
..."Katakanlah cinta, lalu tuk apa dusta?"...
...-Lunarsyah Azzahra Az-zzioi -...
...BSJ 84 : Ci Bungsu Kecewa...
...****...
"Kenapa mukamu ini?" Tanya pria tampan berkacamata baca tersebut.
"Heh, yang sopan sama abang sendiri." Kesal pria tampan berjas dongker tersebut.
"Maaf, aku kira tadi tukang pos salah alamat bang." Ujarnya sambil terkekeh kecil.
"Ada apa, tumben kesini bang?" Tanyanya lagi, sambil menghampiri sang kakak yang duduk di sofa single di tengah ruangan.
"Rubah betina itu datang lagi." Ujar lawan bicaranya serius.
"Maksud abang?"
"Kamu juga pasti tahu. Tadi dia datang ke ruanganku, marah-marah nyari kamu."
"Aku?"
"Ya iyalah, siapa lagi yang pernah tidur sama rubah betina itu, kecuali lo!"
"Shit." Umpat pria tampan tersebut, kesal.
"Sekarang dia di mana bang?" Tanyanya to the point.
"Bentar lagi juga palingan muncul." Ujar pria itu sambil beranjak.
"Inget, kelarin urusan kamu sama dia. Atau-"
Jedanya sejenak.
"Hubungan kamu sama Lunar terancam kandas di tengah jalan." Ujarnya sambil benar benar berlalu.
Meninggalkan satu satunya pria yang kini tinggal di ruangan besar tersebut. Pria yang mulai frustasi, hanya karena mengingat satu nama di balik kata 'Rubah betina' tersebut.
"Tidak bisa dibiarkan, ini harus segera aku selesaikan!" Ujarnya penuh penekanan pada diri sendiri.
****
"Selamat siang, pak Keevanzarnya ada?" Tanya wanita berpakaian formal tersebut. Kemeja putih berlengan seperempat, dengan aksen bunga edelwaise diujung lengan dan bagian depanya. Di padukan dengan rok pendek lima centi di atas lutut berwarna nude tersebut.
"Bapak sedang meeting didalam. Apa ibu sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya wanita berlipstik merah menyala tersebut.
Pakaian formal yang terlihat sangat ketat juga berkesan sexy. Rok span lima belas centi di atas lutut. Di padukan dengan atasan kemeja berlengan pendek, berwarna putih agak nerawang. Bahkan warna bra yang digunakanya saja bisa tercetak jelas, hitam. Dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan belahan dadanya.
"Apa ada sudah membuat janji?" Tanyanya lagi.
"Ah iya, saya sudah buat janji." Jawabnya.
"Baik, kalau begitu anda bisa menunggu sebentar di sana."Ujarnya sambil menunjuk dua kursi tinggi dengan satu meja diantaranya, yang menghadap pemandangan ibu kota dari ketinggian.
"Baik." Ujar Airra-wanita cantik itu ramah.
Sambil menengteng paperbag berisi tupperware makan siang, ia melangkah menuju tempat yang ditunjukkan. Rencananya, ia akan mengajak sang tunangan makan siang bersama. Sesuai dengan apa yang diminta prianya itu kemarin. Jauh jauh dari firma hukum tempatnya bekerja, Airra tetap menyematkan datang kemari. Kurag dari tiga minggu lagi mereka akan menikah, oleh karena itu banyak jobdesck yang harus mereka selesaikan.
Semenit sudah berlalu, setengah jam kemudian ikut berlalu. Lama, Airra menunggu disini. Sedangkan jam istirahatnya tinggal beberapa menit lagi.
'Mampus, gue kibulin lo!' Kekeh Cira-sambil menyunggingkan senyuman tipisnya.
Padahal, di dalam sana tidak sedang ada acara meeting penting. Adanya, Anzar sedang mengechak beberapa dokumen yang perlu dibubuhi parafnya di sana. Cira sengaja, saat Anzar bilang tunanganya akan kemari. Ide brilian muncul di otak bulusnya. Jadilah ia dengan teganya, membuat Airra menunggu berjam-jam lamanya tanpa tujuan.
