
..."Atas nama cinta, dengan segala keikhlasan-Nya, kupinang dirimu di depan keluargamu."...
...-Keevanzar Radityan Al-faruq-...
...BSJ 85 : Bunga Cinta...
...****...
Kicauan burung yang hidup di pekarangan luas keluarga Radityan, menyambut riuhnya pagi hari ini. Cuaca yang nampak indah menyambut nestapa. Lagit dengan biru cerahnya, lengkap dengan awah putih seperti kapas empuknya. Pagi yang cerah ini, semua orang nampak sibuk dengan acara yang akan diadakan kurang dari seminggu lagi. Semua orang membawa hiasan dekorasi, menata rumah, pekarangan belakang, hingga area kolam renang. Kembali, pesta pernikahan megah akan diadakan dirumah mewah ini.
Si sulung akan segera melepas masa lajangnya. Dan kini, diantara keramaian orang orang ia merasa kesepian. Menghadapi salah satu adat tradisional jawa, dimana mempelai pria dan wanita dilarang bertemu. Ya, kini Anzar tengah dipingit sampai hari H nanti. Rasanya, baru sehari saja sudah seperti seminggu. Ingin sekali rasanya, ia bertemu dengan sang kekasih hati.
Ingin memeluknya, menciuminya hingga kesusahan nafas sekalian.
"Sabar bang, tinggal beberapa hari lagi." Ujar pria paruh baya yang wajahnya sebelas dua belas dengan bundanya.
"Kangen dia." Lirihnya, sambil menatap ruang keluarganya yang kini dipenuhi banyak orang.
"Ck, baru sehari juga." Lirih pria bernama Ezka tersebut.
"Paman juga dulu begini?" Tanya Anzar balik.
"Iya." Jawab Ezka santai.
Pria paruh baya itu kini punya waktu lebih, sehingga bisa datang membantu dari awal. Sedangkan pada saat pernikahan Van'ar dan Aurra ia tidak bisa hadir dihari H. Cuma istri dan anak anaknya yang dapat hadir, pasalnya ia ada di luar negri pada saat itu.
"Kenapa harus pake dipingit segala sih?" Ketus Anzar.
"Harus dong, itu namanya tradisi." Ujar wanita paruh baya berkhimar itu.
"Ah, bibi gak tahu rasanya." Ujar Anzar kecil.
"Dasar manten, kebelet nikah banget." Ujar Ana-istri Ezka.
"Abi, mbak Kia manggil tuh."
"Hm." Ujar Ezka singkat.
"Manten yang sabar ya, dipingit itu ujian, harap tenang makanya." Ujar Ezka sebelum berlalu.
"Ahk, kangen kamu Irra." Cicit Anzar sambil memeluk bantal sofa disampingnya gemas.
"Dasar bucin." Cibir adiknya, saat lewat sambil membawa nampan berisi bunga krisan.
"Apa?" Ketus Anzar.
"Bucin." Ujar Van'ar lagi.
"Mas, jangan gitu." Lirih sang istri disampingnya.
"Iya sayang." Ujar Van'ar sambil berlalu bersama sang istri.
"Makan tuh bucin." Kesal Anzar.
Sedari bangun tadi, ia memang tidak berbuat apa-apa. Hanya duduk duduk, sambil meratapi kerinduanya kepada sang kekasih hati.
"Irra." Lirihnya lagi, sungguh bucin itu menyiksa.
"Bantuin kek bang, bucin mulu bisanya." Ketus adiknya yang lain.
"Apaan sih?" Kesal tak suka, pasalnya dirinya terus saja di bully.
"Iya. Enak aja diem-diem bae." Timpal pria disamping adiknya.
"Orang abang yang mau nikah, ya makanya abang diem aja." Jawabnya santai.
"Dasar abang bucin, bukanya bantuin malah santai santai aja." Ujar Lunar sambil berlalu dengan setumpuk undangan ditanganya.
"Selamat menikmati malarindu, ini ujian bang."
Kekeh Arkan sambil berlalu.
"Semua orang ngeselin, kecuali kamu Irra." Gumamnya kecil.
Ia memang baru dipingit dua hari dengan sekarang, tetapi dua hari sebelumnya ia juga belum bertemu dangan kekasih hatinya itu. Pasalnya, Airra juga sibuk dengan urusan di firma hukum tempatnya bekerja. Banyaknya orang orang yang tengah sibuk dengan jobnya masing masing, membuatnya berasa diasingkan sendiri. Melihat adik-adiknya tersenyum sembara berduaan dengan pasangan mereka, membuat Anzar meradang sendiri.
"Arggg, Zega." Panggilnya.
"Iya, ada apa bang?" Tanya Lawyer muda tersebut.
"Mabar games bareng yuk!" Ajaknya.
