Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 20 : Datang untuk mengambil


__ADS_3

...'Aku datang mengambil apa yang harus kuambil. Jikapun dia tak menolak, berati memang benar hatinya masih milikku.'...


...-Natalia Gracya Kim-...


...BSJ 20 : Datang untuk mengambil...


...****...


Gugusan bintang di langit malam menjadi pemandanganya malam ini. Di temani semilir angin malam dan bunyi jangkrik yang setia mendampingi. Dirinya duduk di atas dahan pohon yang sudah lama tumbang, menatap langit cerah dengan kegelapanya dengan nanar. Ia ingat mata hazel milik seseorang. Manik yang teduh yang selalu berhasil mempesonanya tiap kali bersirobak dengan iris matanya. Penutup wajah yang di kenakanya, selalu membuat dia penasaran akan senyuman yang terpatri di wajah cantiknya. Ia yakinkan itu, matanya saja sudah bisa membuatnya mabuk kepayang, apalagi jika seluruh wajah cantiknya tak terhalang. Ah, entahlah.


'Astagfirullah haladzim.' Ia beristigfar berulang kali, merasa salah dengan pemikiranya barusan.


Tidak seharusnya ia memikirkan calon kakak iparnya sejauh ini, itu bukan hak nya. Ia seharusnya menekan perasaanya, bukan malah membiarkanya semaking berkembang.


"Mungkin secangkir kopi bisa membantu?"


Lirih suara familiar dari sampingnya.


Van'ar, pria muda tampan itu menoleh. Menemukan seorang perempuan berambut hitam sebahu datang membawa dua cangkir berdiri disampingnya.


"Terimakasih. Tapi maaf, seseorang melarang saya minum minuman berkafein tinggi di malam hari. Nanti sulit tidur katanya." Ucap Van'ar datar sambil berlalu.


Ia memang ingat Aurra berpesan seperti itu, jadi ia menerapkan pesan itu.Tanpa mempedulikan perasaan perempuan di sampingnya, ia memang begitu. Datar, dingin dan garang kepada semua orang kecuali seseorang. Dan dia adalah Aurra Putri Haidan pengecualianya.


Tak peduli sekeras apapun para lawan jenisnya menarik perhatianya, mengungkap segala rasa kagumnya, ia akan tetap menanggapinya dengan datar. Walaupun itu putri seorang perwira sekalipun seperti saat ini.


****


Kepulangan Aurra dan Zega di sambut bahagia oleh Dimas dan Sayla. Datang datang keduanya langsung di berondong oleh berbagai macam pertanyaan. Dari Aurra yang di berondong berbagai macam pertanyaan hingga keadaan dirinya, maklum calon manten. Ataupun Zega yang juga diserbu berbagai pertanyaan mengenai kepergianya yang tidak bilang bilang.


"Kamu ini ya, sudah bunda bilangin jangan mendaki terus. Mana kamu perginya gak bilang bilang!" Ceramah wanita yang mengenakan pakaian rumahan motif bunga bunga tersebut.


Pensiunan pramugari itu terlihat kesal sekalu kepada putranya, pasalnya pria muda itu memilih pergi mendaki gunung tanpa meminta izin terlebih dahulu. Izin izin tahu tahunya sang putra sudah ada di Jayapura.


"Hehehe, maaf bunda. Abang hilaf."


Kekeh Zega.


Kini keempatnya tengah duduk diruang keluarga, sambil menikmat kue kue kering dan teh hangat.


"Hilaf hilaf, tadi pacar kamu nyariin kesini. Katanya kamu ngajak main, tapi malah ngilang."


Ujar Sayla menuturkan.


Zega mengunyah kukis coklatnya sambil berpikir. Pacar? seingatnya dia belum punya pacar lagi setelah putus dari kekasinhya waktu perpisahan SMA beberapa tahun lalu. Itupun Zega di putuskan karena ceweknya yang meminta. Sejak itu ia off dulu pacaran dan memilih fokus dengan studinya.


