Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 53 : Stalker


__ADS_3

..."Miskin atau kayanya, cacat atau tìdaknya, cinta saya tulus untuk anda, tuan muda."-Airra Refatya Sasya...


...BSJ 53 : Stalker...


...◇♡◇♡◇...


Rintik rintik sisa air hujan, masih nampak membasahi bumi. Awan awan kumolonimbus hitam masih menggantung di atas langit sana. Angin dingin juga mulai berhembus kencang, musim memang sudah sulit di prediksi. Kini musim penghujan sedang datang tak bersahabat dengan bumi, padahal seharusnya bulan ini masih musim kemarau. Pria tampan yang tengah berjalan pelan mendorong tiang infuse itu digenggamanya. Dengan langkah pelan ia membawa kedua kakinya untuk berjalan jalan di lorong-lorong yang cukup sepi ini.


Bagaimana tidak, pukul sepuluh malam waktunya untuk beristirahat. Dirinya malam berjalan-jalan di lorong rumah sakit tanpa di dampingi siapapun. Mimpi itu kembali datang menghantuinya. Bunga mimpi yang bahkan ia lupa, apa maksudnya. Mengingat dirinya juga tida bisa berbuat banyak jika semua itu terjadi.


"Tuan muda, sedang apa anda disini?"


Pria berpiama rumah sakit itu menoleh, menatap wajah cantik yang di rundung kecemasan.


"Anda.... sedang apa tuan, kenapa pergi sendiri di malam hari begini?" Tanya wanita yang mengenakan oversize sweeters berwarna abu abu tersebut.


Anzar tahu hari ini wanita itu tidak datang merawatnya. Ia pikir perawat baik itu cuti, atau lebih buruknya lagi resign. Tapi, lihatlah kini dia ada di hadapanya.


"Pakai ini tuan, anda bisa terkena dehidrasi jika keluar tanpa pakaian hangat." Ujarnya sambil membuka oversize sweeter-nya, memberikanya pada pria yang tengah menatapnya penuh tanya.


"Ada apa tuan, apa ini tak nyaman untuk anda pakai?" Tanyanya sambil menarik uluran tanganya.


"Terimakasih." Wanita cantik itu mendongrak, menatap pria tampan di hadapanya yang akhirnya mau mengenakan sweeter-nya.


"Sedang apa kamu disini?" Tanya Anzar balik.


"Hm, cuma mampir."


"Malam malam begini?" Tanya Anzar bingung.


Airra, wanita cantik itu gelagapan, saat pertanyaan Anzar sukses membuatnya buntu.


"Tuan sebaiknya segera masuk ke dalam, di luar udaranya dingin. Tidak baik untuk kesehatan tuan." Ujarnya mengalihkan topik pembicaraan.


"Kau, menjenggukku Irra?"


Deg


Wanita cantik bermata indah itu menatap lawan bicaranya tak percaya. Ia tidak tahu hàrus menjawab apa sekarang, manik tajam itu terlalu kuat menatapnya.


"Jadi, benar kamu menjengguk diriku malam malam begini?"


Airra mengangguk singkat, sebelum meneguk segelas susu kedelai hangatnya. Kini keduanya tengah berada di cafetaria rumah sakit. Duduk di pojokan sambil menikmati segelas susu kedelai hangat juga roti hangat yang tersedia di cafetaria rumah sakit selama 24 jam.


"Hm iya, maaf jika itu membuat anda tidak nyaman." Lirih Airra sambil menundukkan kepalanya.


"Jangan berbicara formal denganku, kurasa itu kurang nyaman." Koreksi Anzar, ia memang jarang berinteraksi sosial dengan lawan jenisnya selain keluarga juga kekasihnya dahulu.


"Jadi, apa tujuanmu Irra?"


Sejujirnya Anzar terlalu canggung menyebutkan namanya. Mengingat nama wanita di sampingnya sangat mirip dengan nama adik iparnya. Aurra dan Airra, bisa gagal move on di dua nama beda tipis itu.


"Cuma memastikan."


"Memastikan? apa yang kamu maksud dengan memastikan. Apa kamu memiliki sejenis wewenang untuk memastikan keadaanku?"


Airra terperangah, apa dia harus menjawab semuanya sekarang. Membeberkan segalanya dari sekarang pula. Bagaimana ini, bahkan keluarganya sudah menyuruhnya menjauhi pria ini.


"Maaf jika itu membuat anda tidak-"


"Don't call me 'tuan muda', I don't like it."

__ADS_1


"Maaf, maaf, jika aku membuatmu tidak nyaman." Cicit Airra sambil menundukkan wajahnya. Ia tahu ia salah, mau bagaimana lagi. Ia hanya ingin menjaga malaikat penolongnya walaupun dari jauh.


