Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 56 : Kejutan Anniversary Bikin Ngeri


__ADS_3

..."Mengenal kamu,aku belajar banyak tentang arti kehidupan."...


...-Keevanzar Radityan Az-zzioi-...


...BSJ 56 : Kejutan Anniversary Bikin Ngeri...


...🏳🏴🏳...


Seorang pria yang terlihat gagah mengenakan celana bahan hitam dan atasan kemeja putih itu, menghentikan langkahnya sejenak. Pemandangan sepasang suami istri yang tengah bersiap untuk pergi bekerja itu membuat langkahnya spontan terhenti. Di sana adiknya, juga adik iparnya tengah bersiap menuju Rumah sakit. Ia tahu jika adiknya itu pasti akan mengantarkan istrinya terlebih dahulu.


Sepeninggalan keduanya yang berlalu menggunakan sepeda motor pun, ia tetap terpaku di tempatnya bendiri.


"Makanya, jadi pria itu yang konsisten. Berpikir untuk jangka panjang kemasa depan, bukan skala pendek." Sindir suara bariton pria paruh baya di sampingnya.


Pria yang sudah berjasa, membuatnya hadir di dunia walaupun tanpa di minta atau di rencana. Pria paruh baya dengan setelan formal tersebut merogoh saku jasnya, mengambil kartu namanya. Juga merogoh saku celana bahanya, mengeluarkan dua lembar pecahan lima puluh ribu. Lalu di sodorkarnya kepada putra sulungnya.


"Ambil, ini untuk uang ongkosmu pergi ke perusahaan." Ujarnya sambil menyerahkan uang tersebut.


"Kartu nama ini juga, takut kamu di usir di kira tunawisma." Lanjutnya datar.


"Adikmu saja, sudah bisa menghasilkan uang sejak duduk dibangku SMA. Ayah harap, kamu belajar sedikit dari kegigihanya." Pria paruh baya itu-Vano, dia bukan berusaha membanding bandingkan antara kedua putranya. Namun, ia hanya mencoba membangkitkan semangat pria muda satu ini. Setidaknya, dia butuh arah setelah tersesat di jalan pilihanya.


"Ayah harap kamu belajar dari kegigihan. Tapi bukan untuk merasa tersaingi, karena kalian berdua putra ayah. Kalian punya kelebihan juga kekurangan masing-masing, begitu juga jalan kesuksesan kalian masing masing." Setelah mèngucapkan itu, Vano memilih berlalu.


Memasuki mobil yang sudah menunggunya. Meninggalkan sang putra yang masih termenung di depan rumah. Vano harap, dengan kejadian kejadian kebelakang si sulung itu mau berubah.


"Akan aku buktikan Ayah, aku mampu membangunya dari awal." Gumam Anzar memupuk semangatnya sendiri.


Berbekal uang seratus ribu rupiah pemberian sang ayah, ia akan tetap sampai keperusahaan yang sempat beda di tanganya. Untuk pertama kalinya, setelah lebih dari 12 tahun lamanya .Seorang Keevanzar kembali menaiki bus kota. Ramainya orang orang di dalam kendaraan roda empat tersebut, membuatnya cukup asing dengan keadaan ini.


"Tuan muda, ngapain disini?" Sapa seorang wanita cantik dengan senyuman merekahnya.


"Mau ke kantor." Jawab Anzar datar.


"Oww, yasudah. Sini bersama saja, duduk di sini."


Anzar menurut saja, toh cuma kursi itu yang masih kosong.


"Tuan muda belum pernah nàik transJakarta ya?" Tanya wanita cantik itu membuka suara.


"Belum." Ia tersenyum kecil mendengar jawaban pria tampan disampingnya.


"Tuan muda mau kemana?"


"Radityan Crop's."


"Ohh, itu sih deket. Nanti di halte depan, tuan muda turun terus belok kiri. Lurus aja, nanti ada perusahaan besar. Itu Radityan Crop's kan?"


"Hm." Wanita cantik itu tahu, pria di sampingnya ini pasti merasa asing dengan kendaraan umum semacam ini.


"Kamu, mau kemana Irra?" Tanya Anzar membuka suara.


"Kerja, kantor firma hukum." Ujarnya ramah.


"Jadi, ini kesempatan ke dua ya tuan?"


Waktu diperusahaan malam itu, pembicaraan mereka berakhir damai. Bahkan Airra menawarkan sebuah pertemanan, setidaknya dari semua itu ia setidaknya bisa membantu men-support pria yang tengah berjuang bangkit dari keterpurukan ini.


"Hm."


"Berarti tuan muda harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin." Ujarnya menyemangati.


"Berulang kali aku ingatkan, jangan panggil aku tuan muda!" Intruksi Anzar, pasalnya beberapa orang seperti penasaran akan dirinya.


"Maaf, kalu begitu aku panggil apa baiknya?"


"Anzar, call me Anzar." Karena, hanya nama itu yang mengingatkanya kepada orang orang yang menyayanginya.

