Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 25 : Permintaan Terakhir


__ADS_3

...وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ...


...“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35)....


...BSJ 25 : Permintaan Terakhir...


...****...


Seperti kata banyak penikmat rasa, hujan adalah sahabat terbaik di kala sakit melanda hati, sesak menikam jantung. Hujan selalu mengerti bagai mana caranya menyembunyikan rasa. Bagaimana caranya menyamarkan air mata. Dia adalah keajaiban tuhan yang paling peka terhadap keadaan hati seseorang. Seperti hari ini, hujan turun membasahi bumi. Membasahi tumpukan tanah merah baru yang masih di taburi bunga bunga segar. Tanpa berniat untuk beralih, pria tinggi tegap itu masih senantiasa berdiri disana. Dengan pakaian seba hitamnya, ia berdiri dengan hati dan raga yang tak seiras.


Hujan diawal bulan Januari, menyambut berpulangnya orang tercinta baginya pagi ini. Kemelut awan hitam yang menggulung, senantiasa menjadi hawa pendukung. Ia menangis, namun tak mengeluarkan air mata. Ia terlalu sulit untuk menjatuhkan cairan bening tersebut. Masih terekam jelas dalam ingatanya. Perkataan dan permintaan terakhir wanita tersebut.


--FLASHBACK--


"Zega?" Panggilnya kepada pria yang tengah menelpon sambil memungguninya tersebut.


"Bang Van'ar?" Nampak ekspresi keterkejutan dari wajah tampan pria berambut agak kecoklatan tersebut.


"Abang sudah pulang?" Tanyanya antusias.


Lebih tepatnya lega, entah mengapa Zega merasa semuanya akan baik baik saja saat melihat pria dihadapanya kini adalah Van'ar.


"Kamu sedang apa disini?" Tanya Van'ar penasaran.


Zega terdiam sejenak, apa pria ini sudah tahu tentang perginya calon suami Aurra?


"Mbak Aurra dirawat disini" Ujar Zega akhirnya.


Deg


Van'ar mematung seketika, tatapanya terkunci pada Zega yang baru saja melontarkan perkataan yang membuatnya shok.


"Aurra sakit?"


Di sinilah kedua pria itu kini berada, di sebuah ruang rawat inap yang di tinggali seorang gadis berhijab syar'i. Kedua iris mereka menatap sendu gadis yang tengah berbaring diatas brankar tumah sakit tersebut.


"Padahal mbak Aurra udah lama gak drop."


Zega mulai menuturkan.


"Beberapa tahun terakhir kondisi mbak Aurra sudah bisa di katakan normal. Dia tinggal chak up rutin buat ngontrol kondisi jantungnya. Makanya, Ayah sama Bunda kelihatan shok banget pas mbak Aurra drop lagi."


Van'ar mengerti, pasalnya sejak dulu keadaan gadis itu terbilang lemah. Namun semangat hidupnya yang menggebu-gebu, amat luar biasa.


"Congenital heart disease itu adalah kelainan struktur jantung bawaan sejak lahir. Kelainan ini dapat mengakibatkan gangguan pada aliran darah menuju dan keluar jantung. Kelainan ini bisa di turunkan secara Genetik, atau karena beberapa hal lainya." Tutur Dimas--pria paruh baya bersnelli dokter tersebut membenarkan letak kacamatanya sejenak.


Di tatapnya kini pria muda yang duduk di hadapanya intens. Seakan-akan menyiratkan suatu pertanyaan 'serius' kearah lawan bicaranya.


"Aurra sudah pernah melakukan pencangkokan, waktu kami masih tinggal di Jerman."


Lanjutnya sambil mengembuskan napasnya lemah.


Kini ia tengah duduk di depan ruang rawat sang inap dengan 'calon' mantu pengganti untuk putrinya, katanya. Sedangkan Sayla dan Zega sang putra tengah menjaga Aurra yang masih belum sadarkan diri.


"Apa penyakit ini bisa sembuhkan om?"


Tanya lawan bicara Dimas.


"Bisa." Jeda pria paruh baya itu sejenak.


"Tapi dalam beberapa kasus. Tidak ada yang mustahil di dunia ini, mengingat Allah saja menurunkan segala penyakit dengan obatnya."


