
..."Rindu itu ada batasnya, baik jasad atau hayat yang menumpasnya nanti. Intinya, rindu itu akan tuntas jika di pertemukan kembali antara keduanya."...
...-Aurra Putri Haidan-...
...BSJ 72 : Jatuhnya Batasan Rindu...
...****...
"Bumil, belum tidur nih?" Tanya dokter tampan tersebut.
Yang ditanya menggeleng samar. Dirinya masih setia memandangi keluar jendela posko, saat langit malam sudah menggelap. Penerangan sederhana yang menjadi satu satunya sumber cahaya, nampak cukup untuk menyinari mereka di sini. Malam ini memang cukup sepi dan dingin. Langit gelap nampak di penuhi awan abu, nampak guntur nan jauh di sana saling bersahutan.
"Susu jahe hanget, kamu mau Ra?" Tanya dokter tersebut.
Wanita yang mengenakan hijab syar'i dan penutup wajah itu menggeleng sebagai jawaban.
"Ish." Ringisnya kecil tak tertahankan.
"Ada apa Ra? Ada yang sakit ya?" Tanya Andre cemas-yang juga ikut menjadi dokter relawan.
"Ah, ini. Si kembar nendang bersamaan, Aurra cuma kaget." Jawab Aurra kecil.
Ia tidak bohong, sedari tadi si kembar terus menerus menendang aktif secara bersamaan. Apalagi saat ia merindukan sang kekasih hati-Van'ar, suaminya. Sepertinya dua buah hatinya itu mengerti kerinduan sang bunda.
"Kalian rindu Ayah ya?" Cicitnya kecil sambil mengelus perut buncitnya.
"Bunda juga. Kita berdoa saja ya sayang, semoga Ayah di manapun Ayah berada, Allah selalu melindungi Ayah." Ujarnya menenangkan sang buah hati didalam sana. Alhamdulillah-nya, dua buah hatinya itu mengerti. Buktinya, tendangan keduanya tak seaktif tadi.
Andre yang melihat semua itu hanya tersenyum kecil, tanpa banyak berkomentar. Aurra itu seorang istri yang punya cinta dan kesetiaan besar untuk suaminya. Berapapun banyaknya pria tampan yang mendekatinya, Aurra akan kukuh pada cintanya untuk satu pria, yaitu suaminya. Pria yang menawarkan hubungan serius kepadanya, selalu di tolaknya mentah mentah.
Bagi Andre-Aurra itu tipe ideal seorang istri. Cantik luar dan dalam, solehah, setia, menurut kepada setiap titah sang suami, dan tentu saja selalu menjaga kehormatanya sebagai seorang istri. Sosok yang selalu sulit tuk ia gapai sejak dahulu.
"Semoga saja kebahagiaan selalu menyertai kamu dan keluarga kecilmu, cinta masalaluku."
Gumam Andre didalam hatinya.
"Aku duluan ya Dokter Andre, mau istirahat. Assalamualaikum." Pamit Aurra, meninggalkan Andre dengan senyum pria itu yang mengudara tipis di balik penutup hijabnya.
"Bismillah, semoga saja semuanya baik-baik saja." Gumam wanita berhijab syar'i itu kecil.
Ia sudah mulai bersiap untuk beristirahat, di posko khusus untuk perempuan.
Sambil mengelus perut buncitnya, Aurra melapalkan doa mau tidur dan doa doa yang sering di bacanya sebelum memejamkan mata. Ia juga tak lupa berdo'a, agar semuanya baik baik saja. Baik dirinya, kekasih hatinya, maupun keluarganya di ibu kota sana.
****
Pagi kembali menjelang, menyambut rakyat di timur negri. Jika di barat negri masih gelap karena selisih waktu, tetapi beda halnya dengan daerah di belahan timur negri. Sang surya sudah nampak meninggi. Nampak malu malu tertetutup kemelut awan kumolonimbus. Hingga kini, keadaan di tempat yang tertimpa bencana alam itu belum juga kondusif. Masih banyak warga sipil yang terluka, juga yang mengungsi di posko darurat karena rumahnya telah rusak.
Pemadaman listrik yang terjadi di TKP ,cukup menambah sulit untuk para korban juga team relawan. Saat ini, para korban yang rumahnya hancur mengungsi di posko darurat, ada juga yang sudah dievakuasi menuju kota terdekat dari sini. Daerah ini memang rawan tertimpa bencana alam. Bukan saja curah hujan yang tinggi, intensitas lain juga menjadi potensi tak terduga pemicu bencana alam ini.
