Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 82 : Habis Gelap


__ADS_3

..."Tidak ada yang paling menyakiti hati seorang Ayah maupun ibu, kecuali kekecewaan yang dipupuk oleh putri kesayangan satu-satunya."...


...BSJ 82 : Habis Gelap...


...****...


"Kamu-" Ujar Van'ar naik pitam.


PLAK


Sebuah tamparan keras mengenai pipi mulus tanpa noda milik Ari. Membuat wajah gadis itu menoleh ke samping saking kerasnya. Sudut bibirnya sampai pecah dan mengeluarkan darah. Membuat semua mata di sana tersentak, melihat itu. Belum lagi, ada yang angkat bicara. Tanparan berikutnya kembali menggema.


"A-"


PLAK


"Dasar anak durhaka! Berani beraninya kamu mencintai tuanmu yang sudah memberi kita makan dan tempat bernaung." Bentak pria paruh baya yang datang dengan berapi-api tersebut.


"A-ayah, Ari-"


"Apa hah? Ayah? Ayahmu sudah mati sejak kamu memilih jalan haram itu untuk mencari uang." Bentak pria paruh baya berkaos hitam tersebut.


Pelaku atas tamparan keras itu adalah pak Budi-ayah Ari. Beliau datang bersama istrinya, bu Siti-yang menangis tersedu sedu sambil bersimpuh di lantai.


BRAK


"Lihat? Kamu adalah putri paling menjijikan di dunia ini. Kamu terobsesi akan cinta gilamu itu Ari. Istigfar Ari, tuan muda Van'ar itu sudah punya istri. Kamu mau jadi perebut suami orang hah?!" Tekan pak Budi tajam.


Pria itu melemparkan sebuah tas besar berisi barang barang milik Ari. Ada kotak perhiasan dari merk berlian ternama. Empat buah iphone, fhoto-fhoto pilaroid, figura fhoto, baju, buku, julnal, hingga beberapa sapu tangan dan handuk. Dari kesekian barang tersebut, semuanya memiliki nama rajutan Van'ar, fhoto Van'ar, hingga gambar besar pria tampan tersebut. Si empunya nama saja sampai sampai di buat terbelakak melihatnya.


"Istifgar kamu Arini. Menghayal itu jangan ketinggian! Seharusnya, kamu itu berterimakasih atas jasa jasa keluarga ini yang telah menampung kita sekeluarga." Bu Siti hanya bisa menangis tersedu sedu, melihat sang suami meluapkan emosinya.


Bagaimanapun juga, mereka malu atas apa yang telah diperbuat oleh putrinya. Mereka sudah bekerja dikeluarga Radityan sejak 22 tahun yang lalu. Jauh lebih lama, dari kelahiran Ari. Tapi kini, putri mereka sendiri telah membalas kebaikan keluarga Radityan dengan kotoran.


Orangtua mana yang tidak sakit hati jika putrinya memalukan seperti ini. Bukanya memanggakan lewat prestasi yang mengharumkan, nah ini. Mereka serasa dilumuri kotoran oleh putrinya sendiri.


"Maaf, tuan dan Nyonya. Kami akan segera pergi dari sini. Maaf, telah membuat keluarga ini tidak nyaman." Ujar bu Siti di tengah isakanya.


"Berdiri bu, ibu gak salah." Ujar Ari, sambil menarik pelan lengan ibunya.


"Lepas, aku bukan ibumu lagi. Aku tidak pernah punya putri hina sepertimu."


Deg


Ari mematung tepat ditèmpatnya. Ia memang tidak pernah membayangkan sedikit pun, kenyataanya akan semenyakitkan ini. Pekerjaanya memang haram, tetapi ini semua ia lakukan agar tidak selalu merepotkan orangtuanya. Ia itu hobby shopping seperti kebanyakan perempuan. Oleh karena itu, ia memilih jalur hitam ini. Ia mencintai Van'ar dari dahulu, oleh karena itu ia hingga nekat berbuat seperti ini karena fantasi gilanya. Ari hanya mau ingin meraih kebahagian dengan caranya sendiri, walaupun caranya itu yang salah.


