Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 49 : Kepossesivan Sang Binglear


__ADS_3

..."Di setiap langkahku ada tujuan tertentu tentangmu. Di setiap deru napasku, ada planning masa depan bersamamu. Di setiap ucapku ada bayak kata yang tak bisa mewakili rasa bahagiaku untukmu."...


...-Keevan'ar Radityan Az-zioi-...


...BSJ 49 : Keposessivan Sang Binglear...


...****...


Decitan pintu menganggu aktivitas wanita yang harus baderst selama beberapa hari di rumah sakit tersebut. Dua orang wanita paruh baya datang dengan senyum kecil mengembang, di masing masing bibirnya. Satu keresek putih polos yang dibawa salah satunya tersimpan di atas nakas.


Aurra-wanita yang sudah bangun dari tidurnya itu hanya bisa tersenyum sambil menyapa keduanya. Senyumnya terpatri saat kedua wanita itu melirik objek di sampingnya.


"Bunda datang?" Ujarnya menyapa dua wanita tersebut.


"Masmu tadi muntah muntah lagi Ra?"


Tanya wanita berhijab tersebut.


Aurra mengangguk kecil, sambil menoleh ke arah samping di mana objek itu tengah tidur pulas sambil memeluknya.


"Tadi sempet muntah muntah bunda. Mas Van'ar juga ngeluh kepalanya pusing." Tuturnya jujur sambil membelai rambut hitam milik suaminya.


"Morning sicknessnya parah ya Ra? Sampe pucat gitu muka masmu." Ujar wanita paruh baya satunya lagi.


"Iya bunda. Baby-nya buat ayahnya kesakitan."


Ujar Aurra kecil sambil mengusap perut datarnya.


"Gak papa, itu bukan salah baby-nya kok."


Timpal Arkia-wanita itu mulai meraih isi kresek yang di bawanya.


"Aurra sarapan dulu ya, bisa duduk kan?"


Gadis cantik itu mengangguk. Dengan perlahan ia mulai memindahkan kepala sang suami yang berada di ceruk lehernya, kearah bantal.


"Alhamdulillah, untung mas gak bangun." Lirihnya setelah berhasil duduk.


"Ayo makan, katanya mau bubur buatan bunda bundamu ini." Ujar Arkia sambil tersenyum bersamaan dengan Sayla.


Aurra memang meminta bubur buatan Arkia dan Sayla, ia bahkan membujuk Adnia agar membolehkan dirinya makan makanan luar. Dan, lihatlah kini. Di tatapnya dengan penuh syukur satu porsi bubur yang di penuhi dengan suwiran daging ayam dan irisan seledri yang melimpah sebagai toppingnya. Sangat menggugah seleranya. Setelah melapalkan basmalah dan doa mau makan, Aurra mulai menikmati buburnya tanpa diaduk. Ini memang hobbynya, makan bubur tanpa diaduk.


"Waktunya perìksa bumil yang-eh eh kok ini?"


Bingung wanita cantik bersnelli dokter itu, saat menemukan objek lain di ranjang badrest pasienya.


Objek besar yang tengah tertidur dengan nyamanya, sambil memeluk sang istri dari samping.


"Selamat pagi tante Kia, tante Sayla." Sapa Adnia-dokter yang kini menangani Arkia.


"Pagi Nia."


"Pagi dokter Nia." Jawab Sayla dan Arkia ramah.


Tatapan wanita cantik berterusan bira laut itu kembali ke pasienya. Pasien yang tengah menikmati bubur rumah, bukan bubur dari rumah sakit. Tidur di ranjang badrestnya bukan sendiri, melainkan dengan bayi besar disana.


"Ini bapaknyà masih mengalami morning sickness parah?" Tanyanya sambil melirik pria yang tak terusik sedikitpun ditidurnya.


"Heem, mas Van'ar masih sering pusing, mual sama muntah." Aurra menyudahi acara sarapannya, menyisakan setengah bubur yang belum disentuhnya.


"Itu bener tidak apa apa Ni, dia muntah muntah terus sampai pucat gitu." Tanya Sayla iba melihat keadaan mantunya.


"Itu gak papa kok tante, Sindrom Cauvade itu memang biasa dialami beberapa calon ayah."


"Sindrom couvade?" Bingung Kia.


"Iya tante, Sindrom di mana sang suami yang mengalami gejala umum yang dialami ibu hamil seperti morning sickness atau mual dan muntah, pusing, menginginkan hal hal yang aneh hingga mengalami perubahan mood yang cukup signifikan di setiap waktu. Sebagian ahli percaya bahwa gejala ngidam dan mual-mual yang dirasakan calon ayah tersebut merupakan bagian dari masalah psikologi." Tutur Adnia menjelaskan.


"Penjelasan lain menyebutkan sindrom cauvade muncul karena para calon ayah dilanda kecemasan akan perubahan hidup yang akan dialaminya." Lanjutnya,sambil menatap suami sahabatnya itu yang terlihat kacau.


"Jadi, Van'ar yang bakal ngidam gitu?" Tanya Arkia penasaran.