Van'ar--lawan bicara sekaligus pendengar setia Dokter paruh baya itu mengangguk kecil. Ia faham betul bagaimana saat pertama kali ia bertemu Aurra dulu. Balita mungil yang memiliki kondisi fisik memprihatinkan. Hingga saat mereka dipertemukan kembali saat ia dan keluarga pindah ke kota Kembang, Aurra kecil begitu lengket kepada bundanya. Entah sejak kapat tepatnya, namun Van'ar ingat saat pertama kali melihat Aurra remaja mengenakan pakaian syar'i dan penutup wajah hingga kini. Aurra menutup seluruh auratnya, karena di sekelilingnya banyak wanita hebat yang berkhimar syar'i. Ada Kia juga Baby--istri dari sahabat ayahnya. Almarhumah Ibu Dimas pun tak luput dari hijrahnya Aurra kecil. Pasalnya sejak bayi, ia dan Dimas yang merawat dan membesarkan Aurra.


"Padahal sudah lama Aurra tidak Drop seperti ini." Ujar Dimas pelan.


Padahal ia pikir putrinya itu sudah sembuh total dari penyakit ganas yang menyerangnya. Mengingat beberapa tahun kebelakang ini Aurra tidak mengalami gejala apapun tentang kelainan yang di deritanya.


"Bagaimana dengan keadaan Oma kamu Van'ar, bukanya beliau dirawat disini?" Tanya Dimas memecahkan keheningan.

__ADS_1


"Oma masih dalam keadaan kritis om. Jantung oma lemah, kata dokter yang menangani oma, ini dipicu oleh shok juga faktor usia."


Tutur Van'ar menjelaskan.


Ia tadi sempat kembali keruangan inap sang nenek, untuk memberikan makan malam untuk sang bunda. Sebelum ia izin kembali untuk melihat keadaan Aurra.


"Hmm, semoga saja Allah masih berbaik hati untuk menjaga kedua wanita yang kita sayangi." Kata pria paruh baya tersebut, sambil menepuk bahu Van'ar sebelum berlalu begitu saja.


Van'ar diam termenung untuk sejenak. Apa maksud dari perkataan pria tadi mengizinkanya untuk menikahi putrinya? Sebelumnya, Van'ar memang berbicara secara langsung kepada Dimas dan Sayla tentang niat baiknya. Tentang perasaanya untuk putri mereka, hingga tentang usulan yang sudah direncanakan keduanya. Tapi saat itu Dimas maupun Sayla masih diam tak menjawab. Mungkin mereka butuh waktu, pikirnya. Lalu, apa barusan semacam klu untuk dirinya?0


Entahlah, semoga saja yang di semoga-semogakan akan terlaksanakan.


****


Di sepertiga malam, pria tampan itu terhenyak dalam tidurnya. Keadaan gelap gulita menyambut dirinya. Sesak di dada tiba tiba menderanya, hampa juga ikut serta menyambutnya. Sunyi dalam kegelapan ini melingkupinya. Entah mengapa tiba tiba ia merasa ada tikam*n menyakitkan di dadanya. Menghun*m jantungnya dengan kuat, hingga membuatnya jatuh terduduk.


Ia ingin berteriak, tak kuat menahan nyeri yang mendera dada dan raganya. Namun bukanya suara lantang yang keluar, melainkan racauan tak jelas darinya. Ia meronta dalam kelemahan. Tiba tiba kesedihan yang amat menjadi menderanya, hingga membuatnya menitihkan air mata tanpa sadar.


'Ada apa ini ya Allah?' Batinya dalam kesunyian dan kegelapan yang menyelimutinya.


Hingga sebuah cahaya terang benderang dari atas langis bergerak perlahan. Menurun, menyinari kegelapan yang merangkulnya. Jatuh tepat dalam pangkuanya. Bola cahaya yang bersinar tiada duanya, hingga ia terkesiap saking silaunya.


'Jaga dia baik baik nak.'


Hingga sebuah bisikan berbisik tepat ditelinga kananya. Membuat dirinya terhenyak dan langsung membelalakkan mata.


"Astagfirullah haladzim. Tadi itu mimpi apa?"


Cicitnya lirih, sambil menyeka lelehan peluh yang membanjiri pelipisnya.


Pria tampan itu beranjak dari duduknya, semalam ia memang tidur di sofa. Disamping kiri dan kananya ada Opa, Galaksi, dan Adiknya Lunar. Sedangkan di samping tempat tidur sang Oma ada ayah dan bundanya. Tepat pukul satu malam ia terbangun dari tidurnya. Beranjak meninggalkan ruangan rawat inap sang Oma, ia pergi ke mushola. Mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat malam. Berdoa ditiap sujudnya, kembali berserah diri kepada sang khalik.


