Bukan Salah Jodoh (R2)

Bukan Salah Jodoh (R2)
BSJ 48 : Lantunan Merdu Sang Biglear


__ADS_3

..."Bangun dek, mas harap lantunan ayat suci al-qur'ar ini dapat menghantarkan kesembuhan kalian berdua, istri dan anakku."...


...-Keevan'ar Radityan Az-zzioi-...


...BSJ 48 : Lantunan Merdu Sang Biglear...


...🕊🕊...


Hoeekk


Hoeekk


Suara muntahan yang berasal dari dalam kamar mandi itu amat kentara menggema. Ketika subuh menjelang, perutnya kembali melilit dan terasa seperti diaduk-aduk tak karuan. Akhirnya ia berakhir memuntahkan seluruh isi perutnya, yang hanya cairan bening.


Hoeekk


Hoeekk


"Astagfirullah haladzim." Lirihnya sambil duduk di samping closet.


Setelah membersihkan sisa muntahnya, pria tampan itu bergegas mengambil air wudhu walaupun tubuhnya masih dalam keadaan lemas. Pagi ini tinggal dirinya sendiri menjaga sang istri. Setelah tahu jika abangnya juga dirawat di Rumah Sakit yang sama, Van'ar membiarkan Ayah dan Bundanya menungu di kamar inap abangnya saja. Sedangkan diruangan Aurra ada dirinya juga orang tua istrinya dan juga Zega sang adik.


Namun, malam tadi Dimas harus pergi karena ada jadwal operasi mendadak. Sedangkan Sayla-ibu mertuanya harus mengantarkan Zega yang akan pergi ke Surabaya pagi ini. Jadilah kini tinggal Van'ar yang tinggal disini.


Selepas berkumandangnya adzan subuh, pria tampan berkaos hitam polos berlengan pendek itu, menggelar sejadahnya di samping berangkar sang istri. Mengenakan peci dan sarung sebagai perangkat untuk menunaikan ibadahnya. Satu jam lamanya, ia muntah muntah di dalam kamar mandi. Iya, Van'ar mengalami morning sickness. Keadaan umum di mana mual mual dan pusing yang biasa dialami sang bumil, kini dialami calon ayahnya.


Keadaan ini di sebut dengan sindrom cauvade.


Sindrom di mana sang suami yang mengalami gejala umum yang dialami ibu hamil seperti morning sickness atau mual dan muntah, pusing, menginginkan hal hal yang aneh hingga mengalami perubahan mood yang cukup signifikan disetiap waktu. Sindrom cauvade yang berat bahkan bisa membuat seorang pria mengalami nyeri perut seperti halnya wanita yang akan melahirkan. Sebagian ahli percaya bahwa gejala ngidam dan mual-mual yang dirasakan calon ayah tersebut merupakan bagian dari masalah psikologi.


Penjelasan lain menyebutkan sindrom cauvade muncul karena para calon ayah dilanda kecemasan akan perubahan hidup yang akan dialaminya. Rasa cemas ini mendorong mereka mencari kenyamanan, antara lain dengan makan lebih banyak sehingga berat badan ikut bertambah.


"Saat berat badan bertambah, jaringan lemak semakin banyak yang akan mengubah testosteron menjadi estrogen. Peningkatan level estrogen ini bisa memicu mood swing dan juga rasa mual," kata Michele Hakakkha, dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Tak jarang juga, bahkan si ayah kekurangan berat badanya karena sering mual saat ada makanan yang masuk ke perutnya.


Pada setiap kasus kehamilan tentu beda beda saja keluhanya, berikut juga bagi si ayah yang mengalami sindrom couvade. Di mana mereka juga memiliki keluhan berbeda beda tentang geja gejala yang dialaminya.


Selesai dengan seperangkat alat salatnya, pria tampan itu mulai melaksanakan ibadah wajibnya sebagai seorang muslim. Berserah diri kepada huhan, memohon segala kebaikan juga jalan keluar bagi masalah yang menimpa anggota keluarganya.


"Assalamualaikum warahmatullah." Ucapnya aweh salam yang pertama.


"Assalamualaikm salam warahmatullahi barakatuh." Ujarnya memberi salam kedua sambil menangkupkan tanganya seperti gerakan mengusap wajah.


Setelah berdoa, meminta dan bercerita tentang keluh kesah berumah tangga, hingga keadaan yang tak terduga. Pria tampan itu meraih Al-qur'an kecil yang selalu dibawanya kemanapun. Al~Qur'an mini dengan sampul luar berwarna hijau botol. Ia membuka halam di zuz zuz akhir. Menemukan surat Ar-rahman, surat yang dijadikanya awal syarat untuk mempersunting sang istri kala akan mengucapkan ijab qabul dahulu.


Bibir kissablenya terangkat kecil, menggumamkan kalimat taudz. Kemudian beralih membaca kalimat basmalah.


سم الله الرحمن الرحيم


bismi-lāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi


"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"


ٱلرَّحْمَٰن


ُ ar-raḥmān


(Tuhan) Yang Maha Pemurah,


عَلَّمَ ٱلْقُرْءَان


'allamal-qur`ān


Yang telah mengajarkan al Quran.


