
..."Banyak yang membuat hidup ini penuh kebohongan. Utamanya, adalah cinta yang berakar di hati."...
...BSJ 81 : Ari-ri Ari...
...□■□■□...
"Kenapa?"
"Lapar?" Tanya wanita cantik berjas formal itu lagi.
Pria yang menjadi lawan bicaranya itu menggeleng lemah. Sejak masuk kedalam ruangan ini, pria tampan itu terus saja memeluknya tiada henti.
"Letih ya? Mas pasti banyak kerjaan di kantor."
Anzar menggeleng lemah, bukan saja ia letih tubuhnya. Tetapi hayati juga letih kini.
Seharian tadi, jadwalnya full. Belum lagi, seharian ini dia harus berada di manapun bersama Cira-sekretaris pengganti yang genit tersebut.
"Sayang?" Airra menyerngit bingung, kekasihnya ini sangat aneh sore ini.
"Kenapa mas?"
"Irra?" Panggil Anzar lagi, sambil memeluk Airra erat.
"Mas bucin tau gak?" Tanya Airra, yang langsung membuat Anzar angkat kepala.
"Bucin."
"Mas yang bucin."
"Aku?"
Airra mengangguk antusias. Kekasih hatinya itu memang sudah bucin tingkat dewa kayaknya. Terkadang, Anzar bersikap berlebihan bahkan chieldish.
"Tidak, aku tidak bucin Irra." Bantahnya, sambil kembali memeluk Airra.
"Terus, mas kenapa nempel-nempel begini?"
"Kangen." Jawab Anzar gampang.
Sebenarnya, bukan masalah letih yang di dera tubuhnya kini. Tetapi, karena tingkah barbar Cira yang sudah membuatnya seperti ini. Oleh karena itu, selesai meeting tadi, ia langsung tancap gas menjemput sang kekasih hati.
Bagaimana tidak, Cira-sekretarisnya itu, seharian ini terus menerus menggodanya, mengirim video dan fhoto-fhoto yang membuat sesak celana. Anzar sudah tidak tahan, ingin rasanya ia memecat Cira. Hanya saja, masa uji cobanya masih berlaku hingga dua bulan kedepan. Selama itu, seorang karyawan Radityan Crop's masih dilindungi oleh lisensi staf. Hingga masa uji coba usai, maka kepala HRD akan memutuskan keputusan mana yang akan diambil. Belum lagi, Cira itu putri salah seorang eksekutif yang menanam saham sebesar 15% di Radityan Crop's. Jadi, bukan hal yang mudah untuk mendepak Cira.
"Ada apa?" Tanya Airra bingung, saat Anzar mendongrak dan menatapnya intens.
"Mas, ada apa ih?" Bingung Airra, Anzar malah mendekat dan turun menatap bibirnya.
"Mas, aku takut loh kalau mas-"
Cup
Wanita cantik itu terbelalak seketika, saat pria di hadapanya itu menciumnya tiba-tiba. Menyatukan bibirnya dengan miliknya pelan, diiringi ******* kecil dan hangatnya.
Airra tahu ini salah, tetapi bagaimana lagi. Tubuhnya terasa terkunci, peredaran darahnya terasa terhenti di tempat. Ia hanya bisa memegang tangan sang kekasih kuat, tanpa bisa berbuat apa apa.
"Arrgg, mas mau pinjam kamar mandi." Ujar Anzar sambil berlalu, setelah memùtuskan ciuman mereka.
Airra hanya melogo, sambil menatap kepergian sang kekasih hati.
"Dasar." Gumamnya kecil, sambil menyentuh bibirnya yang masih terasa panas di sana.
"Gak suci lagi." Gumamnya kecil.
"MAS ANZAR BIKIN KESEL IH?!" Teriaknya, setelah ingat apa yang baru saja di perbuat kekasih hatinya tersebut.
"GAK DENGAR SAYANG?!" Jawab pria itu didalam sana.
"Kesel ihh."
****
Suasana canggung, nampak menghiasi area ruang keluarga mansion besar tersebut. Nampak juga ada sang kepala keluarga di sana. Ibra-pria paruh baya itu, nampaknya memilih tidak hadir malam ini. Hanya ada Vano, Kia, Lunar, Van'ar juga sang istri. Hingga si sulung yang baru saja turun dari kamarnya.
"Ada apa ini, Ayah, Bunda?" Tanya Anzar membuka suara, sambil mencomot pie susu dihadapanya.
