Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 38 : Pedang Pora Wedding


__ADS_3

...بَارَكَ اللهُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا فِي صَاحِبِهِ أَللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ...


...“(Semoga) Allah memberkahi masing-masing dari kita dengan pasangannya. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan pasangannya, dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan pasangannya.” ...


...BSJ 38 : Pedang Pora Wedding...


...****...



Kecanggungan datang menyelimuti, walaupun sudah lama saling mengagumi. Namun tetaplah, saat status tak berarti tuk sekedar batasan, kecanggungan tetap hadir sebagai jeda diantaranya. Kedua insan yang terlihat masih terjaga diantara keheningan itu, kini memboca untuk membuka pembicaraan.


"Kalau kamu keberatan, mas bisa tidur di sofa atau kamar yang lain Ra."


Ujar pria yang kini sudah berganti mengenakan kaos putih polos yang di padukan dengan celana panjang miliknya.


"Mas punya selimut tambahan kok. Jadi kamu bisa tidur ditempat tidur." Ujar penuh kepekaan akan kecanggungan.


Ia beranjak tanpa menunggu persetujuan. Ia membuka lemari, berniat mengambil selimut lain untuknya. Sebelum sebuah suara menghentikan pergerakanya.


"M-mas suami Aurra, jadi kita tidur bersama disatu tempat tidur." Van'ar-pria tampan itu menoleh, menatap ragu kearah sang istri.


"Mas tidur di tempat tidur juga."


Ujarnya meyakinkan.


Van'ar mengangguk, sambil menutup kembali pintu lemari yang sempat dibukanya. Ia berjalan kearah sang istri, yang malam ini mengenakan gamis longgar berwarna abu abu lengkap dengan hijab panjang dan kain penutup wajahnya. Iya, Van'ar tahu jika istrinya itu pasti belum bisa seutuhnya memperlihatkan wajahnya. Van'ar mengerti itu. Jadi sebagai seorang suami ia hanya bisa sabar menunggu, sampai istrinya itu mulai terbiasa.


"Mau mas ambilkan guling lagi sebagai pembatas?" Tawarnya.


Tanpa ia sadari, sang istri tersenyum kecil dibalik kain penutupnya. Ternyata sosok dingin nan datar itu kini punya tingkat kepekaan yang luar biasa. Ia menggeleng sebagai jawaban. Mereka menikah bukan karena paksaan, melainkan karena keihlasan. Jadi sudah sepatutnya jika Aurra menerima keadaan pria yang disayanginya itu. Walaupun kecanggungan tetap melingkupi keduanya.


"Mas, dengerin Aurra."


Lirihnya kecil.


Kini keduanya tengah duduk ditepi tempat tidur. Aurra tahu suaminya itu tengah menjaga perasaanya agar tetap terasa nyaman. Memastikan jika dirinya merasa dihormati sebagai seorang istri.


"Aurra istri mas. Mulai beberapa jam lalu menjadi mak'mum mas. Jadi mas gak perlu lakuin semua itu demi menjaga perasaan Aurra."


Ujarnya lembut sambil menatap wajah tampan suaminya, karena untuk pertama kalinya ia berani menatap langsung wajah pria yang sering membuat hatinya rindu ini.


"Kita menikah karena saling menyayangi. Mas tidak perlu membuat jarak, alih alih untuk menghilangkan kecanggungan. Aurra tidak suka itu." Lirih Aurra sambil menunduk.


"Maaf Ra, mas pikir kamu belum bisa menerima jika ada sentuhan fisik lebih dari tadi. Jadi mas pikir, harus menjaga setidaknya jarak agar kamu nyaman." Segah Van'ar, sambil meraih tangan mungil milik istrinya.


"Mas cuma mencoba membuatmu tetap merasa nyaman. Tapi maaf jika itu malam membuatmu tidak nyaman." Aurra mengerti, suaminya ini sungguh pengertian dalam menjaga perasaanya.


"Terimakasih, berarti mulai saat ini tidak perlu ada jaga jarak lagi."


Ujarnya menyudahi.


Pria tampan itu mengangguk, sambil mengarahkan tangan lainya kepipi mulus sang istri yang terhalang kain cadar tersebut.


"Aku mencintaimu Aurra, istriku."


Ujarnya lirih setelah meninggalkan kecupan hangat dikening sang istri.


Aurra tersenyum bahagia dengan hati yang menghangat.


"Boleh mas peluk?"


Izin Van'ar, seingatnya saat misi di papua dulu ia pernah refleks memeluk Aurra. Karena melihat gadis itu menangis. Kini, demi menjaga hati sang istri tentu ia harus meminta izin.


"Boleh, kenapa harus meminta izin dulu?"


Jawab Aurra sambil menunduk kecil.


