
..."Apapun cara bersih yang kau lakukan untuk menututip sebuah kejahatan, akan sia-sia saja pada akhirnya."...
...-Galaksi Reynand Pradipta-...
...BSJ 58 : Terjebak...
...****...
"Mr.Noah?" Tanya seorang recepsionis.
"Yes." Jawab pria rupawan yang mengenakan sunglass silver tersebut.
"Number 204." Ujar wanita yang menjadi recepsionis tersebut sambil menyerahkan kunci kamar pria tampan di hadapanya.
"Thanks." Pria tampan itu berlalu setelah mengucapkan terimakasih.
Sebelah tanganya menyeret koper hitam kecil miliknya. Sebelah tangan lainya ia gunakan untuk menelpon sang saudara di ujung sana. Sesampainya di kamar hotelnya, pria tampan yang memiliki campuran darah Inggris dari sang ayah itu langsung membuka kopernya. Isinya bukanya barang barang bawan kebanyakan seperti baju, atau peralatan mandi. Melainkan seperangkat komputer server canggih yang terhubung dengan workstation yang ada di New York.
"Penerbangan berikutnya, terbanglah ke Macau."
"Ok brother." Setelah terputusnya sambungan telpon mereka, dia mengeluarkan walky talky dari dalam kopernya.
"Up, tim A'raider masuk." Ujarnya kepada benda yang memungkinkan pengguna saling berkomunikasi dua arah secara bergantian (Half Duplex).
Krekk
Krekk
"Tim A masuk, Black Brothers." Bunyi suara diujung sana.
"Hm, segera siap di posisi yang telah di tetapkan. Awasi target selama 24 jam lamanya. Sisanya alihkan pasanganya untuk sementara saat penyergapan."
"Baik." Pria tampan itu memutuskan sambunganya.
Galaksi Reynand Pradipta-pria rupawan itu beranjak, menyimpan komputernya di atas meja. Mengoperasikanya, mengetikkan beberapa kode rahasia untuk mengakses perangkat lunak organisasinya. Pria tampan itu mulai fokus akan kerjanya. Misinya akan segera selesai, puncaknya malam nanti. Akan segera dia akhiri banyaknya drama dalam kehidupan saudaranya.
Sore menjelang, pria tampan dengan kacamata silver itu keluar dengan ekpresi andalanya di wajah tampanya. Rambut hitanya tertata biasa, namun nampak indah menambah kadar ketampanan yang di milikinya. Namanya boleh saja Mr.Noah, tetapi dalam jati dirinya tetaplah Galaksi Reynand Pradipta.
Ia turun ke bawah untuk menuju restoran, mengisi perutnya yang bahkan lupa beberapa saat ia isi. Sepiring pasta yang menggugah selera nampak nikmat menjamu lidahnya. Sebelum berperang ia butuh makan bukan?
"Bang?" Ia mendongrak, menatap kedatangan seorang pria bermarga sama seperti dirinya.
Harusnya dari New york kurang lebihnya memakan waktu 22 jm 35 menit dengan satu kali transit. Tapi kini pria itu sudah ada di hadapanya,dengan secepat ini. Padahal ini belum ada 22 jam semenjak ia menelpon.
"Tadi sudah di jalan." Jawabnya santai sambil duduk di hadapan sang kakak.
"Makanya cepet sampai." Lanjutnya.
Kini keduanya ada di Macau, pusat perjudian terbesar di dunia, di juluki sebagai Las Vegas di Asia. Tempat ini sangat terkenal dengan hingar bingar dunia perjudianya, kasino besar terdapat di mana-mana. Oleh karena itu, kini keduanya berada dinegara ini. Karena target mereka tengah berada disini.
"Dia sama istrinya bang?"
"Hm." Jawab Galaksi santai sambil menikmati makananya. "Kenapa, mau makan?"
Pria tampan itu menggeleng cepat.
"Tidak, jarang saja lihat abang makan lahap. Saking jarangnya abang makan." Ujar Gemintang menjawab.
"Hm."
"Abang keknya butuh istri, biar ada yang ngurus." Galaksi mendelik tak minat akan candaan sang adik.
"Bercanda bang." Ujar Gemintang.
"Boleh pesen kan bang? Jetlag ini perut kayaknya, makanya laper tiba tiba."
