Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 40 : Sweeth Couple VanRa


__ADS_3

...Alhamdulillah. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakhuma fiil hkairin....


..."mudah mudahan Allah memberkahi engkau dengan segala hal ( yang baik )dan mempersekutukan kamu berdua dalam kebaikan."...


...BSJ 40 : Sweeth Couple VanRa...


...****...


H-2 acara pernikahan putra kedua dari pengusaha pemilik perusahaan besar-RADITYAN CROP'S itu telah berlangsung dengan megahnya. Acara pedang pora yang di langsungkan dari pagi telah usai. Keingin GG bersaudara pun telah terpenuhi, mereka sempat mengikuti acara tersebut. Kini H-3 di acara pernikahan Keevan'ar Radityan Az-zzioi dengan sang istri Aurra Putri Haidan.


Acara hari ini terlihat lebih sederhana.


Tamu undanganpun hanya dari pihak keluarga, kerabat, dan teman sejawat. Setelah acara pengajian dan syukuran, acara di lanjutkan dengan makan makan bersama.


Kedatangan Galaksi dan Gemintang tentu disambut gembira oleh semua orang. Belum lagi, kedua pria muda tampan itu kedatanganya hampir menyedot seluruh perhatian kaum hawa pagi tadi. Keduanya datang dengan pakaian casual, namun tidak mengurangi kadar ketampanan keduanya.



Sang Kakak--Galaksi datang dengan stayle formal casual-nya. Di mana ia mengenakan jas berwarna silver yang dipadukan dengan dalaman kaos putih. Tak lupa kacamata yang bertengger apik di hidung bangirnya. Wajah tampanya di hiasi senyum manis yang siapa sangka, menutupi identitas aslinya seagai seorang agen di balik sejuta pesonanya.



Sedangkan si bungsu--Gemintang datang dengan pesona stay cool-nya. Rambut hitam kecoklatanya sengaja ia sisir kesamping. Sebuah sungless hitam bertengger apik di hidung mancungnya. Dengan Jaket kulit hitam dan kaos hitam, ia melenggang santai tanpa peduli puluhan kaum hawa yang menelan ludah menatap pesona ketampananya. Lagi pula ia tak peduli, yang membuat senyumnya terbit adalah ketika ia menemukan wajah cantik yang tak dimakan waktu. Ya-Arkia bundanya, wanita yang amat dirindukanya.


Selepas acara hari ini, Arkia dan Vano mengajak sisa kerabatnya yang masih tinggal untuk menginap. Pukul sepuluh lewat lima belas malam, semua orang sudah mulai kembali kekamarnya masing masing. Memulai ritual istirahatnya untuk melepaskan penat.


"Capek ya dek?"


Lirih pria tampan yang masih mengenakan kain sarung untuk bawahanya tersebut.


Gadis cantik itu tersenyum di balik kain penutupnya.


"Sedikit kok mas."


"Biar mas pijit sebentar, mas ambil minyak dulu."


Pria tampan itu masuk kekamar mandi terlebih dahulu, menganti sarung dan baju kokonya dengan pakaian yang lebih santai.


Celana santai panjang dan kaos putih berlegan pendek, mencetak jelas otot bisip pria tampan tersebut. Dengan perlahan ia memijat pergelangan kaki sang istri. Walaupun ia tahu gadis itu masih merasa sedikit sungkan memperlihatkan kulitnya tanpa penghalang apapun. Ia tahu itu, oleh karena itu ia menghargai apapun pilihan sang istri.


Aurra--gadis itu tersenyum bahagia saat hatinya menghangat akan segala perlakuan manis sang suami. Tiga hari menyandang status sebagai nyonya Van'ar, dirinya benar benar merasa di hargai nan di hormati. Suaminya jauh lebih dewasa ketimbang usianya. Suaminya sangat peka akan kecanggunganya. Suaminya adalah pria gantle yang selalu sabar menunggunya membuka hati.


"Mas, boleh aku tanya sesuatu?"


Cicitnya kecil. Sebenarnya semenjak hari pertama menikah, ia ingin sekali menanyakan ini.


Pria tampan itu mendongkrak, menatap sang istri penuh kasih.


"Tentu, ada apa dek?"


"Mm, itu-box bayi-punya siapa?"


Tanyanya ragu.


"Kok ada disini?"


Van'ar-pria tampan itu tersenyum mengerti. Diraihnya tangan kananan sang istri, sambil mengenggamnya lembut.


"Itu untuk anak anak kita kelak."


Aurra speechles mendengar jawaban sang suami.


"Jauh sebelum aku memiliki planning untuk melamar seorang wanita, aku sudah mempersiapkan cincin ini." Ujarnya sambil mengusap lembut cincin yang ia gunakan untuk melamar sang istri.


"Tapi ternyata, cincin itu kini menemukan pemiliknya."


Lanjutnya.


"Sama halnýa dengan box bayi tersebut. Aku membuatnya sejak dulu."


