
...“Puncak rasa rindu seseorang adalah ketika tak lagi bertemu, tak lagi bertegur sapa, tetapi di dalam hati saling mendoakan,” – Bacharuddin Jusuf Habibie....
...BSJ 73 : Dari Sang Biglear...
...****...
..."سم الله الرحمن الرحيم...
...bismi-lāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi...
...Teruntuk kamu : Pemilik Hati...
...Apa kabar dirimu, calon bidadari surga?...
...Apa kabar kamu dan kalian, kebanggan-kebanggan Ayamu di dalam rahim Bumu?...
...Ayah rindu, apa kalian juga rindu Ayah?...
...Maaf, Ayah belum bisa pulang untuk saat ini....
...Ayamu janji, akan pulang dengan keadaan apapun nantinya, yang penting Bumu jangan menangis....
...Ayamu, rindu Bumu....
...Rindu jagoan jagoan kebanggan Ayamu. Ayamu sudah tidak sabar untuk pulang! Tunggu ya Bumu dan kalian....
...Jangan banyak melamun dan menangis juga Bumu, Ayamu tidak suka. Ayamu sukanya Bumu selalu tersenyum, ada atau tidaknya Ayamu untuk Bumu. Bumu dan Si kembar harus tetap hidup bahagia. Ayamu, sayang Bumu dan si kembar....
...22, 12, 20xx...
...Ayamu°...
...📄...
"Hiks...."
"Hikk...."
"Abang, kenapa pergi secepat ini? Si kembar belum lahir bang, kasian mbak Aurra juga."
Lirih kecil dibarengi rintihan tersebut.
"Husstt, gak boleh begitu. Sebaiknya kita doakan bang Van'ar biar tenang di sana."
Ujar suara lembut tersebut memberi support.
"Tapi, Lunar belum percaya abang pergi secepat ini." Salma-nenek Lunar itu mencoba berulang kali menenangkan cucunya.
Ia tahu Lunar sedih, ia pun sama. Semua orang di sini sedih dan tak percaya dengan kenyataan pahit ini. Berulang kali, Arkia bahkan bertanya tentang kebenaran kenyataan pahit ini. Berulang kali pula, Arkia jatuh pingsan saat di jelaskan tetang kronologi penemuan mayat korban yang diidentifikasi sebagai putranya.
Tim SAR yang menemukan korban, bahkan menemukan sepucuk surat di saku ransel yang dikenakan korban lengkap dengan selembar fhoto USG hitam putih. Arkia tak tahu harus bagaimana lagì, intinya kenyataan ini terlalu pahit untuknya. Ezka-kembaran Kia bahkan sudah berulang kali menenangkan kembaranya. Memberinya support-agar mau mengikhlaskan kepergian putranya. Vano juga tak kalah kacaunya. Pria paruh baya itu, sedari tadi hanya diam termenung sambil memeluk istri tersintanya.
Maut terasa datang begitu tiba tiba, memanggil putranya. Padahal, Allah sendiri sudah mengingatkan jika jodoh, rezeki dan maut merupakan rahasia-Nya.Tetapi tak dapat dipungkiri, semuanya terasa datang tiba-tiba membawa duka. Salah satu bagian dari hidupnya harus direnggut secara na'as. Bahkan, calon bapak muda itu belum sempat melihat kedua buah hatinya lahir kedunia.
"Adikku gak mungkin pergi secepat ini bukan?"
Lirih pria tampan yang tengah memijat pelipisnya tersebut.
Usapan lembut di bahunya, membuatnya menoleh. Mendapati sebuah senyuman hangat, yang senantiasa menjadi penyemangatnya.
"Adikku, masih hidup kan?" Tanyanya.
"Dia cuma tidur kan Ra, dia cuma tidur sebentar." Tanyanya lagi.
Airra menggeleng kecil, ia tahu kekasihnya ini masih shok dan belum bisa menerima kenyataan. Bagaimanapun juga, semua ini terasa sangat mengejutkan bagi semua orang termasuk Airra. Apalagi, selama ini dirinya belum pernah bertemu secara langsung dengan Van'ar-adik kekasihnya. Pernah pun melihat, hanya sebatas fhoto.
Kini semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga, mansion Radityan. Semua orang cemas juga risau menunggu hasil dari rumah sakit. Keseluruhan korban telah ditemukan, bersamaan dengan kotak hitam pesawat. Untuk saat ini, ada empat kurang lebihnya. Mayat yang masih belum bisa di identifikasi, tapi dari keempat itu salah satunya di konfirmasi merupakan sang BigLear. Berhubung, ditemukan beberapa barang pribadi milik sang Big leader.
Semua orang sedih, tentu saja. Tak menyangka, jika orang yang mereka sayangi akan berpulang secepat ini. Namun apa boleh dikata, semuanya sudah kehendak dari-Nya.
Derrtt
Derrtt
__ADS_1
"Mas, angkat dulu telponenya. Takut penting."