"Hm." Gemintang mengumbar seulas tipis senyumnya, sebelum memanggil waiters.
Ngomong ngomong sudah lama sekali mereka tidak makan bersama seperti ini. Saking sibuknya, mereka bahkan jarang punya waktu bersama. Selain tugas study perguruan tinggi yang tengah dienyam, misi mereka juga menanti tuk diselidiki.
Tapi kini mereka sudah siap dengan segala resiko apapun itu. Ini jalan yang dipilih oleh keduanya. Membuka jaringan koneksi melalui organisasi yang menaungi mereka. Setidaknya, suatu saat nanti mereka berdua bisa mengungkapkan misteri kematian kedua orang tuanya juga kakeknya.
Malam mulai menggantikan tugas sang surya. Langit gelap mulai menyelimuti kota Macau. Kedua pria bersaudara itu telah bersiap. Rencana mereka akan berhasil kali ini.
"Sudah siap bang?"
Pria tampan yang disapa itu menoleh. Kali ini, dia bertugas sebagai pemancing target.
"Tentu." Jawabnya mantap sambil menoleh ke arah samping.
__ADS_1
□□□□
"Kamu mau kemana?" Tanya wanita yang tengah berbadan dua tersebut.
"Apa urusanmu?" Tanya pria berjas rapih tersebut.
"Aku cuma bertanya." Wanita cantik dengan perut buncit itu berujar lirih. Akhir akhir ini, suaminya itu terasa acuh kepadanya.
Padahal dari dulu ia tahu, jika pria tampan di hadapanya sangat mencintainya. Apalagi kini ia tengah mengandung buah hati mereka. Di usia kehamilanya yang memasuki bulan ke-enam, wanita cantik itu merasa pria yang menjadi suaminya ini berbeda. Belum lagi kini ia tahu semua pekerjaan gelap yang di lakoni suaminya. Sejauh ini Logan-suaminya bermain sangat bersih. Semenjak menikah, dia sangat possesiv kepada istrinya. Bahkan Logan secara sengaja membuat sang istri resign dari dunia modelling yang telah membesarkan namanya.
"Ada apa, apa ada hubunganya urusanku dengan pertanyaanmu?" Tanyanya datar.
Nata menggelengkan kepalanya mantap. Ia lebih memilih bungkam dari pada memancing emosi suaminya. Hidup bersama pria yang pernah menjadi kekasihnya selama beberapa bulan ini, membuat dia tahu tabiat asli sang suami. Sebulan belakangan ini misalnya, Logan-selalu rutin membawa para wanita One Night Stand atau ONS pesanannya ke hotel tempat tinggalnya dengan sang istri. Pria itu bahkan tanpa ragu mencumbu wanita acak di depan istrinya sendiri.
Jika Nata menganggu atau banyak bertanya, ia tak segan segan untuk menampai atau mengancam akan membunuh kedua orang tua Nata.
"Ingat, aku menikahimu hanya untuk menghancurkan hidupmu."
Deg
Nata mengepalkan tanganya kuat kuat. Bohong rasanya jika hatinya tak sakit dan nyeri akibat ucapan pria di hadapanya. Cukup hidupnya di buat menderita, kariernya hancur, keluarganya terancam pula. Semua itu ulah Logan, pria tak berprikemanusiaan yang mulai menunjukkan tanduk setannya. Mengungkap sedikit demi sedikit tabiatnya.
Nata bahkan di larang pergi kemanapun, agar tidak kabur dari jangkauanya. Logan bahkan tak segan segan untuk mengerjakan puluhan bodyguard untuk menjaga istrinya yang tengah mengandung.
"Tetaplah di sini, dan cobalah jadi istri yang baik." Desis Logan sambil mencengkram kuat rahang sang istri, sebelum berlalu begitu saja.
Logan yang kejam is back. Pria itu bahkan tega mengagahi Nata yang tengah hamil secara paksa, jika wanita itu berani menganggu kesenanganya. Yang Logan jaga hingga kini hanyalah bayinya, penerusnya yang ia titipkan di rahim wanita itu. Karema bagaimanapun juga, Logan tidak akan mau penerusnya lahir dari para wanita One night stand bayaranya. Ia tak sudi sama sekali.
Air matanya tanpa di duga luruh begitu saja.
