Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 22: Kacau


__ADS_3

..."Bersikaplah dewasa dengan cara, tidak melarikan diri dari tanggung jawab masalah hidup."...


...BSJ 22: Kacau...


...****...



Kedewasaan itu terbentuk bukan karena patokan usia. Namun sikap bijak setiap kali menghadapi suatu masalah. Tak peduli urutan usia yang melekat padanya, jika kedewasaan itu sudah tumbuh sejak dini. Hingga dewasa pun dirinya akan tumbuh menjadi seseorang yang siap terjun ke masyarakat atau sekedar berkecimpung di dalam sebuah mahligai rumah tangga yang membutuhkan rasa tanggung jawab dan kedewasaan.


Lari dari suatu masalah bukanlah pilihan tepat. Itu malah cenderung menunjukan jati diri seorang pengecut. Pergi dari masalah yang tengah di hadapi bukanlah penyelesai masalah yang tengah di alami, namun memperluas di ameter masalah tersebut.


Pagi menjelang siang hari, sepasang suami istri terlihat tengah cemas tiada tara. Sesekali keduanya menatap hantaran pernikahan serta antek-anteknya yang sudah tertata rapih di sana. Setelan baju pengiring pengantin juga sudah tertata rapih. Bahkan rumah mewah mereka saja sudah di sulap menjadi tempat yang indah untuk merayakan pernikahan putra sulung sang putri.


Wanita paruh baya itu kembali menitihkan air matanya, mengingat bagaimana kemarin malam putranya itu meminta izin. Ternyata pamit itu dalam artian yang sebenarnya. Salahnya sendiri ia tidak bisa menangkap maksud dari sang putra. Lain dengan semua permohonan sang putra saat itu, nyatanya si sulung kembali menorehkan luka di hatinya. Seingatnya, selama ini ia membesarkan anak anaknya dengan baik. Mendidik mereka satu persatu agar menjadi manusia yang taat akan agama dan menyayangi orang tua. Arkia-bahkan bertanya kepada sang putra saat itu, apakah putranya itu punya kekasih atau tidak?


Jikapun punya ia dan sang suami tidak akan memaksakan kehendak mereka untuk menjodohkanya. Lalu apa ini balasan untuknya? Putranya sendiri seakan akan melemparkan kotoran ke wajahnya dan sang suami. Ia sungguh kecewa dengan keputusan putra sulungnya ini. Sungguh merasa jika ia salah mendidik anaknya selama ini.


"Aku salah mas, aku salah!" Lirihnya sambil terisak.


Pria paruh baya disampingnya menatap iba sang istri. Semenjak menerima kabar jika si sulung kabur bersama kekasihnya, Arkia sangat shok dan tak henti hentinya menangis. Padahal esok hari adalah hari pernikahannya akan di langsungkan.


"Sstt, jangan salah dirimu. Ini bukan salahmu."


Ujar Vano,sambil merengkuh tubuh sang istri.


Ia benar, semua ini bukan salah istrinya. Bukan pula sepenuhnya salah mereka. Bagainama pun juga ia tahu gen bajing*n itu menurun dari siapa. Sebagai seorang ibu-Arkia pasti sangatlah terpukul dengan kepergian sang putra. Bahkan semenjak tadi pagi istrinya itu hanya menangis dan menangis meratapi kepergian sang putra. Vano sendiri sudah melakukan pengejaran, ia menyuruh Aoi tangan kananya untuk melacak kebaradaan sang putra. Ia bahkan tak segan segan menutup segala akses kartu debit yang dimiliki sang putra atas nama perusahaanya. Semua itu ia lakukan agar putranya tidak bisa pergi terlalu jauh. Kartu debit milik sang putra dapat di lacak terakhir kali di gesek kemarin malam, masih di daerah Jakarta. Ia yakin putranya itu pergi dengan kekasihnya menjelajahi beberapa negara, agar dapat lepas dari jangkauannya.


"Jalan yang kamu ambil ini salah besar, Keevanzar Radityan Al-faruq!" Ujarnya penuh penekanan.