__ADS_1


"Ok, A-nzar." Ujar Airra membiasakan.


"Kalau begitu, selamat bekerja Anzar. Semangat." Senyuman manis wanita itu terbit di ujung kalimatnya.


Anzar hanya menanggapinya dengan datar, lagi pula kini ia belum bisa membuka kepercayaan terlalu dalam untuk orang asing. Tiba di halte berikutnya, pria itu turun ketika sampai. Membayar dengan salah satu uang miliknya, menyisakan satu lembar lima puluh ribu dan kembalian dari membayar bus kota tadi.


Ia menghela napasnya sejenak, sebelum bergegas melangkahkan kakinya kembali. Karena hari ini, dirinya dari seorang CEO ternama akan turun jabatan menjadi Office Boy, sesuai perintah sang ayah. Semangat Anzar!


□□□□


"Kita mau kemana sih mas?" Pertanyaan berulang itu kembali terucap dari bibir dengan penutup wajah tersebut.


"Ini kejutan, jadi rahasia dong." Jawab pria yang tengah mengendarai motornya dengan kecepatan medium tersebut.


Ketika pulang dari rumah sakit, suaminya yang sudah pulang juga, membawanya untuk pergi kesesuatu tempat. Katanya kejutan untuk Anniversary keempat bulan usia pernikahan mereka berdua. Jadilah kini, mereka menjelajahi kota di malam hari.


Aurra masih bertanya tanya, suaminya ini mau membawanya kemana. Hingga motor yang dinaikinya berhenti di depan sebuah caffe bernama RaRa's Caffe. Ia tertegun sejenak melihatnya, ia jadi ingat ikan koi milik suaminya yang bernama RaRa.


"Kenapa?" Tanya pria yang terlihat tampan dengan setelan santainya. Celana bahan panjang berwarna abu abu, di padukan dengan T-shirt putih dan di lapisi jaket berwarna senada dengan celananya.


"Mirip nama ikan koi punya mas, nama caffenya." Ujar Aurra jujur.


Pria tampan itu tersenyum, sambil meraih pergelangan tangan suaminya. Menariknya lembut, memasuki caffe bernuansa tahun 90-an tersebut. Ada jajaran rak buku berisi berbagai buku novel, cerpen, ensiklopedia, dan sebagainya. Aurra juga sampai terpana dengan nuansa caffe yang antik namun cantik ini.


"Kok sepi ya?" Bingung Aurra, padahal ini malam minggu. Jadi seharusnya caffe caffe seperti ini di padati oleh pengunjung.


"Jangan jangan, mas pesan satu caffe ini untuk private room?" Tanya Aurra penuh selidik.


Pria tampan itu tersenyum kecil. Bukanya menjawab ia malam menggiring sang istri untuk duduk kesalah satu meja yang sudah disiapkan.


"Mas, jadi benar?" Tanya Aurra penasaran.


"Ini caffe punya mas, punya kamu juga."


Hah, Aurra terbelalak saking terkejutnya.


Aurra speechless, ternyata suaminya ini bisa seromantis ini. Belum lagi, ternyata suaminya ini juga melebarkan sayapnya di dunia bisnis kuliner.


"Mas sejak kapan punya caffe ini?"


"Dari kelas tiga SMA." Lagi, Aurra mendapatkan suprise dari sang suami.


"Mau dengar ceritanya?" Aurra mengangguk, ia akan menjadi penggemar setia untuk mendengarkan cerita suaminya.


Sejak kelas dua SMA, Van'ar memang sering di ajak berlatih dasar dasar kemilitaran oleh Ibra lebih giat. Selain itu, Van'ar juga dekat dengan Halim-kakeknya dari pihak ibu. Sosok Halim yang agamis, menanamkan banyak ilmù agama kepada Van'ar remaja. Salah satunya seperti pekerjaan nabi, yaitu berdagang. Dari sanalah Van'ar mulai merintis usaha kecil kecilanya, mengingat suatu saat nanti ia akan memiliki keluarga kecil sendiri. Untuk menafkahi anak istrinya dimasa depan, Van'ar remaja kali itu rajin sekali menabung.


Kegiatanya yang banyak di habiskan untuk belajar dan berlatih, membuatnya banyak menyisihkan uang saku miliknya. Naik kelas tiga SMA, Van'ar membeli sebuah ruko kecil di dekat jalan. Kebetulan pemiliknya saat itu akan pindah keluar kota. Dari sanalah Van'ar membuka usaha caffe kecil kecilanya, bermodalkan uang tabunganya yang sudah mencapai jutaan rupian kala itu. Ia mulai bekerja sama dengan beberapa teman satu sekolahnya, juga teman teman anak kuliahan yang di milikinya. Dari usaha kecil kecilan, caffe yang di beri nama RaRa's caffe itu mulai berkembang besar, di tahun-tahun berikutnya Anzar bahkan bisa membuka cabang di kota lain.


