
..."Banyak yang bisa membuat diriku possesive, termasuk segala hal yang membuat diriku childish karena tak mau perhatianmu terbagi."...
...-Ayamu Childish-...
...BSJ 60 : Ayamu Pengen Dimanja...
...◇◇◇◇...
Minggu pagi yang cerah di seantero negeri.
Wajah sumringah dan segar nampak terlihat di wajah tampan putra sulung keluarga besar Radityan tersebut. Dengan langkah santai, ia berjalan menuruni udakan tangga. Hari ini ia libur bekerja sebagai staf office boy. Mengingat perusahaan Radityan memang menetapkan cuti di akhir pekan, termasuk staf office boy dan staf office grils.
Namun, belum sempat kakinya menyentuh lantai dasar. Sebuah suara riuh dari kamar sang adik menghentikan langkahnya. Dengan langkah pelan, ia berbalik menaiki anak tangga. Rasa penasaran membawa dirinya untuk melihat apa yang terjadi dari arah sana.
Hoeeekk
Hoeeekk
Hoeeekk
"Van'ar kenapa bun?" Tanyanya lirih, pasalnya bukan dirinya yang di buat penasaran. Ada sang bunda dan adiknya Lunar disana.
"Astagfirullah abang, buat bunda kaget saja."
Cicit wanita paruh baya itu kecil.
"Van'ar kenapa bunda, sakit?" Tanyanya lagi saat sudah menyadari kesalahanya.
"Bukan sakit bang, tapi morning sickness." Jawab sang adik menyela.
Dia termenung kecil, ia tidak terlalu bodoh tentang apa itu morning sickness. Bùkanya itu gejala yang umum dialami seorang calon ibu yang tengah hamil. Nah ini, calon ayahnya. Anzar baru tahu jika yang seperti ini.
"Van'ar udah lama kayak gini bun?"
"Dari awal kehamilan Aurra sih, pas di rumah sakit juga gitu." Tutur Arkia sambil menatap sepasang suami istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Di sini aja dek, mas mau peluk." Lirih pria tampan tersebut dari bibir pucatnya.
"Iya, tapi mas harus sarapan dulu. Nanti baru boleh istirahat lagi." Ucap sang istri memberi penjelasan.
"Mual dek."
"Iya, Aurra tahu. Sekarang mas rebahan dulu, Aurra mau ke bawah dulu buat ambil sarapan mas." Pria tampan itu menggeleng, sambil membenamkan wajahnya di perut buncit sang istri.
Arkia yang melihat kemanjaan putra keduanya itu hanya tersenyum kecil. Ia jadi ingat saat mèngandung si kembar Van'ar dan Lunar, Vano-sang suamilah yang mengalami morning sickness dan manjanya tak main-main kala itu.
"Udah biarin masmu tiduran Ra, biar bunda yang ambilin sarapan buat kalian." Ujar Kia sambil tersenyum.
"Eh, gak usah repot repot bunda. Biar Aurra saja." Tolak Aurra tak enak hati.
"Sudah, biar bibi yang anterin sarapan kalian. Aurra disini saja, jagain masmu yang lagi manja itu." Lunar terkekeh kecil mendengar ucapan sang bunda, saudara kembarnya itu memang manja jika dekat dekat istrinya.
"I-iya bunda." Jawab Aurra kikuk, sambil mengelus elus rambut hitam legam milik sang suami.
Sedangkan Anzar yang melihat semua itu hanya diam terpaku. Ia sudah lama tidak memasuki kamar sang adik, walaupun tidak banyak yang berubah. Tetapi tetap saja ruangan ini agaknya berbeda, dari terakhir kali yang ia lihat. Kamar bernuansa manly dengan warna putih abu abu gelap dan silver ini, kini terlihat berbaur dengan sedikit ulasan gerly. Ada beberapa vas bunga berisi bunga edelweis dan tanaman kaktus mini di atas meja. Ada box bayi mungil di dekat jendela balkon, bahkan ada tumpukkan buku buku medis diatas meja belajar yang dulu sering digunakan oleh adiknya. Semuanya berubah, setelah hadirnya seorang malaikat melengkapi hidup adiknya.
"Hm, abang ke bawah dulu ya bun." Ujar Anzar akhirnya, berlama lama di sini membuat dirinya merasa iri, mungkin.
Arkia mengangguk kecil, ia tahu suasana canggung yang melingkupi sekitaran sini. Namun, belum sampai dua langkah. Sebuah panggilang menghentikan langkah putra sulungnya.
"Bang." Anzar berbalik reflek, saat dirasa suara yang sudah lama tak pernah memanggilnya itu mengaungkan namanya.
"A-apa?" Tanya Anzar kikuk, bagaimana tidak kikuk. Mengingat hubungan mereka yang rengangg akhir akhir ini.
"Ambilin mangga." Manik tajam pri itu membulat sempurna saking tak percayanya.
"A-pa?"
"Ambilin mangga cengkir yang masih muda di pohon belakang." Ujar pria tampan tersebut mengulang dengan nada datarnya.
"Fffttt, abang ngidam." Tawa Lunar menguar tak tahan lagi melihat interaksi kedua abangnya.
