Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 70 : Awal Kepergian


__ADS_3

..."Karena menikah itu lebih dari persoalan kamu cinta dan bersedia hidup dengan dia. Tapi soal membina dan membimbing rumah tangga bersama. Menerima, mensyukuri, dan menutupi kekurangan satu sama lain."...


...BSJ 70 : Awal Kepergian...


...****...



...💦💦💦...


"Kamu jadi ikut Ra?" Tanya pria bersnelli dokter tersebut.


"Ini bahaya untuk kalian jika ikut kesana Ra?"


Lanjut satu satunya wanita lainya selain siempunya nama disana.


"Aku yakin kok, insaallah semuanya akan baik baik saja." Ujarnya meyakinkan mereka semuanya.


"Tapi si kembar gimana kalau kamu kecapean di sana Ra?" Tanya Adnia mencoba membujuk sahabatnya itu lagi.


"Di sini saja ya Ra, kamu bisa tolongin yang lain di sini." Lanjut pria tampan tersebut ikut angkat bicara.


"Kakak tidak usah khawatir, Aurra kesana juga dengan banyak orang kok." Elaknya.


Dia-Aksara menghembuskan napasnya kasar. Berulang kali ia mencoba untuk membujuk wanita yang hendak menjadi relawan bagi para korban bencana alam ini.


"Kamu di sini saja Ra, sama Irra. Tidak perlu pergi kesana." Lirih sang kakak ipar yang ikut melerainya.


"Aurra tahu kakak sama yang lainya khawatir, tapi Aurra bisa jaga diri kok. Aurra yakin, insaallah Aurra nanti bisa pulang dengan selamat sampai tujuan." Ujarnya meyakinkan.


Askara, Anzar, maupun Airra yang ikut mengantarkan kepergian mereka kekeuh mempertahankan keputusanya. Bunyi peringatan maskapai yang mereka tumpang terdengar. Menginformasikan agar semua penumpang cepat bersiap siap.


"Aurra berangkat ya kak, mas, mbak Irra."


Pamit Aurra sambil berlalu bersama rombonganya.


"Perasaanku tidak enak." Batin Aksara sambil menatap kepergian wanita bercadar itu bersama rombonganya.


Rumah sakit tempat Aurra bekerja memang selalu memiliki tim khusus untuk relawan, yang nantinya dikirimkan kemedan yang mengalami bencana untuk membantu secara medis untuk bentuk kepedulian kemanusiaan.


"bismi-lāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dengan basmallah hambamu mengawali segala sesuatu yang akan di mulai hari ini" Gumam Wanita bercadar itu sambil mengelus perut buncitnya.


Entah kenapa, hari ini ia begitu antusias untuk langsung turun kelapangan. Bukan saja keluarganya yang telah melarangnya untuk ikut, dari pihak rumas sakitpun melarang Aurra untuk ikut. Tetapi karena kekekeuhan Aurra, akhirnya Andre sendiri meminta ayahnya untuk mengizinkan Aurra ikut serta. Dengan syarat jika sewktu waktu ada hal buruk yang terjadi, Aurra akan segela di pulangkan mengingat kondisinya yang telah mengandung.


****


"Aku khawatir." Lirih pria tampan tersebut.


Wanita yang duduk di sampingya itu hanya mengangguk kecil. Ia tahu jika tunanganya ini, mengkhawatirkan keadaan adik ipar dan dua calon keponakanya. Namun bagaimana lagi, tidak ada yang bisa menghalangi kepergianya. Semua terasa sudah dituliskan agar dia pergi kemedan yang berbahaya tersebut.


Semua orang juga khawatir, takut takut di sana bumil itu kenapa-kenapa. Bagaimana jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Dan saat ketika itu terjadi, suaminya nanti pulang dan mengetahuinya. Apa coba yang akan di jelaskanya. Tapi ia tak lagi salah mengartikan, karena khawatir dikamus seorang Keevanzar mutlak rasa khawatir tanpa campur tangan yang lain. Awalnya ia sempat merasa tak enak hati, karena kekasihnya itu masih mengkhawatirkan mantan calon istrinya yang kini menjadi adik iparnya itu. Karena Anzar sendiri sudah memperlihatkan keseriusanya kala itu, dimana ia mengenalkan Airra sebagai kekasih hatinya.


