
..."Aku bukan cemburu, hanya saja rasa tak rela itu hadir tanpa dapat kusangkal keberadaanya."...
...-Keevan'ar Radityan Az-zzioi-...
...BSJ 51 : Jangan Cemburu, Mas Mas Sùami...
...□□□□...
"Mas, kok dari tadi diem mulu?"
Tanya wanita cantik itu memecahkan keheningan. Ia gatal sendiri untuk berbicara, pasalnya sedari tadi suaminya itu hanya diam sambil menatap hujan deras dari balik jendela.
Hujan deras memang mengguyur sejak tadi. Bahkan kini angin ikut membantu menambahi. Sejak masuk keruangan inap tadi, suaminya itu tidak banyak bicara. Setelah Aurra diperiksa oleh Adnia pun, pria itu tetap diam dalam keheningan. Membuat Aurra tak nyaman dengan diamnya sang suami.
"Mas, jangan diam mulu. Aurra jadi takut."
Ucapnya kecil, sambil menarik narik ujung kaos yang dipakai sang suami.
"Mas marah ya?" Tebaknya kecil.
"Atau, jangan jangan mas cemburu?" Ucapnya keceplosan.
Pria tampan itu menoleh, menatap sang istri tajam. Aurra yang tidak pernah ditatap setajam itu dalam hidupnya terkejut bukan main. Lama kelamaan air matanya meluruh tanpa diminta saking takutnya. Mood bumil ini memang naik turun sejak tadi.
"Hiks." Van'ar tertegun, dirinya tersadar saat mendengar istrinya terisak kecil.
"Dek kenapa, kok menangis?" Tanyanya cemas sambil mengusap air mata sang istri.
"Hiks, habisnya mas kenapa diam terus hiks?" Tanyanya terbata bata.
"Kenapa juga, mas lihatinya gitu hiks. Kan Aurra jadi takut hiks...."
Pria tampan itu tersenyum kecil sambil mengusap air mata sang istri. Ternyata tanpa sadar ia telah membuat istrinya ketakutan. Tuh kan, ditatap tajam aja Aurra takut.
"Ssstt, udah ya nangisnya. Mas minta maaf kalau tadi nyuekin kamu." Ujarnya menenangkan sang istri.
"Mas kenapa tadi diem terus, kalau Aurra ada salah tegur mas. Jangan dicuekin."
Van'ar tersenyum kecil, ternyata sikap cuek bebek bin datarnya yang dahulu kini kambuh lagi. Dan imbasnya terkena kepada sang istri sebagai korbanya. "Mas cemburu."
Van'ar tahu dirinya sulit untuk mengekspresikan dirinya. Tetapi untuk berkata jujur itu sudah menjadi darah dagingnya. Mengenal dan jatuh cinta kepada wanita yang kini menjadi istrinya, membuat Van'ar banyak berubah setidaknya. Ia mencoba membenahi diri lebih dewasa, agar mampu membawa anak dan istrinya kelak menuju jannah-nya Allah.
"Mas cemburu?" Ulang sang istri.
"Hm, mas tidak menyangka takdir mempertemukan kita dalam kerumitan ini. Dan mas baru sadar, tanpa mas ketahui kamu sering menjadi malaikat penolong untuk pria yang telah mematahkan hatimu." Tutur Van'ar panjang lebar.
"Jadi mas cemburu lihat aku sama abangnya mas?"
"Hm. Gak tahu, tapi rasanya tidak rela."
Aurra tersenyum kecil mendengar jawaban suaminya ini.
Tetapi demi Allah, Aurra sudah menyertakan segalanya kepada tuhanya. Jika ia dipertemukan kembali dengan sosok yang mematahkan hatinya, semua itu adalah kehendak-Nya. Yang terpenting bagi Aurra, kini hatinya telah terpatri kuat utuk pria yang telah menjadi suaminya. Satu satunya cinta yang memang berhak menempati hatinya.
"Tapikan Aurra sayangnya sama mas, kenapa mas harus cemburu." Hmm, Van'ar melting sendiri mendengar jawaban sang istri.