"Maksud kamu?" Tanya Anzar memastikan pendengaranya.
"Ambilin mangga cengkir yang masih muda dari pohonya." Anzar yakin ingin mengumpat saat ini juga.
Bagaimana bisa bisanya adiknya itu meminta dirinya memanjat pohon mangga, yang dulu pernah membuatnya masuk UGD. Hih, Anzar bermusuhan dengan pohon cengkir itu sejak dulu. Mereka musuh bebuyutan, ingat itu.
__ADS_1
"Gak, abang gak mau. Beli aja di supermaket, kan gampang." Ujar Anzar datar yang langsung di hadiahi tatapan tak suka dari sang adik.
"Maunya sama kamu, bang." Ujar sang adik tak kalah datarnya.
Aurra dan Arkia yang melihat perseturuan dua saudara itu hanya bisa geleng geleng kepala.
"Mas, gak boleh gitu." Lirih Aurra mengingatkan sang suami.
"Habisnya abang mau mangga muda itu dek."
Lirih Van'ar sambil membenamkan wajahnya kembali di perut buncit sang istri.
"Kita beli aja ya?" Bujuk sang istri.
"Gak mau dek." Aurra tak bisa berbuat apa apa lagi, sepertinya suaminya ini ketularan ngidam seperti dirinya.
"Bang, ambilin gih. Kasihan tuh adikmu." Bujuk Arkia sambil mengelus bahu lebar putra sulungnya.
"Iya bang. Kan gak lucu kalau keponakan kita yang lucu nanti ileran." Timpal Lunar menambahi.
Anzar inginya sih menolak, tetapi saat melihat manik adik iparnya yang seakan akan meneduh sambil mengelus elus rambut hitam suaminya, ia jadi tidak tega.
"Fix, kali ini aja abang turutin."
Demi orang itu ia menumpas ego menggunungnya. Dengan tampang datarnya, pria tampan itu berlalu meninggalkan tiga wanita yang di sayanginya yang tengah tersenyum di sana. Termasuk Aurra adik iparnya ya?
Demi adiknya yang pernah menjadi korban kepengec*tan dirinya, juga demi calon keponakan yang tengah di kandung wanita yang d ikaguminya. Kali ini saja, Anzar akan menurutinya.
"Yang itu bang, buahnya besar."
"Yang kanan bang."
"Ehh, yang kiri juga besar bang."
Kepala pria tampan itu sampai dibuat pusing tujuh keliling, mendengar intruksi sang adik di bawah sana. Belum lagi semut kerangrang/semut merah yang terus mengigiti kulitnya.
"Atasan dikit bang, buahnya besar itu." Antusias gadis berhijab tersebut.
"Please, kamu bisa diem kan Lunar?" Pinta Anzar sambil menjatuhkan satu lagi buah mangga cengkir muda kebawah.
Dua pembantu mereka saja sedari tadi menertawakan interaksi mereka berdua, sambil memungiti buah mangga yang diambilnya.
"Ahkk, dasar semut sial*n." Umpat Anzar saat merasa tubuhnya mendarat dengan tidak etis di atas tanah. Bukanya membantu Anzar, Lunar dan dua pembantu di sana malah menertawakan dirinya.
"Astagfirullah bang, abang kenapa?" Tanya Arkia khawatir saat melihat putra sulungnya itu duduk di atas tanah sambil merintih kesakitan.
"Ahkk, bun tolongin Anzar." Pintanya, saat merasa tubuhnya nyeri akibat terhempas keras ke atas tanah. Seluruh permukasn kulit putihnya juga merah merah dan bentol akibat di gigit kerangrang.
"Aduh, kok bisa gini sih bang?" Ujar Kia sambil membantu putranya berdiri.
"Aduhh, pinggang abang sakit bun." Rintihnya.
"Sabar ya, semua ini demi adikmu bang. Kasian dia lagi ngidam."
Anzar menghela napasnya gusar, setidaknya ia sedikit banyaknya bisa mengabulkan keinginan sang adik sebagai seorang kakak.
□□□□
Cup
Cup
Cup
"Mas, geli ih." Lerai wanita hamil yang merasa aktivitasnya terganggu.
"Mas pengen di peluk." Wanita cantik berhijab syar'i itu mengentikas aktivitas mengupas buah mangganya sejenak. Suaminya yang tengah memeluknya dari belakang itu memang sangat menganggu.
Bukan saja mengurangi ruang geraknya, pria itu juga terus menerus menjatuhkan kecupan ringan di ujung khimarnya. Padahal beberapa saat yang lalu pria itu meminta rujak mangga muda, hasil kerja keras dari sang kakak ipar memanjat pohon mangga tàdi.
"Katanya mas tadi mau rujak mangga muda?"
Tanya Aurra sambil membalikkan tubuhnya.
Kehamilanya kini sudah memasuki bulan keempat. Hampir dua minggu yang lalu, suaminya ini full week bekerja di kesatuan. Hingga saat pulang kemarin, pria tampan itu begitu manja kepada istrinya. Belum lagi morning sickness yang di alaminya kini semakin parah saat memasuki bulan keempat. Untung saja hari ini pemimpin kesatuan memberi cuti kepada prajuritnya yang sudah bekerja full beberapa minggu kebelakang, termasuk suaminya.
