
..."If you donate money, you give food. But if you donate Blood you give life."...
...-Palang Merah-...
...BSJ 71 : Pergi yang Membawa Duka...
...****...
Segala sesuatu terkadang sulit tuk di prediksi. Dulu, musim saja dapat di prediksi dengan acuan angin dan perubahaan suhun.Namun kini, siring dengan berjalanya waktu, terkadang musim sekalipun meleset dari perkiraan. Ada banyak hal penyebabnya, seperti pemanasan global.
Lain dengan qada dan qadar Allah Subhanu wata'ala. Semuanya tidak dapat di prediksi, dan tidak dapat di tebak. Sebagai mahluknya kita hanya bisa ikhtiar dan tawakal. Karena segala sesuatu yang menimpa kita baik dan buruknya, telah menjadi ketentuan tuhan.
"Bang Van'ar hiks, kecelakaan."
Deg
Adiknya kecelakaan, kecelakan dalam artian apa ini? Seingatnya adiknya itu pergi untuk menjalnkan tugasnya tiga bulan ini. Sudah hampir selama itu pula, ia maupun keluarga lainya jarang menerima kabar tentang bing Leader tersebut.
"Maksud kamu?"
"Pesawat yang di tumpangi abang Van'ar jatuh banģ, hiks."
Deg
"LUNAR JANGAN BERCANDA KAMU!" Bentak Anzar lepas kontrol.
"Mas!" Lerai sang kekasih.
Entah mengapa, tiba tiba saja pikiranya menjadi kalut. Hatinya bergemuruh tak karuan. Napasnya berderu tak seirama. Apa ini maksud dari mimpi mimpinya kala itu? Tidak mungkin. Tidak mungkin dia pergi secepat ini. Adiknya tidak mungkin pergi secepat ini, mustahil. Bantah Anzar dalam hatinya.
"Lunar, t-tidak bohong bang." Cicit sang adik dari sebrang sana.
"Ayah juga sedang menghubungi kesatuan tempat abang Van'ar kerja. B-unda juga pingsan bang." Tutur Lunar takut takut.
"Kamu tenang dulu, sebentar lagi abang pulang." Anzar bingung. Semuanya terasa seperti mimpi, membuat kepalanya pening ditimpa puluhan kemungkinan.
Ia tidak bisa berpikir rasional sekarang. Adiknya kecelakaan, pesawat yang ditumpanginya jatuh. Sedangkan istrinya baru saja pergi ke medan yang berbahaya. Bagaimana ini? Bagaimana bisa tuhan menjatuhkan duka secara bersamaan.
"Mas, tenang dulu." Sambil menstabilakan deru nafasnya. Pria tampan itu menoleh ke arah sang kekasih yang tengah menenangkanya.
"Tenang ya, semuanya tidak bisa diselesaikan jika mas panik." Anzar mengangguk kecil.
"Aku harus pulang."
"Iya, tapi nyetirnya hati hati. Ingat, mas jangan ngelamun pas menyetir ya?" Ujar sang kekasih mengingatkan. Ia tahu kekasihnya itu panik, tetapi kenapinkan yang berlebihan terkadang menjadi pemicu hal hal buruk yang tidak diinginkan terjadi.
Cup
"Aku pulang, kamu jaga diri baik-baik ya."
Ujarnya setelah mengecup singkat pucuk kepala sang kekasih.
__ADS_1
Anzar langsung berlalu meraih kunci mobilnya. Menancap gasnya cepat nampak kesetanan, namun ia kembali mengingat perkataan wanitanya. Lalu, ia kembali menormalkan laju mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Otaknya buntu, tidak mungkin adiknya yang lostcontak selama ini berpulang tanpa pamit. Ia tetap berpikir positif, mungkin saja adiknya tidak ada didalam pesawat tersebut. Belum lagi kekhawatiranya akan reaksi sang adik ipar jika sampai mendengar berita ini.Untuk saat ini, Anzar harus memastikan info ini terlebih dahulu.
"PESAWAT TEMPUR MILIK TENTARA ANGKATAN UDARA, YANG MENGANGKUT PULUHAN ANGGOTA TENTARA ANGKATAN DARAT, JATUH DI SELAT SUNDA SEKITAR PUKUL DUA DINI HARI."
"CUACA BURUK MERUPAKAN PREDIKSI UTAMA, PENYEBAB JATUHNYA PESAWAT BERPENUMPANG-"
"Jangan menonton berita hoax." Ujar Anzar yang langsung mematikan siaran televisi tersebut.
"Bang." Lirih Lunar adiknya, yang sudah menangis berďeraian.
Nampak juga ada Arkan dan beberapa sisten rumah tangga yang nampak diam sambil berkaca kaca. Dari arah lain, Anzar bisa melihat ayahnya yang sibuk menelpon sedangkan ibunya terus menangis di pelukan si bùngsu-Lunar.
"Itu bukan Hoax bang, itu fakta." Ujar Lunar.