"Semoga kedua wanita yang sama sama hamba sayangi dapat bertahan tanpa ada yang harus melepaskan ya-Rabb." Lirihnya, di penghujung doanya.


Ini adalah kebiasaanya, jika hatinya tengah gundah dirinya selalu berdoa di tengah malam. Sebagaimana anjuran Imam Asy-syafei tentang berdoa setelah melaksanakan shalat di sepertiga malam. 'Doa disaat tahajud, bagaikan anak panah yang melesat tepat mengenai sasaran.' Oleh Karena itu, setiap hatinya merasa resah ia akan kembali mengadu sang khalik. Berdoa di tiap sujudnya, meminta agar hatinya di lapangkan ketika di hadapkan dengan cobaan apapun darinya.


"Van'ar?"


"Oma?" Antusiasnya, sambil mendekati bed tempat oma nya berbaring.


Wanita paruh baya itu tersenyum kecil ditengah tengah kerapuhannya. Ia memberikan isyarat kecil, agar sang cucu untuk mendekat.


"Oma perlu apa? Oma ada yang sakit? Perlu Abang panggilkan dokter?" Cecar Van'ar sambil mengenggam tangan kanan milik Oma nya.


Wanita paruh baya itu tersenyum kecil, ditengah kerapuhan dan sakit yang menderanya.Sambil mengedarkan pandanganya kesekeliling.


"Oma b-oleh m-inta s-esuatu?" Lirihnya kecil sambil menatap cucu kesayanganya berkaca-kaca.


"Iya Oma, apapun akan Abang kasih jika memungkinkan. Oma mau apa?" Jawab Van'ar mantap.


"Nikahi Dokter Aurra setelah empat puluh hari kepergian Oma."


Deg


Van'ar mematung seketika, apa maksud omanya ini? Ia menggeleng keras, tidak ada yang akan pergi. Baik Aurra ataupun Omanya akan sehat kembali.


"Husst, tidak boleh bicara seperti itu mah."


Lirih suara sang suami yang kini berjalan kearah bed milik Silvia. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyumnya kecil di tengah mati rasa yang mulai mendera sebagian tubuhnya.


"Nikahkan cucu cucu kita pah, aku akan melihatnya dari atas nanti." Lanjut Silvia-entah mengapa Van'ar merasa senyuman tulus di wajah neneknya itu terlihat beribu-ribu kali sangat mempesona. Wajah lelah dikala tuanya, membuat sang oma terlihat sangat bersinar malam ini.


"Iya. Van'ar dan cucu cucu kita yang lain akan menikah. Dan kamu harus bertahan sampai kita bisa melihat cicit cicit kita." Lanjut Ibra-yang kini menggantikan posisi Van'ar untuk mengenggam tangan yang sudah mulai keriput tersebut.


"Aku tidak bisa menunggu selama itu. Aku s-udah h-arus pergi s-ekarang." Lanjut Silvia mulai terbata bata


"A-ku s-udah h-arus p-ergi."


"Oma bicara apa?" Lerai Van'ar mulai risau.

__ADS_1


Sedangkan Ibra yang berdiri disamping sang istri terlihat tenang tenang saja. Tahu apa yang di maksud istrinya. Satu persatu anggota keluarganya mulai terjaga. Mulai dari Vano, Kia, Galaksi hingga Lunar. Mereka menatap sendu kearah Silvia. Namun wanita paruh baya itu terlihat menyunggingkan senyumnya di wajahnya yang terlihat kian bersinar.


"Oma harap, bang Van'ar bisa membahagiakan Aurra nanti." Lirihnya.


"Oma-harap bisa-hadir me-lihat pernikahan ka-lian." Arkia sudah tak sanggup lagi menahan tangisnya, dalam pelukan sang suami ia mulai terisak. Lunar pun sama, si bungsu mulai terisak sambil memeluk omanya dari samping.


"Oma pasti sembuh, nanti oma harus hadir di pernikahan abang!" Ujar Van'ar lantang.


Silvia menggeleng, sambil menatap suami dan keluarganya.


"O-ima a-akan b-bahagia ji-ka ka-lian b-ahagia." Ujarnya mulai tersenggal senggal.


Ia melirik sang suami, memintanya agar menuntun jalanya untuk pulang ke rahmatullah.


Dengan suara yang penuh lemah lembut nan tartil, pria paruh baya pensiunan militer itu melantunkan dua kalimat syahadat. Mengantarkan kepulangan sang istri tercinta kepada yang maha kuasa.


