
...'Ketika kamu jatuh kejurang terdalam dimuka bumi. Mungkin kamu akan menyesali, namun keluarga tetaplah tempat kembali tak tertandingi.'...
...BSJ 35 : Puing Puing Reruntuhan...
...****...
Semilir angin pagi,menyambut netra kelam itu yang baru saja terbangun. Hari sudah mulai beranjak siang, di tandari dengan raja siang yang sudah meninggi. Dengan langkah gontai ia turut dari tempat tidurnya, berjalan terseok-seok menuju kamar mandi. Sepertinya ia butuh air dingin untuk me-refresh otaknya yang sudah mulai di landa tumpukan beban pikiran. Terbangun dengan keadaan sendiri, lagi. Kini menjadi rutinitasnya setiap hari. Bangun pagi, mandi dan memasak sendiri untuk dinikmati dirinya sendiri.
Sudah dua hari berlalu, sejak kejadian di hotel Lotus pasca itu. Hingga saat ia masuk Rumah sakitpun, ia tidak tahu siapa yang membawanya kerumah sakit. Kini ia sudah kembali kepenginapanya, menetap sambil memperbaiki dan membenahi puing puing hati yang tak lagi tak tertata rapih. Ia sendiri, disetiap detik menuju menit menik yang terus menerus bergulir. Ia sudah mencoba memperbaiki hubunganya yang sudah tak berupa lagi. Namun nihil, ia rasa segala akses untuk bertemu dengan kekasihnya itu terasa nihil saja. Andai saja ia masih memiliksi koneksi dan uang seperti Logan. Ia pasti akan bisa melacak mereka, namun apalah daya. Di sini dirinya tengah terpuruk dan tak berdaya.
Ia beranjak dari tempat duduknya semua. Ia sudah banyak mempertimbangkan selama dua hari ini. Hubungan yang sudah tinggal puing puing bangunan itu sudah tidak bisa di perbaiki. Jikapun dibangun kembali, semuanya tidak akan kembali seperti semula. Tetaplah akan ada celah menganga diantaranya. Ia cuma butuh penjelasan dari wanita itu. Semudah itukah ia mencampakan dirinya demi pria yang lebih mapan dan kaya. Bakhan dia tengah mengandung benih pria itu?
Sampai titik ini Anzar memang menyerah seutuhnya. Tetapi ia sudah mulai memasang ancang ancang. Hatinya terlalu remuk untuk memaafkan sebuah pengkhianatan.
Derrt
Derrt
Bunyi getaran ponsel berwarna semi black itu menganggu aktivitasnya. Dengan malas ia memindahan sejenak segelas black coffe yang tengah dinikmatinya. Mengangkat telpon yang masuk atas nama 'GM' atau General Manager di perusahaan properti miliknya.
"Hallo, ada apa mr.Barrnert?" Tanyanya datar tanpa ada setitik ekspesi.
"Hallo mr.Al-faruq. Maaf mengganggu pagi harimu. Tapi saya memiliki kabar yang penting."
Ujar pria paruh baya disebrang sana.
"Ada apa?"
"Maaf saya harus menyampaikan berita buruk ini. Harga saham perusahaan kita menurun drastis, sesaat setelah LG CROP'S selaku investor utama kita mencabut kerjasamanya."
Deg
"A-apa?" Kaget Anzar tak percaya.
"Selain itu, dua kantor cabang kita secara berturut turut telah kehilangan saham ribuan dollar karena para pemegam saham menjualnya kepada LG CROP'S."
Pria tampan dalam balutan T-shirt putih itu memijit pelipsnya sejenak.
"Ada lagi?"
__ADS_1
"Selain itu, ms.Bradley sekretaris anda telah melarikan diri setelah berhasil membobol rekening bank perusahaan. Akibatnya, kini perusahaan berada diambang kebangkrutan."
Anzar mengerang menahan emosi. Ini pasti lagi lagi perbuatan pria yang kala itu mengancam untuk membalasnya.
'Cih, licik sekali kau Bast*rd?!' Batinya menahan emosi.
Pria tampan itu segera menýambar laptop nya setelah percakapnya usai. Saat membuka e-mail, pria tampan itu dikejutkan dengan beberapa pesan dari para pemegang usahanya. Matanya kembali terbelalak, saat membaca beberapa email tersebut.
"Apa apaan ini?!" Dengusnya tak suka.
Perusahaanya berada diambang kehancuran, dan kini hampir seluruh resortnya tiba tiba berpidah kepemilikan dengan mudahnya.
"Sial*n ini pasti ulah pria Logam sialan itu."
Desianya tajamnya, sambil mengepalkan kedua tanganya kuat kuat.
"Kau tidak akan semudah itu mematikan bisnisku, sial*n." Batinya geram.
****
Semilir angin malam yang dingin, menerpa wajah cantik berkain penutup tersebut. Hari memang sudah malam, namun kedua iris cantiknya belum juga mau terpejam. Sedari tadi ia hanya berdiri di depan balkon kamarnya, sambil bersenandung kecil. Shalawat nabi kembali menjadi penantinya di kala sepi. Sepi namun tidak dengan kabar hati. Berbicara soal hati, bagimana kiranya progres kepemilikan hati sejauh ini?