"Shit! kenapa kau membuatku bingung. Ada apa denganmu Airra Refatya Sassya? Kenapa kau menjadi stalkerku selama bertahun tahun lamanya?"


Deg


Airra terpaku di tampatnya, ia benar benar terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh lawan bicaranya. Apakah pria ini sudah mengetahui segalanya, identitasnya pula?


"Jadi, apa tujuanmu melakukan semua ini?


Apa perlu kulaporkan kepada pihak yang berwajib jika seorang pengacara muda ternama lulusan Harvard University ini menguntiku selama bertahun tahun?" Airra menggeleng keras.


Air matanya mulai mengalir deras tanpa diminta. Anzar mencoba menahan rasa ibanya, setidaknya ia harus tahu mengapa wanita cantik juga berpendidikan sepertinya menjadi penguntit, bahkan bertahun tahun lamanya. Anzar mengetahui semua itu, setelah meminta bantuan dari salah satu sahabatnya di Ohio. Ia meminta untuk mencari tahu tentang identitas Airra, yang menurutnya janggal.


And see, ia menemukan berbagai fakta mengejutkan di sana. Wanita cantik itu satu kampus denganya, bahkan bekerja di kantor yang di pimpinya, mengikutinya hingga ke Hawaii kala itu, sampai saat ini menjadi perawatnya. Apa tujuan dirinya melakukan semua ini? Dan bodohnya Anzar tidak menyadari jika dirinya selama ini telah diikuti oleh seorang penguntit. Bahkan saat detik ini pun ia masih ragu jika melihat ketulusan juga air mata di manik indahnya.


Ia pikir untuk apa wanita pintar dan cantik sepertinya menguntit kekasih orang lain, jika dipikir-pikir. Mengikutinya kemanapun, hinggà menjaganya dari jauh walaupun tanpa diminta.


"Jangan menangis, aku butuh jawaban bukan air mata." Timpal Anzar penuh penekaan sambil mencengkram sebelah pergelangan tangan gadis yang terisak dihadapanya.


Bahkan beberapa orang yang ada disana kini menatap keduanya penuh tanya. Ada yang cemas juga penasaran.


"Mas, itu pacarnya kenapa? Kok nangis?"


Tanya seorang ibu ibu pembawa nampan kopi penasaran.


Anzar menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.


"Pacar saya khawatir bu, sampe nangis begini. Kirain saya hilang." Jawabnya santai sambil merangkul bahu Airra santai.


"Oalah, neng. Kasihan amat, yasudah jangan nangis lagi. Orang itu si masnya udah ada di sampingnya."


"Iya buk, ini juga lagi ditenangin."


"Hm." Sepeninggalanya wanita paruh baya tadi, kini Anzar kembali menatap gadis disampingnya tajam.


"Jangan menangis, semua itu tidak akan mengurangi kesalahanmu." Airra terkejut, saat tangan kekar namun hangat itu membelai pipi mulusnya. Membersihkan air mata yang mampir di sana.


"Kita bicara lagi nanti, saya ngantuk." Ujar Anzar final, sebelum berlalu meninggalkan Airra sendirian disana.


Anzar tak habis pikir, bagaimana bisa gadis polos yang kelihatan sangat baik seperti Airra mampu berbuat seperti itu. Perbuatan unfaedah yang tidak ada gunanya. Padahal dia cantik juga berpendidikan, dengan prestasinya ia bisa menjadi pengacara kondang. Tetapi kenapa malah Airra menyia nyiakan waktunya.


"Tunggu, aku bisa jelasin." Cegah Airra.


Air matanya masih berderaian, matanya sembab. Anzar tahu Airra gadis baik-baik, hanya saja caranya berbuat semua itu yang tidak bisa diterimanya.


"Aku hanya ingin menjagamu." Ujarnya sambil menahan tangisnya.


"Are you insane?"


Anzar menatapnya tajam, apa yang dimaksud dari menjaganya.


Gadis itu saja menjadi stalkernya, itu saja sudah kejahatan baginya.


"Ini caraku berterimakasih atas bantuanmu. Ini caraku, walaupun kamu tidak mengetahuinya. Yes I'am crazy, tapi semua ini aku lakukan untuk membalas budi sebisaku."


Anzar tediam sejenak. Gadis di hadapanya kembali terisak. Bahkan kini tangisanya kembali mengeras, menggema di lorong rumah sakit yang hening. "12 tahun lalu kamu menolongku, dari kecelakaan mobil yang keluargaku alami."


Ujarnya menuturkan.


"12 tahun yang lalu?" Ulang Anzar bermonolog.

__ADS_1


"Ya, aku dan kedua orang tuaku yang kamu tanggung semua biaya pengobatan rumah sakitnya." Anzar mencoba memutar otaknya kepada puluhan tahun silam.