Aurra terbelalak, jadi box bayi itu handmade?

__ADS_1


"Box bayi itu aku buat saat membantu temanku yang berasal dari Jepara. Dia punya sentral kerajinan ukiran kayu." Tuturnya.


"Saat itu dia di remidial Pelajaran Sains pas UAS. Dia memintaku mengajarinya, dan sebagai imbalan aku boleh minta apapun."


Pria tampan itu berhenti sejenak, namun masih tetap mengelus lembut telapak tangan sang istri.


"Aku tidak minta apa apa sebagai imbalan, karena mas ikhlas mengajarinya. Aku waktu itu minta diajarkan membuat kerajinan dari kayu, sebagai gantinya." Jedanya.


"Dan jika kamu bertanya kenapa aku membuat box bayi bukanya kerajinan bernilai tinggi lainya, aku akan menjawab, jika aku ingin menjadi calon suami juga calon ayah yang memberikan hasil jerih payah dari tanganku sendiri, walaupun itu tidak seberapa."


Fix, Aurra meleleh dengan jawaban pria yang berstatus sebagai suaminya ini. Pria itu dewasa dikala usia mudanya. Pria itu punya pemikiran luas dimasa remajanya.


"Lihat, disana aku pasangkan berbagai pernak pernik yang aku suka. Aku buat box bayi itu dari kelas dua SMA. Awalnya bunda kaget aku bawa box bayi pulang kerumah. Katanya buat apa? Ya aku bilang saja untuk calon anakku kelak."


Jawab pria tampan itu gamblang.


Aurra mengerti sekarang-ternyata suaminya itu hanya ingin memberikan sesuatu yang terbaik dari tanganya sendiri, untuk keluarganya kelak.


"Kalau mas boleh minta, mas mau Allah cepat kasih anugrah itu disini." Ujarnya sambil menunjuk perut rata Aurra yang tertutup oleh gamis longgarnya.


Aurra tertegun, apa suaminya ini memberikan semacam kode? Ahh, Aurra menjadi gugup menanggapi sikap suaminya ini.


"Sstt, kamu jangan takut. Mas gak akan maksa kamu, kalau kamu belum siap dek."


Ujarnya lembut sambil mengenggam kedua tangan sang istri.


"Mas masih sanggup kok buat nunggu lebih lama lagi. Menunggu bertahun tahun untuk menjadikanmu istri saja, mas sanggup."


Lanjutnya.


Aurra ikut tersenyum di balik penutup hijabnya, ternyata Allah telah memberikan imam setulus ini kepadanya.


"Terimakasih mas."


Jawab Aurra sambil membalas genggaman sang suami.


Ia bahagia, amat sangat bahagia kini.Suaminya sangat pengertian juga penuh kepekaan.


Ujarnya dijawabi anggukan oleh sang istri.


Sepeninggalanya Van'ar, Aurra menatap pantulan wajahnya di cermin. Apakah ia harus memperlihatkan wajahnya, bukankan Van'ar suaminya. Lalu kenapa ia merasa ragu?


Pria itu sangat tulus mencintainya, seharusnya ia juga menghilangkan setitik keraguan itu. Ya, ia harus membuka lebih lebar lagi kepercayaannya untuk sang suami yang sangat menyayanginya, bahkan mencintainya. Ia harus membuka lebih luas lagi hatinya, untuk menyetarakan perasaanya untuk sang suami tentunya.


"Dek, mas lupa bilang-"


Pria tampan yang keluar dengan rambut basah-karena habis wudhu itu tertegun di depan pintu.


Didalam hati ia mengumamkan kaliamat pujian kepada tuhanya. 'Subhanallah.'


Dalam beberapa persekian detik ia tidak mampu berpaling. Objek di hadapanya ini sungguh mempesona jika dipalingkan dari retina matanya. Ia merasa menemukan seorang bidadari yang di ceritakan dalam Al~qur'an sebagai penghuni surga, hadir dihadapanya.


"M-mas k-kenapa, gak su-ka ya?"


Cicitnya kecil menahan tangis.


Pria tampan itu menggeleng keras, berjalan cepat kearah sang istri yang terlihat menunduk dalam. Ia tahu tak mudah melakukan sampai sejauh ini, secara apa yang ia jaga akhirnya di perlihatkan kepada seseorang selain kedua orang tuanya.


"Hey, lihat mas."


Lirihnya sambil mengenggam kedua tangan sang istri.


"Kamu.... cantik." Ujarnya sambil tersenyum hangat meyakinkan sang istri. Ia benar, istrinya itu cantik, sangat cantik malahan.


Mata hazel indahnya menatap ragu wajah sang suami. Bulu mata lentiknya mengerjap nerjap beberapa kali. Alis hitam tebalnya tergaris rapih, hidung mungilnya yang mancung. Bibir mungilnya yang berwarna merah alami,tanpa perona bibir, cukup madu yang melembabkanya. Pipinya yang putih bersih nan mulus terlihat bersemu, tanpa polesan bedak tentunya. Surai hitam pekatnya yang menjuntai indah terlihat sangat halus. Tak perlu shampo dan conditioner mahal, cukup minyal zaitun dan kemiri yang merawatnya. Tumbuh dengan lebat dan hitam hingga mencapai pinggul.