"Non Airra, sedang apa disini?" Tanya salah satu office boy menyapa.
"Eh, pak Ahmad. Apa kabar pak?" Tanya Airra sambil menyalami tangan pria paruh baya di hadapanya tanpa sungkan.
Membuat pria itu minder sendiri, bahkan orang lain yang melihatnya juga terkejut.
"B-baik Nona." Jawabnya kikuk.
"Non Airra, sedang apa disini?" Tanya beliau lagi.
"Saya mau mengantarkan makan siang, tapi mas Anzar lagi meeting kayaknya." Ujar Airra jujur.
"Meeting?" Bingung pak Ahmad.
"Bapak tidak lagi meeting non, ini juga barusan bapak manggil saya ke ruanganya." Tutur pak Ahmad.
Deg
"Eh, maksudnya?"
Pak Ahmad menatap Cira tajam, tahu sebab akibat dari kesalahpahaman ini.
__ADS_1
"Ayo non masuk, bapak pasti sudah nunggu di dalam." Ujarnya sambil mengajak Airra berlalu.
'Cih, dasar pak tua!' Kesal Cira didalam hati.
****
"Assalamualaikum, mbak Nanaz." Sapa riang gadis cantik berhijab cream tersebut.
"Waalaikumsalam, Lunar." Ujar wanita berpakaian formal yang sedang berada didepan meja sekretaris tersebut.
"Mau ketemu pak Arkan ya?" Tanya wanita bernama Sahnaz tersebut.
Lunar, gadis cantik yang membawa beberapa paperbag ukuran medium itu mengangguk mantap.
"Mas Arkan ada kan mbak?"
"I-itu, bapak-" Kikuk wanita berambut sebahu tersebut.
"Lagi ada tamu ya mbak?" Tebak Lunar.
"Eem" Jawab Sahnaz ambigu.
"Kalau begitu, Lunar tunggu aja di-"
"KELUAR KAMU DARI SINI?!" Bentak suara menggelegar dari dalam sana, yang langsung membuat Lunar tersentak.
Padahal ruangan pria itu kedap suara. Tetapi, karena ada celah terbuka dari arah pintu. Suara menggelegar itu bisa sampai terdengar oleh orang luar.
"Astagfirullah, mas Arkan marah sama siapa mbak?" Tanya Lunar.
"Wanita gila!" Ketus Shanaz.
Menyebut namanya saja ia tidak sudi, mengingat perlakuan barbar wanita tersebut.
"Wanita gila?" Bingung Lunar.
"Iya. Wanita gila itu nyoba jebak pak Arkan, soalnya mereka pernah menghabiskan malam bersama."
Deg
Lunar menatap perempuan di hadapanya tak percaya. Benarkah, rahasia sebesar ini di tutupi darinya? Sebanyak apakan masalalu calon suaminya itu yang tidak diketahuinya.
"M-makaud mbak-" Gugup Sahnaz, tahu kesalahanya.
Lunar tersenyum tipis, ia tidak marah. Hanya saja ia merasa kecewa karena dibohongi. Ia bersyukur, setidaknya Sahnaz memberitahunya kebenaran ini, walaupun tanpa disengaja.
"Aku masuk ya mbak." Pamit Lunar sambil tersenyum tipis.
****
"KELUAR?!" Titah pria tampan itu marah.
Sudah cukup, ia muak mendengarkan semua bualan wanita rubah di hadapanya. Wajah cantik, tak menjamin kepribadianya secantik parasnya. Satu kesalahan besar dalam hidupnya, membuat ia harus terjerat oleh jebakan wanita licik satu ini.
"Aku akan keluar, setelah kamu menikahiku!"
Ujarnya gamblang.
"In your dream." Jawab pria gagah itu lantang.
"Sekarang kamu keluar dari ruanganku!" Ujarnya tajam.