Senyum sumringah kembali terbit dibibir kissable milik Van'ar. Dengan lembut dan hati hati ia merengkuh tubuh mungil dihadapanya. Memeluknya erat, sambil mendaratkan kecupan ringan dipucuk khimar sang istri..Berujar kepada sang ilahi, jika ia kini sangat bahagia tak terkecuali.


****


Riuh di pagi pagi buta, membangunkan banyak insan dipagi ini. Tak terkecuali Aurra dan Van'ar. Setelah melaksnakan subuh berjamaah, kini keduanya sudah bersiap siap untuk melaksanakan acara hari ini. Aurra terlihat cantik dengan dress panjangnya yang berwarna coklat muda agak keemasan, dengan khimar panjangnya yang menutupi hingga bawah dada, tidak lupa penutup wajahnya. Sejak subuh tadi ia sudah di make up oleh MUA (Make up Artist) yang diberi tanggung jawab untuk menghias pengantin. Ketika selesai dengan dirinya, ia melirik kearah sang suami yang terlihat gagah dengan seragam kebanggaanya yang berwarnakan hijau army. Dengan baret diatas kepala, hingga beberapa tanda kehormatan tersemat dibajunya.


"Mm, boleh Aurra bantu mas?"


Cicitnya kecil sambil menunduk.


Pria yang tengah membenarkan baret kebangganya itu tersenyum hangat.


"Tentu." Ujarnya sambil menyerahkan benda tersebut.

__ADS_1


Aurra menerimanya dengan senang hati sambil mendongrak menatap sang suami. Paham betul akan keadaan sang istri, Van'ar menundukkan sedikit kepalanya. Agar sang istri mudah menggapainya. Aurra tersenyum senang, kini suaminya sudah terlihat tampan dan gagah.


"Ekhemm, manten ya romantis romantisan mulu." Suara dari ambang pintu mengalihkan fokus keduanya.


Di sana seorang wanita paruh baya berdiri


Membawa nampan berisi segelas susu dan sepiring nasi.


"Bunda." Lirih sang putra.


"Bunda ganggu ya?"


Tanya wanita paruh baya itu sambil berjalan masuk.


"Enggak kok bunda."


Kini giliran Aurra yang menimpali.


Arkia-wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti kearah keduanya.


"Ini, sarapan dulu ya Ra. Kamu pasti lapar, kata Sayla kamu dari kemarin malam belum makan kan?"


Van'ar refleks menoleh. Istrinya belum makan sejak kemarin, dan apa kabar dirinya yang tidak mengetahui semua itu.


"Kamu belum makan dek?"


Kia tersenyum saat melihat putranya itu memperlihatkan kekhawatrianya untuk istrinya.


'Subhanallah, putra bunda sudah dewasa ya-Allah.' Batinya bahagia.


"Itu, Aurra cuma belum lapar mas."


Cicit Aurra kecil.


"Jangan gitu dek, nanti kamu sakit gimana?"


Ucap Van'ar khawatir. Aurra tidak terkejut lagi saat suaminya itu memanggilnya dengan embel embel 'Dek', pasalnya suaminya itu gemas katanya.


"Ya sudah Aurra makan dulu nak, ini sudah bunda bawakan." Van'ar menerima nampan itu.


"Nanti kalian turun setelah itu. Soalnya temen temenya abang sudah pada datang."


Ujar Arkia sebelum pamit undur diri.


"Mau mas suapin, atau makan sendiri?"


Tanyanya saat keduanya kini sudah duduk ditepi ranjang.


Menatap wajah cantik yang memperlihatkan mata indahnya dengan kain penutup yang menutupi hampir seluruh wajahnya.


"Aurra--"


"Bang, Mbak ada yang Lun-ehhh.... maaf, maaf, khilaf." Ralat gadis cantik yang mengenakan gamis berwarna senada dengan Aurra tersebut.


"Kalau masuk itu salam dulu, kebiasaan."


Ujar Van'ar mengintrupsi.


Gadis cantik itu terkekeh.


"Hehe.... lupa bang, Astagfirullah."


"Ada apa Lunar?"


Tanya Aurra.


"Abang dicariin dibawah, katanya suruh chak barisan buat acara nanti."


Tutur Lunar.


"Ya sudah, mas kebawah duluan gih. Nanti Aurra nyusul."


"Gak apa-apa memangnya?"


Wanita bercadar itu mengangguk.


"Iya."


Van'ar pun mengalah, membiarkan dirinya dibawa sang adik duluan meninggalkan sang istri tercinta.


"Acieee abang, yang udah punya istri."

__ADS_1


Goda sang adik gencar.


"Nempel mulu kayak perangko."


Ujarnya sambil tersenyum menggoda.


"Terus, Aisyahnya abang ini kapan nyusulnya sama Habib Thariq Al-fatih Rusyd Al-zam'i itu?" Balas Van'ar tak mau kalah.


