Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 77 : Janggal


__ADS_3

...“Cinta itu keikhlasan. Tak ada paksaan ataupun rasa pelampiasan,” – Bacharuddin Jusuf Habibie....


...BSJ 77 : Janggal...


...****...


Ketika kabar gembira itu berhembus dengan cepat, burung burung saja bagaikan ikut mengabarkanya. Semua keluarga dan kerabat akhirnya bisa bernapas lega, saat kabar gembira itu melanglang-buana. Putra yang mereka sayangi, telah kembali dengan selamat dan sehat wal'afiat. Membuat banyak hati lega karena kembalinya dia.


Minggu pagi yang cerah di kediaman Radityan. Sudah tiga hari berlalu, setelah pulangnya Van'ar. Kini, kediaman Radityan kembali mendapatkan sinar kebahagianya.


"Ini terigunya cukup Ra?" Tanya Arkia-sambil menatap calon menantu dari putra sulungnya tersebut.


"Cukup tante, nanti biar Irra yang mixer aja sekalian." Jawab wanita cantik berdress peach tersebut.


Pagi ini, karena semua orang berkegiatan di rumah. Jadilah Anzar memboyong kekasih hatinya, atas permintaan sang bunda. Arkia-nyatanya ketagihan membuat kue bersama Airra-tunangan Anzar.


"Tante bisa kok!" Ujar Arkia.


"Nanti kalau kurang tepat, takaran sama tekstur adonanya, kuenya bisa bantet atau gagal tante." Ujar Irra pelan, mènghargai keinginan calon mertuanya tersebut.


"Gitu ya, yasudah. Tante, bantu yang lain saja."


"Iya tante." Mereka bertiga pun kembali sibuk membuat kue dan sejenisnya.


Arkia, Airra dan Ari. Awalnya Aurra juga mau ikut membantu, tetapi dilarang oleh sang suami-Van'ar. Katanya, takut Aurra kecapean. Pria itu memang selalu over protectif jika menyangkut sang Bumu tercinta.


"Ari, tolong panggilkan Van'ar sama Aurra ya."


Titah Arkia,beberapa saat kemudian.


Arkia ingat, jika pasangan muda itu punya beberapa phobia yang dihindari juga memiliki beberapa kesamaan. Seperti Anzar yang benci wortel seperti halnya Vano, dan Aurra yang alergi kacang kacangan. Sedangkan Van'ar adalah kebalikan dari Anzar dan Vano-ayahnya. Pria itu fans fanatik wortel dulunya, kinipun Van'ar selalu suka dengan olahan wortel. Tapi untuk makanan manis, ternyata Van'ar dan Aurra-keduanya memiliki kesamaan, yaitu sama sama suka greentea mouse cake, greetea lava cake atau greentea cake. Cake lembut dengan campuran greentea sebagai perasanya, dengan taraf kemanisan yang standar. Sedangkan Anzar, si sulung itu suka sekali dengan namanya pie. Apalagi pie susu buatan sang kekasih hati. Sama seperti Lunar, terkadang keduanya rebutan Pie susu buatan Airra.


"Baik nyonya." Jawab gadis berusia 19 tahun tersebut.


Hari ini, mereka memang rencananya akan banyak membuat kue. Kue kering, cake, pie, cake greetea, dan kudapan manis lainya.


"Asisten baru ya tante?" Tanya Airra penasaran.


"Iya, putri asisten yang dulu. Mereka tinggal di pavilum belakang." Tutur Arkia.


"Ada apa memangnya Ra?"


Airra tersenyum kecil sambil menggeleng.


"Itu, timer overnya 25 menit ya tante." Dalihnya.


"Ok, chief." Jawab Kia sambil tersenyum kecil.


Airŕa hanya merasa ada yang janggal. Dari tatapan gadis itu, sepertinya ada rasa memuja ketika mendengar nama adik dari kekasih hatinya. Seperti mata yang berbinar berbeda, saat memiliki kesempatan menemui kekasih hatinya.