"Ogah ah bang, mendingan bantun pacar ngedekor taman samping." Tolak Zega to the point sambil berlalu.
"Ish." Kesal Anzar sambil berlalu menuju kamarnya sendiri.
__ADS_1
Tanpa Anzar sadari, semua gerak geriknya itu telah diawasi oleh bundanya dan tantenya.
"Ulu uluu, Anzar galau mbak." Ujar wanita paruh baya tersebut.
"Iya. Dari kemarin dia uring-uringan terus."
Jawab Kia sambil menatap kepergian putranya.
"Gak nyangka, Anzar udah mau nikah juga."
Kia mengangguk samar, ia pun merasakal hal yang sama. Tidak menyangka putra sulungnya akan segera menyusul putra keduanya. Di tahun depan pun, rencananya si bungsu akan menyusul. Jadi, tiga tahun berturut-turut, putra putrinya akan segera merepas masa lajangnya. Dari Van'ar, Anzar sampai Lunar.
"Pasti nanti disini seru ya mbak, soalnya bakal kedatangan banyak cucu." Ujar Vanya-adik Vano menuturkan.
"Iya." Membayangkanya saja sudah membuat Kia gemas, oleh karena itu ia sudah tidak sabar menunggu kelahiran cucu cucunya kelak.
"Dek, sudah duduk dulu." Intruksi pria tampan tersebut.
"Sebentar lagi kok mas." Lirih wanita hamil yang sedang membantu menata supenir pernikahan tersebut.
"Kamu butuh istirahat sayang, baby twins juga."
Ujarnya lirih.
Aurra tahu, jika sudah keluar kata bujukan 'sayang' berarti Van'ar sudah tidak ingin dibantah. "Yasudah, habis ini aku istirahat kok mas." Ujar Aurra meyakinkan.
Bukan saja mengkhawatirkan istri dan kedua buah hatinya. Van'ar over protectif karena ia takut istrinya yang tengah hamil besar itu kelelahan. Satu bulan menuju persalinan, perut buncitnya itu sangat membuat Van'ar ngilu saat istrinya itu bergerak kesana kemari. Ia ingin sekali mengurung istrinya, agar tidak selalu membuatnya cemas.
"Bengkak dek?" Tanya Van'ar khawatir.
"Perlu aku telpon dokter Adnia?" Tanyanya lagi.
Aurra menggeleng kecil sambil tersenyum.
"Ini sudah biasa dialami ibu hamil kok mas, apa lagi mendekati persalinan."
"Oh, tapi tidak sakit kan dek?" Tanya Van'ar lagi, sambil memijit betis sang istri.
Kini keduanya tengah berada di kamar mereka. Van'ar paranoid sendiri melihat istrinya itu berlalu lalang kesana kemari. Hari ini dia tidak ada panggilan untuk kekesatuan, jadi iabisa membantu persiapan pernikahan kakaknya.
"Si kembar nendang-nendang ya dek?" Tanyanya saat melihat sang istri meringis kecil.
Aurra mengangguk, saat dua buah hatinya menendang bersamaan, ia pasti akan merasakan nyeri yang lumayan di area perutnya.
"Ssstt, jagoan jagoan ayah kenapa hm?" Tanyanya lirih, sambil mengusap lembut perut sang istri.
"Kalian capek ya? Sekarang kalian istirahat ya, ayah akan melantunkan hantaran untuk tidur kalian." Ujar Van'ar sambil tersenyum kecil.
Cup
"Tidur yang nyenyak bidadariku, aku mencintai kalian." Ujarnya sambil mengecup kening sang istri sayang.
Van'ar tahu, semenjak memasuki trisemester terakhir kehamilan, bumil cenderung mudah lelah. Termasuk istrinya, oleh karena itu ia selalu menjadwalkan jam tidur siang istrinya lebih lama.
"Ayah sayang kalian." Ujarnya lagi.
Sungguh, ia tak sabar menunggu kelahiran buah hatinya kedunia ini. Menyempurkanan kebahagiaanya dengan sang istri.
Dari celah pintu yang terbuka lumayan lebar, wanita paruh baya yang membawa nampan berisi menu makan siang itu. Tersenyum bahagia, sambil memutar arah kembali. Menuruni anak tangga sambil membawa barang bawaanya kembali. Awalnya ia ingin membawakan makan siang untuk putra dan menantunya. Namun urung dilakukan, karena menantunya itu sudah tertidur karena kelelahan.
Tiba didapur, manik tedurnya menatap kaget kearah dua orang beda jenis dihadapanya. Bertaburan gliter, membuàt wajah keduanya nampak lucu. Belum lagi perdebatan yang mereka lakukan mengundang gelak tawa bagi banyak orang.
"Lepaskan!"
"Kau mencekiknya."
"Dia milikku."
"Tapi kau menyakitinya, nona keras kepala!"
"Tapi kau ingin merebutnya, tuan pembohong!"