"Apa sih bawa bawa nama unstad Fatih."


Cemberut sang adik sambil ngacir suluan.


Van'ar terkekehh kecil, ternyata seru juga menjaili adiknya itu. Sesampainya dilantai satu, para rekan rekan sejawatnya sudah berkumpul. Juga ada beberapa petinggi di kesatuanya yang nampak hadir. Hari ini, akan diadakan acara pedang pora.


Pedang Pora merupakan prosesi pernikahan untuk menghormati perwira militer yang akan melepas masa lajangnya


Pedang Pora sendiri berasal dari kata Pedang Pura atau Gapura Pedang yang maksudnya adalah tradisi pernikahan bagi perwira militer. Prosesi itu dilaksanakan dalam rangka melepas masa lajang perwira yang diiringi dengan rangkaian pedang berbentuk gapura. Dengan kata lain itu merupakan sebuah penghormatan bagi perwira yang akan memulai hidup baru dalam bahtera rumah tangga.


Selain sebagai tradisi wajib yang sudah dilakukan turun-menurun, ada pula makna dan tujuan yang dalam di balik prosesinya.


Pada dasarnya Pedang Pora adalah sebuah tradisi wajib yang sudah dilakukan turun-menurun dalam dunia militer. Di balik upacara wajib itu sendiri ternyata terselip sebuah tujuan, yakni untuk memperkenalkan dunia angkatan bersenjata kepada mempelai wanita.


Selain itu, simbol Pedang Pora sendiri pun melambangkan solidaritas, persaudaraan, permohonan perlindungan pada Tuhan untuk angkatan bersenjata.


Sedangkan Pedang Pora yang membentuk gapura ketika dilewati oleh kedua mempelai mengartikan kalau telah dimasukinya pintu gerbang kehidupan rumah tangga yang baru.



...(Ilustrasi)...


Biasanya angkatan bersenjata yang terlibat dalam prosesi tersebut pun adalah rekan perwira dari mempelai pria. Berjajar rapih dengan seragam lengkap, dikanan dan kiri jalan yang nantinya membentuk pormasi yang akan dilewati oleh kedua pengantin.



Setelah sesi acara pedang pora usai, Van'ar mengajak istrinya untuk berkenalan dengan beberapa rekan sejawatnya. Begitu pula dengan Aurra yang kedatangan segerombolan orang bersnelli yang tentu mencolok berbagai kalangan. Memangnya ada operasi dadakan, atau jadwal praktik dadakan? Sampai sampai mereka datang mengenakan jas kebesaran mereka.


Namun, ternyata semua itu dilakukan oleh rekan rekan sejawat Aurra untuk menandakan jika salah satu diantara mereka telah melepas masa lajangnya. Sebagai solidaritas, mereka datang mengenakan snelli sebagai luaran menandakan jika mereka rekan sejawat Aurra didunia medis. Belum lagi, satu mobil pick up yang tiba tiba masuk ketempat parkir khusus tamu. Juga tentu menyita banyak perhatian, apalagi dengan barang bawaanya yang berisi puluhan kotak berbagai bentuk dan rupa tersusun rapih disana.


"Itu kado pernikahan dari fansnya mbak, banyak banget?"


Ujar Zega tak percaya.


Apalagi Aurra yang juga dibuat tak percaya. Lain dengan Van'ar yang merasa agaknya tak rela istrinya memiliki banyak fans.


"Itu dari satu rumah sakit loh bang, abang cemburu gak?" Bisik Lunar kecil.


"Hmm."


Van'ar berdeham kecil, sebelum menarik lengan Aurra lambut.


"Yuk dek masuk, ada yang mau mas kenalin."


Ujarnya sambil mengajak istrinya berlalu.


"Ulu ulu, babang capt cemburu."


Kekeh Lunar sambil tersenyum girang.


Hari ini semua keluarga terlihat bahagia dan gembira. Ketika dua insan disatukan dalam bahtera rumah tangga. Tak peduli kerikil tajam disetiap jalan jelang kepernikahan, ataupun perbedaan usia yang cukup membentang menimbulkan pro dan kontra sana sini. Yang terpenting, mereka menjalaninya dengan ikhtiar dan tawakal juga dibarengi dengan sabar. Toh benang takdir telah ikut bergabung, melilit kuat dua insan yang memang diciptakan tuk bersama.


Catatan sumber : via bastianajich.wordpress.com


via adifirmansy4h.blogspot.com


**


To Be Continue


Holla guyss,selamat paggi semua😊😊


Selamat menjalankan ibadah shaum ya bagi yang menjalanka.


Hayoo,gimana buat part ini??


Ada yang mau komentar??


Jangan lupa like,komentar yang buanyak dan vote ya😄😄


Maaf jika typo masih bertebaran🙏🙏


Sukabumi 22 mei 2020

__ADS_1


04.31


__ADS_2