
..."Ingatlah ini, aku akan membangun kerajaanku sendiri dari keringat yang aku teteskan dari setiap kerja kerasku."...
...-Keevanzar Radityan Al-faruq-...
...BSJ 57 : Diatas Langit, Masih Ada Langit...
...□□□□...
"Mas, istirahat dulu. Makan dulu sama kami." Ajak salah seorang pria berseragam office boy tersebut.
"Hm."
"Nanti kalau telat makan, perutnya kosong, asam lambungya nanti naik." Ajakan pria paruh baya berikutnya tak menyurutkan niat si empunya untuk terus mengepel lantai yang kotor di hadapanya.
Hari ini, hari pertamanya bekerja di perusahaan milik keluarganya sebagai office boy. Sedari pagi ia bergulat dengan sapu, pel juga pembersih kaca. Aneh memang di awal-awal, tetapi ia harus bisa melewati semua ini demi membuktikan kepada sang ayah jika ia mampuh.
Awalnya para staf juga Office boy/office grils yang mengenalinya sebagai putra pemilik perusahaan merasa canggung. Bagaimana tidak, seseorang yang biasanya menunjuk nunjuk dari balik ruangan mewahnya, kini beralih menjadi kacung jari telunjuk.
"Ayo mas, makan siang dulu. Mumpung ini nasi bungkusnya masih sisa satu."
Pria tampan berseragam office boy itu mengangguk. Keringat bercucuran di pelipisnya, sesekali ia menyekanya menggunakan lap bersih yang di bawanya. Tidak ada lagi setelan formal mahal miliknya, yang ada kini hanyalah seragam office boy yang bahanya kasar dan sukar di gunakan.
Dengan anggukan kecil kecilnya, ia menyimpan pelan dan ember berisi air kotor di dekat peralatan lainya, sebelum ikut bergabung untuk makan siang bersama. Setelah memastikan tanganya bersih, ia mulai membuka bungkusan kertas nasi yang rutin di bagikan siang dan sore hari dengan segelas teh tawar oleh pihak managemen. Ia menatap nanar menu makan siangnya yang baru ia temui, selama hampir 29 tahun hidupnya.
"Ayo mas dimakan, sambelnya buk Nem di kantin ini enak. Bikin nagih."
Anzar mengangguk, dari puluhan office boy yang ada perusahaan ini, kini 7 orang diantaranya bekerja satu team denganya. Mereka ramah dan bersahabat. Walaupun awalnya canggung menerima mantan atasan mereka intuk bergabung. Tetapi setelah Anzar meminta untuk bersikap biasa saja, mereka menurutinya.
Di lihatnya kembali satu gumpalan nasi putih yang bagi dirinya cukup banyak, adapun lauk pendampingnya hanya tahu goreng, tempe goreng, lalapan, sambal tomat goreng, dengan sepotong ayam berukuran kecil di masak sederhana, yaitu digoreng kering. Nampak juga ada tambahan kremesan ayam di sana. Setelah mengucapkan doa mau makan, Anzar mulai melahapkab satu suapan kecil.
Bagaimanapun juga ia butuh makan siang. Perutnya lapar setelah seharian menyapu, mengepel, membersihkan kaca bahkan tak segan segan ia terima di suruh suruh membeli minuman atau makanan di luar area kantor. Itu semua tidak membuatnya kesal atau sebal, tapi yang membuatnya sebal adalah saat beberapa staf wanita mengajaknya ber-swa fhoto saat dirinya tengah bekerja.
"Gimana, enak mas?" Tanya office boy yang paling tua diantara mereka bertujuh.
"Hm, saya baru makan makanan seperti ini."
Pria paruh baya itu tersenyum, ia dan yang lain juga memaklumi jika anak bosnya ini baru menikmati nasi bungkus receh macam ini.
__ADS_1
"Di atas langit, masih ada langit mas. Jangan kaget jika mas ada di titik terendah, karena orang sukses pun tidak selamanya instant. Mereka mengawalinya dari bawah sampai bisa setinggi langit." Ujar office boy bernama Ahmad tersebut. Pria yang dulu awalnya bekerja sebagai security.
Anzar tesentil hatinya, ternyata banyak yang lebih sulit dari hidupnya. Banyak yang ia dapatkan dari pekerjaan ini. Ternyata, mencaŕi uang tak semudah yang di rasakanya selama ini. Hidup dengan keadaan bercukupan hasil jerih payah orang tuanya, membutnya besar menjadi penikmat. Sampai sampai ia lupa masih ada langit diatas langit. Lupa jika tuhan yang maha kuasa, mampu membolak balikkan kehidupan mahluknya semudah membalikkan telapak tangan.
"Bapak sudah lama kerja disini?" Tañyanya penasaran, sambil menghentikan antivitas makanya.
"Alhamdulillah, hampir 29 tahun lamanya mas."
Anzar terlonjak saking kagetnya. Dua sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bertahan dalam pekerjaan seperti ini.