"Pacar siapa? Abang gak punya pacar kok!"


Belanya sambil menekan tombol remot televisi untuk mengganti chanelnya.


"Putri pacar kamu kan? Tadi dia kesini."


Pria muda tampan berkaos putih itu menaikkan sebelah alisnya. Putri siapa? Gak kenal tuh.


"Kaisar Zega Redargard Al-haidan, kalau bunda tanya itu jawab." Kesal Sayla.


Dimas dan Aurra yang melihat interaksi kedua orang yang meŕeka sayangi itu hanya tersenyum simpul. Pasalnya mereka hafal betul sikap tengil Zega yang satu ini.


"Putri siapa sih mah, orang abang gak kenal."


Ujar Zega sambil fokus kepada kartun Nusa yang tengah ditontonya.


"Putriyana Ratuliu La~Syakira, kamu kira itu pacar siapa? Apa kamu udah amnesia di tinggal LDR 4 tahun lamanya."

__ADS_1


Deg


Pria tampan itu refleks menolekan kepalanya. Melemparkan asal toples berisi kukis yang dipeganya saat ia berdiri tiba tiba.


"Syakira udah pulang bun?" Tanya memburu.


"Syakira siapa? Orang tadi bunda biĺang putri."


"Iya dia, dia udah pulang bun?"


Penasaran Zega.


"Iya, katanya suruh bilang ke kamu. Di tunggu di musium fatahillah jam delapan malam."


Tanpa babibu lagi, pria tampan itu langsung berlari ke kamarnya yang ada dilantai dua. Tak lama kemudian ia keluar dengan jaket denim dan juga semilir minyak wangi yang lumayan menyemat. Mau apel?


"Ayah, bunda, Kaisar izin mau jemput Ratunya dulu." Izinya sambil menciumi punggung tangan Ayah, bunda dan kakaknya bergantian.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Ujar mereka serempak.


"Dasar anak itu!"


Kesal Sayla.


"Biarin bunda, namanya juga cowok. Lagipula dia sudah besar." Ujar Dimas angkat bicara.


"Belain terus, nakal gitu juga."


"Tidak bun, kan Kaisar lagi cari calon."


Ujar Dimas.


Aurra tersenyum senang melihat kebahagiaan keluarganya. Merasa cukup lelah karena penerbangan tadi, Aurra pamit pergi kekamarnya duluan. Sesampainya di dalam kamar bernuansa putih itu, Aurra melirik benda pipih yang tengah di charger diatas nakas.


Gadis itu tertarik untuk membuka pesan singkat dari nomer yang tak tersimpan di handphonenya. Ternyata itu nomer calon suaminya. Disana tertulis pria itu minta maaf karena keterlambatanya.


Derrtt


Derrtt


Masih sibuk dengan grup dokter di aplikasi chat miliknya, sebuah notifikasi masuk kedalam handphonenya.


+6218XXXXXXX


Kamu sudah kembali?


Me


Waalaikumsalam


Sudah.


Jawab Aurra cepat dilayar handphonenya.


+6218XXXXXXX


Bisa bertemu sekarang?


Aurra menyerngit membaca pesan singkat yang kembali masuk ke handphonenya.Ia belum pernah keluar rumah di malam hari untuk bertemu sseorang, apalagi seorang pria. Ia berpikir sejenak, hingga pesan berikutnya kembali masuk.


+6218XXXXXXX

__ADS_1


Ada apa?


Saya perlu bicara dengan kamu, sebentar saja.


Aurra kembali mempertimbangkanya. Bundanya bilang, mulai besok ia di larang bertemu calon suaminya. Katanya itu tradisi yang di jalankan calon pengantin sebelum menikah.


+6218XXXXXXX


Sebentar saja.


Saya tunggu di depan komplek perumahan kamu.


Aurra mengetikan jemarinya diatas layar handphonenya cepat.


"Sebentar saja!"


Gumanya pelan, sambil meraih kardigan rajut miliknya sebelum turun kebawah.