Lihat saja, Vano berjanji akan segala menyeret putra brengsek nya itu kembali. Hidup atau matinya, karena ia telah berani beraninya menghancurkan banyak harapan disini. Bahkan Silvia-ibunya langsung jatuh pingsan dan langsung di rawat di rumah sakit. Ibra-saja yang notabenenya kakek Anzar langsung naik darah atas keputusan bodoh yang di ambil cucunya tersebut. Kini yang harus Vano selesaikan terlebih dahulu adalah keadaan yang kacau balau disini. Bagaimana ia bisa menghandle segalanya, segalanya sudah amat kacau. Belum lagi, bagaimana ia harus mengatasi kekecewaan dari pihak mempelai perempuan nantinya.

__ADS_1


Sementara itu, suasana berbeda terlihat di rumah megah milik keluarga Haidan. Riuh suara pengajian mengisi ruang tamu yang di hiasi pernak pernik cantik bernuansa putih bersih tersebut. Acara pengajian memang sengaja mereka adakan sejak pagi hari. Aurra pun yang tadinya masuk kerja di rumah sakit, harus ijin pulang lebih awal. Ia memang sudah mengambil cuti menikah, namun karena di minta untuk menjemput tamu kehormatan, jadilah ia tadi sempat masuk kerja. Kini gadis itu sudah duduk manis diantara ibu ibu kompleksnya yang ikut menghadi acara pengajian.


Kedua tangan putih miliknya di hiasi cat kuku dan henna yang tentunya halal di gunakan. Semua itu di lakukan oleh bibi bibi dari pihak sang bunda. Katanya biar cantik.


Selepas acara pengajian, pihak keluarga Aurra masih menyiapkan beberapa keperluan lainya hingga hari menjelang malam pun mereka tetap sibuk. Zega saja sang adik sejak tadi wara wiri kesana kemari untuk mengechak dekorasi rumah mereka, penghulu, hingga katring makanan untuk hati esok. Kini Aurra-gadis berhijab syar'i itu tengah duduk di bangku yang terbuat dari rotan di balkon kamarnya. Menatap indahnya langit senja sore ini. Ia sungguh masih tidak percaya, bahwa esok hari ia akan melepas masa lajangnya. Meninggalkan rumah keluarganya yang merawatnya sejak kecil di kemudian hari. Ia akan menjadi seorang istri, yang berbakti kepada suaminya. Ikut kemanapun suami pergi, mengikuti setiap perintahnya selama itu tidak menentang ajaran islam. Ia senang juga sedih saat memikirkan semua itu.


"Bagaimana ini mas, hiks..."


"Tenanglah dulu bun, pasti semua ada jalan keluarnya."


Samar samar ia bisa mendengar suara isak tangis sang bunda, dari ruangan sebelahnya. Sebenarnya Aurra henda turun untuk mengambil air putih, ia tiba tiba merasa harus tadi. Ketika melewati ruang kerja ayahnya, ia merasa mendengar samar samar suara percakapan dari sana.


"Iya bunda, Zega yakin ini pasti ada jalan keluarnya."


Bahkan adiknya pun ada disana, jadi apa? Apa yang membuat bundanya itu menangis dan mengapa mereka menutupinya darinya.


"Bagaimana bunda bisa tenang, pernikahanya besok dan pengantin prianya kabur dengan wanita lain?!"


Deg


"Bunda, istigfar ya. Vano sama Kia juga sedang berusaha cari Anzar."


Itu suara Didinya yang tengah menenangkan sang bunda.


"Iya bunda, yang terpenting sekarang gimana caranya jelasin ini ke mbak Aurra." Lanjut suara Zega mengintrupsi.


"Ya Allah, kenapa harus putri kita? Kenapa harus putri kìta yang mengalami ini mas?"


Suara tangis bundanya kembali pecah. Terdengar memilukan untuk setiap telinga yang mendengar nya.


"Sabar bunda, mungkin ini ujian untuk kita semua."

__ADS_1


Aurŕa memang tidak berniar sama sekali untuk menguping. Tapi entahlah, ia mungkin sudah di takdirkan untuk mengetahui semua ini dari jalan menguping. Memutar kembali tubuhnya, gadis bertubuh mungil itu berjalan tergesa gesa kedalam kamarnya. Setibanya didalam sana, tubuhnya luruh kelantai. Tangisnya pecah dalam diam tanpa suara. Ia menggigit bibirnya kuat kuat, tak peduli darah muncul dari sana. Yang ia pikirkan hanya agar suaranya teredam dan tidak ada satu orang pun yang mendenganya. Setengah jam menangis dalam diam, ia menguatkan hatinya yang hancur. Menyeret tubuh lunglainya ke kamar mandi, membasahi wajah sembabnya dengai air wudhu. Dengan hati remuk ia menunaikan ibadah shalatnya sebagaimana manusia bertuhan. Menangis dalam sujud terakhirnya, mengadu dalam tiap doanya. Mencurahkan segala keluh kesahnya di akhir doa penutupnya.