"Tidak mau! kamu harus turuti permintaanku dulu." Ujar wanita berdress merah menyala itu santai.
"Dalam mimpimu."
"Aku cuma minta kamu menikahiku untuk bentuk pertanggung jawaban."
Arkan-pria tampan itu benar benar dibuat naik pitam oleh kehadiran wanita medusa satu ini. Wanita yang menjebaknya berbulan-bulan lalu. Kini ia datang dan meminta dinikahi, karena kejadian yang bisa di sebut one night stand tersebut.
"Aku cuma minta kamu nikahin aku, dan video malam panas kita aman di tanganku." Ujarnya santai.
"Sial*n?! kita tidak melakukan apa apa waktu itu!" Ujar Arkan sambil mengebrak meja kerjanya kasar.
"Sekali lagi kau berani mengancamku, akan kujebloskan kau kepenjara."
Bukanya takut, wanita cantik itu malah menyunggingkan senyumanya. Beranjak dari duduknya, lalu menghampiri pria di hadapanya.
"Kenapa, kamu tidak takut jika video panas kita waktu itu sampai ketangan kekasihmu?" Tanyanya sambil membelai rahang kokoh milik Arkan yang mengetat.
"Jauhkan tangan kotormu dariku jal*ng?!" Ujar Arkan naik pitam.
Dalam hati ia mati matian beristigfar. Ia tahu banyak syetan yang bersorak kegirangan saat ia lepas kendali.
"Ingat ini, sampai kapanpun kau tidak akan menikah denganku. Dan satu lagi, kau akan mendekam di penjara karena pemerasan dan pencemaran nama baik. Camkan itu Ratu?!" Ujarnya naik pitam.
Ratu-wanita cantik berlipstik merah menyala itu tersenyum remeh. Setelah berhasil menjebak pembisnis muda seperti Arkan, ia memang memeras uangnya habis habisan. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan berhasil membuat Arkan frustasi dengan ulahnya. Kini ia datang lagi dengan ancaman yang lebih mengecutkan. Ingin di berikan sebuah ikrar dalam pernikahan, status sebagai nyonya Arkan yang dipintanya kini.
__ADS_1
"Silahkan saja, karena Ratu tidak semudah itu masuk penjara." Ujarnya mantap.
"Benarkah?" Ratu berbalik kearah suara tersebut.
Itu bukan suars Arkan, melainkan suara wanita cantik berhijab di ambang pintu sana.
"Karena sepandai pandainya pencuri, pasti akan tertangkap juga pada waktunya." Ujar wanita berhijab cream yang menekan tombol untuk mengulang rekamanya barusan.
Ratu tersentag, ternyata perempuan berhijab itu telah merekam pembicaraanya dengan Arkan barusan.
"Ini sudah lebih dari cukup, untuk menjebloskanmu kepenjara atas tuduhan pemerasan, pencemaran nama baik dan tindak kriminal lainya." Ujar Lunar mantap.
"Pak, bawa wanita itu keluar." Ujarnya yang langsung diangguki oleh dua orang security tersebut.
"Lepas! lepaskan tanganku sial*n?!" Ujar Ratu meronta ronta.
"LEPASKAN! JAUHKAN TANGAN KALIAN DARIKU?!" Teriaknya keras, meronta juga meracau tak jelas saat digiring oleh pihak keamanan.
Sepeninggalan Ratu yang digiring oleh pihak keamanan, Arkan langsung berjalan menuju sang kekasih hati.
"Lunar, mas bisa jelas-"
"Stop it." Sela Lunar dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, please. Dengerin penjelasan mas dulu."
Lirih Arkan memberi penjelasan.
Ia tahu ia salah, ia hanya tidak ingin Lunar salah paham. Oleh karena itu, ia ingin menyelesaikan masalah yang menimanya ini sendiri
"Maaf sayang, aku membuatmu kecewa." Ujar Arkan sambil mengenggam tangan Lunar.
