
...ليس أحد إلا وهو يفرح ويحزن، ولكن اجعلوا الفرح شكراً والحزن صبر...
...“Setiap insan pasti pernah merasakan suka dan duka. Oleh karena itu, jadikanlah sukamu adalah syukur dan dukamu adalah sabar.”...
...BSJ 27. Menaklukan Hati...
...****...
Duka karena kehilangan tentu meninggalkan luka yang amat dalam. Suka dan duka datang silih berganti, tiada berhenti. Senang dan duka adalah sunatullah yang pasti mewarnai ke hidupan ini. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan Kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. Allah senantiasa membolak balikkan hati dengan suka dan duka yang mewarnai.
Allah yang menciptakan kebahagiaan dan kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya Kesedihan di ciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Tuhan yang maha rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri. Hinggalah ia mengadu harap di hadapan Allah. Merendah merengek di hadapan Allah. Bersimpuh pasrah kepada Tuhan yang maha penyayang. Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86).
Tentu saja ini adalah pedoman yang sampai kini di pegang oleh Keevan'ar Radityan Az-zzioi. Berserah diri kepada sang khalik saat cobaan menderanya. Melantunkan doa dan kegelisahan di tiap sujudnya. Karena ia tahu Allah yang senan tiasa membuat mahluknya senang dan sedih maupun tertawa dan menangis. Sebagaimana di terangkan dalam firmanya :
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 43).
Oleh karena itu, tidaklah tercela bila seorang merasa sedih. Itu adalah naluri. Tak ada salahnya bila memang sewajarnya.
Namun kita juga harus kembali ingat, Allah maha mengetahui. Ketika datangnya musibah dalam bentuk apapun, sudah sepatutnya kita menangisinya dengan sewajarnya. Sedih dan menangis itu manusiawi karena beratnya cobaan, tetapi tetap ingat kadar meratapi kesedihan itu sendiri. Jangan sampai berlarut larut dalam kesedihan sehingga kita putus asa.
"Aurra?" Sapa wanita cantik bergamis cream tersebut. Rambut Hitam bergelombanya terlihat terhembus angin dengan ringanya.
"Mbak Q, ada apa?"
Tanya si empunya nama menjawab pertanyaan wanita disampingnya ramah.
"Sudah lama ya kita tidak ngobrol berdua."
Ujar wanita cantik tersebut, sambil beranjak mendudukkan dirinya disamping gadis yang duduk di atas kursi roda tersebut.
"Boleh duduk disini kan?"
Gadis berhijab syar'i berwarna abu abu muda itu mengangguk, meng-iyakan.
"Cewek itu secantik apa sih Ra, sampai sampai sepupu mbak itu mabuk kepayang saking sayangnya?" Tanya Q, sambil menatap pemandangan halaman rumah keluarga besarnya lurùs.
"Aku gak tahu mbak, calon suamiku saja aku tidak tahu wajahnya." Tutur Aurra sambil menunduk.
Wanita cantik yang juga berprofesi sebagai model itu ber'oh ria. Padahal dirinya terkejut bukan main. Ini bukan zaman siti nurbaya lagi, dimana perjodohan kolot itu masih berlaku. Ini abad 21 yang sudah canggih akan teknologi. Tidak bertemu secara langsung ya bisa melihatnya secara visual melalui online. Bisa melalui fhoto, video, videocall atau sebagainya.
"Yang sabar ya Ra. Mbak juga tahu rasanya pasti sangat sakit, tapi mbak juga tidak tahu harus bicara bagimana." Ujar Q sambil menatap lurus sekelilingnya.
Ia tahu gadis disampinya ini pasti memendam kekecewaan yang amat besar di balik keteguhanya. Pasalnya ia juga kecewa dengan keputusan sebelah pihak yang di ambil oleh sepupunya tersebut.
"Tapi mbak yakin, Allah pasti akan memberikan kamu pengganti yang lebih baik dari dia."
Ujarnya sambil melirik seseorang yang baru datang disampingnya.
Aurra mengangguk meng-iyakan. Semoga saja, memang itu yang akan Allah rencanakan untuknya.
"Mbak kenapa lihatin aku begitu?"
Tanya suara nge-bass itu datar.
Q tersenyum sinis, ia paling kesal jika di hadapkan dengan mahluk dingin dan datar atau sejenisnya seperti dia.
