
..."Jujur dek, mas selalu khawatir jika jauh dengan dirimu yang tengah berbadan dua. Ingin rasanya mas mengarungi lautan sekalipun, demi menemui kalian barang sedetik saja."...
...-Keevan'ar Radityan Az-zzioi-...
...BSJ 65 : Adanya Prioritas...
...****...
"Assalamualaikum mas, mas bisa lihat Aurra kan?" Suara sang istri yang lembut, mengalun dari sebrang sana, membuat seorang pria tampan tersenyum senang.
"Waalaikumsalam, iya dek. Maaf, barusan di dalam ruangan jadi gelap." Ujar pria tampan berseragam di nas plus denan baret dikepala tersebut.
Pria tampan itu, tadi amat terburu buru ke luar dari markasnya saat menerima panggilan video call dari sang istri. Ia memang sudah izin untuk mengangkat telpon dari istrinya kepada pimpinan tadi. Hari ini istrinya akan chak up rutin sekaligus USG. Untuk pertama kalinya, mereka akan melihat buah hati mereka walaupun lewat gambar hitam putih. Ingin sekali rasanya Van'ar menemani sang istri di sana, namun sayang seribu sayang. Tugas negara kini tengah diembanya.
Lewat layar handphonenya, pria tampan itu sengaja menaiki bukit terdekat dari markasnya. Demi mendapatkan jaringan yang baik, agar dapat terhubung dengan sang istri disana.
Ia benar benar tak bisa berkata kata, saat manik tajamnya menatap gambar hitam putih berbentuk gumpalan biji kacang memenuhi layar. Ia rasanya ingin menangis haru, saat melihat buah hati yang tumbuh di rahim istrinya lewat layar tersebut. Matanya menatap lekat gambar hitam putih yang memenuhi layar handphonenya. Di sana, di gambar itu menunjukkan buah hatinya yang tengah berkembang di rahim istri tercintanya. Hatinya tiba-tiba di penuhi berjuta juta kebahagiaan, ya walaupun ia tidak bisa mendengar secara langsung detak jantung buah hatinya untuk pertama kalinya. Tetapi ia tatap bersyukur karena istri dan buah hatinya tengah dalam keadaan baik baik saja.
"Anak kita kembar dek?" Tanya Van'ar memecahkan keheningan diantara mereka.
Ya, ia sedikit penasaran dengan dua objek berbentuk gumpalan macam berbiji kacang tersebut.
"I-iya mas." Cicitnya kecil istrinya sambil menahan air mata kebahagiaanya.
Sungguh, rona bahagia tak dapat tergambarkan lagi di wajah tampanya. Ternyata Allah menitipkan dua sekaligus anugrah di rahim istrinya. Ia akan menjadi ayah dari dua bayi sekaligus. Alhamdulillah, Van'ar benar benar bersyukur atas anugrah yang dipercayakan tuhan kepada ia dan istrinya ini.
"Alhamdulillah, mas bahagia sekali dek. Kita akan memiliki dua bayi sekaligus, mas bersyukur sekali. Terimakasih dek, mas mencintaimu dan anak anak kita." Ucapnya mengharu biru.
Ingin sekali rasanya, ia memeluk istrinya erat. Mengecup keningnya sambil mengucapkan betapa bahagianya ia kini. Ia tahu, istrinya juga tengah merasakan perasaan yang sama denganya.Tapi apa boleh buat, tugas negara tengah memanggilnya kini. Membuatnya harus mengkesampingkan dahulu urasan pribadinya.
"Aurra juga sayang mas, baik baik di sana mas. Di sini Aurra sama si kembar setia nunggu mas pulang." Ucapan terakhir istrinya itu teramat membekas di hatinya.