"Inñalilahi, wainnalilahi rou'jiun."


'Berpulanglah yang tenang istriku. Terimakasih karena selama ini telah setia menemani hari hariku. Aku Mencintaimu, istriķu Silvia Radityan.' Bisik Ibra setelah melantunkan beberapa dia setelah hembusan napas terakhir istrinya. Ia ikhlas lilla hita'ala, karena semua mahluknya pasti akan kembali kepada-Nya seperti diterangkan dalam firmanya.


وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ


“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35).


Raungan dan rintihan kembali terdengar saat kain putih itu menutupi tubuh wanita yang mereka sayangi. Halim dan Salma yang tadi sempat pulang kerumah, ketika subuh berkumandang mereka kembali hadir bersama putra dan menantunya Ezka dan Ana. Vanya sendiri-adik Vano berserta keluarganya tengah dalam perjalanan pulang saat semalam diberi kabar bahwa kondisi Silvia semakin drop. Walaupun mereka sudah mengambil keberangkatan tercepat, nyatanya Allah sudah memanggil terlebih dahulu orang yang mereka cintai.


Selesai berkumandangnya Adzan subuh, jenazah Silvia sudah dibawa pulang ke kediam Radityan. Sekitar meningginya fajar diufuk timur yang malu malu muncul pagi ini. Semua anggota keluarga sudah siap mengantarkan Silvia ke peristirahatan terakhirnya. Langit yang di hiasi kemelut awan mendung menjadi saksi iring iringan Zenajah. Semesta sendiri terlihat berduka dengan kepulangan salah satu mahluk-Nya. Di bagian pengiring jenazah paling depan, ada Ibra dan Vano. Disusul oleh Ezka dan Aditama di posisi berikutnya, kemudian Van'ar, Galaksi juga Dimas beberapa kerabat lainya yang kitu membawa tandu jenazah Silvia.


"Laa ilaaha illallah” 


"Laa ilaaha illallah” 


"Laa ilaaha illallah"


"Laa ilaaha illallah” 


Sepanjang perjalanan, kalimat tauhid di lantunkan dengan seksama. Menjadi pertanda bahwa satu lagi umatnya telah berpulang ke rahmatullah.


"Allahhuakbar Allahhuakbar."


Dengan suara selantang mungkin, Vano sang putra tertua mengumandangkan Adzan. Mengiringkan lapadz lapadz indah itu dengan kepergian wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Tangisan pilu keluarga dan kerabat Radityan kembali pecah saat jenazah mulai di timbun tanah. Vanya bahkan berkali kali jatuh pingsan saking shoknya kehilangan sang bunda. Hingga satu persatu meninggalkan pemakaman, Van'ar masih setia berdiri disana. Memandangi nisan sang oma dengan tatapan nanar. Kecewa dan sedih tengah melingkupinya. Kecewa karena kakaknya benar benar tidak hadir untuk sekedar mengantarkan omanya ke peristirahatan terakhirnya. Sedih, tentu karena salah satu orang yang disayanginya telah berpulang kepada sang pencipta.


--FLASHBACK END--


"Jalan yang kamu pilih ini benar benar salah, bang." Batinya sebelum meninggalkan peristirahatan terakhir oma nya.


"Van'ar janji oma, janji akan memenuhi keinginan terakhir oma." Ujarnya sebelum benar benar berlalu.


Van'ar tahu pasti kenapa omanya meminta permintaan yang satu itu diakhir hayatnya. Ya, karena Omanya sudah tahu ia menyukai Aurra juga karena wanita itu ingin menebus dosanya dahulu saat sempat menelantarkan Aurra yang dulu masih berstatus anak dari istri putranya.


Van'ar tahu itu, dan insaallah ia akan mengabulkan permintaan terakhir omanya jika Allah menghendaki.


"Doakan Van'ar oma."


**


To Be Continue


Met pagi semuaaa😄😄


Selamat menjalankan ibadah shaum dan semoga dilancarkan bagi yang menjalankanya. Gimana buat part ini hayooo??


Sedih gak😢😢 Apa campur adukk??


Hayoo... jangan lupa like, vote, komentar yang buanyak dan share ya kalau bisa😉.


Aku juga minta maaf kalau banyak typo bertebaran, karena aku juga terkadang lupa. Kan lupa itu manusiawi, jadi semoga dapat memahami ya readers🙏🙏

__ADS_1


Sukabumi 06 Mei 2020


05.58


__ADS_2