
..."Kekurang dan kelebihan yang ada, membuat kita menjadi saling mengisi dalam tiap celah."...
...-Lunarsyah Azzahra Az-zzioi -...
...BSJ 92 : The Cute Couple...
...****...
Pagi yang cerah diseluruh negri, mengantarkan dua insan itu kekota berjuluk kota kembang di pagi cerah ini. Berkendara beberapa jam dari ibu kota, sekitar pukul sembilan pagi mereka telah tiba disana. Dengan cekatan, pria tampan berpakaian casual tersebut membukakkan pintu untuk kekasih tercinta.
"Silahkan, my Lady." Ujarnya yang langsung membuat kekasihnya terkekeh geli.
"Receh deh, gak cocok tahu." Ketus si bungsu putri Radityan tersebut, di ujung kekehanya.
"Kamu tahu enggak Ai?"
"Tahu apa, mas kan belum ngasih tahu."
"Kalau dunia itu punya pusat rotasi baru."
"Hah, tahu dari mana kamu mas?" Bingung perempuan berpasmina maroon tersebut.
"Perasaan, gak ada berita dari NASA kalau bumi punya pusat rotasi baru."
"Ya iyalah, NASA gak tahu. Soalnya pusat duniaku itu yang baru itu kamu." Ujarnya santai, sambil meraih pergelangan tangan kekasih hatinya.
Lunar-perempuan cantik itu tersenyum jenaka.
"Gombal banget, aku jadi ragu kalau cuma aku yang berhasil kamu taklukkin. Diluaran sana, pasti banyak cewek yang udah kamu modusin kan?" Tanya sang kekasih hati.
"Hayoo, ngaku?" Tudingnya lagi.
"Gak Aisyahnya mas, cuma kamu satu satu-satunya." Ujarnya meyakinkan.
"Alah, Lunar gak percaya tuh." Ujar siempunya sambil bersidakep dada.
"Aisahnya mas, mas gak bohong kok. Mas-"
"Alah, neng geulis kenapa tidak masuk ke dalam?" Sapa wanita paruh baya yang masih nampak cantik diusia senjanya.
"Ibu, apa kabar?" Sapa Lunar sambil meraih punggung tangan wanita tersebut untuk diciumnya.
"Baik baik, neng geulis sendiri gimana kabarnya?"
Lunar tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Dewi-calon mertuanya kelak.
"Alhamdulillah, baik ibu."
"Yok yok masuk kedapan, ngapain cuma diem di depan pintu, pamali." Ujar beliau ambil mengajak Lunar masuk kedalam.
"Saha maneh, ngapain ikut masuk juga?" Sindirnya kepada sang putra.
"Ibu Dewintara Dyah Mentari tercinta. Masa lupa dengan Raden tersayang, putra tercintamu ini ibunda." Ujar Arkan hiperbola.
"Oalah, ibu kira kamu lupa jalan pulang ujang kasèp." Ujarnya menyindir.
"Lupa nomer orang tua juga, makanya lupa ngasih kabar orang tua di rumah." Ujarnya sambil mengajak Lunar masuk.
"Hm, kode keras akan mulainya penceramahan Ibunda tercinta." Gumam Arkan sambil beralalu dengan lesu.
Pagi ini, Arkan memang mengajak Lunar untuk mengunjungi orang tuanya di Bandung, weekend ini. Arkan sendiri tahu jika kedatangan Lunar selalu ditunggu oleh ibu dan keluarganya dibandung. Mereka bahkan tak segan-segan, untuk meminta calon putri erek kelak tuk menginap. Jika Lunar datang, Dewi tak segan segan memasak berbagai hidangan menggugah selera demi memanjakan calon menantunya ini.
"Tuang nu sèèr geulis, biar gemuk." Ujar Dewi, sambil menambahkan nasi kembali dipiring milik Lunar.
"Uhuk, uhuk."
"Minum dulu Aisyah, pelan pelan." Ujar Arkan, sambil menyodorkan segelas air putih tuk kekasih hatinya.
"Gak papa neng gèulis, gemuk itu berarti sehat." Ujar Dewi yang langsung membuat orang orang disana tersenyum tipis.
"Sudah atuh bu, kasihan itu Ai. Malu dia kalau begitu." Lerai Dewa-Ayah Arkan dan Aksara.
"Gak papa toh, sehat berarti neng geulis senang hidupnya." Ujar Dewi tak mau kalah.
Siang ini, meja makan terasa ramai karena kedatangan Lunar. Setiap kali Lunar datang, setelah hubunganya dan Arkan resmi. Keluarga pria itu selalu menyambutnya dengan hangat. Lunar juga pandai membawa diri, dan banyak di segani keponakan-keponakan Arkan.
"Abangmu itu tidak pulang kah?" Tanya Dewi saat mereka tengah berkumpul diruang santai.
__ADS_1
"Tidak tahu, abang lagi main ke Gorontalo."
