Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 19 : Pulang Membawa Risalah Hati


__ADS_3

...'Kita datang untuk pergi, rasa itu juga hadir untuk pergi suatu saat nanti."...


...-Keevan'ar Radityan Az-zzioi-...


...BSJ 19 : Pulang Membawa Risalah Hati...


...****...


Seduhan teh hangat sambil duduk di gazebo belakang rumah seore hari memanglah sangat pas untuk menikmati layung langit sore. Kemuning jingga di ufuk barat, menemani dua pasangan suami istri yang tengah berkumpul tersebut.


"Hari ini Aurra pulang ya?" Tanya wanita paruh baya berhijab syar'i tersrbut.


"Iya mbak, kayaknya sih masih di jalan."


Jawab wanita paruh berdress mocca di sampingnya.


"Apa jalan perjodohan ini sudah benar ya?" Lirih Arkia-wanita paruh baya tersebut.


"Insaallah sudah benar ki!" Jawab pria paruh baya berkaca mata tersebut.


"Saya juga lihat mereka pernah mengobrol bersama di taman rumah sakit." Ujar Dimas-yang kini duduk disamping sang istri Sayla.


"Ya, semoga semuanya berjalan sesuai harapan. Kami harap Anzar bisa menjadi suami yang baik bagi putri kami." Lanjutnya.


Dimas sendiri yakin jika putra sulung sahabatnya itu pasti akan menjadi suami yang baik bagi putri kesayanganya. Ia juga pernah melihat sendiri interaksi putrinya dan calon suami kala itu, menurutnya itu sudah berjalan baik. Mereka memang belum melaksanakan pertemuan antara dua keluarga besar dengan kehadiran Anzar dan Aurra. Namun Dimas pikir kedekatan mereka bisa terjalin secara alami tanpa campur tangan para orang tua. Sudah cukup jalur perjodohan ini ia setujui, jikapun natinya sang putri menolak, Dimas akan selalu menerima keputusan putri tercintanya tersebut.


Sedangkan bagi Vano-pria yang memilih lebih banyak diam itu memilih memutar otaknya. Ia tidak begitu yakin jika perjodohan ini akan mulus jika kesalahan itu masih akan di lakukan putranya. Sampai saat ini janji putranya itu masih bisa ia pegang. Putra sulungnya itu sudah berjanji akan menerima pernikahan ini dan akan menjaga hati calon istrinya kelak. Namun tetap saja, sebagai seorang ayah ia memiliki firasat yang membuat gundah hatinya. Oleh karena itu ia selalu menyuruh tangan kananya untuk memata matai setiap gerak gerak sang putra. Saat putranya itu berniat merusak perjodohanya di kemudian hari, ia bisa memcegahnya terlebih dahulu. Karena ia tidak mau karena kebodohan putranya, hati gadis sebaik Aurra tersakiti.


"Semoga saja, semoga saja janjimu kali ini bisa ayah pegang Anzar." Batinya didalam hati.


****


"Pakai ki sweeter nya, disini dingin."


"Iya, pakai Ra."


"Jangan lupa telpon langsung pulang kalau sudah landing di Jakarta."


"Iya." Cicit gadia kecil tersebut mengiyakan, pasalnya pria muda dihadapanya ini terus saja mewanti wanti dirinya.


"Bang Evan kenapa sih? Kayak mau nganter pacarnya yang mau LDR-an jauh aja!"


Kekeh pria muda disamping gadis bercadar tersebut.


"Zega, please."


"Hehe, iya mbak. Habisnya, kasihan bang Evan cemas gitu kelihatanya. Masih rindu ya bang?"


Goda Zega gencar.

__ADS_1


"Kai, kamu mau saya hukum?"


"Hehe, bercanda bang." Kekeh Evan sukses menggoda sang kapten.


"Ya sudah, aku tunggu di dalam ya kak."


Ujar Zega sambil berlalu, memberi mereka berdua ruang untuk berbicara.


Zega tidak bodoh, ia tahu ada something yang tengah tumbuh diantara keduanya. Namun someone harus mengalah diantara mereka juga.


"Hati hati ya di jalan Ra, kalau sudah sampai langsung istirahat. Jangan ke rumah sakit dulu."


Gadis berhijab syar'i itu mengangguk meng-iyakan. Jika sudah kembali ke Jakarta nanti, mereka pasti akan sulit berkomunikasi. Mengingat di sini saja sulit mendapatkan sinyal, belum lagi Van'ar yang memang jarang sekali memegang ponsel.


"Iya. Kamu juga jangan lupa istirahat, vitamin c sama suplemen yang aku kasih jangan lupa di minum. Jangan telat makan juga."


Percaya atau tidak, interaksi keduanya ini seperti sepasang kekasih yang hendak berpisah karena harus menjalani sebuah buhungan jarak jauh, semacam LDR atau long distance relationship.


Pria tampan berbaret itu tersenyum kecil, sebelah tanganya ia gunakan untuk merogoh saku celananya. Hingga nampaklah satu kotak mungil berwarna coklat, kotak itu nampaknya terbuat dari kayu yang di bentuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah wadah perhiasan atau kotak serbaguna berbentuk persegi panjang.



...(Ilustrasi)...


"Aku tahu ini harganya tidak seberapa, di banding dengan yang akan kamu terima nanti Ra. Tapi, aku buat ini khusus untukmu." Ujarnya sambil menyodorkanya kepada gadis di hadapanya.


Gadis itu beralih menatap kotak yang disodorkan di hadapanya.


"Van'ar, tapi-"


"Terima Ra, ini hadiah dariku untuk calon kakak iparku." Ujarnya.