"Orang orang dari kesatuan bang Van'ar juga bilang, regu yang ada di pesawat itu termasuk regu abang Van'ar, hiks." Ujarnya sambil menangis.
"Bunda..." Lirih Anzar sambil berlutut di hadapan wanita yang telah melahirkanya kedunia ini.
Wanita paruh baya itu nampak tak bersemangat, menangis dalam diam di tiap isak kecilnya. "Bunda jangan menangis ya, Van'ar kuat. Dia pasti tidak ada di dalam pesawat itu."
Ujar Anzar sambil menghapus air mata yang keluar dari sana.
Arkia mau menolak fakta menyakitkan ini. Namun buktinya, semalam tuhan memerinya pesan lewat sebuah mimpi. Salah satu kukunya patah, padahal kuku Arkia tidak pernah di panjangkanya. Patah sebagian hingga menyebabkan darah keluar dari lukanya. Arkia menangis, karena merasa sakit ada bagian anggota tubuhnya yang luka.
Kini, ia mengatui maksud dari mimpi tersebut. Kemungkinan besarnya, jika putranya menjadi salah satu korban di sana. Oleh karena itu di dalam mimpinya ia terluka dan menangis. Karena Van'ar adalah buah hatinya, jika sesuatu terjadi kepada putranya pasti Arkia akan merasakanya.
"Bang, bunda khawatir sama Van'ar." Lirihnya sambil mengenggam tangan putra sulungnya.
"Adikmu tidak kenapa-kenapa kan bang? Dia mau jadi Ayah bang, Van'ar pasti selamat kan?"
"Kasian Aurra dan si kembar, mereka nanti gimana bang?"
"Van'ar putra bunda tidak apa-apa kan bang? Adikmu nanti pulang kan?" Lirihnya sambil terisak berat.
Anzar tak dapat menahan rasa sakit di hatinya. Ibunya menangis, itulah mengapa ia ikut sedih. Ia juga tidak mau mengatakan semua ini fakta, karena untuk daftar para korban belum diumumkan secara valid.
Dari beberapa media yang menerbitkan informasi jatuhnya pesawat TNI AU yang tengah bekerja sama membawa anggota TNI AD, pesawat na'as itu jatuh di perairan pada dini hari. Perkiraan itu muncul, saat menara kontrol tidak bisa mendeteksi pesawat yang hilang di titik pusat pada perairan di selat sunda. Pesawat itu terbang dari pulau Sumatra, setelah mengangkut para prajurit yang akan pulang menuju kesatuan di ibu kota.
Untuk dugaan awal jatuhnya pesawat tersebut karena adanya turbulensi yang diakibatkan karena pesawat mengudara di cuaca yang kala itu lumayan buruk. Belum lagi awan kumolonimbus yang tebal diiringi dengan petir yang ganas, membuat jarak pandang pilot terbatasi.
Pesawat yang mengalami masalah di bagian mesin, juga di prediksi meledak diudara sebelum bagian bagian dari puing puing badan pesawatnya terjatuh keair. Kini tim BASARNAS tengah menlakukan percarian pesawat, penumpan dan kru pesawat yang diperkirakan tibak bisa terjun besar sebelum pesawat meledak. Tim BASARNAS juga menerjunkan kapal selam khusus untuk mencari kotak hitam pesawat, untuk mengidentifikasi penyebab kecelakaan pesawat TNI AU itu lebih lanjut.
"KORBAN YANG SUDAH DITEMUKAN SIANG INI, RENCANANYA AKAN LANGSUNG DIBAWA KE RSPAD GATOT SUBROTO-"
"Sudah abang bilang, jangan lihat artikel apapun. Tunggu kabar validnya saja dari pihak yang bersangkutan." Ujar Anzar sambil merebut tablet yang dipegang Lunar.
"Bang..."
Kediaman Radityan kacau hingga malam tiba. Semua orang risau, tak terkecuali para asisten rumah tangga dan security keluarga Radityan. Arkia bahkan sempat pingsan tadi, saat menerima kabar jika sebagian korban yang ditemukan langsund dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Hingga saat ini mereka belum menerima kabar yang dapat dikonfirmasi tentang keberadaan Van'ar.
Ibra dan Vano sendiri sudah turun langsung ke TKP, untuk mencari informasi lanjutan. Sedangkan keluarga Dimas yang mengetahui berita itu juga, langsung mengutus Zega untuk memantau keadaan Aurra jauh di sana. Jadilah Zega langsung terbang menuju tempat dimana Aurra berada.
__ADS_1
Kecemasan nampak terjadi dimana mana,apalagi saat 10 kantong jenazah yang dibawa ke RSPAD Gatot subroto, telah dikonfirmasi dua orang diantaranya adalah
Yandra Pangestu atau Ayan dan Bagastian Mahardika Sudjono atau Bagas, rekan sejawat satu team yang leadernya adalah Van'ar.
