
...“Tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya, dan tanpa kecerdasan cinta itu tidak cukup.” – Bacharuddin Jusuf Habibie....
...BSJ 79 : Overall...
...****...
"A-apa itu mas?" Cicit Aurra kecil.
"Biar mas yang lihat." Ujar Van'ar sambil berdiri, lalu beranjak menuju pintu kamar mereka.
Meraih knop pintunya, lalu membukanya cukup lebar. Nampak di hadapanya sebuah pot bunga yang berada di samping pintu pecah. Membuat tanah juga tanamanya berceceran di lantai.
"Astagfirullah haladzim, ini kenapa mas?" Kaget Aurra, yang sudah mengenakan hijab juga penutup wajahnya.
Van'ar tahu dengan pasti, ini bukan ulah kucing atau hewan sejenisnya. Karena di keluarganya, tidak ada yang memelihara hewan. Lantas, siapakah gerangan yang telah membuat kekacauan ini. Dilihatnya sekitar, tetapi keadaan di sini sepi.
"Mungkin angin dek." Dalihnya.
"Kamu masuk ya, biar mas beresin ini dulu."
Aurra mengangguk patuh, sambil masuk kembali kedalam kamarnya.
Sedangkan Van'ar, membereskan kekacauan ini. Di rumah tidak ada siapa siapa, kecuali ia dan sang istri. Ibra kakeknya tengah pergi kerumah sahabatnya. Orang tuanya-Vano dan Arkia, tengah berkunjung ke kediaman Dimas .Abangnya-Anzar tengah mengantar sang tunangan pulang, sedangkan Lunar tengah beradi di RaRa's Caffe sore begini. Van'ar tahu, ada yang tidak beres dengan keadaan dirumahnya. Karena ia tahu, semenjak kepulanganya ada sosok yang sepertinya memiliki tabiat yang patut dicurigai.
---
Cklakkk
"Dimana ya? Perasaan bibi selalu simpan disini."
Ujar wanita berhijab tersebut, sambil fokus menggeledah isi lemari pendinginya.
Aurra-wanita itu terbangun di tengah malam seperti ini, hanya karena perutnya keroncongan. Tiba-tiba, ia ingin sekali menikmati soto makasar yang kemarin dibuat asisten rumah tangga mereka. Seingatnya, makanan itu masih ada didalam lemari pendingin. Tanpa mau menganggu sang suami yang tengah tertidur lelap, ia pergi sendiri mencarinya kedapur.
"Nona, sedang apa?" Tanya gadis bermanik coklat madu tersebut.
Aurra menoleh, mendapati gadis berpiama pendek seperempat paha. Memperlihatkan paha mulusnya hingga potongan dada rendahnya.
"Mencari soto sisa kemarin, kamu tahu?" Tanya Aurra to the point.
Sebenarnya ia juga penasaran, kenapa gadis ini ada di sini. Bukanya ia dan keluarganya diberi wewenang untuk tinggal dipavilum belakang.
Lantas, untuk apa Arini, gadis berlesung pipi itu ada di sini.
"Biar saya carikan, kemarin bi Nah menyimpanya di tupperware yang hijau."
Ujarnya sambil mencari di lemari pendingin.
Aurra agaknya risih, melihat pakaian gadis yang baru duduk di kelas dua belas Sekolah Menengah Umum tersebut. Ia mengenakan piama terlalu pendek dan tipis menurutnya, walaupun di tutupi oleh sweeter rajut overall size.
"Ini, mau saya panaskan sekalian nona?" Tawarnya.
Aurra menggeleng kecil, dirinya sudah terlalu bersemangat saat melihat apa yang dicarinya tersebut. Dengan sigap ia meraih panci kecil untuk memanaskan kuahnya, masih dengan di temani oleh Arini yang duduk santai di kursi makan.
'Cih, apa bagusnya sih istri penyakitan kayak dia.' Gumam gadis itu kecil.
"Dek?" Suara lirih yang familiar itu membuat Aurra meboleh refleks.
Membuat Ari juga langsung berdiri dari duduknya.
"Mas?" Sapa Aurra, saat si empunya panggilan telah berada disampingnya.
Wajah prianya itu terlihat baru saja bangun. Raut cemas nampak menghiasi wajah tampanya.
Cup
"Kenapa gak bangunin mas?" Tanyanya setelah mengecup pucuk kepala istrinya, sayang.
Aurra sedikit risih, pasalnya ada orang yang tengah berada di sini. Belum lagi, gadis itu nampak melihat semuanya dengan penasaran.
"Ada orang lain disini, mas." Cicit Aurra kecil.
Van'ar reflesk menoleh, menemukan Ari yang tengah tersenyum canggung kearahnya. Van'ar diam sejenak, pikiranya mengarah kepada pertanyaan kenapa gadis itu ada disini pada jam segini pula. Belum lagi, pakaianya yang nampak nerawang tersebut.
"Kalau sudah selesai, kamu makanya di kamar ya sayang." Ujar Van'ar sambil menatap istri tercintanya kembali.
