
...وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِين...
...“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah ingin memberi bukti kebenaran kepada beriman (dengan orang-orang kafir) dan menjadikan sebagian diantara kalian sebagai syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imran: 140)....
...BSJ 47 : Alasan Kepulangan...
...□□□□...
"Lunar, gimana keadaa gadis tadi?"
Sontak jemari lentik yang sedang mengupas kulit buah apel itu berhenti. Menatap penuh selidik kearah pria yang sudah sadarkan diri dari dua jam yang lalu. Dan selama kesadaran itu pula, pria itu terus saja menanyakan sosok gadis ber hijab syar'i juga bercadar yang tadi di bawa oleh beberapa orang. Kepenasaran itu membuat gadis berhijab si syar'i bertanya tanya. Apakah gerangan sehingga pria yang kini masih tak bisa bergerak bebas ďiatas brangkarnya amat penasaran dibuatnya.
"Apa dia terluka parah?" Tanyanya untuk kesekian kalinya.
"Hm, abang boleh menjenguknya kan jika sudah baikan?" Ucapan pria tampan yang satu ini membuat manik gadis disampingnya membola.
"Bang please, berhenti tanya tanya tentang dia, dia, dia. Sekarang ini, keadaan abang yang paling penting." Ujar gadis itu menuturkan.
Pria tampan berpiama rumah sakit itu mengangguk lemah. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan sosok tadi yang tergeletak dikamar rawatnya. Ia tahu gadis itu, sama dengan gadis yang menolongnya beberapa waktu yang lalu, juga sosok yang sama yang selalu hadir dimimpinya. Mungkin ini sebuah pertanda, pasalnya saat bangun tadi dirinya disuguhkan pertemuan kembali walaupun dalam kesempatan yang tidak menyenangkan.
"Sekarang lebih baik abang makan buah ini, terus istirahat lagi ya!"
Pria tampan itu mengangguk, setidaknya ia harus menjadi sehat dahulu untuk menemui gadis yang kembali menarik perhatianya tersebut.
□□□□
Pagi telah menyambut bumi, matahari bersinar ramah diufuk timur. Hangatnya sang surya, nampak juga memasuki kamar rawat wanita yang masih terbaring lemah di bangkar rumah sakit. Kedua tangan mungilnya pucat, belum lagi matanya yang terus terpejam nampak enggan membuka.
"Hey putri Didi, mau sampai kapan tidur sayang?" Pria paruh baya yang mengenakan kacamata itu berceloteh kecil.
Sudah berjam-jam lamanya dan putrinya itu masih enggan bangun dari tidurnya. Tak ayal, kondisi itu membuat hatinya risau bukan main sebagai seorang ayah.
"Aurra mau kasih Didi cucu kan? Jadi bangun Ra, pertahankan bayimu." Ujarnya pilu sambil mengenggam tangan sang putri yang masih terkulai lemah.
Di samping Dimas ada Sayla yang setia mendampingi sang istri. Ada pula Kia dan Vano yang duduk di sofa bersama Zega menanti kesadaran wanita cantik itu pulih.
Iya, semua sudah tahu tentang kehamilan Aurra. Awalnya mereka terkejut tentang kabar mengenai kehamilan putri mereka, pasalnya Aurra sendiri belum mengetahuinya. Besar kemungkinan, Aurra tidak mengalami gejala gejala anah seperti pada ibu hamil umumnya, jadi ia belum menyadari kehamilanya. Adnia juga tahu jika siklus menstruasi sahabatnya itu kadang tidak teratur, jadi jika telat beberapa minggu karena tekanan pekerjaan sering dialaminya. Oleh karena itu Aurra pasti berpikir jika ia telat datang bulan karena siklusnya yang kadang berubah ubah, tak sampai kepikiran hamil.
Adnia juga membawa kabar kurang menyenangkan, bahwa kandungan Aurra lemah. Karena pekerjaan Aurra yang berat akhir akhir ini, tanpa sadar membuat kandungan yang belum diketahui oleh ibunya itu lemah ditrismester pertama. Belum lagi, pukulan keras yang mengenai perut Aurra mengkibatkan pendarahan yang cukup berbahaya bagi keberlangsungan janinya. Jika Aurra tidak bangun hingga siang nanti, tim medis akan mengambil tindakan. Jika ibunya saja tidak bisa mempertahankan janinya karena kondisinya, terpaksa dokter akan membiarkan Aurra kehilangan bayinya demi keselamatan ibunya.
"Suami Aurra sudah diberi tahu?"