"Bu, Ari-"


"Apa dosaku tuhan, sehingga kamu menitipkan anak seperti ini di rahimku dahulu." Monolog bu Siti Kecewa.


Arkia yang meluhatnya tentu tak iba. Sebagai seorang ibu, ia juga pernah merasakan yang namanya di kecewakan oleh darah dagingnya sendiri. Rasanya sangat sakit, seperti ada duri dari dagingnya sendiri.


"Ibu, A-ari-"


"Ibu kecewa sama kamu Ari." Ujar bu Siti yang langsung membuat pertahanan Ari jatuh.

__ADS_1


"Jadi, uang untuk pengobatan kakakmu itu hasil dari uang haram?" Tanya bu Siti sambil berderai air mata.


"Uang haram itu juga, yang kamu gunakan untuk menghidupi sanak sodara kita di kampung?"


"I-ibu, Ari-" Cicit Ari pelan.


"Kamu keterlaluan, Arini." Bentak pak Budi.


"Kemasi barang barangmu, dan kita pergi dari sini. Sebelum itu, minta maaflah kepada tuan Van'ar dan istrinya dahulu." Titah pak Budi final.


Gadis cantik itu menggeleng keras.


"Cinta Ari gak salah, jadi Ari gak mau minta maaf." Ujarnya final sambil berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan kedua orang tuanya yang harus menanggung malu, karena perikalu buruknya. Dengan berat hati, pak Budi dan bu Siti pamit untuk meninggalkan kediaman Radityan. Walaupun sudah dibujuk untuk tetap tinggal, tetapi keduanya tetap keukeuh untuk pergi.


Mereka akan kembali ke kampung halaman mereka. Membawa Ari yang sudah berbuat kelewatan batas. Pak Budi berjanji, putrinya tidak akan berulah lagi setelah ini. Jika Ari berulah lagi, maka pak Budi akan ikhlas di masukan kedalam bui. Ari yang mendengar itu, hanya bisa menekan tikaman di hatinya lagi dan lagi. Pada akhirnya, dengan berat hati Ari menurut. Sambil menatap wajah datar Van'ar sejenak, gadis pemilik manik madu itu beranjak pergi.


Pergi meninggalkan rumah besar yang telah menaunginya selama ini. Meninggalkan cinta, cita cita juga harapanya. Mengubur mimpinya tuk bersanding dengan Van'ar-cintanya. Mengubur beberapa keping kenangan juga fakta yang di kuburnya dalam-dalam, di dasar hatinya. Karena pada akhirnya pun, ia sudah tercebur dalam kubangan gelap yang tidak baik.


****


Habis gelap, terbitlah terang. Bagi sebagian orang, pasti sudah terasa familiar dengan perumpamaan tersebut. Setelah insiden Arini-seminggu yang lalu, kini semuanya sudah kembali semua. Beberapa hari yang lalu, keluarga besar Radityan juga mengadakan acara syukuran dan do'a bersama untuk kehamilan Aurra yang sudah menginjak bulan ke tujuh tepat. Acara itu diadakan cukup megah juga meriah, namun tetap hidmat.


Banyak dari para kerabat dan tamu undangan yang mengucapkan selamat, untuk Ayamu dan Bumu. Tak jarang juga diantara mereka, yang terus menanyakan jenis kelamin si kembar. Tapi, Aurra maupun Van'ar selalu kompak mengatakan, jika itu semua akan menjadi suprise untuk semua orang.


Pagi yang cerah di RaRas Caffe. Langit nampak berwarna biru cerah, diselingi oleh beberapa awan putih mengantung disana. Seorang pria tampan berjas maroon, baru saja turun dari mobil mewahnya. Menengteng sebuah paperbag pink dan sebuket mawar merah, kesukaan Aisyah tercintanya.


"Aisyahnya mas, selamat siang." Ujarnya menyapa gadis cantik beramis maroon tersebut.