Jika pria normal lain yang di suguhi pemandangan seperti Ari ini, pasti akan segera menerkamnya tanpa pikir dua kali. Tapi untuk Van'ar, melihat gadis itu membuat tingkat mualnya meningkat. Ia jijik, apalagi gadis itu berpakaian tidak seperti sewajarnya.
"Lepasin dulu mas, ini kuahnya panas. Aku susah mindahinya." Cicit Aurra kecil.
Bukanya melepaskan pelukanya, pria tampan itu malah mengeratkanya. Membuat sang istri kewalahan karenanya.
"Yuk, makanya di kamar aja sayang." Ujar Van'ar sengaja, lalu langsung menggring sang istri tercinta menuju tangga.
__ADS_1
"Kamu juga, kembali ke kamarmu." Titah Van'ar datar sebelum berlalu.
Sepeninggalan keduanya, gadis cantik berusia 19 tahun itu tersenyum remeh, sambil menyentuh letak jantungnya berada. Tempat di mana debaran liar itu menggema.
'Gilak, bisa nyenyak tidur malam ini. Efek lihat orang gantengmah, beda.' Batinya kegirangan.
Arini-gadis belia pemilik senyuman memikat itu, nyatanya telah jatuh hati kepada tuanya sendiri yang telah beristri. Pria tampan, yang selama ini telah diagung-agungkan oleh dirinya.
'Goodnight, my capten.' Bisiknya pelan, sambil berlalu meninggalkan dapur.
□□□□
"Ayah, bunda. Abang berangkat dulu." Ujar Anzar berpamitan.
Pria tampan bersetelan formal tersebut, sambil meraih satu persatu punggung tangan orang tuanya. Anzar memang sudah kembali memegang jabatan sebagai Chief exsecutive officer atau CEO. Vano sendiri yang memerintahkanya, karena ia sudah yakin akan kinerja dan kontribusi putranya yang sudah patut diakui. Belum lagi, putra sulungnya itu telah melewati masa pembuktian dirinya sendiri. Vano sendiri, kini memilih menjadi dewan direkasi yang bertugas memantau kinerja para pengelola Radityan Corp's.
"Bunda, Lunar juga berangkat ya." Pamit si bungsu, yang terlihat cantik mengenakan atasan tunik berwarna peach yang di padukan dengan pasmina berwarna senada.
"Iya sayang, kamu berangkat sama siapa?"
Tanya Arkia.
"Sama mas Arkan bunda." Jawab Lunar sambil meraih punggung tangan Ayah dan bundanya bergantian.
"Arkan tidak di suruh masuk Lunar?" Tanya Vano penasaran.
"Mas Arkan nunggu di depan Ayah, ini juga Lunar buru buru."
"Hm."
"Yasudah, Lunar berangkat ya Ayah, bunda."
Pamit sibungsu. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab keduanya bersamaan.
Sepeninggalan Anzar dan Lunar, kini tinggal pasangan muda lainya yang hendak berangkat bekerja. Pasangan muda yang selalu berhasil membuat mereka tersenyum bangga.
"Hati hati dek, sini. Biar mas yang bawa tasnya."
"Gak usah mas, gak berat
kok." Tolak sang istri halus.
"Bunda, kita berangkat ya." Ujar Van'ar pelan.
Pria tampan itu terlihat fresh dengan outfit casulnya pagi ini. Hanya atasan kaos putih yang dipadukan dengan jaket berwarna silver, dengan bawahan celana berwarna hitam. Senada dengan sang istri, yang pagi mengenakan gamis berwarna silver dengan paduan hijab berwarna senada dengan penutup hijabnya.
"Fresh couple." Komentar Vano, saat melihat dua sejoli muda tersebut.
Van'ar berdeham kecil sebagai jawabanyanya. Kemudian keduanya berpamitan kepada Vano dan Arkia. Semenjak hamil besar, Aurra memang selalu diantarkan menggunakan mobil. Jika menggunakan motor, takut takut Aurra terjatuh nantinya.
"Pasang seatbeltnya dulu dek." Ujar Van'ar, sambil memasangkan seatbelt sang istri.
"Terimakasih mas." Ujar Aurra lembut.
"Kita berangkat ya twins." Ujar Van'ar, sambil mengusap perut buncit istrinya lembut.
Baru saja hendak memutarkan mobil yang dikendarainya, seorang gadis berseragam SMA tiba-tiba muncul dihadapan mobil mereka. Membuat keduanya terkejut bukan main.
"Astatagfirullah haladzim." Ujar Aurra yang terkejut, hampir saja terkantup dashboard mobil.
"Kamu gak papa dek?" Cemas Van'ar, sambil melirik sang istri spontan.
"Gak papa mas." Ujar Aurra meyakinkan.
Ketukan di kaca mobil mereka,membuat fokus mereka beralih. Van'ar geram, karena kelaian gadis belia itu istrinya hampir saja terluka.
"Apa apaan kamu?!" Tanya Van'ar tajam.