Tepatnya 12 tahun silam seperti yang di katakan Airra. Ia mulai mengingat potongan potongan ingatan ingatan yang terekam di tiga belas tahun yang lalu.


--FLASHBACK--


Deru bunyi serene terdengar menguar di depan lobby rumah sakit. Decitan pintu terbuka dengan keras, diiringi suara riuh para tenaga medis. Saat itu Anzar yang tengah berada di rumah sakit, untuk keperluan pengechakan kesehatan sebagai salah satu syarat untuk tes masuk ke perguruan tinggi nanti.


Manik tajamnya tertarik untuk menatap ke arah kedatangan pasien korban kecelakaan tunggal tersebut. Di sana, ada seorang gadis sebaya denganya tengah menangis sambil mengejar kerumunan petugas medis yang membawa dua orang korban. Gadis itu menangis, terisak hebat di depan pintu ruang operasi. Tubuhnya yang masih terbungkus seragam putih biru sepertinya, tetapi berbeda almamater.


Anzar yang awalnya ingin pergi, terketuk hati kecilnya. Apalagi setelah dilakukan pertolongan, kedua korban yang ternyata adalah orang tua gadis malam tersebut harus di operasi. Sedangkan kendala besarnya ada pada biaya operasi.


"D-dua ratus juta, untuk apa bang?"


Kaget Arkia kala itu, putra sulungnya itu pulang terburu buru dengan seragam SMA yang sudah basah kuyup.


"Boleh ya bunda, abang janji. Kalau abang sudah bekerja nanti, bakal abang ganti." Pinta Anzar remaja kala itu memelas. Ia rela menerobos hujan deras demi pulang segera, agar bisa meminjam uang kepada sang bunda.


"Tapi untuk apa bang?" Tanya Arkia selidik.


"Mmm, untuk bantu orang bunda." Wanita paruh baya itu tertegun, ternyata putra sulungnya tersebut memiliki niat yang mulia.


Berbekal platinum card milik ayahnya, Anzar kembali kerumah sakit. Membayar seluruh tagihan rumah sakit gadis malang yang di temuinya tadi. Walaupun sebagai gantinya ia harus diintrogasi oleh sang ayah. Bagaimana tidak, Anzar bahkan menggesek 50 juta berikutnya untuk biaya administrasi lainya. Oleh karena itu Anzar diintrogasi habis habisan oleh sang ayah.


Tetapi kehendak tuhan berkata lain, kedua korban tersebut meninggal dunia pasca operasi. Keduanya meninggal karena pendarahan di otak juga gagal fungsi jantung. Berselang seminggu kemudian, gadis yang merupakan putri tunggal dari kedua korban tersebut datang kembali ke rumah sakit, untuk menanyakan tentang siapa gerangan penolong berhati mulia yang telah membantunya. Awalnya pihak rumah sakit tidak mau memberikan informasi apapun, demi menjaga privasi. Namun, dengan tekad dan kegigihanya akhirnya ia tahu siapa penolong berhati mulia itu.


"Keevanzar Radityan Al-Faruq?" Dari sanalah dia-Airra Refatya Sassya berjanji akan membalas budi kepada Anzar dengan caranya sendiri. Mengingat uang bukanlah hal mudah yang dimilikinya.


--FLASHBACK END--


"Kamu-gadis itu?" Tanya Anzar memastikan.


Bukanya menjawab, Airra malah kembali menitihkan air matanya. Tubuhnya luruh di atas lantai, ia akan menerima apapun konsekuensinya jika Anzar marah besar kepadanya.


"Maaf, maafkan aku." Lirihnya di sela-sela tangis pilunya. Ia tahu ia salah, hanya saja itu yang dapat dilakukanya untuk membalas budi kepada penolongnya.


"Maaf." Airra yakin Anzar akan murka kepadanya kini. Ia siap, siap, menerima segala kemarahan itu.


Grep


"Ssstt, berhentilah menangis. Ini bukan salahmu." Airra bukanya berhenti menangis, ia malah kembali terisak semakin kencang di pelukan pria tersebut. Meraung pilu di dekapan hangat yang di berikan Anzar, mengingat betapa sulitnya dia bertahan di sisi pria itu selama ini.


□□□□


To Be Continue


Tuhhh, yang miss sama him😄😄


Setuju gak sama cewek ini?


Tapi kisah mereka rumit lohh,masih banyak lika likunya. Ditunggu saja kelanjutanya🖒


Udah sesuia permintaankan, Double up


Jadi jangan lupa like🖒 komen yang banyakk💬dan voteee💯💯


Ok, see you again🖑


Salam dari @Karisma022


Sukabumi 08 juni 2020

__ADS_1


05.57


__ADS_2