Ujar Arkan santai, sambil mencomot potongan buah melon yang tengah disajikan sang kekasih hati.
"Manis Ai, kayak yang ngupas." Godanya.
"Orang yang ngupas Mbok Inah kok." Ujar Lunar santai.
Uhuk?
"Buahaha, mbok Inah dipuji manis sama si A'a."
Tawa sang keponakan, pecah saking lucunya ekapresi Arkan kini.
"Ekhem, makaudnya Aisyahnya mas yang manis kayak-"
"Gula Aren gitu, basi. Gula aren itu hitam loh, jangan mau digombalin receh teteh Lunar."
Ujar keponakan Arkan yang lainya.
"Kalian apaan sih, terserah A'a dong. Pacar pacar A'a." Kesal Arkan pada keponakan kembarnya tersebut.
"Tadi, Abangmu lagi kemana bang?" Tanya Dewi melerai.
"Gorontalo." Ujar Arkan gamblang.
"Ngapain?"
"Ngejar cinta kerabatnya Aisyah." Lunar mendelik kecil, jujur sekali kekasihnya tersebut.
"Maksud kamu?" Giliran Dewa yang bertanya.
"Iya, bang Aksa lagi liburan sama putri adiknya Ayah Vano, kerabat Aiayahnya mas." Tuturnya gamblang, yang langsung dapat cubitan dari Lunar.
"Aw aww, kenapa dicubit sih Ai?" Bingungnya.
"Bibirnya embet banger sih mas!"
"Tapi itu fakta kok Ai, mereka kesena buat pendekat-Aww."
"Bibirnya, ember ihh."
Maka tak ayal, jika banyak yang bilang mereka itu pasangan yang serasi. Bukan saja sama sama humoris, keduanya bahkan memiliki beberapa kesamaan hobby. Seperti sama-sama suka sate Taichan, suka motor menonton acara motor GP, suka membuat orang lain ketawa, dan banyak lainya.
Setiap main ke Bandung, keluarga Arkan selalu memanjakan Lunar seperti putri sendiri. Sejak dulu kala masih bertetangga, Dewi memang selalu suka jika berbincang bincang dengan si cantik Lunar. Oleh karena itu, ia juga sempat terkejut dan girang bukan main saat tahu Lunar akan menjadi calon menatunya.
"Ai, mas mau Ci cadas dulu. Ai mau ikut?"
Tanya pria tampan yang tengah merapihkan rambut lembeknya tersebut.
Setelah salat asar tadi, Arkan memang berencana untuk ke Ci Cadas untuk membeli laptop baru untuk kado keponakan kembarnya yang akan ulang tahun ke-17 minggu depan.
"Coba, mas lihat sini dulu." Ujar Lunar, yang langsung menurut.
"Ada apa Ai?"
Tanya Arkan yang hanya dihadiahi senyuman manis sang kekasih.
"Masa mau keluar rumah masih pake sarung mas?" Ujarnya jenaka yang langsung membuat Arkan tersentag.
"Astagfirullah, khilaf Ai. Untung kamu ngingetin, makasih ya cantik." Ujarnya malu, sambil berlalu terburu-buru.
"Dasar." Gumam Lunar kecil sambil terkekeh.
Setelah berbenah, Arkan membawa Lunar ke Ci cadas untuk mencari barang yang diinginkanya. Dua laptop, yang sudah diminta keponakanya semenjak tahun lalu. Kado ini, hitung hitung sebagai apresiasi bagi mereka yang akan segera lulus bangku sekolah menengah atas. Arkan membawa Lunar untuk membeli lapton di Bandung Trade Mall (BTM) salah satu pusat jual beli barang elektonik seperti komputer, laptop, printer, PC Gaming and Accessories, sales & sarvice computer PC-Notebook-Hardware-Networking upgrade your PC.
Arkan memiliki teman semasa kuliah yang merekomendasikanya untuk membeli barang incaranya, di beberapa toko terbaik disana.
Akhirnya, setelah mencari dan bertanya sana sini. Pilihan Arkan jatuh kepada laptop keluaran terbaru ,dengan spesifikasi yang menurutnya cukup untuk kebutuhan Lana keponakaanya. Sedangkan untun Leon-ia membelikan sebuah Personal Computer lengkap, berharga ratusan juta lebih.
Bukan kocek yang murah memang, namun itu semua terbayar karena barang yang dibelinya kualitasnya juga tak main main. PC dengan spesifikasi Motherboard TRX40 Soket sTRX4, Processor Ryzen thredripper 3970x (32 core 64 thread), Watercoller 240 tr4 II, VGA RTX 5000, SSD 6 512Gb slot M2, RAM 2×16GB DdR4, Harddisk/HDD 4Tb. Kiranya cukup untuk kebutuhan keponakanya Leon yang memang bekerja sebagai Gamers profesional, yang bekerja sibawah naungan sebuah perusahaan game online asal negri paman Sam tersebut.