Tanya Dimas, mengalihkan tatapanya kepada dua orang besanya.
"Belum, kami belum memberi tahunya." Ujar Vano mewakili.
"Kenapa tidak diberi tahu, Van'ar berhak mengetahui kondisi istrinya." Kata Dimas penuh penekanan.
"Yah, tenang dulu." Lirih sang istri mengingatkan.
"Bagaimana jika Van'ar marah karena terjadi hal buruk kepada Aurra, dan dia tidak mengetahuinya?" Tanya Dimas kepada Vano utamanya.
__ADS_1
Pria yang ditanya itu hendak menjawab, sebelum decitan pintu yang dibuka kasar dari luar menghentikan aksinya.
"Ra." Semua orang menoleh kepada sosok jangkung yang tengah berdiri di ambang pintu dengan raut muka cemas tak tertahankan tersebut.
Dengan langkah lebar pria yang masih mengenakan seragam lengkap plus dengan segala atribut kemiliteranya itu mendekat. Berjalan kearah brangkar dimana sang istri terbaring tak berdaya.
"Hey, mas sudah pulang. Kenapa kamu belum bangun hm?" Lirihnya menyiratkan banyak kerinduan juga kekhawatiran.
Melihat sosok yang amat dirindukanya itu tergeletak tak berdaya, tentu membuat hatinya cemas tak karuan. Terlebih lagi, ia merasa telah gagal sebagai suami karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Diraihnya satu tangan sang istri, di genggamnya erat sambil menatap wajah pucat milik si empunya yang amat memprihatinkan. Alasan dibalik kembalinya tentu karena ini, karena keadaan kekasih halalnya yang tengah berjuang mempertahankan calon bayi mereka.
Cup
"Bangun Ra, mas pulang untukmu, untuk bayi kita." Lirihnya sambil mengecup singkat kening sang istri.
Berharap dengan segenap hati agar istri dan calon bayinya terselamatkan dua duanya. Ya, Van'ar sudah mengetahui kabar kehamilan Aurra dari Zega-adik iparnya. Jika bukan karena Zega, ia pasti tidak akan mengetahui kondisi istrinya kini. Tugas Van'ar memang telah selesai dilaksanakan lebih cepat sehari dari yang dijadwalkan. Surat dari kesatuan pun telah diterima untuk segera kembali kekesatuan. Tiba di Jakarta pada dini hari, awalnya pria tampan itu ingin memberikan kejutan kepulanganya untuk sang istri. Namun, saat menerima telpon dari Zega dirinyalah yang malah mendapatkan kejutan. Hatinya menceleos sendiri, mengingat orang tuanya sendiri menyembunyikan kabar tentang keadaan sang istri.
"Ada yang bisa jelaskan, kenapa abang tidak diberitahu tentang keadaan Aurra?"
Tanya pria tampan itu penuh penekanan.
Ia butuh penjelasan, setidaknya saat istri dan calon anaknya tengah bertaruh mempertahankan hidup mereka, kenapa dia tidak diberitahu.
"Abang, tenang dulu. Kita bicarakan secara baik baik." Ujar Arkia mengingatkan.
Van'ar mengangguk, percuma saja emosi. Semua itu tidak akan mengubah keadaan.
"Ayo, ikut ayah. Kita bicara diluar." Titah Vano yang langsung diikuti oleh sang putra.
Di sinilah ayah dan anak itu berada, di luar Area rumah sakit. Setidaknya udara sejuk di pagi hari, dapat menetralkan suasana.
Deg
Dari sekian banyaknya jawaban dari pertanyaan di otaknya yang ia tunggu, kenyataan inilah yang diucapkan pertama kali oleh ayahnya. Kenyataan yang sedikit banyaknya mengiris hati kecilnya.
"Maksud Ayah?"
"Aurra, istrimu tidak mengenali abangmu. Begitu pula sebaliknya, abangmu tidak mengenali Aurra sebagai adik iparnya."
Hati Van'ar terasa tertohok oleh fakta. Jadi benar adanya, jika selama ini istrinya itu belum mengetahui wajah dari mantan calon suaminya yang kini menjadi kakak iparnya, begitupun sebaliknya.
"Mereka pernah bertemu, tapi tidak sempat saling mengenal." Sejauh ini Van'ar masih menjadi pendengar setia.
Ayahnya kembali bercerita, ia tahu jika ayahnya ini pasti mengawasi gerak gerik abangnya selama ini.
"Anzar, dia terluka parah akibat kecelakaan yang sudah dimanifulasi. Mantan kekasihnya pergi dengan pria lain, karena wanita itu hamil."