"Bapak tidak bosan?"
Pria paruh baya itu tersenyum dikeriput senja wajahnya. "Alhamdulillah tidak. Ayah mas pemimpin yang bijaksana, mengerti cara membuat karyawanya nyaman hingga ke staf terendah seperti kita. Beliau memberikan gajih yang cukup, makanan yang layak, fasilitas juga baik untuk bagian OB atau OG. Dari jaman pak Ibra, sampai pak Radith, saya tidak pernah merasa kekurangan fasilitas bekerja di tempat ini." Tuturnya menjelaskan.
"Pak Radith menjamin seluruh kesejahteraan karyawanya, setelah memegang kuasa sejak dahulu." Lanjutnya bercerita.
Anzar mengiyakan dalam hati. Bagaimana pun juga ayahnya adalah sosok yang menjadi panutanya dalam dunia bisnis.
"Iya mas, ayah mas sangat peduli dengan karyawan karyawanya." Lanjùt office boy lainya.
"Makanan kita saja di perhatikan, walaupun cuma nasi bungkus. Tapi lauknya selalu berganti setiap harinya. Pak Radith juga empat tahun lalu membuka layanan kesehatan khusus staf office seperti kita."
"Saya harap, kalau mas menggantikan bapak lagi ke depanya, mas tetap bisa mempertahankan kenyamanan para karyawan mas." Ujar pak Ahmad memberi saran.
"Iya mas, karena kami tahu keluarga Radityan selalu berhasil memberikan makan banyak orang, lewat lowongan pekerjaanya."
Anzar menganggùk mengerti, sambil tersenyum tipis. Ia berjanji, suatu saat nanti akan di kabulkanya doa sederhana dari para pasukan pembawa sapu dan pel ini.
"Yasudah, lanjut lagi makanya mas. Nanti kita lanjut bersih bersih lagi." Ujar pak Ahmad mengintruksi.
"Hm."
"Ayok ayok habiskan, habis ini pasukan pembawa sapu dan pel siap bertempur." Ujar salah satu diantara mereka yang mengundang gelak tawa yang lainya.
Anzar memang pribadi yang kaku, tapi ketika ia ingin berubah dan memiliki sebuah goals (Tujuan) yang ingin dicapainya, tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukanya. Karena pada dasarnya jiwa mudah bersosialisasi sudah tertanam padanya sedari kecil, hanya saja semua itu hilang kala ia memiliki hubungan asmara dengan top model seperti Nata. Nah kini, ia akan memupuk semua itu kembali dari awal.
Keevanzar Radityan Al-faruq (Putra Radityan yang penyayang, penyuka keindahan dan pandai)
__ADS_1
□□□□
DOR
DOR
DOR
Bunyi tembakan amat menggema di ruangan kedap suara tersebut. Si bungsu dari dua Praditpta bersaudara terlihat tengah bermain main dengan senapan lasar panjang yang biasa di gunakanya untuķ berlatih. Kini ia tengah berada diruang tanah, dibawan rumah megahnya yang berada di New york, ingat. Setelah beberapa hari yang lalu menjalankan misi di california, dia-Gemintang sudah kembali ke mansion besar miliknya dan sang kakak. Sedangkan sang kakak masih berada di California. Kini giliran kakaknya yang beraksi, dia tinggal menunggu intruksi.
DOR
DOR
DOR
"Mantul, kata orang Indonesia mah." Ujarnya bergumam kecil.
Ia jadi ingat saat dirinya menjadi salah satu anggota polisi RI, beberapa saat yang lalu.
Pria yang mengenakan T-shirt putih polos itu tersenyum jika mengingat keberhasilan misinya beberapa saat yang lalu. Pria muda yang memiliki tato di lengan kanan-akibat dari kefrustasianya dahulu itu, tersenyum miris. Sebentar lagi, semua tipu muslihat mantan ketua mafia yang amat di segani itu akan hancur. Usaha dan kerja kerasnya berbulan bulan lamanya, bahkan bertahun tahun lamanya bersama sang kakak akan segera membuahkan hasil. Di tilik dari berbagai proses pun, hasilnya tidak akan membohongi.
"Ah aku selalu suka perumpaan di atas langit masih ada langit." Ujarnya bergumam kecil.
Waktunya akan segeŕa tiba, di mana ia dan sang kakak akan menumpas seorang pria yang selalu menjunjung dirinya, seakan akan dirinya ada di langit. Padahal di atas langit masih ada langit, ia lupa jika semua kejahatan yang di lakukanya sebersih mungkin pasti akan segera di bongkar.
Sepandai pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.
■■■■■
To Be Continue
Selamat pagi guys, hayoo nih yang kangen sama Anzar. Part berikutnya full GG bersaudara dan Logan yaa😊😊 Ok, jangan lupa like🖒komenn💬 dan votee yang banyak💯💯
Ok, see you again.
__ADS_1
Sukabumi 12 Juni 2020
04.51