Inilah yang kini menjadi penyemangat baru dalam mengemban tugasnya. Istri dan anaknya-si kembar yang masih di dalam rahim istrinya. Van'ar akan senantiasa selalu bersemangat, mengerjakan apapun tugas berat yang diembanya demi menjaga keamanan negara. Karena jika tugasnya kini usai pada misi ini, ia akan bisa segera pulang untuk menemui istri dan anaknya. Padahal ida sendiri belum yakin, misi ini akan selesai sehari, seminggu, sebulan atau setahun lagi.
Waallahu alam nissawab, Van'ar hanya bisa berpegang teguh kepada keyakinan tuhan yang akan selalu menjaga orang orang terkasihnya.
○○○○
"Sana, jemput menantu Ayah. Sudah malam, tapi dia belum pulang." Ujar pria paruh baya itu, sambil melemparkan kunci mobil mewah milik putra sulungnya.
Tumben sekali, batin si empunya mobil.
"Jangan salah paham, saya cuma mau menantu dan calon cucu saya merasa nyaman." Ujarnya datar, khas Keevano.
Diam diam Arkia tersenyum geli, melihat interakasi antara suami dan putra sulungnya tersebut. Gengsi yang sama sama tinggi, membuat keduanya tak mau mengalah. Like Son, like father, Ayah dan anak sama saja.
"Jangan ngebut, ingat jika adik iparmu sedang hamil." Ujar Vano memperingati.
Sedangkan yang di peringati hanya mengangguk kecil, sambil beranjak dan meraih kunci mobilnya. Sesekali ia tersenyum kecil, sambil mengetikkan sebuah jawaban untuk wanitanya terlebih dahulu.
Me :
Maaf, tidak jadi menjemputmu Irra.
Aku ada urusan penting saat ini.
Tak lama kemudian getaran di handphonenya kembali terasa.
__ADS_1
^^^My Airra❤^^^
^^^Iya, tidak apa apa mas. Aku bisa pulang naik trans Jakarta kok:))^^^
Anzar tersenyum kecil saat membaca pesan singkat tersebut. Wanitanya itu memang selalu pengertian. Saat ini amanah dari sang ayah adalah yang terpenting, walaupun menjaga perasaan kekasihnya itu juga penting. Oleh karena itu, ia berusaha sebisa mungkin menghargai ke dua objek tersebut.
Dengan cepat ia menancap gas mobil mewahnya yang lama tak ia pakai. Tujuanya kini adalah rumah sakit, di mana adik iparnya itu bekerja. Tugasnya ialah menjemput adik iparnya yang telah mengandung tersebut.
Tiba di pelataran parkir rumah sakit, pria tampan berpakaian casual itu segera keluar dari dalam mobil. Diedarkanya manik hitamnya kesekeliling area rumah sakit, mungkin saja adik iparnya itu tengah menunggunya di sana. Mengingat hujan juga tiba-tiba mengguyur Jakarta.
Manik hitamnya tertuju pada satu titik. Di mana ada seorang bocah pengemis yang duduk diemperan samping rumah sakit, sambil menggorek ngorek sampah. Tak lama, dari sampingnya datang wanita berhijab syar'i yang amat di hafalnya. Membawa satu kreses hitam ukuran medium, lalu memberikanya kepada bocah perempuan yang tengah mengorek sampah.
Tanpa jijik ataupun gengsi sedikitpun, wanita yang tengah mengandung itu menerima pelukan dari bocah berpakaian compang-camping tersebut. Ia juga terlihat memberikan beberapa lembar uang kepada bocah tersebut, sebelum pergi meninggalkanya.
Anzar tersenyum kecil, nyatanya istri dari adiknya itu berlipat lipat lebih mulia dari wanita manapun yang pernah ia temui. Allah maha adil, mengirimkan wanita hebat dan berhati mulia untuk adiknya-Van'ar. Wanita solilhah yang dirinya tolak menjadi istri kala itu.