"Kalau nanya itu senyum dong bang, lurus aja kayak jalan tol." Guraunya.
"Hm."
Selow respon pria muda yang kini ikut bergabung duduk dua langkah di depan keduanya.
__ADS_1
"Sayang ya, wajah ganteng ganteng bau bau kencur. Eh, garangnya minta ampun! Mana datarnya ngajak tempur lagi."
Ujar Q sambil terkekeh geli, menggoda sepupunya yang satu ini kadang kadang membuatnya senang sekaligus jengkel karena responya.
"Mbak, jangan mulai!"
Intruksi pria muda berkaos hitam polos dengan logo puma kecil tersebut.
"Lagian ya, mana ada cewek yang suka sama kapten jutek kaya kamu bambang." Ujarnya semakin menjadi.
"Namaku Van'ar, bukan bambang!"
Datarnya.
Aurra yang menyaksikan perseteruan keduanya hanya tersenyum kecil dibalik penutup hijabnya. Kehadiran keduanya sungguh memperbaiki moodnya sedikit banyaknya. Semalam ia menginap di kediaman Radityan. Pagi tadi juga Ayah dan Bundanya sudah pulang beserta adiknya, namun ia masih tertahan disini karena Arkia yang memintanya. Sebenarnya ia merasa canggung berada disini saat ini, namun mengingat keluarga Radityan sangat ramah kepadanya, membuat Aurra nyamam disini.
"Kamu sudah minum obat Ra?" Tanya Van'ar memecahkan keheningan.
"Sudah."
"Kata bunda kamu boleh panggil bunda kalau butuh sesuatu."
"Iya."
See, semua orang sangat memperhatikanya. Mungkin karena kasihan terhadap dirinya.
"Udah ah, mbak masuk dulu. Gak enak jadi nyamuk." Intruksi Q sambil beranjak dari duduknya.
'Semangat menaklukanya Kap!' Bisik Q saat melewati Van'ar.
"Mbak duluan ya Ra!"
"Iya mbak." Ujar Aurra.
Sepeninggalan Q, keheningan menyelimuti keduanya. Pemandangan kolam ikan mini di hadapan mereka lebih menarik dari pada sebuah pembicaraan. Sampai Aurra menoleh refleks, karena merasa ada yang mendorong kursi roda yang di dudukinya.
"Kamu kayaknya butuh sedikit jalan jalan."
Memasuki area taman di kediaman radityan yang amat luas. Banyak pohon pohon eksotis disana. Pohon pinus, cemara, damar, hingga pohon kurma berjajar rapi di sana. Membawa kesan menyejukkan di tengah kerindanganya. Bahkan di area yang sengaja ditanami pohon pinus, sudah di dekorasi dengan pernak pernik pernikahan. Untaian kain putih dibentuk sebuah altar persegi indah dengan adanya rangkaian bunga putih disana .Aurra mengintruksikan agar Van'ar menghentikkan kursi rodanya.
"Nanti jatuh Ra!" Larang Van'ar saat gadis itu beranjak dari duduknya.
"Aku udah baikan kok!"
Belanya, Van'ar mengangguk. Membiarkan gadis bergamis dusty unggu itu berjalan pelan kearah altar di taman belakang rumahnya itu.
Sedangkan ia berjalan di belakangnya, takut takut gadis di hadapanya itu terjatuh karena kondisinya belum stabil.
Tepat ditengah altar cantik itu, Aurra tanpa sadar menitihkan air matanya. Hingga ia di kejutkan oleh sebuah tangan kekar yang tersodor kehadapan wajahnya yang menunduk. Membiarkan tangan kekar itu menerima lelehan kristal bening miliknya.
"Air mata kamu terlalu berharga untuk disia-siakan." Ujarnya lembut, bukan lagi dengan nada datar khas miliknya.
Gadis cantik itu mendongrak, namun tak berani menatap wajah pria dihadapany. Hingga ia di kejutkan dengan perbuatan pria itu berikutnya. Ia berlutut di hadapanya, meraih kakinya yang terbalut flat shoes dan juga kaos kaki warna kulit yang panjangnya hingga mata kaki.
"Kalau keinjak nanti jatuh Ra!"
Ujarnya sambil membenarkan tali flat shoes yang di gunakan Aurra.