Setelah izin pergi ke Alfam*rt di depan kompleks rumahnya, Aurra menjejakan kakinya keluar rumah. Semilir angin malam menyambut dirinya, menerbangkan khimar panjang yang di kenakanya. Ia menunggu di sana, di depan kompleks perumahanya dengan hati berdebar, pada akhirnya ia akan bertemu dengan calon suaminya tersebut.


Apa Anzar ini akan mirip Van'ar? Tingginya, tampanya, sikap friendly-nya, atau sikap perhatianya. Ah, kenapa ia jadi menyamanyamakan Anzar dan Van'ar.


'Astagfirulĺah haladzim, kenapa aku jadi mengingat Van'ar terus.' Batinya gundah.


Sementara itu, seorang pria tampan baru saja keluar dari lobby tempatnya meraih punďi pundi rupiah. Setelah mengirimkan pesan singkat kepada calon istrinya yang setuju untuk bertemu denganya, ia langsung tancap gas menyelesaikan tugasnya. Ia melirik sejenak arloji yang melekat dipergelangan tanganya. Pukul dua puluh lewat lima belas malam. Ketika berjalan menuju mobil pajero hitam miliknya, langkahnya terhenti seketika.


Ia mengerjapkan matanya berulang kali, mungkin ia salah lihat pikirnya. Bagaimana ia bisa melihat sang kekasih tengah berdiri memegang koper di samping mobilnya. Senyuman manisnya terpatri di wajah cantiknya. Apa ini efek rindu menahun, jadilah ia melihatnya terasa nyata.


"Dear?"


Tapi Anzar tak salah dengar, itu suara kekasihnya. Suara milik wanita yang di cintainya.


"Nata?"


"Dear?"


Grep


Anzar sudah tidak bisa mengelak lagi, ini sungguh nyata. Ini kekasih ah ralat-mantan kekasinhya. Dia ada disini, dan kini tengah memeluknya erat. Menangis di dadanya, menguarkan harum bunga mawar france khas wanitanya.


"I miss you dear."


Suara serak itu kembali mengalun diantara tangisnya, membuat pria yang tengah di peluknya frustasi.


"I miss you, I miss you so bad."


Lirihnya kembali sambil mengeratkan pelukanya.


Anzar sudah tidak peduli lagi, ia juga tersakiti karena rindu ini. Ia merengkuh tubuh ķekasihnya tak kalah erat. Membagikan kehangatan juga memecah kerinduan di antara mereka selama ini. Anzar sudah lupa, lupa dengan segala janjinya. Ia cuma rindu, rindu akan wanita yang telah memenuhi rongga dadanya.


"I miss you to darl." Jawabnya tak kalah rindu.


Ia lupa akan janjinya, membiarkan seorang perempan menunggu jauh disana. Hingga rintik rinai hujan membasahi bumi, perempuan itu tetap berdiri di sana. Ia yakin calon suaminya akan datang, namun nyatanya realita tak selamanya berjalan seperti ekspetasi. Gemuruh guntur di tengah hujàn deras yang membuat tubuhnya menggigil, ia akhirnya menyerah. Sudah dua jam lebih beberapa menit ia menunggu, dan hasilnya nihil. Pria yang katanya calon suaminya itu kembali mengingkari janjinya. Membuatnya menunggu berjam-jam lamanya tanpa kepastian. Dibawah guyuran hujan lebat ia menunggu seperti orang tak punya tujuan. Biarlan hujan deras menetupi kekecewaanya, menyamarkan air matanya yang luruh tanpa permisi malam ini.


**


To Be Continue


Huahaha..... Hayooo gimana nih???


Coba siapa yang pro sama Anzar?? Apa kapten Van'ar aja??


Jangan lupa komen, like dan voteeeee ya😉😉😙 Ok, sampai jumpa dipart berikutnya😙😙

__ADS_1


Sukabumi 02 Mei 2020


11.16


__ADS_2