Lunar masih diam mematung, dengan deraian air mata yang mulai deras. Sekuat apapun dirinya, khodrat perempuan memang memiliki hati yang memang rapuh.
"Sayangnya mas, Aisyahnya mas jangan nangis lagi ya." Ujar Arkan membujuk kekasih hatinya lagi.
"Lunar kecewa sama mas."
Deg
Arkan merasa dadanya dilingkupi rasa nyeri. Satu kalimat itu nampaknya sangat menusuk hatinya. Mungkin beginilah rasanya, saat dirinya mengecewakan calon tulang rusuknya kelaknya.
"S-sayang, mas minta maaf. Mas cuma tidak mau kamu cemas, makanya mas terpaksa berbohong. Mas yakin, malam itu mas tidak melakukan apapun. Mas jujur sayang, mas memang tidak sadarkan diri. Tapi, mas yakin jika mas tidak melakukan hubungan badan seperti yang Ratu ucapkan."
Lunar membatu, dengan air mata yang masih mengalir deras. Ia pikir, Arkan sudah terbuka akan semua tentang dirinya. Tetapi nyatanya salah,masih ada beberapa hal yang tidak diketahuinya ternyata.
"Mas minta maaf Lunar. Mas cuma mencintaimu, tidak mungkin mas menghianatimu." Ujar Arkan sambil berlutut dihadapan Lunar.
Ia tidak mau kehilangan lagi, sudah cukup dahulu ia tidak peka akan perasaanya sendiri. Ia tidak rela, jika karena kesalahpahaman ini Lunarnya pergi lagi.
"Mas?"
"Mas cuma cinta sama kamu Lunar." Biarlah orang berkata apa, tetapi satu pinta Arkan. Dia tidak ingin kehilangan Aisyah tercinta-nya.
"Kamu maafin mas kan?" Tanyanya sambil mendongrak, menatap wajah sang kekasih.
Lunar mengangguk mantap, ia tahu Arkan tidak sepenuhnya salah. Ia juga tidak mau hanya karena satu kesalahpahaman ini hubunganya kandas ditengah jalan. Karena ia yakin, Arkan berkata sungguh gungguh.
"Lunar maafin mas?" Lunar mengangguk lagi.
"Sekarang mas berdiri ya." Ujarnya sambil membantu Arkan.
Arkan tersenyum bahagia, dengan secepat kilat ia merengkuh tubuh Aisyah-nya tersebut.
"Mas mencintaimu, sangat mencintaimu." Ujarnya tulus, sambil menghujani pucuk khimar Lunar dengan ciumanya.
Lunar yang menerima itu hanya bisa tersenyum sambil menitihkan air matanya. Ia tahu, setiap hubungan pasti ada pasang surutnya. Ada berbagai rintangan juga goncanganya. Semua itu kembali kepada diri kita masing masing. Apakah harus egois dan tak ambil pusing dengan melanjutkan, ataukah bertahan dengan penjelasan dan keyakinan yang diberikanya.
Ketika ia memilih tuk bertahan karena ia yakin. Prianya ini serious dan ucapanya,sungguh sungguh dengan perkataaanya. Oleh karena itu Lunar yakin kekecewaan ini hanya sebatas awal dari kebahagiaan nantinya.
"Huft, diriku datang diwaktu yang salah." Gerutu kecil pria tampan yang berdiri diambang pintu tersebut.
"Mungkin aku akan menjomblo sampai adikku menikah nanti." Ujarnya sambil berlalu, meninggalkan dua insan yang tengah berpelukan tersebut. Aksara yang malang!
□□□□
To Be Continue
Selamat siang readers😊😊
Maaf baru bisa update, soalnya kemarin2 aku sibuk sama mpls. Udah selesai sih, tapi imbasnya letih jugaa😢😢 Makanya, baru dapet mood buat updatenya sekarang.
Ok, jangan lupa jejaknya ya🤗🤗
Maaf jika typo masih bertebaran🙏🙏
ok, jumpa lagi nanti.
__ADS_1
Sukabumi 17 Juli 2020
12.05