---FLASHBCAK---


"Tidak, fokoknya kamu cuma milik aku Dear."


Bentak wanita yang tengah hamil besar itu kekeuh.


Pagi itu, keluarga Radityan di buat geger oleh kedatangan mantan kekasih Anzar yang marah marah tak jelas. Nampak jelas wanita itu marah marah, ketika security yang menghalanginya.


"Kamu, siapa?" Tanya Kia yang tidak terlalu hafal dengan wajah wanita muda yang tengah hamil besar ini.


Pagi pagi itu, acara sarapan keluarga Radityan terganggu oleh kebisingan kucing betina yang mengamuk di depan rumah. Lunar, Aurra, Ibra, Kia, serta Vano bahkan di buat terheran heran oleh kedatangan tamu tak diundang ini.


"Dia, mantan kekasih bang Anzar bun." Bisik Lunar memberitahu.


"Astagfirullah haladzim, dia mau minta pertanggung jawaban abangmu ya?"


Tebak Kia cemas.


"Bukan bunda." Jawab Lunar cepat.


"Dia sudah menikah, setahu Lunar itu bayi dari mantan suaminya. Suaminya di penjara bunda, waktu itu bang Gemintang cerita kok." Ujar Lunar sambil menatap Lunar sinis.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Lunar sinis.


"Aku cari Anzar, di mana dia?!" Bentak Nata.


"Are you insane?" Sentak Lunar.


"Berani sekali membentakku!" Tambahnya tak kalah garang.


"Lunar, etikamu nak." Lerai Vano.


"Maaf Ayah." Cicit Lunar kecil, merasa bersalah kepada Ayahnya.

__ADS_1


"Jadi,ada apa kamu mencari putraku. Sedangkan hubungan kalian sudah berakhir?"


Tanya Vano. Ia tak pernah habis pikir, kenapa dulu putranya cinta mati kepada wanìta barbar seperti ini. Cantik sih iya, tetapi etikanya nol besar.


"Aku kamu tau di sini, Dear. Keluar kamu?!" Teriak Nata.


"Hey, jaga bicaramu." Lerai lunar.


"Dear?!"


"Ada apa?" Jawab suara barithon berat tersebut.


Semua mata beralih, menatap pria tampan yang datang dengan wanita cantik tersebut. Datang dengan saling bergandengan tangan mesra.


"Dear kumohon, dengarkan aku dulu." Pinta Nata.


"Shit, aku sudah bilang Natalia Gracya Kim.


Hubungan kita telah berakhir, sejak kamu memilih menghianatiku. Apa tak cukup berarti hubungan bertahun tahun yang kita jalani, sehingga kamu memilih untuk berkhianat waktu itu?" Anzar tersenyum sinis diakhir kalimatnya.


"Dear-"


"Sorry, di dunia ini masih ada jutaan wanita yang masih suci bukan bekas sepertimu."


Mereka semua terperangan atas jawaban Anzar, termasuk Nata.


"Kamu-tidak lebih dari barang bekas. You materalistis, kamu terlalu menganggap segalanya mudah karena ada uang dan popularitas. Tapi asal kamu tahu, cinta itu tidak selamanya penuh kemewahan. Tapi jika cinta di dasari oleh kesederhanaan, segalanya akan nampak istimewa dan berbeda."


"Hubungan kita selesai, jangan ganggu aku dan istriku lagi. Kamu jauh di bawah kata pantas, untuk sekedar menggantikan dia di sisiku."


Ujar Anzar sambil memeluk kekasihnya possesive.


"Bang..." Lirih sang bunda.


"Ayo bun masuk, abang jelasin semuanya di dalam." Ujar Anzar sambil mengajak semuanya berlalu, meninggalkan Nata yang menangis tersedu sedu diatas tanah.


"Nata...."


"M-mommy?" Lirih Nata, ia pikir halusinasi karena melihat mommynya di sini. Tapi nyatanya semua itu benar, mommy-nya ada disini.


"Kita pula honey, dia sudah tidak lagi menerimamu." Ujar Leena-mommy Nata sambil memboyong putri semata wayangnya itu berlalu. Sudah cukup Nata mengemis dan mempermalukan dirinya sendiri.