Sudah dua hari Aurra dan rekan rekan sejawatnya di sini. Adre sendiri-kini ikut turun tangan kelapangan, ya-salah satu tujuanya untuk menjaga Aurra. Mereka berjibaku membantu memberikan pertolongan pertama, sebelum nantinya diberikan penanganan lebih lanjut. Para donatur juga bantuan dari pemerintah pun sudah mulai berdatangan. Banyak yang datang secara langsung, namun juga ada yang datang lewat perantara. Dikarenakan letak tempat bencana yang sulit dijangkau, banyak juga bantuan pangan dan sandang yang sulit disalurkan.
Jauh dari kekacauan di tengah negri, di karenakan jaringan listrik yang terputus tidak ada informasi yang bisa masuk. Belum lagi intensitas jaringan yang buruk di pelosok timur negri ini, membuat sulitnya tuk bertukar informasi. Aurra tidak tahu menahu, soal jatuh pesawat TNI AU yang mengangkut teman teman sejawat suaminya, yang kemungkinan terburuknya sang kekasih ada disana.
Selama di posko darurat, Aurra sama sekali tidak memegang handphone. Pihak keluarga sendiri setuju untuk menutupi semua ini dulu dari Aurra, demi kesehatanya.
"Dok, itu di posko barat ada pasien yang butuh ganti jahit luka dilengan kiri." Ujar salah seorang rekan sejawat Aurra.
Wanita berhijab syar'i dengan penutup wajah itu mengangguk. Sambil mengendong ransel berisi obat obatan, wanita yang mengenakan rok hitam di lapisi celana training di dalamnya. Atasanya ia mengenakan Kaos khusus relawan yang tertutup oleh hijab longgar yang panjangnya mencapai bawah perut buncitnya.
Dengan tergesa gesa, wanita berhijab syar'i itu berjalan. Di sini, waktu adalah nyawa. Seperkian detik saja terlambat, nyawa orang tak bersalah akan melayang. Mereka berjibaku dengan waktu, berlari kesana kemari mengobati luka para warga sipil.
Aurra berhenti sejenak, menatap kearah bawah. Di mana sepasang sepatu yang biasanya ia pakai untuk mendaki, kini melekat di kaki mungilnya. Tali hitam di salah satunya membuat Aurra harus berjongkok, untuk mengikatnya. Ia berusaha berjongkok, tetapi susah. Ia tengah hamil tujuh bulan dengan dua janin di dalamnya, tentu saja membuatnya kesulitan untuk berjongkok.
Di sini pun sepi tiada orang untuk dimintai tolong. Baru satu langkah ia hendak mundur, sebelum sebuah tangan menggapai temali di sepatunya. Mengikatnya perlahan dengan seriusnya, memastikan tali itu tidak akan lepas dan membuat si empunya jatuh.
Dari balik seragam loreng hijau Army yang tengah berlutut itu, Aurra menatapnya dalam diam. Memperhatikan secara seksama apa yang dua tangan kekar itu kerjakan di bawah sana. Bak slow motion, Aurra hampir saja menepis tangan yang lancang menyentuh perut buncitnya itu. Ia hampir menampik kasar tangan kekar itu, sebelum wajah yang dirindukanya itu mengundang air mata di kelopaknya.
__ADS_1
Deg
Debaran jantungnya tak karuan, mungkinkah dia terkena Aritmia kembali? Deru napasnya tak beraturan,seakan akan okaigen menipis seketika. Bumi terasa berhenti bergerak, antara realita dan logika tengah berperang di batin.
"Mas?" Cicitnya kecil, saat suaranya yang sempat tertahan di tenggorokan itu berhasil terbebas.
Sebutih air mata nampak lolos dari kelopak matanya saat menunduk. Sigap terjatuh di telapak tangan kekar yang menengadah di bawahnya. Itu wajah letih yang nampak lelah di setiap deru nafasnya. Itu wajah legam yang dibakar mentari karenanya. Wajah yang dirindukan hati 3 bulan lamanya. Pemilik suara yang sempat membuatnya menangis diam tiap malamnya. Pemilik hati yang merindu, di tiap detiknya.