Deg
Van'ar menoleh refleks, jadi abangnya itu dikhianati cinya yang dulu diagung agungkan olehnya. Bagaimana frustasinya abangnya itu, dulu saja ia dengan bodohnya mempertaruhkan segalanya demi keberlangsungan hubunganya. Dan see, lihat apa yang terjadi kini.
"Dan buruknya lagi, abangmu mencoba untuk mempertahankan hubunganya. Padahal, pria yang kini sudah menikah dengan mantan kekasih abangmu itu adalah orang berbahaya."
__ADS_1
"Orang berbahaya?" Ulang Van'ar bingung.
"Mafia, ketua perdagangan barang barang gelap di Amerika serikat dan beberapa negara lainya."
Van'ar tertegun mendengarnya, sungguh tak terpikirkan sekalipun salah satu keluarganya akan bernasib seperti didunia fiksi. Mafia, dikhianati, dicari untuk dibunuh begitu kah?
"Iya, abangmu kini dalam pengawasan pria itu. Semalam, yang melukai istrimu adalah anak buahnya." Ujar Vano menebak pemikiran putra jeniusnya ini.
Deg
Ada emosi yang meletup di dadanya namun sebisa mungkin ditekanya. Istrinya tidak mengenal kakaknya, lagi pula istrinya itu orang baik maka ia tak akan tega jika melihat orang lain celaka.
"Maaf, jika Ayah membiarkan berita besar ini tak sampai ketelingamu. Ayah cuma ingin kamu fokus dulu dengan tugasmu, karena istrimu di sini banyak yang menjaga."
Setuju atau tidaknya, setidaknya Van'ar tidak terlalu menyukai keputusan ayahnya. Tetapi ya mau bagaimana lagi, yang penting kini ia sudah berada disini.Kini tugasnya hanya tinggal menjaga dan memberi support kepada sang istri agar ia dan calon bayinya bisa bertahan.
"Dek, sampai kapan kamu mau tidur hm?"
Lirih pria tampan yang sudah kembali menemani sang istri tersebut.
Kini, tinggal dirinya yang menunggu sang istri tersadar dari tidur panjangnya. Ayah dan Ibunya izin pulang terlebih dahulu, begitu juga dengan mertuanya. Sedangkan Zega-pria muda itu tengah membeli sarapan dikantin.
"Mas rindu, memangnya Aurra gak rindu sama mas?" Satu tangan itu berpindah ke atas perut rata sang istri yang terlapisi oleh piama rumah sakit.
"Hai baby, maaf ayah baru menyapamu kini. Bagaimana kabarmu nak? Bertahanlah di dalam sana lebih kuat lagi, karena bundamu juga sedang bertahan memperjuangkanmu."
Lirihnya sambil mengelus perut rata sang istri, dimana calon bayinya yang masih seukuran biji kecambah itu tengah berkembang.
Empat minggu, usia kandungan Aurra kini. Dan Van'ar tentulah sangat bahagia mendapati jika istrinya tengah hamil. Namun di sisi lain ia juga takut, kebahagiaan itu hanya sesaat bahkan sementara sebelum istrinya dapat merasakan kebahagiaan itu. Ia tahu Allah yang memberikan senang maupun sedih untuk ummatnya. Menggilirnya bak roda berputar di setiap kesempatan kehidupan. Dia-lah yang membuat umatnya tertawa dan menangis, sesuai firmanya.
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 43).
Dan sebagai umatnya, kita hanya bisa ikhtiar dan bertawakal. Berusaha dengan bersungguh sungguh juga berserah diri selepasnya. Oleh karena itu, Van'ar juga berdoa agar istri dan calon bayinya dapat terselamatkan dan baik baik saja.
Dan untuk saat ini Van'ar pun berdoa agar istri dan calon bayinya itu bisa bertahan. Bagaimanapun juga, kebahagian ini telah lama dinantikan kedatanganya dan jangan sampai terenggut begitu saja. Itu tak adil, tentu saja tak adil bagi dia dan kekasih halalnya.
□□□□
To Be Continue
Holla guys, update lagi nih😊😊
Maaf baru update, soalnya dari kemarin malem sampe tadi ada pemadaman listrik. Gelap tuh.
Hayoo, gimana buat part ini?
Ada yang mulai berpaling tuhh😉😉
Ok, jangan lupa like🖒 komen💬 dan boom vote💯 yaa🤗🤗
__ADS_1
Sukabumi 03 mei 2020
10.59