"Hamba yakin, engkau menurunkan ujian sebagai bukti bahwa engkau menyayangi hambaya." Doa penyemangatnya.


Masih dalam balutan mukena putih miliknya, air matanya kembali terurai. Jangan di izinkan melihat wajah calon suaminya, memilikinya saja sepertinya kini mustahil. Biarlan semuanya terjadi, Aurra hanya bisa menerima dengan lapang dada. Karena semua ini tentu sudah tertulis di lauh mahfuz milik-Nya.


Sementara itu, tepat setelah adzan maghrib berkumandang. Satu unit Helikopter AH-64E Apache terlihat terbang memasuki area langit kota Jakarta. Mendarat dengan apik di area lapangan udara markas TNI Angkatan Darat. Helikopter AH-64E Apache Guardian di produksi oleh lockheed Martin di Orlando, Florida itu mendarat dengan sempurna, menurunkan puluhan tentara Angkatan Darat yang masih lengkap dengan pakaian loreng dan senapan yang masih gagah mereka bawa.


Dengan satu suara komando mereka berbaris tegap dalam satu kesatuan. Inilah mereka, salah satu anggota Batàlion Raider yang kemarin di tugaskan didaerah perbatasan di sebelah timur negri. Aggota khusus yang juga termasuk kedalam jajaran 747 personel dengan kemampuan mumpuni itu telah ditarik kembali ke markas pusat. Pasalnya misi dan tugas yang di berikan kepada mereka telah rampung di laksanakan. Dengan gembira yang mengembang didalam hati mereka kembali. Ada yang sudah tidak sabar untuk bertemu rindu dengan keluarganya, istri, pacar ataupun sekedar teman tapi sayang. Mereka akhirnya bisa kembali menjejakkan kaki di ibu kota dengan selamat dan sehat walafiat berkat doa yang keluarga dan kerabat mereka panjatkan yang selalu terlimpahkan untuk mereka.


Dengan alasan yang sama pula, pria tampan yang masih dalam seragam lengkap dan loreng menutupi wajah tampanya. Ia bergegas meraih ranselnya, sebagai hadiah keberhasilan mereka. Mereka diberi jatah cuti untuk kembali kerumah masing masing hari ini atau esok. Tentu saja mereka bahagia bukan main, juga termasuk dirinya. Berkumpul dengan keluarga dan orang terkasih adalah momen yang amat langka bagi mereka, jadilah ini tidak akan mereka sia siakan. Dengan senyuman mengembang tipis dibibirnya, ia memantapkan langkanya. Ia telah menguatkan hatinya yang sempat melemah. Kepulanganya ini di dedikasikan untuk dua orang yang ia sayangi. Walaupun ia harus menekan luka dihatinya sendiri, tetapi setidaknya ia bahagia bisa menghadiri pernikahan kakaknya.


Iya, dia bahagia karena tidak selamanya mencintai itu harus memiliki.


Karena bagi seorang Keevan'ar Radityan Az-zzioi mencintai itu berarti juga harus rela seseorang yang di cintainya bahagi walaupun bukan dengan dirinya .Asalkan dia bahagia, ia juga akan ikut senang nantinya. Baginya bahagianya Aurra adalah bahagianya juga, sedihnya Aurra adalah kesedihanya juģa.Tak memiliki pun tak apa, yang penting kamu sanggup memberinya kebahagiaan.


"Semoga kamu dan bang Anzar bahagia, Ra."


Lirihnya sambil menatap jalanan dari balik jendela TransJakarta yang ia naiki.


**


To Be continue


Holaaaaa....


Selamat pagi semua??


Sudah siap nangis nanģis belum nih??


Yok... jangan lupa like komen dan like ya😊😊

__ADS_1


Sukabumi 3 Mei 2020


10.02


__ADS_2