Uang bukanlah segalanya menurut Arkan, ketimbang kebahagiaan dua keponakannya yang berstatus yatim piatu tersebut.
"Habis ini mau kemana lagi Ai?" Tanya Arkan.
__ADS_1
"Pulang aja mas, aku juga capek."
"Ok, my Lady." Ujarnya sambil tersenyum tipis menanggapinya.
****
"Ini apaan sih?" Gumam perempuan cantik bermukena maroon motif volcadot tersebut.
Selesai semunaikan ibadan salat isya,matanya tertuju pada sebuah map coklat berlogo sebuah perusahaan properti ternama milik sang kekasih. Disana juga ada selembar kertas yang jatuh dibawah kaki meja. Dibacanya dengan seksama, hingga ia menangkap artian dari kalimat kalimat tersebut.
"Perumahan di daerah Anggrek, atas nama
Lunarsyah Azzahra Az-zzioi, Aku?" Bingungnya.
Perasaan, ia sama sekali tidak membeli rumah diperumahan tersebut. Apalagi, melihat nominal yang tertera disana sangat besar jumlahnya.
"1.287.000.000,00."
I milyar 287 juta! Oh wow, Lunar saja hampir menjerit menbaca jumlah nol dibelakangnya.
Tetapi ia memang tidak salah baca, nominalnya memang segitu fantastisnya.
"Ai, sudah selesaikan?" Ujar suara dari belakangnya, memecahkan fokusnya.
"Ibu sama yang lain udah nunggu dimeja makan." Ujarnya sambil memeluk sang kekasih hati dari belakang.
"Mas, ini a-pa?" Tanya Lunar kecil.
Arkan terdiam sejenak, mencoba menimang-nimang kata yang pas untuk menjelaskanya.
"Itu-" Kok bisa ada diluar sih, batinya merutuki kebodohanya.
"Hm-hadiah buat kamu Aisyah." Ujarnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Kini Lunar menatap kekasihnya itu intens, menuntut jawaban yang pasti tuk meyakinkanya.
"Begini Ai." Ujarnya sambil meraih tangan kekasih hatinya.
"Dari dulu mas sudah nabung, satu untuk menikah dan satu lagi untuk anak dan istri mas kelak." Ujarnya.
"Rumah itu, mas beli dengan uang tabungan dari salah satunya untuk mahar menikmahi kamu."
"Mas, aku gak pernah minta mahar neko-neko dari kamu. Cukup surat Ar-rahman kayak bang Van'ar ke mbak Aurra. Gak usah berlebihan mas." Ujarnya menjawab.
"Iya, mas tahu Ai. Tapi, terlepas dari semua mas mau kasih sesuatu dari hasil kerja keras mas sendiri dan rumah ini, adalah salah satunya."
Ujarnya sambil tersenyum tipis.
Arkan meman sudah berencana untuk memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk calon istrinya kelak. Ia bahkan sudah menyisihkan hasil dari kerjakerasnya semenjak jauh-jauh hari. Rumah itu, semata mata untuk salah satu proferti untuk Lunar calon istrinya kelak.
"Mas harap, kamu tidak menolak pemberian mas sekecil apapun itu bentuknya Ai." Ujarnya.
"Iya mas, insaallah Lunar akan terima. Tapi, dalam batas yang tidak berlebihan." Jawabnya sambil tersenyum tipis.
Arkan tergerak, untuk memeluk perempuanya yang masih dalam balutan mukena tersebut. Ia bahagia sungguh, walaupun semua kebahagianya itu masih harus tetap menunģgu peresmianya diawal tahun depan. Namun, ia tetap dengar sabar menunggu. Karena, tidak akan ada buah yang mengkhianati hasil.
"Ekhem, bukan muhrim ya." Tegur suara Dewi diambang pintu, yang langsung membuat keduanya menjauh dengan kikuk.
"Ibu i-tu..." Gugup Lunar.
"Pokoknya, sebagai gantinya malam ini neng geulis harus dikarantina dikamar ibu." Ujar Dewi yang langsung membuat Lunar mendongrak.
"Yang penting, cucu ibu gak lahir duluan sebelum awal tahun depan kalian menikah."
Godanya yang langsung membuat keduanya tersenyum tipis.
"Ekhem, jadi prosesnya boleh dimulai dari sekarang ya bu?" Tanya Arkan jenaka, sambil menaik turunkan alisnya.
"Enak aja, berani sentuh putri ibu sebelum halal, tak sunat lagi burungmu." Ancam Dewi yang langsung disuguhi tawa nyaring dari keponakan Arkan.
Agaknya, Arkan harus benar benar menunggu hingga penhujung tahun baru menjelang. Karena di awal tahunya, jika Allah mengkehendaki ia akan memperistri kekasih cantiknya ini.
****
Jangan lupa like, vote, komentar, share & follow.
Sukabumi 29 Juli 2020
__ADS_1
12.55