"Kemungkin besar itu bisa terjadi tante."


Ujar Adnia sambil mendekati Aurra.


"Sekarang waktunya periksa bumil dan debaynya dulu." Ujar Adnia girang-wanita itu memang suka sekali jika sudah berurusan dengan bumil. Kecuali bumil yang cerewet ketika berada diruang persalihan, she's don't like it.


"Bayinya sehat, ibunya juga. Kandunganya sudah mulai stabil, Aurra cuma butuh bedrest beberapa hari lagi. Setelah itu bumil di perbolehkan pulang." Ujar Adnia menyelesaikan pemeriksaanya.


"Jangan lupa konsumsi banyak vitamin juga mineral dan serat yang dibutuhkan sidebay.


Selama kehamilan, aku sarankan kurangi jam kerjamu Ra, karena trismester pertama itu rentan mengalami keguguran."


Tambah Adnia sambil mengelus perut datar sahabatnya itu.

__ADS_1


"Jangan lupa minum susu ibu hamil juga. Untuk calon bapaknya, nanti aku kasih obat pereda mual." Aurra mengangguk mengerti, hebat sekali tidur suami tampanya ini. Tak terusik barang sedikitpun.


Setelah pemerikssan rutin berlangsung, setengah jam kemudian pria tampan itu terbangun dari tidur lelapnya. Tetapi tetap saja enggan beranjak dari duduknya.


"Mas geli ih." Intruksi wanita cantik tersebut mulai terusik.


"Wangi dek, kayak bayi." Aurra hanya bisa tersenyum kecil menatap kejailan suaminya ini.


Sedari bangun tadi,pria itu tak henti hentinya memeluk dan menciumi pucuk kepala istrinya. Menghiraukan keberadaan dua wanita paruh baya yang melihat tingkahnya sambil terkikik geli.


"Hidungmu bagus dek." Ujar Van'ar gemas sendiri mencolek hidung bangir yang tidak tertutup kain penghalang tersebut.


"Mas, geli loh." Ujar Aurra mengingatkan tetapi tak diindahkan oleh suaminya.


"Assalamualaik-um." Ujar pria paruh baya bersnelli dokter tersebut.


"Waalaikumsalam." Jawab Sayla dan Kia bersamaan.


"Yah, ada apa?" Tanya Sayla menyambut sang suami.


Pria paruh baya berkacamata itu, tersenyum kecil. "Lihat Aurra." Ujarnya sambil mendekat kearah bad.


"Kamu sedang apa?" Tanya Dimas memicing, menatap kelakuan absurd menantunya tersebut.


"Didi,ini-" Ucapan gadis itu terpotong, saat wajahnya tiba tiba menubruk dada bidang sang suami.


"Kamu apa apaan Van'ar? Lepaskan tanganmu dari Aurra." Titah Dimas.


"Maaf yah, tapi tidak ada seorang pria pun yang boleh melihat wajah Aurra tanpa penutup selain saya."


Glek


Dimas, Sayla, dan Kia sama sama terbelalak.


Ada ada saja tingkah laku calon ayah satu ini.


"Saya ayah dari istrimu, jika kamu lupa calon ayah muda." Tegur Dimas.


"Mas." Cicit Aurra di dalam dekapan sang suami.


"Pokoknya tidak boleh yah, Aurra istri saya. Saya yang boleh lihat kecantikanya."


Whatt?


"Ada ada saja kepossesivan bapak muda satu ini." Ujar Dimas sambil tersenyum kecil.


"Yang penting putriku dan cucuku sehat."


Ujarnya final sebelum berlalu mendekat ke arah sang istri.


"Menantumu ngidam ya, possesiv-nya minta ampun." Lirihnya sambil mengecup pucuk kepala sang istri singkat.


"Malu ih yah."


Kesal sang istri, mengingat ada Kia juga disana.


"Ki, anakmu sikapnya aneh kalau lagi possesive begini." Kekeh Dimas kecil sambil dijawabi gelengan oleh sang empunya nama.


"Maklumlah, calon bapak muda." Ujar Kia membela putranya yang masih memeluk erat erat istri tercintanya. Huh, possesiv amat bang.


Kriett


Pintu kembali berdecit, menandakan ada orang baru yang hendak masuk. Tetapi belum sempat sosok itu memasuki ruangan, sebuah suara lantang menghentikanya terlebih dahulu.


"Assalam-"


"STOP." Ujar Van'ar lantang, bak tengah menjadi pemimpin barisan saat apel rutin di kesatuan.


"Mas, pelanin suaranya." Koreksi sang istri.


"Hm, maaf." Ujar Van'ar lirih.


"Ada apa ini? Kamu kenapa Van'ar?"


Tanya pria paruh baya di ambang pintu tersebut bingung.


"Ayah jangan masuk, bau."


"H-hah?" Gagap pria paruh baya tersebut.


"Fffftt, bau katanya." Kekeh Dimas tak kuasa menahan tawanya. Ada ada saja penciuman sensitif bapak muda satu ini.


"Ayah tidak bau Van'ar." Tegas pria berpakaian formal tersebut.