Selama ia menempuh pendidikan di kemiliteran, saudari kembarnya Lunar yang berperan mengurus caffe. Hingga saat ini pun, Lunar masih menjabat sebagai pengganti Van'ar selaku pemilik caffe.


"Sekarang cabangnya sudah berapa mas?"


"Delapan."


"Subhanallah, mas hebat banget." Ujar Aurra terpana, ternyata suami ini sungguh pria pemikiranya dewasa sejak remaja.


"Ini demi kalian berdua, supaya kalian bisa hidup tanpa kekurangan."


"Tapi istri yang solihah rela hidup dalam kemiskinan sekalipun, asalkan hidup bahagia bersama suami dan putra putrinya." Jawab Aurra.


"Iya, tapi seorang suami dan kepala keluarga yang baik tidak akan rela membawa keluarganya hidup dengan kemiskinan dan kesengsaraan."


Deg


Aurra speechless, akan selalu ada saja jawaban dari sang suami yang mampu mematahkan sangkalanya.


"Oleh karena itu, mas berusaha mempersiapkan ini dari jauh jauh hari." Ujarnya sambil tersenyum, digenggam pula tangan istrinya penuh cinta.

__ADS_1


"Jadi, bumu sama baby mau makan apa?" Tanya Anzar menawari.


"Jangan kaget ya mas?" Van'ar mulai menyerngitkan alisnya was was, ada yang tidak beres ini.


Beberapa jam berikutnya....


Van'ar di buat horror menatap beberapa mangkuk berkuah merah dengan rendaman cabai di hadapanya. Bagaimana tidak, permintaan sang istri ini sungguh membuatnya bergidig ngeri. Yang paling normal di sini adalah baso khas medan yang di penuhi dengan jeroan.


Makanan ini di pesan dari Jl.Indah Pantai Selatan I, pantai Indah Kapuk, Panjaringan, Jakarta Utara.



Bakso komplit dengan isian jeroan seperti daging, babat, kikil, juga tambahan mie kuning, bihun, kwetiau, terserah selera si pembeli. Katanya, istrinya ingin makan bakso ini dari minggu yang lalu.


Sedangkan yang membuatnya merinding adalah, makanan makanan berikutnya. Ada Seblak komplik yang terlihat mengerikan dengan kuah merah kentalnya, persis seperti saat mereka makan di Bandung.



Isianya sudah tentu ada kerupuk, mie, sayap ayam, telur, juga beberapa sayuran dan bahan lainya. Di tambah kuah merah kental yang mengerikan tentunya.


"Dek, nanti kamu sakit perut loh. Baby-nya juga kasihan." Lirih Anzar mencoba memberi saran.


"Enggak mas, aku sudah tanya dokter Adnia. Boleh kok, asal jangan berlebihan."


Van'ar tak berkutik jika sudah menyangkut ngidam ngidam ini. Belum lagi makanan di hadapanya juga tak kalah mengerikan. Bakso gulung dan Bakso mercon, yang katanya bikin mules perut. Lihat saja, isian basonya yang terdiri dari cabai dan sayuran. Van'ar saja ngeri melihatnya.



Belum lagi satu mangkuk mie hot food pedas. Makanan yang di pesan dari restoran china itu menambah deretan makanan mengerikan malam ini. Makanan berkuah merah dengan isian mie, tahu, jamur enoki, daging sapi bisa juga kambing, sayuran hijau, jamur kancing, asinan sawi ( atau di korea di sebut khimci).



Yang paling lazim bagi Van'ar hanyalah minuman manis yang dipesan istrinya. Beberapa botol susu rasa buah, yang di kemas imut dalam botol botol kecil.



"Nanti kamu sakit perut gimana dek?" Tanya Van'ar lagi.


Wanita cantik itu menggeleng, sambil mendorong bakso khas medan ke arahnya.


"Bakso sama hot foodnya Aurra yang makan. Mas makan baso gulung sama seblaknya."


Deg


Van'ar terperangah, padahal istrinya tahu jika dirinya kurang suka makanan pedas. Nah loh, bagaimana sekarang.


"Dek..."


"Babynya yang mau."


"I-iya, iya. Mas makan ini." Suami baik hati macam Van'ar itu mengalah. Bagaimanapun juga, tidak ada yang lebih sulit dihadapi ketibang mood bumil. Inimah Anniversary yang harusnya romantis ,malah berubah dramatis. Masa Anniversary bikin Ngeri.


□□□□


To Be Continue


Selamat pagi guysss😄😄


Hayoo gimana, ngacai engg ningalina😅😅


Gimana, kerjain mulu yuk Ayamu ini.Tapi kaciaan😄😄 Oh iya, part berikutnya full Anzar yoo. Takut ada yang kangen😄😄


Cuss ah, jangan lupa like, vote, dan komenn😄😄


Sukabumi 11 Julni 2020


05.01

__ADS_1


__ADS_2