__ADS_1
"Ih, itu punya Lunar abang." Ketus gadis berhijab dongker tersebut.
"Abang minta, pelit amat sih." Kesal pria tampan yang duduk di samping adiknya tersebut.
"Hai adik ipar, apa kabar?" Tanya Anzar menyapa.
Sepulang dari rumah sang kekasih tadi, moodnya langsung berubah menjadi lebih baik kini. Terutama jika mengingat wajah menggemaskan kekasihnya tadi.
"Baik mas." Ujar Aurra sambil menunduk kecil, menatap tautan jemarinya dengan sang suami.
"Kenapa lihat-lihat?" Ucap pria bersuasa berat tersebut, datar.
"Santai aja Van, cuma lihat." Ujar Anzar tak kalah datarnya.
"Kalian ini, ada apa?" Tanya Vano angat bicara.
Pria paruh baya itu menatap kedua putranya tajam. Kegiatanya yang tengah mengechak email di laptopnya, jadi terganggu karena obrolon kedua putranya.
"Van'ar, apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Vano to the point.
"Ayah, aku ingin mendiskusikan sesuatu." Ujarnya angkat bicara.
"Tentang apa?" Tanya Vano.
Kini semua orang mulai berbicara serius. Mendengarkan secara seksama, hingga memecahkan apa yang salah dìantara mereka. Namun, kehadiran seorang gadis berseragam SMU mengalihkan perhatian mereka.
"Kamu, dari mana?" Tanya Anzar dingin.
"I-itu, tuan?" Jawab gadis berseragam SMU iti gugup.
Pukul delapan lewat lima belas malam, gadis bermanik madu itu baru saja kembali. Dengan keadaan kacau, seragamnya kotor juga ada yang robek di beberapa bagian.
"Kenapa kamu Ari?" Tanya Kia bingung.
"I-itu,"
Semua orang menatap gadis yang bicara dengan gugup itu. Dirinya seperti dintrogasi oleh tatapan keenamnya.
"Ari, t-adi hampir dilecehkan, nyonya." Semua orang menatapnya dengan tercengang.
"I-iya, tuan."
"Lalu, bisa jelaskan apa yang dimaksud dengan video ini?" Tanya Van'ar to the point.
Menyetel sebuah video berdurasi lima menit.
Video erotis seorang gadis berpakaian minim, di ruangan yang tentu mereka hafal.
"I-itu, A-ari juga tidak tahu."
Van'ar menatap gadis dihadapanya tajam.Ia juga tidak tahu, apa yang membuat gadis dihadapanya seperti ini. Sosok yang telah membuatnya jijik juga kesal secara bersamaan. Entah siapa yang mengirimkan video tersebut. Tapi, dengan bantuan Galaksi, Van'ar jadi mengetahu siapa si pengirim video dan fhoto tidak senonoh tersebut. Bagaimana tidak kesal dan marah, nama yang disebut sebut dalam video itu adalah mamanya. Namanya, dipanggil berulang kali dengan nada yang menurutnya menjijikan.
Oleh karena itu, malam ini ia ingin memusyawarahkan masalah ini kepada keluarganya.
"Bisa jelaskan Ari?" Tanya Anzar to the point.
"I-itu-"
"Bicara yang jelas, di siñi kamu menggunakan nama adik saya!" Bentak Anzar murka.
Ia sebagai seorang pria jujur jijik, melihat gadis belia seperti Ari tapi tabiatnya diluar dari usianya. Video berbau 21++ itu benar benar membuatnya mual. Jika ia menjadi Van'ar saja, ia pasti akan mual namanya diselewengkan seperti itu.
"Itu-video apaan sih bang?" Tanya Lunar, sambil menarik narik ujung kaos yang dikenakan Anzar.
"Dek, ke kamar dulu ya. Tadi, Arkan bilang mau vc-an sama kamu." Ujar Anzar, mengusir adiknya secara halus.
"Hm, i-iya deh." Ujar Lunar mengerti.
"Ayah, Bunda, Lunar, keatas dulu ya." Pamit gadis bergamis longgar itu.
Ia tahu, jika masalah yang serius seperti ini dirinya pasti akan diasingkan. Karena, Lunar cukup sadar dirinya yang suka pingsan jika terlalu shok. Si bungsu ini memang selalu di spesialkan ibaratnya. Mengingat ia-Aisyah yang amat disayangi oleh banyak orang.