"Hallo, bidadari surga pemilik hati." Aurra menangis sejadi jadinya saat gendang telinganya nampak menerima sensor suara familiar milik seseorang yang dirindukanya.
"Hallo, jagoan jagoan Ayah di dalam sini."
Lanjutnya sambil menyentuh perut buncit di hadapanya.
Bak tahu milik siapa tangan kekar yang menyentuh permukaan penghalang mereka.
Dua jabang bayi yang masih terlindungi di dalam rahim tersebut, bergerak cepat menendang nendang permukaan penghalang milik bundanya. Membuat si bunda meringis kecil saat dua malaikat mungil, dirahimnya menendang secara bersamaan.
"Sstt, jangan ribut jagoan jagoan Ayah." Lirihnya sambil mengusap intensif permukaan perut istrinya.
"Ayah di sini, kalian tenang ya di dalam sana. Jangan buat bunda kesakitan, okay?"
Aurra tak lagi bisa berkata kata. Pria yang tengah berlutut di hadapanya ini, telah meruntuhkan batasan rindu diantara mereka yang terjalin tiga bulan lamanya. Semuanya terasa melegakan di hati, saat jarak ribuan kilo meter tersebut telah dihapuskan.
Air mata biarlah berlinang, hati yang merindu biarlah berlalu. Kini dia ada di sini, berlutut sambil tersenyum meyakinkan. Memusnahkan ribuan rindu di hati, menuntaskan haus akan bertemu di jangkauan iris mata. Semuanya sudah terhapuskan, apalagi saat kini tak adalagi jarak yang membentang.
"Mas?"
Pria tampan yang mengenakan seragam lengkap itu kini berdiri tegap. Menghadap kearah sang pemilik rindu di hati. Jutaan bahkan miliaran kata rindu tak dapat menggambarkan sesak di dada. Kini semuanya runtuh sudah, dengan perlahan tangan kekarnya mengudara. Menghapus air mata dari manik hazel yang dirindukanya tersebut.
"Mas, disini?" Cicit Aurra kecil, nampak masih tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya kini.
"Hm."
"Mas, baik baik saja kan?" Tanya Aurra lagi.
"Aurra rindu sama mas." Ungkap kecil Aurra sambil menangis kembali.
Rasanya semuai ini masih nampak seperti ilusi. Waktu tiga bulan lamanya merindu, kini sudah terbayar. Hanya melihat wajahnya dan mendengar suaranya saja, Aurra sudah sangat bersyukur. Suaminya sehat secara jasmani dan kini nampak tegap berdiri sambil menatapnya penuh rindu. Senyumnya terus terbit, menyampaikan jika Aurra tak perlu khawatir akan keadaanya.
"Aurra rindu." Hingga pelukan hangat itu melingkup dirinya, Aurra hanya bisa tersenyum kecil. Membalas pelukan sang suami tak kalah erat, sambil menumpahkan air matanya.
Pelepasan rindu ini biarlah diwarnai air mata. Yang penting, hati Aurra bisa lega karenanya. Lama mereka berpelukan, tak ada satupun kata yang suaminya ucapkan. Kecuali empat kalimat di awal tadi.
Aurra tak terlalu ambil pusing, yang menjadi fokusnya kini adalah keberadaan suaminya.
Pria yang amat dirindukanya, di doakanya di tiap sujudnya. Sosok yang selalu membuatnya menangis di sepertiga malam. Sosok yang jauh dibelahan bumi sana,namun rasanya dekat dihati.
"Maaf, mas tidak bisa pulang."
"Maksud mas?" Bingung Aurra, saat suara bass berat milik suaminya kembali mengudara.
"Maaf."
"Maaf untuk apa mas?"
"Maaf."
"Mas kenapa minta maaf?" Cemas Aurra, namun yang ditanya tak kunjung menjawab. Hingga pelukan mereka terlepas pun, suaminya itu tak kunjung memberikanya jawaban.
"Mas mau kemana?"
"Aurra...."
"Mas?"
"Aurra?!"
__ADS_1
"Astagfirullah haladzim." Gumam kecil wanita yang baru saja membuka kelopak matanya tersebut.
"Kamu mimpi buruk ya? Dari tadi kamu panggil panggil masmu?" Tanya Nuri-salah satu dokter yang ikut menjadi relawan.
"Aku, tadi cuma mimpi?" Tanya Aurra bingung.