Bibir penuh berwarna merah alami itu mulai melantunkan surat Ar-rahman satu demi satu dengan tartil dan muroja'ah yang benar. Menghasilkan lantunan merdu nan indah yang mampu memikat setiap gendang telinga yang mendengarkanya.


خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ


khalaqal-insān


Dia menciptakan manusia.


عَلَّمَهُ ٱلْبَيَان


َ 'allamahul-bayān


Mengajarnya pandai berbicara.


ٱلشَّمْ

__ADS_1


ُ وَٱلْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ


asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān


Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.


وَٱلنَّجْمُ وَٱلشَّجَرُ يَسْجُدَان


ِ wan-najmu wasy-syajaru yasjudān


Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.


Dengan pelapalan yang tartil juga benar,pria yang genap berusia 24 tahun itu melantunkan kalimat kalimat suci tersebut. Berharap, sang istri akan segera bangun dari tidurnya jika mendengar surat terfavoritnya ini dilantunkan oleh dirinya.


وَٱلسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ ٱلْمِيزَانَ


was-samā`a rafa'ahā wa waḍa'al-mīzān


Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).


أَلَّا تَطْغَوْا۟ فِى ٱلْمِيزَان


ِ allā taṭgau fil-mīzān


Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.


وَأَقِيمُوا۟ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا


۟ ٱلْمِيزَانَ


wa aqīmul-wazna bil-qisṭi wa lā tukhsirul-mīzān


Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.


Saking menjiwainya Van'ar dalam setiap bacaanya, ia sampa tanpa sadar melewatkan sebuah pergerakan kecil. Pergerakan kecil di jari yang disusul menerjapnya kelopak mata cantik milik sang istri. Meloloskan manik indah yang masih mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk keretina matanya.


Saat pandangan tidak lagi kabur, ruangan berdominasi cat putih dengan bau khas obat obatan menyengat di indra penciumanya. Ia mengalihkan pandanganya kearah bawah, di mana asal suara merdu yang dirindukanya itu berasal.


Ia menangis tanpa sadar, saat objek itu benar adanya adalah sang suami. Sosok yang baru saja mampir di bunga mimpinya. Sosok yang amat ia rindukan, namun saat ia kesakitan sosok itu sulit digapai oleh jangkauanya. Itulah mengapa ia enggan bangun dari tidurnya, karena sosok itu sulit digapainya. Hingga lantunan indah ayat suci Al-qur'an yang merdu itu menuntunya kecahaya terang yang membawanya ketitik kesadaran dalam dirinya.


"Hiks... hiks..." Ia tersedu sedu kecil, sambil menatap sosok rupawan yang masih khusu dalam kajianya tersebut.


"Dek?" Iris beda warna itu bersirobak, sama sama menautkan keterkejutan.


Pria tampan itu bergegas membenahi alat salatnya. Mendekat ke arah brangkar di mana sosok dengan tatapan lembut itu tengah menitihkan air matanya.


"Alhamdulillah, adek sudah bangun?"


Tanya Van'ar khawatir sambil menghujani pucuk kepala istri tercintanya dengan ciuman singkat nan hangatnya.


"Ada apa, kenapa menangis dek?"


Tanyanya lagi khawatir, sambil menghapus air mata dari kedua kelopak mata tersebut.


"Mas?" Lirih wanita berwajah pucat tersebut.


"Ada apa, apa ada yang sakit? Apa perlu mas panggilkan dokter?" Ujarnya menawari yang di jawabi gelengan oleh sang istri.


Pria tampan itu menatap istrinya dalam, lalu menautkan jemarinya dengan jemari sang istri, menyalurkan kehangatan di sana.


"Mas?"


"Iya, ada apa dek? Jangan menangis terus ya. Mas jadi khawatir." Ujar Van'ar sambil mengecup kedua kelopak mata sang istri bergantian.


"Kangen" Cicit wanita cantik itu pelan.


"Apa dek?" Tanya Van'ar memastikan pendengaranya.


"Kangen. Aku kangan sama mas."


Ulang pemilik manik hazel itu sambil mengalihkan pandanganya. Menyembunyikan semburat merah yang melingkupi kedua pipinya.


Van'ar mengulum senyumanya bahagia, ternyata istrinya ini menangis karena kangen toh. Haduh manisnya, istri kecilnya ini.


"Kamu menangis karena kangen?" Tanyanya mencoba menggoda sang istri.


"Gak tahu, tadi salah bicara."


Ralat Aurra tak berani menatap wajah sang suami.

__ADS_1


Senyuman pria rupawan itu semakin mengembang, toh salah satu alasan istrinya itu seperti ini pasti ada hubunganya dengan jabang bayi mereka. Tangan kekar milik Van'ar beralih tempat, menyentuh pelan perut rata sang istri. Tindakan itu tentu membuat si empunya menyerngitkan dahinya.


"Mungkin, baby-nya juga rindu sama ayahnya. Makanya, bundanya sampai menangis begini."


Van'ar menangkap raut keterkejutan di wajah cantik istrinya. Ia tersenyum kecil memakluminya.