"Jadi, ada yang bisa kamu jelaskan Ari?" Tanya Vano datar, sambil menatap gadis belia itu.
Kia yang juga ada di sana, rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia pikir, gadis lugu ini memiliki kepribadian lain dibelakangnya.
__ADS_1
"Dek, ke kamar ya. Di sini, suasanya gak baik."
Pinta Van'ar pelan.
Gadis bercadar itu menggeleng lemah. Ia tidak mau pergi sekarang, ia juga ingin tahu apa motif Ari melakukan semua itu kepada suaminya. Mengirimkan video tak senonoh, yang tentu amat menjijikan kepada suaminya.
"Yasudah." Ujar Van'ar, sambil mengecup puçuk kepala sang istri sayang.
"Jadi, apa yang mendasari perbuatan kamu ini, Ari?" Tanya Vano tuk kesekian kalinya.
"Jawab?!" Desak Anzar.
"Bang, istigfar." Sela Arkia pelan.
"Iya bunda."
"Kamu mau mengatakan sesuatu Ari, di sini kami menunggu jawaban kamu." Ujar Kia menimpali.
"Ok, Ari bicara jujur." Ujar gadis bermanik coklat madu itu angkat bicara.
"Ari cinta sama tuan Van'ar."
Deg
Semua orang menatap gadis berseragam SMU itu dengan berbagai ekspresi, termasuk Aurra. Bohong jika dirinya tak merasakan dadanya nyeri. Wanita manapun, tidak akan rela jika suaminya di cintai oleh perempuan lain. Apalagi, jika karena cinta itu seseorang bisa berbuat nekad-seperti Ari.
"Ari cinta mati sama tuan Van'ar. Ari bahkan rela jadis istri kedua, simpanan, atau selingkuhan tuan Van'ar." Ujarnya lantang tak gentar.
Vano menatap gadis belia dihadapanya tajam. Kia, menatap miris gadis yang sudah seperti kerabatnya sendiri itu. Anzar, menatap jijik kearah perempuan macam Ari tersebut. Sedangkan Van'ar, bukan saja jijik dan mual, ia juga sangat marah dengan kenyataan yang di utarakan Ari ini.
"Ari rela, jadi madunya mbak Kia. Asalkan, tuan Van'ar adil."
"Membual kamu! Siapa juga yang akan menikahi kamu?" Tanya Van'ar emosi.
"Tapi Ari cinta sama tuan. Tuan juga pasti lambat laun akan cinta sama Ari."
"In your dearm." Sanggah Anzar sambil tertawa sumbang.
"Bibit pelakor, kecil kecil belajarnya udah ngehalu ketinggian." Lanjutnya sambil tersenyum miring.
Vano dan Kia yang melihat kedua putranya berapi, ingin melerainya. Tetapi, kedua putranya itu sudah cukup dewasa dan tentu tahu mana yang perlu mereka ambil keputusan akhirnya.
"Tapi Ari cinta sama tuan Van'ar, kenapa enggak?" Ujar gadis itu lantang,nampak membantah opini apapun yang melawanya.
"Kamu-" Ujar Van'ar naik pitam.
PLAK
Sebuah tamparan keras mengenai pipi mulus tanpa noda milik Ari. Membuat wajah gadis itu menoleh kesamping, saking kerasnya. Sudut bibirnya sampai pecah dan mengeluarkan darah. Membuat semua mata di sana tersentak, melihat itu. Belum lagi, ada yang angkat bicara. Tamparan berikutnya, kembali menggema.
"A-"
PLAK
○○○
To Be Continue
Pagi semua🤗
BSJ udah update nih👐👐
Maaf ya cuma satu, aku belum bisa double update. Soalnya buat nulis juga sekarang minim.
Aku lagi sibuk, sama urusan di dunia nyata.
Jadi, kemungkinan BSJ updatenya dua hari sekalu😥😥
Maaf ya readers, soalnya aku sedang banyak kerja untuk masa pengenalan lingkungan sekolah untuk siswa baru. Jadi, tolong dimaklumi semuanya.
Tapi, jangan lupa komentarnya. Karena dengan dukungan dari readers semuanya, aku bisa semangat nulis dalam keadaan letih apapun👌
Ok, jangan lupa like,komen dan Votenya.
Jumpa lagi nanti ya👐
__ADS_1
Sukabumi 11 Juni 2020