"Apa kau bilang?"
"Tuan pembohong, apa kau tuli?"
"No no no, anda yang salah bicara nona keras kepala." Sengit pria tampan berpakaian casual tersebut.
"Dia kelinciku."
"Aku yang menemukanya."
"Tapi dia milikku, tuan pembohong?!"
"Aku yang memberinya makan." sengit pria tampan tersebut.
"Dia punyaku!" Timpal gadis cantik yang masih cadel menggunakan bahasa Indonesia tersebut.
__ADS_1
"Queenby Azizah Luthears, apa yang sedang kamu lakukan nak?" Tanya pria paruh baya berkacamata tersebut.
"Daddy, tuan ini merebut willy-ku." Ujarnya penuh penekanan.
"Willy?" Bingung pria parih baya tersebut-Aditama.
"Saya menemukanya tuan, saya cuma mau merawatnya dengan benar. Bukan dengan cara diikat seperti ini." Bela pria tampan yang sebagian wajahnya dipenuhi gliter tersebut.
"This is my pet, daddy." Ujar gadis berdress peach tersebut.
"Tapi aku menemukanya." Kekeuh pria tampan tersebut.
"Astagfirullah, bang. Lagi ngapain?" Kaget sang adik.
"Dia menyiksa kelici lucu ini?" Jawabnya gamblang.
Arkan beralih, menatap kecilinci yang kakinya dipegang sang kakak. Sedangkan kepalanya, di pegang oleh gadis dihadapanya. Haduh, jatuhlah citra CEO perusahaan properti ternama ini hanya karena memperebutkan kèlinci gemuk berbulu putih bersih tersebut.
"Dia bukan Ragunan bang." Ujarnya melerai sang kakak.
Arkan ingat, dulu kakaknya memiliki hewan peliharaan yang sangat disayanginya. Kelinci putih yang gemuk dan bulunya bersih terawat, diberi nama Ragunan oleh si empunya. Kelinci pemberian mantan pacar pertama kakaknya yang sayangnya mati setelah beberapa tahun dipelihara.
"Tapi kelincinya kasihan."
"This is my pet?!" Kesal gadis dihadapanya.
"Dia Willy, kelinciku. Daddy, tolong." Aditama geleng-geleng kepala sendiri melihat kelakuan putri bungsunya.
Willy-kelinci yang amat disayangi By. Kelinci putih bersih, yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun dari salah satu senior By. Pemuda yang disukai By, sekitar dua tahun yang lalu.
"Dia punyaku Daddy."
"Tapi kamu tidak bisa merawatnya dengan benar nona." Ralat Aksara.
Iya, yang sedang rebutan kelinci itu Aksara dan By-putri bungsu Aditama dan Vanya.
"Haduh bang, jatuhlah harga dirimu sebagai seorang CEO hanya karena seekor kelinci."
Bingung Arkan, sambil melerai keduanya.
Orang orang yang melihatnyapun hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala. Entah mengapa, dua orang penggemar fanatik kelinci itu terlihat sangat lucu saat bertengkar.
"Kudoakan kalian berjodoh." Celetuk Q, putri pertama Aditama dan Vanya.
"Sama-sama jomblo kan, jadi fine fine saja." Ujarnya yang langsung dihadiahi pelototan tak suka dari Aksara maupun By.
"Sister?" Intruksir By tak suka.
"Iya iya, kudoakan abang dan kamu berjodoh."
Timpal Arkan juga.
"Kasihan, bang Aksa kelamaan menjomblo." Celetuknya yang langsung dihadiahi tawa riuh orang orang disana.
Sedangkan Aksara dan By, hanya bisa cemberut saat mereka menjadi bahan pembulian.
"Gara gara kamu!" Ketus By.
"Yang ada, gara gara anda nona." Kesal Aksara tak mau kalah.
Sampai manapun juga, Aksara tak sudi berjodoh dengan perempuan cerewet seperti By. Hih, yang ada dia jadi suami takut istri karena perang adu mulut tiap hari.
"Siapa juga yang mau jadi istri kamu." Ketus By sambil berlalu.
"Kok dia bisa tahu isi hatiku?" Bingung Aksara sambil menatap kepergian gadis cantik berambut agak kecoklatan tersebut.
"Dasar aneh."
****
To Be continue
Selamat pagi readers😄😄
Update lagi ni🖑🖑
Hari ini ada waktu sebelum ke skolah,ada persediaan juga. Moodnya bagus juga😅😅
Hayoo, yang mau jadi calon Aksara cung🖑
Soalnya mau aku tutup lowonganya😆😆
Wokee, jangan lupa tinggalkan jejaknya yo.
Like, komentar dan voteee❤
Ok, jumpa lagi besok🖑🖑
__ADS_1
Sukabumi 18 Juli 2020
07.12