Cup
__ADS_1
Manik hazel itu membola sempurna saking terkejutnya. Bagaimana tidak terkejut, ciuman yang biasa mendarat di ujung khimarnya, pelipis, kening, kelopak mata, hidung atau pipinya itu, kini mendarat di bagian bibirnya yang terhalang oleh cadar tipisnya. Aurra bahkan bisa merasakan benda hangat itu mengenai penghalang tipisnya.
"Hachimmm, eh khilaf." Hingga sebuah suara familiar membuat Aurra refleks mendorong dada bidang sang suami.
"Lunar khilaf, bener." Ujar wanita cantik itu sambil mengangkat dua jarinya berbentuk v.
"Kenapa mas di dorong sih?" Kesal Van'ar sambil memeluk perut buncit istrinya kembali.
"Mas." Lerai sang istri yang merasa malu karena kepergok oleh adik iparnya sendiri.
"Abang kalau lagi manja ngeri ngeri gimana gitu ya?" Lirih Lunar saat melihat singa jantan itu menatapnya tajam sambil memeluk istrinya manja.
"Tau ah atut, mergokin singa jantan lagi pengen dimanja. Ngeri." Lanjutnya sambil berlalu meninggalkan dapur.
Lunar memang benar, walaupun Ayamu manja seperti ini. Tetapi ia tetaplah pejantan yang tak pernah lepas dari aura mematikanya. Apalagi manik tajamnya yang siap mengintai mangsa yang menganggu betinanya.
"Dek, kok mas di demin?" Tanyanya sambil menguncang guncang pelukanya.
"Dek, jangan diem mulu dong. Mas kan jadi khawatir?"
"Dek, màs minta maaf kalau salah ya?"
"Dek." Aurra tak mengubris sedikit pun, ia tetap fokus mengulek sambel rujak di dalam cobek.
"Dek, kamu marah?" Tanyanya sambil membalikkan tubuh mungil sang istri.
Walaupun tengah hamil empat bulan, tetapi tubuh Aurra tetap saja kecil. Tak ada penambahan berlebihan pada bentuk tubuhnya.
"Dek, mas-mmppp."
"Enak kan?" Tanya wanita cantik tersebut.
"Uhuk uhuk, pedes dek." Jawab Van'ar yang mulutnya penuh oleh rujak mangga yang di suapkan tiba tiba oleh sang istri.
"Habisnya, mas jadi cerewet. Kan Aurra lagi buat rujak, buat mas juga." Ujar Aurra angkat bicara, menceramahi sang suami secara halus.
"Maaf bumu, Ayamu cuma pengen peluk."
Aurra mengalah, bagaimanapun juga sosok suaminya yang imam-able ini saat seperti ini saat mengemaskan dimatanya.
"Iya, tapi lain kali jangan begitu ya Ayamu. Malu kalau dilihat orang lain." Ujarnya menambahkan.
Van'ar mengangguk dengan patuhnya, beberapa menit diacukan oleh sang istri rasanya setahun. Ia tak mau lagi membuat sang istri mengacuhkan dirinya. Benar adanya jika ia manja saat ini, tetapi semua itu datang sendiri tanpa bisa diprediksi.
Aurra tersenyum kecil sambil mengarahkan dua tanganya untuk memeluk sang suami erat. Sesuai dengan keinginan prianya.
"Jadi Ayamu lagi pengen dimanja ya?" Gumanya kecil sambil memeluk erat tubuh sang suami yang dijawab pula tak kalah kuat oleh suaminya.
"Jadi bumi bakal manjain Ayamu, kalau perlu peluk Ayamu seharian sampai puas."
Anzar tersenyum bahagia, ia tahu jika wanita mungil inilah mate-miliknya.
Penawar segala keluh kesah yang di derita olehnya. Obat yang membuatnya merasa reda kala di dera sakit tiada tara. Istrinya, cintanya, anugrah di dalam hidupnya.
Cup
"Terimakasih bumu, Ayamu sayang bumu." Ujarnya penuh kasih sambil mengecup pucuk khimar sang istri sayang.
Tanpa mereka ketahui, ada sosok lain yang melihat mereka dengan senyum kecut sebelum berlalu meninggalkan keduanya. Dia bukan kecewa, hanya saja hidupnya terlalu banyak celah dan kurang keberuntungan. Tidak seperti hidup adiknya.
□□□□
Holla guyss😊😊
Met pagi cemuaa, gimana kabarnya kalian semua? Hehee, VanRa unpdate lagi ya,sesuai pesanan readers😄😄
Gimana, rakyat bucin meronta ronta gak?
Maaf ya belum bisa up banyak, karya yang pak Al jg blum aku update dua hari ini.
Hakunya lagi kurang fit, jadi maaf🙏🙏
Yok, habis part ini tinggal AnRa. Tahu kan?
Wokee, jangan lupa like, komentar yang buanyak dan vote yaa😊😊
Sukabumi 15 Juni 2020
__ADS_1
06.43