"Jelaskan, jika kamu masìh mau menyandang nama Radityan." Ujar Vano tajam, sambil menatap lekat putra sulungnya tersebut.


Semua orang kini berada di ruang tamu, menatap sepasang insan yang sedang di nanti penjelasnya. Si pria nampak tak gentar, beďa dengan wanitanya yang ketakutan sambil menunduk tersebut.


Ujarnya lantang tak gentar.


"Kamu bodoh atau memang buta Keevanzar? Belum juga kapok dirimu dengan masalah wanita barbar yang baru saja mengamuk, sekarang kamu sudah berani membawa calon istri lagi hah?!" Tanya Vano tajam.


"Mau di beri makan apa calon istrimu ini kelak, cinta? Cinta tidak akan membuat anak istrimu kenyang Keevanzar. Pikirkan itu, kamu seenaknya saja menjadikan putri gadis orang lain sebagai calon istri. Sedangkàn dirimu sendiri tidak punya apa apa?" Dengus Keevano tajam.


"Mas, istigfar dulu." Ingatkan Kia.


Arkia juga terkejut saat putra sulungnya itu membawa seorang gadis yang di perkenalan sebagai calon istrinya. Apalagi, wanita itu adalah perawat yang dulu ditamparnya karena lalai menjaga putranya.


"Ayah, Anzar akan bekerja. Dari hasil kerja itulah, Anzar akan menghidupi istri dan anak anak Anzar kelak." Ujar Anzar sambil mengenggam tangan kekasihnya erat.


"Airra, calon istriku. Dia, satu satunya wanita yang mau menerima Anzar apa adanya. Dia rela hidup di jalanan sekalipun, jika memang seharusnya Anzar hidup di jalanan."


Vano menghembuskan nafasnya gusar. Ia memang sudah tahu tentang kedekatan putranya dengan lawyer muda dan jenius ini.


Airra Refatya Sassya-wanita cantik yang hidup sebatang kara, wanita tangguh yang sejauh ini berani membuat banyak perubahan di hidup putranya. Vano tahu itu, karena dia sudah menyelidiki latar belakang Airra. Ia cuma tidak mau kecolongan kembali, seperti dahulu.


Vano hanya sedang menguji keberanian putranya ini. Apakah selama beberapa minggu ini ada pelajaran yang ia petik dari pekerjaanya sebagai office boy. Vano ingin melihat, apakah putranya itu punya tekad kuat tanpa nama Radityan sekalipun dibelakangnya.


"Jadi, apa memang calon istrimu siap dengan semua kemungkinan itu?" Tanya Vano lagi.


"Abang sudah mencoba untuk merealisasikan keseriusan abang. Jika Ayah dan bunda menolak dengan keputusan abang, abang rela keluar dari rumah ini dan melepas nama Radityan dari nama abang." Airra mendongrak, menatap tak percaya kepada sang kekasih.


Sebegitu besarnyakah cinta Anzar untuknya, hingga pria itu rela melepaskan segalanya untuk dirinya.


"Sepertinya, wanita adalah satu satunya kelemahanmu. Harta dan Tahta buktinya, kamu abaikan begitu saja." Ujar Vano mencibir.


Arkia tidak tahu lagi harus bagaimana menyatukan suami dan putranya jika sudah begini. Keduanya, sama sama memiliki pendirian alot.


"Abang sudah melamar Airra dengan hasil jerih payah abang sendiri. Akhir tahun ini, rencananya kita akan menikah." Ujar Anzar tak gentar sambil memperlihatkan tautan jemarinya dengan sang kekasih yang mengenakan cincin lamaranya kala itu.


"Kamu yakin nak?" Tanya Ibra angkat bicara.


"Anzar sangat yakin opa, lagi pula kita siap hidup dalam kemiskinan sekalipun." Ujar Anzar mantap.


Ibra hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Benar benar kamu ini, hidupmu hanya di seputaran kisah cinta pelik dengan wanita saja."

__ADS_1


Komentar Vano yang kali ini berhasil menohok relung hati Anzar.


Ayahnya benar, hidupnya terasa berputaran disekitaran sana saja. Wanita, cinta dan segala sesuatu didalam praharanya.


"Jika kalian siap untuk menikah, silahkan. Hiduplah sesuai tatanan yang benar. Dan kamu Anzar." Tunjuk Vano.