Anzar tahu ia telah menyia nyiakan sebuah berlian berkualitas sempurna. Tetapi, ia tahu di balik semua itu tersimpan makna mendalam. Ia tak pantas untuk Aurra, ia terlalu pengec*t dan brengs*k. Tetapi, ia bersyukur tuhan masih mau berbaik hati kepada dirinya. Contohnya, ia dipertemukan dengan wanita hebat seperti Airra-kekasihnya. Wanita tangguh juga mandiri, yang mampu membuatnya bangun dari keterpurukan.
"Mas, sedang apa disini?" Sapa suara lembut yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya.
"Ah, aku menjemput kamu." Ujar Anzar kikuk.
Wanita cantik berpenutup wajah itu mengangguk kecil. "Ayah Vano yang nyuruh mas ya? kenapa bukan mang Urip seperti biasanya?" Tanyanya menebak, karena biasanya yang mengantar jemput dirinya adalah mang Urip-supir pribadi Vano.
"Hm, ayah nyuruh langsung." Ujarnya mencoba sedatar mungkin. "Kalau begitu ayo pulang, orang rumah sudah menunggumu."
Aurra lagi lagi mengangguk, setelah pamit kepada rekan sejawatnya yang masih belum pulang. Ia langsung berlalu mengikuti kakak iparnya itu keparkiran.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu kehujanan?"
Protes Anzar, saat melihat pakaian wanita berhijab di sampingnya itu lembab terkena air hujan.
"Hufftt." Anzar menghembuskan napas gusarnya, adik iparnya ini terlalu mandiri dan melakukan apa apanya sendiri.
"Pakai Ra, kalau kamu flu nanti orang rumah khawatir semua." Ujar Anzar Anzar sambil melepaskan jaket yang tadi dikenakanya.
"Pakai, Aurra Putri Haidan." Ujar Anzar melapalkan nama lengkap adik iparnya.
"Terimakasih, mas." Ujar Aurra kecil sambil menunduk dan menerimanya.
Ia tengah menjaga mata juga hatinya, karena bagaimanapun juga Anzar bukanlah mahromnya. Selain itu, ia juga menjaga kepercayaan suaminya. Suaminya itu pernah benar benar memperlihatkan ketidaksukaanya, saat melihat ia dan Anzar-kakak iparnya bersama. Oleh karena itu, Aurra menjaga interaksinya demi menjaga perasaan suaminya.
"Di minimarket depan bisa berhenti mas, Aurra mau beli sesuatu." Ujarnya memecahkan keheningan yang sedari tadi mengudara.
"Hm."
Minimarket yang dimaksud Aurra memang letaknya agak jauh dari mansion keluarga Radityan. Namun isi barang barang pokok disini cukup lengkap, tokoknya juga lumayan besar dan banyak di kunjungi pelanggan. Rata ratanya ibu ibu yang tengah belanja bulanan.
Wanita berhijab syar'i itu mendongrak, mencari cari kotak susu khusus ibu hamil yang biasa ia minum. Merk yang di rekomendasikan suami tercintanya. Mengingat itu, Aurra tersenyum kecil di balik penutup khimarnya. Selama masa kehamilanya, Van'ar sang suamilah yang rutin update tentang seputar ibu dan bayi. Bahkan pria itu tak segan segan untuk mendaftarkan istrinya ke kelas yoga khusus bumil. Selain possesive, perhatian dan tingkan kewaspadaanya semakin meningkat selama istrinya hamil. Van'ar selalu memastikan makanan tersedia di dalam coolkas mini yang disiapkan dikamarnya. Agar ketika sang istri lapar di tengah malam, ia tidak perlu menuruni anak tangga untuk mencapai dapur, bahaya. Jadilah Van'ar membeli coolkas mini satu pintu untuk disimpan di kamarnya, khusus diisi makanan dan minuman sehat untuk istrinya.
"Kalau susah minta tolonglah Ra, aku bisa membantumu." Sela suara barithon dari samping Aurra.
Aurra memañg kesulitan meraih kotak susu yang biasa diminumnya. Benda itu berada di rak paling atas, bukan di bawah seperti bayanganya.
