Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 61 : Friendzone


__ADS_3

..."Bukanya aku menolak, hanya saja aku belum siap menerima perasaan baru yang datang mengasihani mahluk lemah seperti diriku."...


...-Keevanzar Radityan Al-faruq-...


...BSJ 61 : Friendzone...


...♤♤♤♤...


Dengan gerakan pelan, pria tampan berpakaian casual itu mamarkirkan mobil silvernya di depan pekarangan sebuah rumah minimalis. Pagarnya terbuat dari kayu yang sudah mulai keropos, dimakan waktu. Halamanya yang tak terlalu luar ditumbuhi rerumputan hijau yang terawat, sayur mayur segar dan tanaman hias cantik memenuhi pekarangan. Sebuah kotak surat yang terbuat dari besi terlihat amat usang namun terawat. Sebuah rumah bercat putih yang sudah mulai mengelupas, nampak berdiri kokoh di tengah tengah.


Seorang wanita cantik yang tengah berkutat dengan tanah dan skop menoleh. Menatap tamu yang lumayan sering berkunjung di akhir pekan. Sosok si tampan yang tengah mencari jati diri dengan hati yang baru direset ulang. Wanita cantik yang mengenakan celana panjang dan T-shirt oblong tersebut tersenyum kecil. Meninggalkan tanah humus yang tengah di urusnya, untuk membukkakan pagar.


"Kenapa gak langsung masuk sih?" Sapanya sambil membuka kawat pengait pagar.


"Udah sarapan mas?" Tanyanya mengalihkan perhatian pria tampan di hadapanya yang terus menatap dirinya dari atas sampai kebawah.


"Belum kan?" Tanyanya lagi.


"Hm." Jawab datar pria tampan berpakaian casual tersebut.


Casual tetapi tetap tak bisa menutupi ketampananya. Bahkan tetangga tetangga sekitar yang tengah membeli sayur di depan rumah, tak henti hentinya mencuri curi pandang kearahnya.


"Yasudah, masuk dulu gih. Aku mau metik sayur dulu di belakang." Ujar wanita cantik berkucir kuda itu, sambil mendorong pelan pria di hadapanya.


Tanpa kata, pria tampan itu membuka pintu utama dan masuk kesana. Membuat banyak mata bertanya tanyà tentang hubunganya dan si empunya rumah. Sedangkah si empunya memilih acuh, dan mulai memetik beberapa sayuran yang nampak siap panen di pekarangan belakang rumahnya.


"Sekarang kenapa lagi, cemburu lagi?" Tanyanya sambil mencuci sayur mayur organik hasil panenya.


Pria tampan yang berdiri di ambang pintu penghubung dapur dan ruang tamu itu tak bergeming. Ia tetap fokus melihat objek cantik di hadapanya beraktivitas. Sedangkan wanita cantik itu sudah faham dengan keadaan pria yang sebulan belakangan ini mulai dekat denganya. Ia cukup tahu, jika pria tampan itu memiliki masalah dengan hati kecilnya. Ya, terlalu mudah di tebak olehnya yang pecinta hukum dan peradilan.


"Kalau kamu iri atau cemburu itu wajar. Toh, kamu gak pernah ngebayangin dia jadi adik iparmu kan?" Tanya tanpa mengalihkan perhatianya. Tanganya bergerak lincah memotong, mengiris tipis, juga mencincang.


Grep


"Mereka pelukan terus."


Hufftt


Airra-wanita cantik yang berprofesi sebagai lawyer sekaligus sekretaris Lawyer senior itu, menghela napasnya gusar. Nah kan, ia tahu jika ada masalah pria ini pasti akan berlari kepadanya. Pria ini terjebak dalam kisah penyesalan di masalalu, yang membuat hatinya belum bisa menerima dengan kenyataan yang terjadi.


"Seperti ini." Airra hampir saja jantungan, pria satu ini memang paling tahu cara membuat dirinya berdebar debar.


Sambil mengeratkan pelukanya, pria tampan itu terus saja bergumam kecil di belakangnya.


"Mereka kan suami istri, pasangan baru juga. Makanya wajar kalau nempel terus." Lirihnya memberi pengertian.


"Hm."


"Harusnya kamu mulai bisa buka hati buat wanita lain. Jadi, kamu bakal bisa dapetin semua itu dari pasangan kamu nantinya." Ujarnýa memberi pengertian.


"Terus, kenapa kamu belum nyari?" Pancingnya sambil membalikkan tubuhnya, menghadap langsung pria dihadapanya.


"Mereka juga sering ciuman. Begini," Bukanya menjawab pertanyaan wanita di hadapanya, pria tampan itu malam memberi penuturan lain.


Cup


Manik teduh itu membola sempurna, apalagi saat benda hangat itu mengecup kilat ubun ubunya.


"Gini juga," Ujar pria tampan itu selanjutnya.