"Hm, harumnya nyampe kesini.Istri idaman banget deh." Gumam Anzar kecil.


Pria tampan yang baru saja selesai mandi, karena baru pulang dari rutinitas bersepeda paginya di area car free day bersama sang ayah pagi tadi. Kini, setelah selesai mandi, aroma lezat dari kue yang dimasak wanita wanita yang disayanginya menggugah seleranya.


Dengan lankang santai, pria tampan itu membuka pintunya. Belum satu langkah keluar, ia mengurungkan kembali niatnya. Sambil menatap sosok didepan pintu kamar adiknya, Anzar memilih mengintip dari celah pintu kamarnya.


Di sana, didepan pintu kamar yang di tempati oleh adik dan adik iparnya. Berdiri seorang gadis belia yang dari pertama kali, memiliki gelagat aneh yang dapat dikenali oleh Anzar. Berulang kali, gadis bermata coklat madu itu hendak mengetuk pintu di hadapanya tetapi urung dilakukanya. Anzar juga dapat melihat, gadis yang akrab disapa Ari itu, meremas ujung rok yang digunakanya. Menunjukkan jika siempunya sedang gugup.


Sampai pintu itu terbukapun, Ari masih tetap menahan gelagapan. Van'ar keluar sambil mengandeng istri tercintanya. Bertanya ada apa, lalu berjalan beriringan bersama sang istri setelahnya. Dari semua gerak gerik gadis bernama Ari-itu, tak luput dari manik tajam Anzar. Karena firasatnya mengatakan, ada sesuatu yang janggal disini.


"Ada bibit bibit pengancam masa depan?"

__ADS_1


Gumam Anzar kecil.


---


"Nendang nendan terus, memangnya gak sakit dek?" Tanya Van'ar, sambil mengelus perut buncit milik sang istri.


"Enggak sih mas, cuma kadang kadang kerasa ngilu aja." Jawab wanita berhijab plus berpenutup wajah itu pelan.


"Memang gitu kok bang, itu hal wajar. Dulu, pas bunda hamil kamu dan Lunar juga sering begitu." Ujar Arkia menjabarkan.


Kini mereka tengah berada di ruang tengah. Acara masak memasak sudah berlalu, beberapa jam yang lalu. Saat ini, mereka sedang menikmati hasil masakan mereka, sambil menonton televisi dan mengobrol.


"Lucu ya, punya baby twins. Apa apa pasti harus sama." Celetuk Airra kecil.


Anzar yang tidak sengaja mendengarnya, langsung menoleh dan tersenyum antusias.


"Kita juga nabung dulu, buat nanti program bikin baby twins." Jawabnya sambil terkekeh kecil.


"Nabung apaan coba?" Ketus Airra.


"Aduh, bunda kayaknya bakal mantu lagi dekat dekat ini." Komentar Arkia sambil tersenyum kecil.


"Kode etik itu bang." Usul Van'ar sambil tersenyum cool.


"Minta bocoran dong Ra, biar langsung dapet baby twins." Tanya Airra tak mau kalah.


Yang ditanya hanya menatap suaminya, sambil tersenyum kecil di balik penutup wajahnya.


"Rumusnya, 40% istiqomah, 20% Iktiar, 20% Tawakal, dan 20% sabar. Sudah, itu aja." Jawan Van'ar.


"Presentasenya harus hafal ya mas, biar kita dapat baby twins." Ujar Airra.


"Iya siap, bahkan nanti kamu dapetnya bukan double tapi triple." Jawab Anzar sambil mencubit pucuk hidung sang kekasih hati.


Rencanya pernikahan mereka yang harus ditunda, akhirnya membuat semua persiaan di off. Persiapan yang hampir mencapai seratus persen, harus ditunda beberapa bulan kemudian. Tetapi, walaupun acara pernikahan itu ditunda. Semua pihak dalam keadaan baik baik saja tentunya.