Bagaimanapun juga ini jauh dari imajinasinya selama ini tentang pernikahan. Ia tidak pernah menyangka, pria yang belakangan diharapkan menjadi suami yang baik kini telah memperlihatkan tabiat aslinya.
"Sabar ya babby, daddy mungkin lagi marah sama mommy." Lirihnya sambil mengusap perut buncitnya.
Lama, dirinya terlatut dalam tangis. Hingga ketukan pintu menganggu indra pendengaranya. Dengan langkah pelan dan wajah sembab, wanita cantik itu membuka pintu hotelnya. Maniknya menatap penuh selidik empat orang berpakaian serba hitam di hadapanya. Mereka nampak asing, bukan seperti bodyguard yang biasanya dipekerjakan sang suami.
"Siapa kalian?" Tanyanya.
"Itu tidak penting saat ini nyonya, yang terpenting adalah keselamatan anda sebagai saksi."
Nata menatap pria yang berbicara denganya kini penuh tanya. "Saksi?"
"Sebaiknya anda ikut dengan kami, tanpa melakukan perlawanan."
Pria itu mengisyaratkan dua rekanya untuk maju. "Jangan mendekat, atau saya teriak."
Ujar Nata sambil memeluk perut buncitnya, menjaga buah hatinya dari kemungkinan yang tidak diinginkan.
"Ayo nyonya."
"Tidak."
"Paksa dia, tapi jangan sakiti dia."
"Baik."
"Lepas?!"
"Lepaskan aku, jangan sentuh aku."
Bruk
Tubuh mantan top model itu luhur ke dekapan salah satu di antara mereka. Memberontak saja tidak akan nerarti. Untuk meminimalisir tindakan brutal yang lebih jauh, mereka lebih memilih memberinya obat bius.
"Langsung terbangkan saksi ke New york."
"Baik."
□□□□
Hingar bingar dunia malam amat kentara diruangan yang di penuhi meja meja untuk bermain kartu tersebut. Tempat itu tak lebih ramainya dari sebuah club malam. Dentuman musik juga terdengar keras memekat diindra pendengara. Para waiters berdanda layaknya pelayan club malam, dengan seragam pas body yang kekurangan bahan. Minuman haram dimana mana,bahkan transaksi haram berputar disekitaranya. Tapi, yang ia cari bukan disini.
"Mr.Noah?" Tanya seorang pria bertubuh kekar itu.
"Yes, I'am." Ujarnya datar dan coolnya.
"Please, follow me." Ujar wanita berambut pirang di sampingnya, sambil diiringi pria berbadan kekar disampingnya.
Galakasi-atau Noah, mengangguk mengiyakan. Pria tampan berjas kotak kotak salur itu mengikuti keduanya dengan santai. Berkat kartu member VVIP miliknya, ia akan di bawa ke private room yang berada di ruangan paling tersembunyi di gedung ini. Dengan koneksi yang dimilikinya, Galaksi tentu bisa mengakses segala hal diberbagai penjuru dunia.
Kedua orang itu mengantarkan Galaksi hingga ruangan mewah yang di dominasi interoir gelap dan emas yang menekankan etesi glamour di sana. Jadi siapaun yang berada di sini, siapa sangka mereka tengah berada di perut bumi.
"Up, siapkan pemindai. Target sudah di temukan." Lirihnya memberi intruksi lewat gerakan isyarat. Mengingat di pakaian yang melekat di tubuhnya sudah di pasang GPS juga pemindai yang terhubung dengan rekan rekanya.
"Jadi, dimana barangnya?" Tanyanya to the point.
__ADS_1
Di sinilah segalanya bermula, beredar, bergilir dan bertransaksi. Puluhan korban siap jual dari berbagai negara, barang haram siap edar, juga benda benda langka yang diincar banyak kalangan di dunia di transaksikan di sini.
"Oh, anak muda seperti anda sangat bersemangat mr.Noah." Ujar seorang pria yang kini menjadi lawan bicaranya.
"Yeay, dalam bisnis waktu adalah segalanya."
Ujar Galaksi santai sambil memasukkan tanganya kedalam saku.
"Woah goodjob, aku suka client berjiwa membara seperti anda mr.Noah." Sela seorang pria yang memang di tunggu tunggu kedatanganya.
Galaksi tersenyum miring, saat targetnya berhasil masuk keperangkap buatanya.
"Segalanya tentang uang selalu berputar dengan waktu yang cepat bukan?"