Aurra sendiri tidak tahu kapan tali itu terlepas. Padahal gamis yang hampir menyapu lantai itu menutupinya, tapi Van'ar? Bisa sampai memperhatikan hal hal kecil tersebut.
"Terimakasih."
Ujarnya, namun pria itu tak kunjung beranjak dari posisinya.
"Kenapa kamu berlutut terus, nanti celana kamu kotor?" Ujar Aurra sambil memundurkan dirinya satu langkah.
"Ra, menikahlan denganku!"
Ucapnya to the point yang tentu membuat Aurra terbelalak bukan main.
__ADS_1
"T-tapi?"
"Dengarkan aku Ra!"
Lirihnya menyela, tak membiarkan Aurra berbicara sebelum ia menuntaskan niatnya.
"Aku tahu ini sulit untuk kamu. Aku tahu kamu kecewa karena semua ini." Jedanya sejenak.
"Sebelum meninggal, oma minta kita segera menikah."
Deg
"Tapi Ra, terlepas dari itu aku sudah berniat lebih awal untuk menikahimu." Lanjutnya tanpa ingin Aurra berpikir ia menikahinya hanya karena permintaan terakhir neneknya.
"Aku sayang kamu Ra."
Deg
Aurra tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia terkejut bukan main, namun anehnya jantungnya tidak menggila seperti umumnya. Jantungnya terasa berdetak normal dengan debaran menghangatkan hati disana. Well, ada apa ini?
"Aku berniat menikahi kamu, bukan karena ingin menggantikan posisi kakakku saja. Jujur, aku sudah lama menyayangi kamu. Tapi Allah sepertinya punya jalan sendiri untukku."
Lanjutnya.
Aurra masih setia di posisinya. Sedangkan Van'ar siapa yang menduga kini hatinya tengah berdetak tak karuan.
"Aku menikahimu bukan karena rasa iba, namun rasa sayang yang tulus karena Allah."
Aurra menitihkan air matanya, mendengarkan ucapan tulus dari pria yang notabenenya 5 tahun lebih muda darinya.
"Tapi Van'ar-" Ucapnya terputus.
"Ra, dengarkan aku." Sela Van'ar lirih.
"Aku tahu status kamu masih tunangan kakakku, karena dia belum memutuskan khitbahnya. Aku mengerti Ra. Kalau kamu mau, kita tunggu sampai kakakku pulang dan memutuskan Khitbahmu secara jelas." Ujarnya yang kembali membuat Aurra menitihkan air matanya.
"Jika sampai hari itu tiba, dan kamu tidak mau menerimaku. Aku ikhlas lilla hit'ala akan keputusanmu. Apapun keputusanmu, asalkan kamu bahagia aku akan ikhlas Ra. Sungguh."
Aurra tidak tahu lagi harus berkomentar apa. Saat orang orang menyemangatinya akan hadirnya pria yang lebih baik dari calon suaminya, kini ia bingung sendiri. Di hadapanya, pria baik hati yang dengan gentle nya menyatakan perasaanya. Menghargai keputusanya dengan penuh keikhlasanya. Sungguh, subhanallah rasanya. Allah mendatangkan seseorang yang digadang-gadang akan menjadi imamnya di suatu hari nanti, ternyata sosok yang selama ini berada tak jauh dari sisinya.
"Aku ikhlas jika kamu tidak menerima pinanganku nantinya Ra." Ujar Van'ar kembali sambil mengeluarkan kotak kayu yang diatasnya di tutup kaca dengan pinggiran berwarna dusty unggu sama seperti warna baju yang di kenakan Aurra.
"Aku ikhlas."
Ujarnya meyakinkan, sebelum ia dibuat terkejut oleh ucapan gadis dihadapanya.
"Kakakmu.... sudah membatalkan khitbahnya untukku."
Deg
****
To Be Continue
Holla holla😊😊
Up Up Up
Haduhhhh sabar ya kakak,HARAP TENANG AUTHOOR TENGAH UAS😅😅.
Nanti aku bisa pusying saking bingungnya ngemanage waktu. Hari ini aja ada 4 mapel readers😥😥. Jadi sabar ya yang nunggu up.
Jangan lupa hargai juga usahaku, dengan tinggalkan vote, like dan komentarrrr yang banyak😊😊
Ok, aku mau lanjut lagi ya UAS-nya.
see you again guys🖑🖑
Sukabumi 08 Mei 2020
__ADS_1
10.08