"Jangan cemburu mas mas suami, karena cuma mas yang ada di sini." Lanjutnya sambil menunjuk bagian hatinya.
Van'ar tersenyum hangat, sungguh luar biasa bahagia dan bersyukurnya dia karena Allah telah memberinya pendamping hidup seperti istrinya. Menyempurnakan hati yang selama ini kosong dengan hadirnya.
Cup
__ADS_1
"Mas Sayang juga sama calon bunda satu ini."
Ujarnya lembut sambil mengecup pucuk kepala sang istri. Tersenyum kecil untuk wanita yang akan menemaninya hingga mau menjemput ini.
Setidaknya, sebuah kepercayaan telah menjadi pondasi kuat dari rumah tangga yang mereka bangun. Adanya cinta ikut menyempurnakan, kasih sayang ikut menyertakan. Semua itu tak luput dari lukisan takdir tuhan yang menpertemukan. Membuat dua hati yang tanpa sadar mendampa untuk dipersatukan, menempuh berbagai jalur tuk mendapatkan jalan penyatuan. Hingga proklamasi yang dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat singkatnya, menghilangkan banyaknya halang rintang dalam sebuah bahtera kuat bila apapun datang menghadang.
"Besok mas masuk dinas di kesatuan?" Tanya wanita cantik itu sambil membenahi mukena yang digunakanya untuk salat malam.
Dua hari sudah suaminya cuti sakit, setelah mengalami mual dan muntah hebat. Tadi sore ia mendengar suaminya itu menerima telpon dari atasanya. Kemungkinan esok hari suaminya itu akan kembali dinas di kesatuan.
"Hm." Jawab pria tampan itu singkat sambil membenahi alat salatnya.
Pria tampan itu juga tadi sempat mengaji surat Yusuf dan Maryam yang diminta istrinya. Kata orang tua dan para alim ulama, membaca dua surat itu saat hamil adalah anjuran yang baik. Mengkaji dua surat tersebut bertujuan jika si jabang bayi lelaki, maka kedua orang tuanya berharap agar seperti sosok nabi yusuf. Jika perempuan, hendaklah mirip dengan Siti Maryam.
"Besok mas dinas, soalnya sudah ada surat panggilan." Tuturnya.
Sang istri hanya mengangguk kecil, sebelum decitan pintu menarik perhatian keduanya. Memperlihatkan seorang pria gagah bersnelli dokter menjinjing sebuah parsel buah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Aurra sambil tersenyum kecil dibalik penutup hijabnya.
Sosok gagah itu mendekat kearah bad sambil tersenyum kecil. Di antara rekan sejawat dokter, dari kaum ikhwan memang hanya dia lah yang paling dekat dengan Aurra. Van'ar yang melihat gelagat itu hanya berdeham kecil melihatnya.
"Ah ini, maaf baru bisa datang sekarang dokter Aurra." Ujarnya sambil memberikan barang bawaanya kepada sang suami.
"UGD selalu penuh, apalagi saat salah satu staf terbaiknya jatuh sakit." Candanya kecil.
"Ah ya, selamat atas kehamilanmu. Semoga sehat ibu dan bayinya sehat hingga proses persalinan." Ujarnya ramah.
"Terimakasih dokter Andre."
Andre-dokter yang biasanya menjadi patner Aurra itu tersenyum kecil. Benar adanya, ia memang kewalahan bekerja saat patner terbaiknya jatuh sakit.
"Mas kenapa lagi? Kok banyak diem?" Tanya Aurra saat Andre telah pergi dari ruanganya.
"Dia patnermu dek?" Wanita itu mengangguk mantap.
"Memangya tidak ada yang lain dek, mas kurang suka dengan pria tadi." Aurra tersenyum kecil, menangkap masud dari sang suami.
"Jangan cemburu, mas mas suami. Aku sudah jadi patner dokter Andre dari dari tiga tahun lalu." Tuturnya sambil tersenyum manis, memperlihatkanya jelas karena penutup wajahnya di buka selepas ia meminum obat barusan.
"Ekhem, mas tidak cemburu." Dalih pria tersebut sambil berlalu menuju sofa.