"Lagi pula ayah mau nengok Aurra sama cucu Ayah."

__ADS_1


"Ayah bau bunga kantil, abang gak suka."


"Buahahahaha" Suara Dimas menggelegar di seluruh penjuru ruangan, sunggh perutnya terasa tergelitik melihat adu argumen Ayah-Anak ini. Ia tak tahu lagi bagaimana menahan tawanya, yang pasti kulit perutnya terasa sakit menertawakan keduanya. Sebelum ia beristigfar karena tawanya yang berlebihan.


"B-bau kantil dari mana? Ayah wangi begini."


Ujarnya tak terima.


"Mas, tenang dulu." Kia turun tangan, memecah adu argumen pria sedarah tersebut.


"Putramu lagi sensi, jangan didengerin." Bisik Kia pelan.


"Sensi?" Bingun vano mengulang tak kalah lirih.


"Nanti aku jelasin, sekarang keluar dulu ya."


Pinta sang istri.


Dari pagi hari itu juga, semua orang dibuat geleng geleng kepala oleh sikap sensitif, abaurd bahkan nyeleneh dari calon bapak muda satu ini. Aurra sendiri hanya bisa tersenyum kecil, saat anggota keluarganya disurih ini itu demi memenuhi keinginan sang suami.


Sementara itu, di ruangan lain di lantai lain, namun masih di dalam gedung yang sama. Pria berpiama rumah sakit yang tengah duduk di bed rumah sakitnya itu, memincingkan matanya tak suka. Sedari tadi, ia hanya bisa mendengarkan kekehan sang adik sambil ketawa ketiwi kecil menatap handphonenya. Pria tampan itu merenggut kesal, sambil memakan irisan apel yang ada dipiringnya.


"Kamu lihat apa Lunar, kenapa dari tadi ketawa ketawa sendiri?" Tanyanya penasaran.


Gadis berhijab yang tengah menonton video seorang pria muda berjoged patah patah dengan lagu india itu, membuatnya tak tahan untuk ketawa.


"Ini, bang Van'ar ngidamnya kelewatan. Masa iya mbak A-" Jedanya hampir keceplosan.


"Mbak A-siapa?" Tanya pria tampan itu.


Lunar menggeleng samar, ia lupa jika kakaknya ini belum tahu apa yang terjadi empat bulanan kebelakang. Soal almarhum oma yang meninggal dunia, dia tak datang kala itu. Tentang adiknya yang menikah, dia bahkan tak muncul juga kala itu.


"Van'ar ngidam, memangnya dia sudah menikah?" Tanyanya mengulang.


Lunar menelan salivanya susah payah, kini dirinya bingung harus menjawab apa.


"Ah, ini cuma video toktok bang. Hehe, lucu aja kayaknya kalau bang Van'ar gini."


Dalihnya.


"Hm." Deham pria berpiama rumah sakit tersebut santai.


Diam diam gadis berkerudung itu menghela napasnya, untung saja kakaknya itu tidak curiga berlebihan.


"Gadis kemarin gimana keadaanya ya?"


Gumam sang kakak namun masih dapat di dengar jelas oleh Lunar.


"Dia jago beladiri, unik." Lunar mewanti wanti kini, bagaimanapun juga yang tengah di bayangkan oleh kakaknya itu adalah istri dari saudaranya sendiri.


"Abang udah boleh jenguk kan, abang udah sehat Lunar."


Deg


Si empunya nama itu mematung di tempatnya, bagaima sekarang? Kakaknya ini ngotot ingin menjenguk Aurra, secara di sana masih ada Van'ar juga anggota keluarga lainya.


"Hmm, kakak itu udah keluar rumah sakit bang. Hari ini dia pulang dari Rumah sakit."Kilah Lunar.


'Astagfirullah, maafin Lunar ya Allah.'


Batinya berdoa atas segala kebohonganya.


"Tapi kenapa, abang baru tahu sekarang?"


Nampak jelas gurat gurat kekecewaan di wajah tampan yang sudah hampir empat bulan mendekam dirumah sakit tersebut.


"Maaf bang, Lunar juga baru tahu tadi."


Dia-Keevanzar Radityan Al-Faruq, mengangguk kecil mengerti. Padahal ia ingin berterimakasih kepada malaikat penolongnya, yang sudah berulang kali membantunya. Padahal ia juga ingin mengenal malaikat penolongnya, barang seucap nama pun. Anzar sudah berangan angan, setidaknya gadis itu mampu menjadi penawar bagi hatinya yang patah. Gadis yang unik itu, berhasil menarik perhatiaanya.


□□□□


To Be Continue


Pagi guys😊😊


Update lagi nihh😄😄


Hayoo gimana buat part ini, setelah ini part menguncang hati. Ada Anzar, Aurra, Van'ar apa jadinya hayooo? jangan lupa like, komenya yang tembus 40😄 sama vote nya yang banyak. Nanti malau aku update deh kalau nampe target😅😅


Jangan lupa yoo😊😊


Sukabumi 05 Juni 2020


10.25

__ADS_1


__ADS_2