"Tidak perlu takut, mas suka."


Jawab Van'ar sambil meraih pipi mulus sang istri untuk dibelainya.


"Terimakasih telah menjaga semua ini, untuk mas." Lanjutnya sambil membenamkan ciuman hangat penuh cinta dipucuk kepala sang istri.

__ADS_1


Menghirup aroma shampo sang istri yang menenangkan seperti harum rambut bayi. Halus dan lembu seperti surai bayi yang terawat.


"Istri mas sangat cantik."


Lanjutnya sambil memeluk tubuh mungil yang terlihat bersemu merah tersebut.


Aurra--wanita cantik yang tengah dilanda kegugupan itu perlahan menjawab pelukan sang suami. Ia didera kelegaan kini, awalnya ia khawatir suaminya akan kecewa saat melihat dirinya tanpa hijab. Tetapi, ia bersyukur apa yang telah ia jaga bertahun tahun lamanya kini dapat diterima oleh suaminya, pria yang lambat laun memenuhi rongga hatinya dengan cinta.


'Terimakasih ya-Allah, sudah memberikan suami sebaik dia untuk Aurra. Terimakasih ya-Allah.'


Doanya penuh syukur kepada sang ilahi.


****


Malam sudah berangsur angsur berlalu. Hitamnya lagit memang masih membentangi jagat raya ini, namun waktu mulai menunjukkan waktu salat subuh. Pria tampan itu mengerang kecil dibalik tidurnya, meloloskan bola mata tajamnya uang kini terjaga. Bibir kissable-nya menggumamkan doa setelah bangun tidur. Perlahan tapi pasti, ia menoleh kepada sisi tempat tidur lainya.Menatap bidadari cantiknya yang terlelap damai, dengan beralaskan lenganya sebagai bantal.


Deru napasnya terdengar teratur, bulu mata lentiknya terlihat menutupi mata indahnya. Bibir merah alaminya terlihat tersenyum ditengah tidurnya. Subhanallah, ia selalu saja di buat terpukau oleh ciptaan tuhan yang satu ini.


Cantik alami, tanpa adanya permak dari alat alat kedokteran ataupun make up berlebihan. Dirapihkanya rambut hitam yang terasa halus ditanganya tersebut. Menyentuh pipi bersih tanpa noda itu penuh kasih, sambil berujar kecil.


"Dek bangun."


Ujarnya lirih, sambil meneliti respon dari si empunya.


Pagi ini sungguh luar biasa, ia terbangun dengan kebahagian sebesar ini. Bangun dengan sambutan wajah càntik sang istri yang tidur di dalam pelukanya.


"Dek, bangun yuk. Salat subuh dulu."


Lanjutnya, sambil menyelinapkan beberapa helai rambut sang istri kebelakang.


Lenguhan kecil terdengar dari bibir mungil sang istri, sebelum manik hazelnya lolos dari kelopaknya.


"Aurra kesiangan ya mas?"


Tanyanya sambil mengerjapkan matanya.


"Tidak kok."


Ujar Van'ar sambil menjatuhkan kecupan hangat dikening sang istri.


"Selamat pagi, istriku."


Sapanya dengan senyum yang mengembang.


Aurra kikuk dibuatnya, sungguh perlakuan masis sang suami ini tidak terlalu baik untuk kesehatan jantungnya. Jantungnya menjadi berdebar ria bak habis lari marathon berkilo-kilo jauhnya.


"Mas mandi dulu di kamar samping, kamu mandi dikamar ini. Setelah itu kita subuh berjamaah."


Ujar Vàn'ar mengintrupsi.


Pagi ini sungguh luar biasa, suasana baru amat kentara. Keterbukaan menyambut rasa lega yang mendera. Keduanya berpegang teguh akan janji Allah, baik Van'ar maupun Aurra percaya jika-orang yang baik akan berjodoh dengan orang baik lainya. Allah selalu menampati janjinya, tak datang terlambat ataupun terlalu cepat, namun datang diwaktu yang tepat. Dan mereka yakin Allah telah mengirimkan jodoh terbaik lewat ujian ujianya yang terdahulu. Mereka yakin, ini adalah awal dari kebahagian yang membentang dihadapan, walaupun banyak kerikil menghadang.


****


To Be Continue


Hallo readers, up lagi yoo😊😊


Maaf nih dikit ya?


Gimana udah meleleh belum?


sok ah, komennn like dan vote jangan lupa😊😊


Biar makin semangat nulisnya.


Ok, sampai jumpa lagi yoo😊😊


Sukabumi 27 Mei 2020


09.30

__ADS_1


__ADS_2