Percayalah, Van'ar tengah berusaha amat tegar di antara gemuruh hebat di dadanya. Bagaimanapun juga ia tengah menekan segala rasa yang memenuhi rongga dadanya tersebut.


"Terimakasih Van'ar. Aku akan jaga ini dengan baik." Ujar Aurra akhirnya sambil tersenyum senang.


Van'ar tersenyum tipis, setidaknya gadis di hadapanya ini menerima pemberianya.


"Maaf tidak janji aku bisa hadir, tapi selamat. Selamat menjadi nyonya Keevanzar Radityan Al-faruq." Ujar Van'ar.


Ia harus ikhlas, harus mengakhiri semuanya. Ketika ia kembali nanti, semuanya tak akan sama lagi. Akan ada banyak yang berubah, dan dia harus menyiapkan dirinya sendiri.


"Terimakasih, aku berhaŕap kamu bisa pulang Van'ar. Aku akan menunggu untuk itu."


Semuanya berakhir kini, Van'ar harap semuanya akan berjalan seperti sepestinya. Bagaimanapun ini jalan takdirnya, sudah semestinya ia menekan rasa terhadap calon kakak iparnya tersebut.


"Semoga Allah selalu mendungi kamu, dimanapun kamu berada Van'ar."


Doa Aurra penuh harap di dalam kabin pesawat, menatap ribuan awan putih dari jendela pesawat.

__ADS_1


Ketika mereka bertemu nanti, semuanya tak lagi sama. Ada yang akan berubah dan menjadi pembeda. Gadis cantik itu menatap kotak kayu yang ia genggam erat ditanganya. Ia rasa, ada yang salah di hatinya saat ini.


'Ra, kamu itu cuma belum sadar dan kurang peka.' Batin Zega memahami kondisi Aurra.


****


Sementara itu, air mata terjun bebas membasahi pipi wanita cantik berdress soft blue tersebut. Rambut hitam panjang sepunggungya terlihat di usap pelan oleh wanita paruh baya disampingnya.


"Ada apa honey?" Lirih wanita paruh baya berdarah korea tersebut.


"Mom, aku tidak kuat. Aku tidak bisa melupakanya." Rintih wanita cantik keturunan Korea-Belanda tersebut.


Wanita paruh baya itu mengangguk mengeti. Saat ini putri semata wayangya ini tengah patah hati karena di tinggal sang kekasih. Ia juga belum tahu pasti apa alasan kandasnya hubungan keduanya. Padahal hubungan mereka adem ayem saja sebelumnya. Bahkan Nata sang putri sudah menemukan tanggal cantik untuk pernikahanya.


'22 September 2kxx' tanggal cantik yang bertepatan dengan tanggal jadi ke-6 tahun hubungan Nata dan kekasihnya Keevan. Leena-ibu Nata menatap iba sang putri yang terlihat sangat kacau. Ia tahu permasalah sepele yang biasa mengoncang hubungan putrinya, seperti perbedaan keyaninan atau kesalahpahaman. Tetapi entah untuk saat ini. Yang pasti putrinya ini sangat terpukul, padahal Nata sidah bilang ingin menikah di musim dingin tahun depan, tepat dengan hari jadi ke-6 tahunya.


Tapi ini, sepulangya sang putri dari liburan bersama kekasihnya, bukanya senang sang putri malah terlihat sangat hancur.


"Ada apa honey? Apa kamu tidak mau bercerita kepada mom?"


Leena tahu putrinya belum siap bercerita, oleh karena itu ia berusaha menjadi penenang yang baik untuk malaikat kecilnya.


Nata putri sematawayangnya, putri tercintanya satu satunya. Jika ada yang mampu membuat putrinya sakit, Leena tidak akan tinggal diam. Sebagai seorang ibu ia hanya ingin putrinya mendapatkan kebahagiaan. Nata adalah kado terindah yang ia dan suaminya tunggu setalah hampi usia pernikahan mereka mencapai 7 tahun lamanya. Jadilah Leena dan suaminya memberikan kasih sayang sepenuh nya untuk Nata, walaupun cenderung memanjakanya. Leena bahkan sanggup merenggut kebahagiaan orang lain, demi kebaagiaan putri tercintanya. Leena pastikan itu.


"Mom, sebenarnya,"


Cerita itu akhirnya Nata ungkapkan tanpa dusta kepada sang mommy. Ia tahu jika mommy nya ini selalu tahu apa yang ia rasakan. Nata yakin, jika mommy nya ini akan selalu mendukung setiap keputusanya kelak.


"Kejar dia honey. Sebelum ikatan itu terjalin, kamu masih punya kesempatan untuk meraih Keevan. Bagaimanapun juga hati Keevan itu milik kamu." Ucap Leena menyemangati sang putri.


Ia tidak bodoh, dari segi manapun Nata dan Keevan sangat saling mencintai. Bahkan ia melihat sendiri kesungguhan di mata pria muda yang beberapa bulan lalu melamar putrinya secara langsung dihadapanya dan sang suami.


"Mommy akan selalu mendukung setiap keputusanmu honey. Sekarang kejar dia sebelum terlambat. Karena, jika mereka sudah menikah mommy sendiri yang akan melarang kamu mengejar dia."


**


To Be Continue


Selamat sianggg semua🖑🖑


Update lagi nih😄😄


Hayyyoo gimana buat part ini, ada yang mulai terancam patah. Jangan lupa komentar ya, like dan votee juga😘😘


Ok, sampai jumpa lagi di part berikutnya.


Sukabumi 1 Mei 2020


11.59

__ADS_1


__ADS_2