"Yeah, aku setuju denganmu anak muda."
Ujarnya sambil mendudukkan dirinya sambil mengajak wanita sexy bergaun merah di samping duduk bersamanya.
"Jadi, berapa yang kau tawarkan untuk barangku ini?" Tanyanya sambil mengenggam tangan wanita disampingnya.
"2 Milyar di muka, sisanya akan ku transfer saat barang sampai di tanganku."
Logan-pria yang duduk dengan santai itu tercekat, ia kagum dengan penawaran yang menggiurkan dari client barunya ini.
"Kau yakin? Apa kau pernah bertransaksi lebih dari ini sebelumnya?" Tanyanya mengintrogasi.
Galaksi tersenyum miring, ia tahu jika targetnya ini mulai menaruh curiga.
"Yeay, dari usia belia dunia gelap ini yang menjadi rumahku. Bahkan jumlah tersebut hanyalah remahan kecil untukku." Jawabnya.
"Hidup itu tentang berkorban, seberapa besar pengorbananmu demi hasil yang lebih. Itu yang kamu raih buahnya dikemudian hari." Logan bertepuk tangan, memecahkan keheningan di antara mereka.
"Yeah, aku suka gayamu." Ujarnya sambil berdiri dan menjabat tangan Galaksi.
"Boleh aku lihat barangnya?"
"Yeah, tentu saja." Logan menjelentikkan jarinya. Tak lama kemudian datanglah anak buahnya membawa sebuah tas koper berisi barang haram yang menjadi investasinya.
"Cantik bukan, ini harta milikku." Ujar Logan saat tas koper itu dibuka.
"Hm, tetapi tidak selama harta yang indah itu dapat membahagiakanmu."
Logan menyerngitkan alisnya, menebak nebak maksud dari ucapan client-nya.
"Karena terkadang keindahan itu ilusi nyata yang menyesatkan mata." Ujar Galakasi mantap, seperkian detik berikutnya Logan menatapnya sengit.
"Kau-"
"Aku, malaikat mautmu." Ujar Galaksi mantap, seiring dengan masuknya team yang telah di persiapkan dengan matang. Menyebar luas di salah satu kasino yang di jadikan target untuk melakukan transaksi.
"Shit?! kemana orang orangku?" Geramnya kesal, ia meraih senjata api di balik jasnya.
"Waktumu sudah habis Logan Gallion Smith Andderson." Ujar Gemintang yang datang di balik kerumunan team keamanan.
Logan tak bisa berkutik, bahkan para client miliknya yang lain juga orang orangnya sudah tertangkap.
"Sial*n?!"
DOR
DOR
Pria tampan itu mengarahkan mata senjata apinya kebrberapa arah, berharap dia bisa melarikan diri.
"Aku tidak akan semudah itu tertangkap ak-Ahkkk." Ujarnya terputus kala jeritan menyakitkannya terdengar.
"Ups, kena kau." Ujar Gemintang sambil meniup ujung laras panjangnya yang berhasil mengenai kaki kiri Logan. Membuat pria gagah itu tumbang dengan rintihan menyakitkanya. Senjata laras panjang tanpa suara kesayangan
Gemintang.
"Melawan lagi, jangan harap nyawamu masih tersisa." Desisnya tajam.
Tak ada kesempatan untuk melawan. Jaringan peredaran barang haram skala Internasional yang berputar di tempatnya ini telah di amankan. Hampir dua ratusan team turun tangan secara langsung bersama agen penjaring penjahat Internasional. Bukan saja diganjar karena perjualan barang haram, human traffiking, Logan juga di ganjar akan pelaku pembunuhan 5 orang petinggi negara As yang berpengaruh. Kasus penculikan dan pembunuhan yang di lakukanya secara apik sekitar 2 tahun yang lalu. Para penjahat Internasional itu langsung di gelandang ke Amerika, karena di sana hukum Internasional akan menganjar mereka.
□□□
To Be Continue
Pagi guyss, hayooo yang mau Si Logan Mulia ditangkap. Nohhh, buat istrinya kita lihat karma is real itu ada. Gimana, kangen gak sama VanRa?? Kangenn?? yowisss di tunggu hajah.
Jangan lupa like, komentar yang banyak dan vote yaa😊😊
Sukabumi 13 juni 2020
05.13
__ADS_1