Wanita berpasmina hitam dihadapanya itu mengangguk. "Ini udah mau subuh, kamu tadi mimpi buruk. Makanya aku bangunin kamu."
Ujar Nuri.
Aurra menunduk sejenak, debaran hatinya terasa nyata. Mimpinya terasa nyata, bahkan buah hatinya juga tengah bergerak aktif seakan akan kejadian tadi nyata. Suaminya ada di sini, di dekatnya. Mengatakan sapaan kecil untuk si kembar. Semuanya terasa benar benar terjadi. Aurra pikir semua itu real terjadi, bukan hanya mimpi.
"Kamu mimpiin suamimu ya?" Tanya Nuri yang hanya diangguki kecil oleh Aurra.
Nuri tersenyum tipis, ia tahu beratnya hubungan jarak jauh. Itu juga dulu yang membuatnya hampir menyerah tuk mempertahankanya. Tapi nyatanya, maut yang memisahkan Nuri dan sang suami. Nuri ini janda yang di tinggal meninggal Adnan-almarhum suaminya yang berprofesi sebagai seorang pilot. Suaminya meninggal saat pesawat yang dikemudikanya terjatuh di perairan Singapura, sekitaran enam tahun yang lalu.
"Sabar ya Ra, semuanya pasti akan indah pada waktunya. Kamu harus sabar, dan terus berdo'a juga buat keselamatan suamimu." Ujar Nuri memberi support.
Aurra tersenyum kecil dibalik penutup hijabnya. Ia tahu, Allah memberikan bunga mimpi itu semata mata untuk mengingatkan. Apapun yang terjadi, Aurra harus berpegang teguh terhadap pendirianya. Ia harus berusa dan berdo'a, suatu saat nanti pasti batasan rindu ini akan runtuh terselesaikan. Ia hanya bisa berdoa, saat tidak ada lagi bahu untuk bersandar. Selama masih ada lantai untuk bersujud, Aurra akan selalu berdo'a untuk keselamatan suaminya dimanapun ia berada.
Sementara itu, di ibukota di pulau yang sama.
Pria tampan bermarga Haidan itu terus berbolak balik tak karuan. Langkahnya berjalan kesana kemari, menunggu angkutan yang akan membawanya menuju tempat sang kakak berada.
Setelah delay yang menghambat penerbanganya, kini ia harus menerima kenyataan jika ingin menuju medan titik bencana harus memakan waktu yang cukup lama. Belum lagi, kondisi jalur menuju lokasi cukup terjal juga terputus di beberapa titik.
Akses yang sulit, tentu menjadi salah sat penyebab tersendatnya evakusi untuk para korban.
Derrtt
Derrtt
Pria tampan yang bekerja sebagai lawyer itu merogoh saku celana yang dikenakanya.
Melihat notifikasi yang masuk, saat dirasa ada getaran dibenda pilih miliknya.
"Iya, waaalikumsalam Bang." Jawabnya menerima kabar dari ibu kota.
Mata coklat miliknya membulat sempurna,saat gendang telinganya menangkap ucapan pria disebrang sana. Tubuhnya menegang seketika, disusul bahunya yang merosok kebawah. Ia hampir jatuh terduduk, jika saja tidak berpegangan ketiang penyangga bangunan disampingnya.
"M-maksud abang?" Cicitnya bergetar.
"....jasadnya sudah di temukan. Sekarang, sedang dilakukan otopsi dan visum di RSPAD Gatot subroto."
Deg
Zega ingin sekali menulikan pendengaranya dari berita tak sedap ini. Dia tak menyangka, akan menerima kabar buruk sepagi ini.Belum lagi, bayangan ekspresi kesedihan sang kakak begitu tergambar di matanya, jika mendengar berita buruk ini.
"Aurra harus tau, suaminya sudah beŕpulang."
Lanjut suara disebrang sana.
"Bang Anzar bercandakan?"
"Saya serius, Kai."
Deg
□□□□
Hallo, selamat siang semua😊😊
Maaf ya baru update, disini susah sinyal. Jaringanya buruk dari kemarin. Hayoo, tadi aku ngiris bawang bombay lumayan, sedikit kok😅😅 Gimana, ada yang mau komentarkan??
Jangan lupa like, dan komentarnya ya😙😙
Sukabumi 28 Juni 2020
__ADS_1
12.49