"Ini." Ujar Anzar sambil memberikan dua box susu ibu hamil tersebut.
"Terimakasih" Ujar Airra sambil menunduk dan mengambilnya tanpa sentuhan yang pasti.
Duk
__ADS_1
"Maaf maaf, saya tidak sengaja." Ujar suara lembut dari arah depan yang tidak sengaja menabrak troli seorang ibu ibu.
"Lain kali hati hati dong mbak, anak saya bisa saja jatuh loh." Ketus si ibu ibu yang ditabrak, berhubung ia membiarkan putri kecilnya menaiki trolli.
"I-iya, saya sungguh minta maaf." Ujarnya penuh penyesalan.
"Maaf maaf, kalau jatuh dan terluka bagaimana mbak? Mbak mau tanggung jawab?"
Tanyanya kesal sambil menggendong putrinya.
"Sekali lagi saya minta maaf ibu, tadi saya lalai. Tapi sungguh, itu cuma kecelakaan yang tidak disengaja." Ujar wanita yang menabrak itu sambil membungkukan badanya kebawah, meminta maaf.
"Awas aja kalau anak saya lecet, biaya rumah sakit itu mahal. Mbak mana bisa bayar!"
Anzar yang melihat itu mengepalkan jemarinya kuat. Bisa bisanya ia melihat kekasihnya di permalukan seperti ini, tidak bisa dibiarkan.
Bahkan kedua wanita yang tengah cekcok itu sudah mulai menjadi pusat perhatian. Si ibu yang mengendong putrinya mulai emosi, sedangkan wanita satunya lagi sudah meminta maaf berulang kali.
"Makanya, hati hati dong mbak. Kalau masuk rumah sakit mbak bisa ganti biaya pengobatanya, enggak kan?!"
"Memangnya berapa?" Sela Anzar yang sudah berdiri di samping wanita yang tengah menunduk tersebut.
"Berapa ganti rugi yang diakibatkan tunangan saya, biar saya yang bayar?" Tanyanya lagi yang membuat ibu ibu itu melongo.
"Mas, jangan." Lirih wanita cantik di sisinya tersebut.
"Berapa bu, biar saya ganti?"
Si ibu itu menggelengkan kepalanya, ia tidak terlalu bodoh untuk menyadari siapa pria tampan di hadapanya ini. Pasalnya, suaminya juga bekerja di perusahaan milik keluarga pria ini.
"Tidak perlu mas, ini cuma kesalahpahaman. Saya telalu khawatir berlebihan tadi." Ucapnya melunak.
Anzar mendengus tak suka, satu tanganya beralih untuk memeluk pinggang wanitanya.
"Lain kali jangan lebih dulu meng-judge orang lain, sebelum ibu intropeksi diri sendiri. Tindakan ibu menyimpan anak ibu di sana tidak benar, bisa saja trollinya tergelincir dan membuat anak ibu terjatuh. Atau bisa saja putri ibu terkena kuman atau bakteri dari pegangan trolli yang sudah bekas di pegang orang banyak." Ujar Anzar menasihati.
"I-iya mas." Cicit si ibu.
"Sekali lagi ibu mempermalukan calon istri saya, saya akan tuntut ibu." Ujarnya final sambil berlalu dan meninggalkan kerumunan orang disana.
Lupa, Anzar melupakan Aurra dan meninggalkan wanita hamil pemilik manik hazel yang berdiri mematung tersebut.
"Jadi itu, calon istri mas Anzar?"
○○○○
To Be Continue
Selamat pagi guys😊😊
Update lagi yoo, mulai dari sekarang harus biasa dengan mereka bertiga dalam satu part.
kalau babang Van'ar aku sembunyiin dulu.
Yups, jangan lupa like, komentar dan vote yang banyak yaa😊😊
Sukabumi 20 Juni 2020
06.47
__ADS_1