"Jadilah pria yang gantle dengan membuktikan ucapanmu. Ayah tunggu, undangan pernikahan kalian berdua."


Anzar terkejut bukan main dengan ucapan sang ayah. Bukan saja dirinya, yang lain juga nampak terkejut dengan jawaban pria paruh baya tersebut.


"Pasti Ayah, abang akan buktikan itu." Ujar Anzar mantap.


Arkia tersenyum lega saat melihat hasil yang dicapai perdebatan alot ini. Lagi pula, setelah Anzar menceritakan tentang latar belakang calon istrinya, Arkia bisa bernapas lega. Walaupun Airra hidup sebatang karang dan apa adanya, tetapi dia tumbuh menjadi wanita tangguh dan pandai. Mampu mengurus hidupnya sendiri, juga mampu membuat putranya sedewasa ini. Sepertinya ia bisa bernapas lega kini, ketika menemukan calon menantu luar biasa satu lagi. Alhamdulillah.


---FLASHBACK END---


Sejak itu Airra menghilangkan segala kekhawatiran dihatinya. Karena ia tahu, prianya itu serius segala ucapanya.


Dertt


Dertt


"Mas, handphone kamu bunyi terus dari tadi?"


Ujar Airra sambil mengusap pelan, helaian rambut legam yang tertidur di pangkuanya tersebut. Hari ini prianya itu free dari kerjaan, berhubung ini juga akhir pekan.


"Biarin." Ujarnya acuh.


"Siapa tau penting, angkat dulu. Itu dari adikmu Lunar." Tutur Airra yang dapat membaca nama kontak yang teŕtera diatas layar tersebut.


"Angkat dulu mas, ayo." Ujar sang kekasih.


"Hm." Dengan malas,pria tampan itu beranjak dari posisinya. Menggeser ikon hijau di atas layar handphonenya, lalu menempelkan benda persegi itu pada daun telinganya.


"Hallo?"


"H-allo ***-salamualaikum A-bang." Ujar gadis disebrang sana setengah menahan isakanya.


"Waalaikumsalam, kamu kenapa Lunar?


Kenapa menangis?" Tanya Anzar khawatir.


"Arkan ada buat kamu sakit hati?" Tanyanya memburu.


Airra yang melihat kekasihnya mulai emosi, memilih intuk menepuk nepuk bahu sang kekasih pelan. Berharap, agar prianya itu tenang terlebih dahulu.


"B-bukan itu bang, hiks." Ujar Lunar disebrang sana. "Ini bukan karena saya bang, saya berani bersumpah." Ujar suara lain di sebrang sana-Arkan.


"Awas saja kalau kamu berani membuat Lunar menangis, habis kamu." Ancam Anzar.


"Mas, istigfar. Sabar dulu." Lirih Airra mengingatkan.


"Iya bang, lagi pula mana tega saya menyakiti Aisyah tercinta saya." Sambung Arkan dari sebrang sana. Memang pribadi yang humorisnya itu, terkadang tidak dapat dikondisikan diwaktu yang tepat.


"Ada apa sebenarnya ini, bisa ceritakan kepada abang Lunar?" Tanya Anzar mencoba menahan emosinya yang naik turun.


"Abang Hiks, bang Van'ar hiks..."


"Iya, kenapa dengan bang Van'ar?" Tanya Anzar penasaran.


"Bang Van'ar hiks, kecelakaan."


Deg


Adiknya kecelakaan, kecelakan dalam artian apa ini. Seingatnya adiknya itu pergi untuk menjalnkan tugasnya tiga bulan ini. Sudah hampir selama itu pula, ia maupun keluarga lainya jarang menerima kabar tentang bing Leader tersebut.


"Maksud kamu?"


"Pesawat yang di tumpangi abang Van'ar jatuh banģ, hiks."


Deg


○○○


To Be continue


Selamat siang guys😊😊


Bawangnya di pending dulu, buat besok. Sekarang digantung aja dulu😄😄


Yang minta part AnRa udah kukabulin ya.


Demi akilan aku sampai ngerombak bab berikutnya😥😥 Ok, jangan lupa like, komentarrr dan vote yoo😊😊


Sukabumi 25 Juni 2020

__ADS_1


12.30


__ADS_2