Perempuan berpasmina itu tersenyum manis. Membiarkan sang kekasih hati untuk duduk di meja, yang sudah mereka siapkan.


"Ini-apa mas?"


"Buka dong." Ujar Arkan.


Lunar-perempuan cantik itu mengangguk sambil tersenyum tipis. Dengan antusias, ia membuka paper bag yang diberikan oleh Arkan tersebut.


"Subhanallah, mas. Ini-" Cicit Lunar tak percaya.


"Iya, hadiah hari jadi kita yang keempat bulan."


Ujar Arkan sambil tersenyum sayang.


Lunar sungguh bahagia, hari ini memang hari jadinya yang keempat bulan bersama Arkan.


Ia tak menyangka, jika dihari bahagianya dengan Arkan ini, kekasih hatinya itu memberikan sebuah hadiah yang amat ia inginkan. Hijab buatan seorang desainer profesional asal Turki, yang sejak dulu menjadi idolanya. Hijab yang lenkap dengan tanda tangan juga kartu ucapan di dalamnya.


"Makasih ya mas." Ujar Lunar senang, sambil memeluk tubuh kekasih hatinya itu erat.


"Sama-sama, apapun untuk Aisyahnya mas."


Jawab Arkan, tak kalah erat membalas pelukan Lunar.


"Ekhem." Hingga sebuah suara dehaman cukup keras, membuat keduanya langsung melepaskan diri.


"Belum halal, bukan mahrom." Ujarnya datar, yang langsung membuat keduanya kikuk.

__ADS_1


"Hilaf bang." Ujar Arkan dan Lunar bersamaan.


"Kalian ini-"


"Ck, biarin lah Van. Kayak kurang muda aja."


Sanggah pria lainya.


"Aku memang tidak pernah seperti itu."


Ujar pria tampan itu.


"Lupa, adikku inikan jomblo pisabilillah hingga nikah." Gumam Anzar kecil.


"Ini pada kenapa sih?" Ujar suara ceria lainya.


"Sayang!" Seru Anzar semangat.


"Bucin." Ujar Lunar dan Van'ar bersamaan.


"Gak usah lebay deh mas." Ketus wanita berdress silver yang sama dengan pakaian prianya itu.


"Irra." Lirih Anzar tak suka dimarahi.


"Mas?" Panggil wanita bergamis babby blue yang terlihat kesulitan berjalan tersebut.


"Dek, kenapa gak bilang-bilang kalau mau kesini?" Tanya Van'ar cemas.


"Mas lama, jadi Aurra nyusul kesini." Ujar sang istri, sambil mengelus perut buncitnya.


"Tapi dek, mas sebentar kok. Kamu bisa tunggu di mobil aja." Ujar Van'ar, sambil menggiring istrinya untuk duduk disalah satu bangku caffe.


Caffe milik Van'ar itu memang sengaja ditutup untuk hari ini.


"Si kembar rewel ya, ini nendang nendangnya kenceng amat." Ujar Van'ar sambil mengelus perut buncit istrinya.


Aurra menggeleng kecil sebagai jawaban. Lunar, Arkan dan Anzar yang melihat itu kompak bersuara.


"Situ juga bucin." Kompak mereka, yang beberapa detik berikutnya disusul tawa renyah mereka.


Hari ini memang hari yang spesial untuk mereka. Bukan saja Lunar dan Arkan, Anzar dan Irra, juga Van'aŕ dan Aurra pun sama. Triple couple bucin ini akan mengadakan tripple date-bukan double date lagi. Tiga acara kencan yang pasti banyak diselingi kejutan-kejutan di dalamnya.


□□□


To Be Continue


Hallo guys👐


Update lagi nih😄😄


Maaf ya, baru bisa update. Soalnya aku lagi banyak tugas. Besok, aku mulai MPLS. Jadi, jobku banyak bingittt😤😤 Maaf ya, aku jadi dua hari sekali updatenya🙏🙏Semoga kalian semua ngerti ya😙


Ok, jangan lupa like, komen dan vote juga💋


Sukabumi 12 Juli 2020

__ADS_1


__ADS_2