"Mas mau kemana?"
"Tidur." Jawab Van'ar singkat.
"Di sofa?"
"Hm."
"Jangan." Tolak sang istri yang tentu membuat sang suami menyerngitkan alisnya
"Mas tidur di sini, nanti badan mas sakit sakit kalau tidur di sofa." Lanjutnya sambil menepuk sisi bad-nya yang kosong.
"Memangnya tidak apa apa, nanti baby-nya kehimpit bagaimana?" Aurra mengulum senyumnya mendengar jawaban sang suami. Ada ada saja jawaban prianya tersebut.
"Astagfiruullah haladzim, tidak akan mas."
Van'ar mengangguk setelah mendengarkan jawaban sang istri. Dengan perlahan ia berbaring disamping sang istri, memeluk tubuh mungil wanitanya.
__ADS_1
"Hm, wangi bayi. Mas suka." Komentarnya kecil.
"Mas wangi lemon, Aurra juga suka." Cicit sang istri yang kini tidur beralaskan lengan sang suami.
"Baby jangan buat bunda repot saat ayah tugas ya, jangan buat bunda kecapean juga. Kita harus berjuang bersama sama ya baby." Lirih Van'ar sambil mengelus permukaan perut rata sang istri.
"Iya ayah." Jawab Aurra menirukan suara anak kecil.
"Pokoknya kamu harus menjaga bunda selama ayah bertugas nak, okay?"
"Okay ayah." Sahut Aurra.
"Rasanya berat meninggalkan kalian berdua."
Gumam Van'ar sambil mengecup kening sang istri sayang. Sebelum keduanya berlalu menuju pulau mimpi setelah membaca doa sebelum tidur.
◇◇◇◇
Suara adzan mengaung di penjuru negri. Membangunkan umat muslim untuk beribadan sesuai ketentuan agama. Sama halnya dengan wanita cantik yang baru membuka matanya. Meraba raba tempat tidur di sampingnya yang terasa kosong. Padahal semalam ada sang suami yang tertidur sambil memeluknya, memberikan kehangatan sepanjang malam.
Di turunkanya kakinya sejenak, berjalan pelan sambil menarik tiang infuse miliknya. Mengechak kamar mandi namun nihil, tak ada sang suami di sana. Ia mulai kalut mencari sosok tampan itu.
"Mas."
"Mas dimana?"
"Mas?" Panggilnya.
Hingga maniknya menangkap sebuah lipatan kecil diatas mukena dan sajadah miliknya.
Aurra mengambilnya cepat, membuka dan membacanya hidmat.
Assalamualaikum Waromatullahi wabarakatuh.
Dek, maaf mas pergi sebelum kamu bangun. Mas tidak tega membangunkanmu, jadi mas pergi tanpa menunggumu bangun. Mas sudah harus pergi ke kesatuan. Mas titip kamu dan baby kita kepada Ayah dan bunda.
Jaga diri baik baik Bumu (Bunda muda), Ayamu (Ayah Muda) pergi dinas dulu.
Ayamu sayang Bumu dan baby kita.
Semoga Allah selalu melindungi kalian berdua, selama mas dinas. Mas sayang kalian.
Waalaikumsalam Warahmatullahi wabarakatu.
Aurra menitihkan air matanya tanpa di minta saat membaca surat peninggalan dari sang suàmi. Entah mengapa, ada rasa tak rela ditinggal pergi untuk saat ini. Namun bagaimana lagi, tugas negara tengah memanggil prianya. Ia hanya bisa berdoa dan berharap, agar Allah juga selalu menjaga suaminya di manapun ia berada.
◇◇◇◇
To Be Continue
Pagi readerss🤗🤗
Gimana, ada yang mau komentar lagi?
kangen Anzar gak? aku sengaja yoo,sehari penasaran bin tegang, sehari baper😅😅
Biar seimbang gituu.
Hayoo, jangan lupa like✋ komentarrr💬 juga votenya💯💯
ok, jumpa lagi nanti😘😘
__ADS_1
Sukabumi 07 juni 2020
07.07