Semua orang mulai risau, kekhawatiran bertebaran di mana mana. Satu persatu korban yang telah di identifikasi, mulai di pulangkan kerumah kediaman duka untuk segera di kebumikan sesuai protokol kemiliteran. Walaupun belum ada jumlah yang pasti tentang korban yang berjatuhan, Vano dan sang Ayah Ibra tak henti hentinya menggali informasi tentang putra keduanya tersebut. Sebagai seorang ayah-Vano agaknya dirundung cemas tiada tara. Bagaimanapun juga Van'ar buah hatinya, darah daging yang dulu hadir atas keegoisanya.
Rasanya tidak rela putranya berpulang semudah ini. Apalagi, istrinya tengah hamil 7 bulan buah hati mereka. Vano tentu saja sudah tahu, resiko ini akan terjadi di kemudian hari jika putranya masuk dunia militer. Namun apa boleh buat, tidak semua anak lelaki mau mengikuti jejak ayahnya. Terkadang, anak lelaki cenderung memiliki goals sendiri untuk hidupnya kelak, macam Van'ar.
"Putramu pasti baik-baik saja, kita berdoa yang terbaik untuk keselamatan Van'ar." Support Ibra sang Ayah.
"Iya pah, Vano harap begitu." Karena apapun hasilnya nanti, ia harus rela juga pasrah menerimanya.
Bagaimanapun juga, jika kehilangan Van'ar benar terjadi. Maka hati lainlah yang akan paling terluka oleh kehilangan. Dia Aurra-putrinya, menantunya, juga istri dari putranya.
Wanita tangguh yang tengah mengandung dua Radityan junior dalam rahimnya, yang pasti akan amat terluka jika mengetahui kabar buruk ini.
Namun jauh di sana, sepasang kaki mungil itu sudah tiba di tempat tujuanya. Mentari menyambut rombongan mereka yang datang membawa kebutuhan untuk medis, selimut, sandang dan makanan hasil dari kumpulan para donatur. Mereka datang dengan sambutan hangat, dan langsung menjalankan tugas masing masing.
Dalam kepalang merahan dikenal istilah "If you donate money, you give food. But if you donate Blood you give life." Sebelum berangkat kesini, mereka memang menggalang dana dan donor darah sukarela demi para pasien yang membutuhkan. Jika kamu mendonasikan uang, kamu mendapat makanan. Tapi jika kamu mendonorkan darah, kamu memberikan hidup. Tidak selamanya uang saja yang dapat didonasikan untuk membantu sesama, dengan donor darah saja kita dapat menolong hidup orang lain.
Sambil mengelup perut buncitnya, tangan mungil bersarung tangan itu meraih tas medisnya. Tersenyum kecil di balik cadarnya.
Ia siap, siap untuk membantu sesama yang membuntuhkan saat ini. Ribuan jiwa yang telah merintih, meraung bahkan berteriak kesakitan.
Aurra mulai mengobati mereka satu persatu dengan telaten, di bantu rekan sejawat lainya. Ada yang luka karena terhimpit, terseret arus, lebam lebam, luka robek dan berbagai luka lainya. Melihat bukan saja warga sipil yang terluka, membuat hatinya terenyuh. Ada juga pihak lain yang ikut terbaring tak berdaya karena terluka, dan mengingatkanya akan satu orang. Sosok yang dirindukanya saat ini.
Sosok yang sudah puluhan hari tak pulang tuk sekedar melepas rindu. Sosok yang lama sekali mendiami posisi rindu dihati.
"Mas..." Lirihnya kecil, berharap pemilik hatinya itu baik baik saja dimanapun ia berada.
Karena untuk saat ini, ia belum tahu nantinya apa yang tengah menanti dirinya.
Lain dari itu, seorang pria tampan nampak kesal saat baru bisa menaiki pesawat yang akan membawanya mengudara. Cuaca buruk, terpaksa membuatnya tertunda dibandara karena jadwal penerbanganya mengalami delay.
Dengan tergesa gesa, pria muda yang bekerja sebagai lawyer itu membuka aplikasi chat di handphone miliknya. Memcari informasi tentang kabar di kediamnya juga kediaman Radityan yang masih kacau dengan berita kecelakaan yang melibatkan Van'ar. Ia berharap di dalam hati, semoga saja kakaknya itu baik-baik saja di manapun ia berada. Dan juga, semoga sang istri belum mengetahui kabar kurang sedap ini. Jika sudah, takutnya itu akan membuatnya drop karena shok mendengarnya.
"Kenapa ini harus terjadi kepadamu, Ra?" Batinya sedih, mengingat ujian yang terus jatuh kepada kakak kesayanganya tersebut.
"Semoga bang Van'ar baik baik saja, begitupun dengan kamu dan si kembar." Doanya penuh harap.
○○○
To Be continue
Pagi guys😊😊
Maaf baru bisa update,didunia nyata aku lagi banyak tugas. Mohon dimaklumi nya ya.
Yok, jangan lupa like komen dan vote yoo🤗🤗
Maaf jika aku jarang gabung jg di GC ya, ini jg jaringanya lagi error.
__ADS_1
Sukabumi 27 Juni 2020
06.03