"Ett et, kalau mau praktek sama manekin aja sana. Jangan sama mahluk hidup dan berperasaan seperti aku." Ujar Airra sambil menjauhkan wajah pria di hadapanya, yang membuat si empunya mendelik tak suka. Ngode mbak!


"Sana sana, mas tunggu di meja makan aja. Aku mau masak sarapan, jangan ganggu." Usirnya halus.


Dia-Keevanzar Radityan Al-faruq mendengus kecil. Tidak ada satu orangpun yang berani memerintahnya, kecuali kedua orang tuanya. Bahkan Nata-mantan kekasihnya itu tidak bisa memerintahnya. Lah wanita satu ini, dengan mudah memerintahnya. Tidak bisa dibiarkan, kalau tidak nanti dia akan melunjak.

__ADS_1


"Gitu, kalau gak suka yasudah. Pergi saja dari rumah kumuh ini mas." Anzar tak menjawab atau berpikir lagi. Dengan langkah lebar ia segera mendudukkan dirinya di dekat meja makan.


Sungguh, mengenal sosok wanita tangguh satu ini membuat hidupnya banyak berubah. Ada sosok lain yang mampu mengendarikan dirinya.


Dengan kesederhanaanya juga keberanianya. Dia-Airra Refatya Sassya, gadis yatin piatu yang hidup di dunia yang kejam ini seorang diri. Bertahan hidup dengan segenap pengetahuan otaknya yang terus berputar, meraup pundi pundi rupiah dari kepiawaianya. Dia wanita tangguh yang mengarungi segalanya seorang diri. Hidup di kontrakan kecil, makan seadanya dengan keadaan yang serba kekurangan pula.


"Sarapan mas, keburu dingin." Suara lembut itu membuyarkan lamunanya.


Seporsi nasi mentega dengan topping tumis daging dan sayur mayur organik yang di tanamnya sendiri, plus dengan sambel ijo goreng. Menjadi menu sarapan pagi mereka kali ini. Perpaduan yang selalu berhasil menggugah selera makanya. Sepiring bacem tempe goreng juga tersedia di atas meja.


"Ini sisa bacem semalam, makanya aku goreng. Kalau mas gak suka, gak usah dimakan. Nanti sakit perut." Ujarnya sambil menuang segelas air putih untuk Anzar.


Tanpa banyak kata, Anzar mengambil satu potong tempe bacem goreng kepiring miliknya. Melapalkan doa mau makan, kemudian menikmati menu sarapanya tanpa banyak bicara. Ia memang belum sarapan, mengingat insiden ngidam adiknya tadi hingga memergoki keduanya di dapur. Jadilah Anzar keluar rumah tanpa sarapan terlebih dahulu.


Airŕa yang melihat pria di hadapanya itu makan dengan lahap, akhirnya tersenyum senang sebelum menikmati sarapanya sendiri.


"Aku habis ini mau bikin pie susu, mas suka tidak?" Tanyanya sambil mencuci piring piring kotor sisa sarapan mereka.


"Hm." Jawab Anzar yang sedang asik dengan busa busa di tanganya. Hal yang jarang dilihat orang memang, seorang Keevanzar mau dan rela mengotori tanganya untuk membantu mencuci piring.


"Ish, kok busanya jadi banyak gini?" Heran Airra, pasalnya busa berwarna putih tersebut saking banyaknya sampai menggunung mengenai keran air.


"Mas, kamu habisin sabun cuci piringnya satu botol?" Tanyanya dengan mata memincing.


Pasalnya satu botol cairan pencuci piringya ludes tanpa sisa. Sedangkan yang ditanya hanya mengedipkan bahunya acuh.


"Mas ih, baros tau." Kesalnya sambil mencubit pinggang liat pria di hadapanya. Ia sungguh kesal dengan tingkah absurd pria dihadapanya.


Mengenal lebih dekat sosok yang di jadikan objek penguntitnya selama bertahun tahun, ternyata membuatnya menemukan banyak hal baru. Layaknya pria patah hati lainya, dia juga bisa menjadi sosok yang galon-atau gagal muve one. Bisa menjadi iri dan pecemburu, karena keadaan menyayat hatinya. Kadang juga menjengkelkan dan datar. Perpaduan luar biasa membosankan dan butuh banyak perjuangan untuk menghadapinya.


"Gimana, enak?" Tanya wanita cantik ber-apron pink tersebut.


Pria yang ditanya itu menikmati kunyahanya sambil berpikir. "Hm, lumayan." Ujarnya.


Wanita cantik itu mendengus kecil.


Sindirnya.


Anzar-pria tampan itu terkekeh kecil. Ia memang menyangkal penilaianya, pie ini enak, sangat enak malahan di lidahnya. Legitnya yang pas, terasa menggoyang lidahnya dengan nikmat.