Sepekan berlalu setelah momen lamaran penuh kenangan diatas ketinggian itu, Aurra kembali dengan sambutan haru biru dari keluarganya. Meraka menyambutnya dengan penuh kebahagiaan, karena mengetahui jika Aurra dan Van'ar sudah resmi bertunangan dalam hubungan yang dikehendaki oleh Allah. Detik itu pula, dua keluarga langsung berunding. Menyusun planning agar niat baik itu segera terlaksana. Terhitung seminggu dari 40 hari peringat meninggalnya almarhumah Silvia, acara baik itu akan terselenggara.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 22.15 menit. Ia beranjak, berjalan kearah tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia letih setelah seharian bekerja, namun indra penglihatanya itu tampak enggan menutup.
Ketika hendak mematikan saklar lampu tidurnya, ia tak sengaja menjatuhkan sebuah amplop coklat bercorak khusus. Ia mengambilnya, sambil duduk membuka strip perekatnya.
Surat dari siapa ini, pikirnya untuk sesaat.
Ah, iya baru ingat, tadi sore Zega berpesan ada surat datang pagì ini untuknya. Mungkin ini surat yang di maksud oleh adiknya itu.
Ia kembali membukanya, tulisan tangan dalam bahasa arab itu menyambutnya. Prakata pertama cukup membuatnya percaya ini surat dari siapa.
سم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum Warrohmatullahi Wabarakatuh.
Selamat pagi, calon bidadari surga.
Bunyi prakata setelah tulis aksen arab yang tercetak diawal surat.
__ADS_1
Apa kabar ciptaan tuhan yang mempesona ini di ibu kota sana?
Tanyanya, Aurra tersenyum kecil di balik penutup wajahnya.
"Alhamdulillah baik." Ujarnya sambil tersenyum kecil.
Bagaimana Ra, rindu tidak dengan mas-mu ini?
Aurra tersenyum kecil, jauh sebelum mengenal Van'ar sedekat ini. Ia rasa pria itu pria yang kaku, cuek, irit bicara juga datar. Namun seiring dengan berjalanya waktu, seolah olah waktu pula yang menunjukkan satu persatu sifat tersembunyi di balik image datarnya.
Jangan rindu ya Ra, berat. Tapi, kata adiknya rekan sejawatku. Dan dia kata Nanana Jeremi di sebuah novel roman, secara harpiah yang berat itu bukan Rindu Ra, tapi Massa x Gravitasi.
Aurra tersrnyum kecil, pria itu memang punya cara sendiri untuk membuat orang lain tersenyum dengan tulisan tanganya. Menurutnya tidak ada ke-gajean disini, mengingat sosok Van'ar yang nyaris jarang bercanda.
Sabar ya Ra, aku yakin sebentar lagi kita akan segera dipertemukan setelah mengikis jarak ini. Aku cuma minta satu, stay with me. Tapi, aku selalu mengingatkan, Allah maha membolak balikkan hati setiap umatnya. Aku cuma berharap tak lebih, di setiap sujudku padanya jika memang benar kamu jodohku. Dekatkan dan kuatkanlah dia disisiku. Jika bukan, aku akan ikhlas jika suatu saat nanti kamu memilih pergi.
Hati Aurra menghangat, sejauh ini pria itu bukan memberinya harapan palsu menggebu gebu yang ujungnya semu. Namun harapan dengan pilihan dan ikhlas sebagai penyeimbang.
Tapi insàallah kamu jodoh terbaik yang Allah kirimkan untukku. Maka, aku hanya bisa sabar meniti hari hingga aku kelak bisa segera melapalkan ikrar didepan ayahmu sebagai saksi. Dan penghulu sebagai perantara.
Aurra tak henti hentinya tersenyum kecil, sambil sesekali mengusap ujung kelopak matanya yang menitihkan air matanya.
Tunggu aku Ra, hingga waktu menjemputku pulang nanti. Dan kuhalalkan hubungan ini, agar tidak ada lagi jarak yang menghalangi. Atau rindu yang menghantui.
Di setiap katanya yang terangkai kedalam kalimat manis yang di tungkan oleh goresan tinta hitam itu. Aurra selalu mampu menangkap keseriusan dibalik kalimatnya. Seakan akan siempunya bersungguh-sungguh mengatakan itu semua di hadapanya. Mungkin ini cara tuhan menyatukan puing puing reruntuhan yang pernah mengisi relung hatinya, dengan bagian baru yang juga membawa kisah haru.
Pria itu datang tanpa di duga, memperlihatkan keseriusan dan cintanya hanya karena Allah. Memberikan hatinya penenang yang seharusnya, tanpa melanggar syar'iat islam. Dia datang tak diundang menabur benih cinta yang siap bermekaran. Hingga akhir keputusan pun Aurra mencoba menerimanya bukan srmata mata sebagai pengganti atau pelampiasan. Namun sebagai rasa baru yang siap membimbingnya dalam sunnah rasulullah nantinya. Imam yang baik untuk membawanya menuju jalan ilahi robbi, juga pedoman yang mengayominya ketika salah melangkah.
****
To Be Continue
Hallo readerss🤗🤗
Hayoo udah H ke-24 shaum. Lancarkan shaumnya? Alhamdulillah semoga lancar semua.
Oh iya, Authoor juga sekalian mau minta maaf kalau masih banyak typo dan juga kesalahan🙏🙏 Nah, jadi menurut kalian gimana buat part ini? Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentarnya ya😊😊
Ok, sampai jumpa lagi.
Sukabumi 18 Mei 2020
__ADS_1
04.47