Gadis yang tengah berdiri di samping mobil itu menunduk kecil. Aurra yang melihatnya menjadi iba, takut-takut suaminya itu terlalu keras kepada gadis belia itu.
"M-maaf, A-ri cuma m-mau numpang t-tuan."
Ujarnya gugup.
"Numpang?" Ulang Van'ar tak percaya.
Arini-gadis itu mengangguk mantap. "H-hari ini ada u-upacara, A-ri takut telat."
Van'ar tak habis pikir dengan alasan gadis satu ini. Jika tahu ini hari senin, kenapa berangkat sesiang ini. Rasa rasanya, gadis ini sengaja melakukan semua ini.
"M-maaf t-tuan, A-ari cuma mau numpang sampai halte depan."
__ADS_1
Van'ar baru saja mau angkat bicara, tetapi sang istri sudah terlebih dahulu menyela. "Kalau begitu masuklah, nanti kamu telat." Ujar Aurra, sambil mengenggam tangan sang suami. Memberikan pengertian lewat sentuhan kecilnya.
Dengan parasaan sedikit dongkol, Van'ar menjalankan mobilnya. Dari arah kursi belakang, nampak Ari yang sedikit curi-curi pandang kedepan. Dia bahkan sedang live streaming di Instagram miliknya. Menyapa teman temanya, dengan kamera diarahkan kepada sosok tampan dihadapanya.
"Sudah sampai." Ujar Van'ar datar.
Ari yang mendengar itu langsung memasukan handphonenya. Selama perjalanan, mereka memang tidak terlibat percakapan apapun. Adapun obrolan, itu hanya antara Van'ar dan Aurra.
Sepeninggalan Ari, Van'ar langsung tancap gas menuju rumah sakit tempat sang istri bekerja. Karena hari ini dia masih cuti,ia berencana untuk mengunjungi caffe miliknya hari ini. Sudah lama juga, dia tidak meninjau perkembangan bisnis kecil kecilanya tersebut.
Masalah Ari-gadis belia yang memiliki gelagat aneh itu, biarlah ia menyelesaikanya secara perlahan. Bagaimanapun juga, ia harus mengetahui motif dari perilaku aneh gadis bermanik coklat madu tersebut.
□□□□
"Ini rumah lo? Luas banget dah." Komentar seorang gadis berambut bob yang baru saja keluar dari minicooper merahnya tersebut.
Gadis berambut sepunggung itu mengangguk. Senyumanya tersungging kecil, melihat sahabatnya amat terpukai.
"Bukanya ini rumah pengusaha kaya itu ya?"
Tanya gadis lainya. "Bokap ama nyokap gue juga dulu pernah kesini, pas anak sulung mereka nikahan." Lanjutnya.
Ari-gadis dengan manik coklat madu itu tersenyum tipis.
"Ari kan pacarnya si capten itu." Ujar gadis berambut bob tersebut-Selly.
"Owh, gue kira dia ngibulin kita doang."
Sewot gadis satu lagi-Ratu.
"Tadi lo siaran langsung kan, itu yang kata lo si capten."
"Iya." Cicit Ari kecil.
"Keren banget, ganteng juga." Ujarnya terpesona.
"Lo udah berapa lama jadi simpenan dia?"
Sinis Ratu.
"Aku bukan simpanan." Ujar Ari menampik.
"Bukanya yang tentara itu udah nikah ya?"
Skakmat.
Gadis dengan lesung pipi itu meremas ujung rok yang dikenakanya pelan. Ia selalu muak, jika dipojokkan seperti ini.
"Dia gak cinta sama istrinya kali, makanya main belakang sama Ari." Bela Selly.
Ari tersenyum kecil, ia memang jarang banyak bicara. Dia juga cukup handal mengendalikan emosinya.
"Dibayar berapa lo jadi simpenan tentara ganteng itu? Sejuta? dua juta? Lima juta? Apa dua puluh juta?" Sinis Ratu.
"Lo tuh gak selevel ama gue, gak usah sok sokan ngibul ketinggian. Gue tahu kok siapa lo." Ujar Ratu sambil bersidakep dada.
"Aku-" Ari angkat bicara.
"-Sama dia memang saling cinta kok." Lanjutnya mantap.
"Siapa yang saling cinta?" Tanya sebuah suara berat yang membuat ketiganya tertegun.
"Siapa?" Ulanya lagi, yang langsung membuat Ari mati kutu.
Deg
****
To Be Continue
Selamat pagi readers😄😄
Hayoo, cung yang nungguin update🤗🤗
Maaf ya, kemarin gak update.Akunya lagi kurang fit, jadi gak ada mood buat update.
🙏🙏 Hayoo,ada yang mau meramaikan komentar tidak?? Kira kira, si Ari ini bakal gimana ya? Ada yang penasaran gak sama fanel akhir itu?? Ditunggu aja ya, besok lagi🤗
Jangan lupa like, komentar dan votenya ya❤
Ok, jumpa lagi nanti🖑🖑
Sukabumi 07 Juli 2020
__ADS_1
05.49