Selesai sarapan tadi, Airra memilih mandi sejenak. Sebelum akhirnya beralih untuk membuat pie susu dan beberapa jenis kue kering lainya. Ia akan mengantarkanya kepada orang orang yang sudah memesanya. Ia memang mengisi waktu luangnya dengan memanfaatkan keahlianya, yaitu membuat kue. Lumayanlah, uangnya bisa untuk menyambung hidupnya.


"Yang besar itu, pienya buat mas bawa pulang."


Ucapnya sambil memasukkan adonan pie lain kedalam oven.


Airra memang sudah menyiapkan satu pie susu besar untuk dibawa pulang oleh pria itu. Setidaknya, makanan dari gadis miskin darinya bisa menjamu lidah holang kaya seperti keluarga Radityan,walaupun sedikit. Pria tampan itu tak merespon, ia sibuk dengan camera di handphonenya.


Ckrakk


Ckrakk


"Mas ngapain sih? Dari tadi fhoto fhoto mulu, narsis deh." Intruksi wanita cantik yang mengenakan dress rumahan berwarna coklat selutut tersebut.


"Mau pasang iklan, mungkin ada yang minat."


Ujar Anzar sambil memperlihatkan hasil jepretanya.


Airra mendelik tak suka, di sana ada potretnya yang tengah sibuk memanggang kue.


"Hapus gak?" Titahnya.


"No. Aku mau pasang caption, dicari calon suami potensial yang mau istri pintar masak dan hobby berkebun seperti wanita ini." Ujarnya sambil tersenyum tipis.


"Gak lucu mas." Ketus Airra sambil merapihkan kue kue buatanya kedalam toples dan tupperware.

__ADS_1


"Biarin, biar kamu cepat laku." Ujar Anzar tak mau kalah.


"Kemarin pak Rw sama bu Rw dateng kesini."


Ujar Airra mengalihkan pembicaraan.


Anzar hanya diam mendengarkan sebagai pendengar yang baik. Sambil mengunyah potongan pie susu lainya. "Mereka ngelamar aku jadi mantu."


Deg


Anzar hampir saja kehilangan poros berpijaknya. Lupa bernapas saking terkejutnya. Potongan pie yang di pegannya saja hampir jatuh ke lantai.


"Putra sulung mereka, salah satu dokter di RS dulu kamu dirawat." Lanjut Airra.


"Rencananya, kalau aku terima. Kita nikah akhir tahun."


Anzar masih diam mendengarkan, namun maniknya menatap tak suka kearah lawan bicaranya. "Dia baik kok mas, jadi mas gak usah khawatir." Ujar Airra mengerti maksud dari tatapan Anzar.


"Kita udah beberapa kali ngobrol, dia juga ramah orangnya."


"Dia itu-"


"Kamu cinta sama dia?"


Deg


Airra pernah berpikir Anzar akan berkata seperti ini. Ia pikir, Anzar akan memperbolahkanya menikah dengan pria lain. Mengingat pria di hadapanya ini, diam saja saat Airra menyatakan perasaanya. Diam berarti menolak bukan? Lalu, ada apa dengan sikap pria satu ini.


"Cinta bisa datang seiring dengan berjalanya waktu, terutama dengan seringnya kebersamaan yang terjalin diantara kita nantinya." Jawab Airra mantap, sambil menatap Anzar.


"Oleh karena itu-"


"Tunggu aku sampai bisa membalas cintamu."


Sela Anzar.


Airra menatapnya penuh tanya dalam kebingungan. "Maksud mas?"


"Jika cinta datang karena kebersamaan, tunggu hingga perasaan itu muncul." Ujarnya menjawab.


"Saya sedang berusaha keras membalas perasaanmu, Airra."


Deg


Aurra mengerti sekarang, bukan masalah kepossesivan. Tetapi pria di hadapanya ini tengah berusaha membuka hati, untuk wanita lain. Dan wanita itu adalah dirinya. Airra pikir selama ini mereka hanya akan terjebak di zona nyaman, yaitu friend zone. Pasalnya Anzar tak ubahnya memperlihatkan usaha sedikitpun. Tapi kini, pria itu sendiri berjanji untuk berusaha.


Jadi, apa salahnya jika Airra memberinya kesempatan untuk kesekian kalinya.


Sementara itu, jauh di negri gingseng sana. Seorang wanita cantik yang tengah hamil besar termenung di depan jendela apartemenya. Sudah cukup ia menangis, deñgan segenap rasa ia telah memutuskan. Besok ia akan terbang ke nusantara, untuk menemui kekasih hatinya.


"Semoga saja, belum terlambat." Gumamnya kecil sambil mengelus perut buncitnya.


□□□□


Pagi guys😊😊


update lagi nih, sekarang part AnRa yoo😊😊


Gimana menurut kalian?


Ada yang mau komentar??


Jangan lupa like, komenya yang banyak yoo, sama votee😊😊


ok, jumpa lagi nanti🤗🤗

__ADS_1


Sukabumi 16 Juni 2020


05.53


__ADS_2