"Selamat dek, kita akan segera menjadi orang tua baru." Ujarnya pelan.


"Di sini, baby yang kita tunggu sedang tumbuh dan berkembang."


Wanita bermanik hazel itu kembali menitihkan air matanya, kali ini air mata kebahagian. Sungguh, hatinya amat berbunga bunga saat mendengan dirinya tengah mengandung. Dengan perlahan ia menyentuh permukaan perut ratanya. Tersenyum kecil di tengah tengah tangisanya.


"M-mas, a-aku-" Ujarnya terputus namun diangguki oleh sang suami yang mengerti maksud dari perkataan istrinya.


"Iya, di sini dia sedang tidur dek. Usianya baru empat minggu. Terimakasih, terimakasih karena telah mengandung buah hati kita dengan susah payah dek." Aurra terharu kini, suaminya itu memperlakukanya penuh cinta. Hadirnya si buah hati di dalam rahimnya, tentu membawa kebahagiaan sendiri untuk keduanya.


Apalagi Aurra yang akhirnya diberi kesempatan untuk menerima anugrah mengandung dan akan segera menjadi ibu bagi buah hatinya. Hatinya terasa berbunga bunga, apalagi saat melihat kebahagiaan itu pula nampak jelas diwajah suaminya. Kabar Aurra siuman langsung disambut bahagia oleh semua orang. Tak terkecuali bagi para teman teman sejawatnya. Dan kabar baiknya lagi, kini kandungan Aurra sudah lebih kuat dan keadaan bayinya pun sudah tidak terancam lagi. Semua itu tak lepas dari kehendak tuhan-Nya juga doa orang orang terkasihnya dan usaha dirinya bertahan dari kesakitan yang menerpanya dan calon buah hatinya.


□^□^□^□


Hoekk


Hoekk


Hoekk


"Masih mual ya mas?" Tanya gadis bercadar itu cemas.


Sedari pagi pagi buta tadi suaminya itu terus menerus mengeluh mual dan muntah. Bahkan tubuhnya lemas saking capeknya terus menerus muntah. Pria itu juga mengintruksikan sang istri agar menelpon salah satu teman sejawat Van'ar. Keadaannya yang sangat mengkhawatirkan kini, membuatnya tidak bisa masuk untuk tugas di kesatuan. Jadilah ia mengambil cuti sakit. Kali ini tubuh pria itu terasa remuk semua, perutnya terasa diaduk aduk, kepalanya terasa berputar putar.


"Dek, mas mual." Lirih pria itu sambil memeluk perut ramping sang istri yang sedang berdiri dan tadi membantu memegangi tengkuknya.


"Kita pindahnya, mas tiduran dulu. Biar enakan perutnya." Ujar Aurra sambil membantu merangkul pundak lebar sang suami. Padahal dirinya sendiri kesulitan berjalan sambil membawa tiang infusnya.


Akhirnya dengan bersusah payah, Aurra berhasil membantu suaminya itu tidur di bangkarnya. Setelah subuh tadi, saat orang tuanya pamit pulang Van'ar tiba-tiba kembali mengalami morning sickness. Membuat tubuh pria itu lemas dan lunglai tak berdaya.


"Dek sini, tidurnya sama mas aja."


Gadis itu terbelalak, bagaimana brangkar yang umumnya memuat satu orang itu ditiduri oleh dua orang?


"Hm itu mas-"


"Ayo dek, mas pengen peluk kamu."


Lirihnya kecil.


Aurra akhirnya meng-iyakan. Mengingat sebuah hadist yang menjelaskan hukuman jika seorang istri menolak panggilan suaminya ketempat tidur, dan suaminya marah. Para malaikat akat melaknat sang istri hingga pagi. Hih, Aurra merinding sendiri membayangkanya.


"Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR Bukhari Muslim)


"Ughh, kepala mas pusing dek." Lirih p ria yang kini tengah memeluk tubuh mungil istrinya itu sambil ngedusel dusel kecil.


"Mau dipanggilin dokter?"


Tanya Aurra cemas, mengingat kini suaminya itu ikut ikutan berwajah pucat seperti dirinya.


"Tidak usah dek, ini cuma mual biasa kok."


Dalihnya sambil memeluk sang istri lebih erat.


Aurra hanya bisa mengangguk kecil, entah mengapa ada rasa iba melihat suaminya dalam keadaan seperti ini. Namun terkadang ia juga ingin tertawa karena tingkah childish sang suami yang tidak cocok sekali dengan image-nya, mungkin ini bawaan bayi mereka.


Aurra amat bersyukur kini, setidaknya sekarang sosok yang sulit digapai dalam bunga mimpinya itu kini berbaring di sampingnya secara nyata.


□□□□


To Be Continue


Selamat pagi guys😊😊


Hayoo up lagi, gimana buat part ini??


Soal Logan, nanti yoo masih ada progres buat keluarin dia.


So, jangan lupa like🖒 komen💬 dan vote💯 yang banyak ya. VanRa butuh dukungan ya readers😊😊


Ok, jumpa lagi esok yoo🤗🤗


Sukabumi 04 juni 2020

__ADS_1


09.43


__ADS_2