitas mereka semalam.
Cup
"Terimakasih, karena telah menjaganya buat mas." Ujar Anzar sambil mengecup kening istrinya lama, namun sarat akat perasaan.
"Mas bahagia Irra, mas sebahagia ini karena mencintaimu." Ujarnya penuh perasaan.
Anzar tak bohong, rasa cintanya ini sugguh istimewa. Berbeda dari saat ia mencintai Nata mantan kekasihnya, atau saat ia mengagumi adik iparnya sendiri. Rasa cinta kepada istrinya ini berbeda, tak dapat dijabarkan dengan kata kata.
Airra tersenyum tipis, ia juga senang bisa memberikan apa yang amat dijaganya untuk pria yang amat dicintainya. Setidaknya, ia kini punya tempat kembali, tak sendiri lagi di dunia ini.
"Irra juga senang, bisa sebahagia ini dicintai oleh mas." Ungkapnya lirih.
Ia tah bohong, ada jutaan kupu-kupu terasa menari nari dirongga dadanya saking bahagianya. Ia berharap, dari titik ini hingga seterusnya tidak akan ada masalah yang amat berarti lagi, yang siap menerpa mereka.
"Ya sudah, kita mandi dulu setelah itu salat berjamaah." Ujar Anzar sambil beranjak, membebaskan dirinya dari selimut tebal yang membungkus tubuh profosionalnya.
"Mas ihh, pake baju dulu." Pekik sang istri kaget.
Anzar hanya bisa tersenyum tipis sambil meraih celana yang dipakainya semalam.
"Iya, ini juga lagi dipake sayang."
Setidaknya, janji tuhan akan pasangan adalah cerminan diri telah dialaminya
sendiri kini. Mungkin dulu ia pernah salah ambil langkah, tetapi kini ia yakin seratus persen. Tuhan telah mengirimkan tulang rusuk yang semestinya ùntuk melengkapi hidupnya. Dan tulang rusuk itu adalah istrinya, wanita yang telah datang menyembuhkan luka akibat kesalahan di masalalu.
□□□
To Be Continue
Selamat pagi readers??
Hayoo, cung yang kangen nunggu update??
Part ini khusus AnRa yo,sampe part depan😄😄
Sudah mendekati khatam nih,jangan lupan tinggalkan jejaknya yo readers🖐🖐
Thanks juga buat yang sudah dukung aku di Wttp💜
Ok, segini dulu ya. Tunggu aja kelanjutanya lagi🖐🖐
__ADS_1
Sukabumi 27 Juli 2020
06.02