"Minumnya nyonya."


"Simpan saja dimeja Ari." Ujar Arkia sambil tersenyum ramah.


Anzar yang masih penasaran akan sosok Ari ini. Tentu saja tak lepas sedetikpun, dari objek pengamatanya. Gadis itu nampak gugup, kikut juga salah tingkah jika berada didekat adiknya seperti saat ini. Anzar awalnya menyangkat, tetapi semakin disangkal, semakin banyak kejangalan yang menganggu otaknya.


Derrtt


Derrtt


"Angkat dulu mas, takut penting." Intruksi sang istri.


"Iya, sebentar ya dek." Pamit Van'ar, sambil tersenyum dan mengecup singkat pucuk kepala istrinya sebelum beranjak.


"Ari pamit kebelakang dulu nyonya." Pamit Ari setelah diangguki oleh Kia,gadis itu langsung berlalu begitu saja.


Anzar yakin, ada yang tidak beres dengan Ari ini. Matanya tidak dapat berbohong, ada yang disembunyikan oleh gadis itu.


"Hallo?"


"....."


"Iya, tentu pak."


"....."

__ADS_1


"Baik, terimakasih pak." Tutup Van'ar diakhir sambunganya.


Pria itu baru saja menerima telpon dari kesatuanya. Soal cuti yang diberikan, dan jadwal misi yang akan datang. Jadilah, Van'ar menuju keruangan terbuka untuk menerima telpon tersebut.


"Sedang apa kamu?" Tanya Van'ar bingung.


Saat dirinya hendak berbalik, gadis yang tengah berjongkok di samping kolam itu menarik perhatianya.


"Membersihkan kolam tuan." Ucapnya, sambil meraih dedaunan yang jatuh keair kolam. Dikumpulkanya kedalam ember, dengan tangan kosong.


"Kamu salah, seharusnya gunakan alat bantu itu." Ujar Van'ar dengan nada datarnya.


"Gunakan ini, biar gampang dan mudah selesai."


Tutur Van'ar sambil menunjukjan galah tongkat yang dibuat khusus untuk membersihkan dedaunan ditengah kolam.


"Terimakasih tuan." Ujar gadis bermata coklat muda tersebut.


"Hm." Jawab Van'ar acuh,sebelum kembaĺi berlalu.


'Ganteng banget njirr.' Gumamnya liri, yang masih dapat di dengar oleh pria di sampingnya tanpa ia ketahui.


"Kamu bilang apa, barusan?"


Deg


Ari menoleh refleks, menundukkan wajahnya seketika. Disaat ia tahu siapa yang menjadi lawan bicaranya saat ini.


"T-tidak tuan." Gugupnya, sambil memilin ujung rok yang digunakanya.


"Telinga saya masih berfungsi dengan baik, jadi jangan berharap kamu bisa berbohong." Ujar si tampan Anzar penuh penekanan pada tiap kalimatnya.


"Inget, suka sama milik orang itu ada batasnya."


Ujarnya final sambil berlalu.


"I-iya tuan." Cicit Ari kecil.


Padahal, tanpa sepengetahuan Anzar. Gadis itu mengepalkan tanganya kuat, di balik rok yang di kenakanya. Bibirnya tertahan kuat, agar tidak mengatakan hal yang tidak diinginkanya.


'Tapi sayang, aku sudah lupa sama batasan itu?!' Batinya kecil didalam hati.


>{ }<


To Be Continue


Selamat sore guys😊😊


Maaf ya baru update, soalnya mimin cibukk.


Ini juga mau kondangan habis ini😫😫


Hayoo, gimana buat part ini. Ada yang mau komentar panjang tidak??


Penasaran??


Hayook, jangan lupa ramaikan kolom komentar.


Jangan lupa like, komentar dan vote juga😙


Sukabumi 04 Juli 2020

__ADS_1


15.34


__ADS_2