Ujar Airra, yang masih setia mendampingi sang kekasih.
"Mas, ayo angkat dulu. Ini dari Zega-adik Aurra kan?" Disodorkanya benda pipih tersebut kearah sang kekasih.
Airra pikir ini pasti penting, memingat ada puluhan pop up chat yang dikirimkan dari kontak Zega. Bahkan, kini sambungan telpon itu juga berulang kali berasal dari kontak yang sama.
"Mas?" Anzar mengalah, ia mengambil benda persegi tersebut. Menggeser ikon hijau diatas layarnya, lalu mendekatkanya ke arah daun telinga.
"Waalaikumsalam, ada apa?" Tanya Anzar.
Suara sambungan telpon mereka terasa kurang jelas. Suara suaranya terasa putus putus, mengingat koneksi jaringan di sana buruk.
"Ada apa, bisa kamu ulangi?" Tanya Anzar mengulang.
"Apa?" Bingung Anzar karena suara Zega masih tidak jelas didengarnya.
"Bisa kamu ulangi Kai?" Tanya Anzar sambil berlalu menuju luar mansion.
".....mbak Aurra, tidak ada di posko darurat?!"
"Apa?!" Kaget Anzar.
"Lalu, di mana Aurra sekarang?" Tanya Anzar risau, pasalnya keadaan disana tidak menjamin baik untuk seorang ibu hamil.
"Mbak Aurra-ada di titik pusat bencana."
Deg
"A-aurra sedang apa di tempat bahaya seperti itu?!" Tanyanya kaget.
"Mbak Aurra nekad ikut jadi tim medis sukarela, yang membantu di sana dan-"
Tut**
Tut**
Tut**
"Hallo, Kai?!" Namun nihil, sambungan telponenya sudah terputus sebelah pihak. Sepertinya karena koneksi yang buruk disana.
Anzar benar benar bingung sekarang. Adiknya telah berpulang dengan keadaan na'as. Kini istrinya tengah berada ditempat yang berbahaya. Bagaimanapun juga, sebagai seorang kakak sudah sepatutnya, jika Anzar menjaga adik ipar dan calon keponakanya jika Van'ar tengah tidak bisa melaksanakan tugasnya. Sekarang, apa yang harus dilakukanya?
Keadaan dirumahnya kacau, sekarang ditambah keadaan adik iparnya yang terancam di timur negri sana.
🌳🌳
Pusat bencana alam yang terjadi, adalah tempat terparah yang semua aktivitas mahluk penghuninya lumpuh total. Perumahan warga banyak yang hancur, banyak warga yang kehilangan tempat tinggalnya. Banyak pula, sebagian dari mereka yang menjadi korban.Ada yang hanyut terbawa arus banjir bandang, ada juga yang tertimbun material longsoran atau tertimbun material bangun yang runtuh saat ada banjir bandang tiba-tiba.
Semua warga juga pihak yang berwajib, berjibaku membantu mengevakuasi korban dengan alat bantu seadanya. Keadaan yang memutus jalur penghubung, membuat sulitnya bantuan untuk tersalurkan hingga ke TKP. Sambil berjalan tergesa gesa diatas reruntuhan bangun rumah, wanita berhijab syar'i itu membawa kotak obat yang disampirkan di bahunya. Ada juga beberapa keperluan lainya yang ada diransel kecil yang di bawanya.
Ia membantu dengan cara turun tangan sendiri ke TKP secara langsung. Mengobati para korban yang terkena luka ringan, sedang hingga parah. Teriknya mentari, tak menyurutkan niatnya. Air bah sisa banjir bandan yang menelan banyak korban itu, kini sudah mulai menyisakan genangan kecil. Sisa sisa material berupa bangunan, tanah lumpur, dan pepohonan yang dibawa bersamaan dengan air, kini meratakan satu kampung. Semua orang berjibaku, membantu mencari korban yang masih hilang atau tertimbun material bangunan.
Seperti saat ini, satu keluarga yang terdiri dari empat anggota tengah menunggu sambil menangisi dua anggota keluarga mereka yang masih tertimbun di rumah mereka yang hamcur karena banjir. Semua tim SAR tengah berjibaku menolong korban, bekerjasama dengan para aparat yang ada ditempat seperti TNI dan Polisi. Semuanya bekerja sama, membàntu membebaskan korban dengan alat bantu seadanya.
"Tim medis! Korban butuh pertolongan." Teriak salah seorang pria yang membantu mengeluarkan korban.
Dengan sigap, Aurra berjalan cepat kearah kerumunan orang orang tersebut. Menyimpan ransel berisi obat obatan miliknya.
"Tolong beri ruang untuk korban. Korban mengalami sesak napas." Ujar Aurra memberi intruksi, yang langsung di dengarkan oleh semua orang yang ada di sana.
Pria berusia sekitaran 56 tahun tersebut, sudah tertimbun direruntuhan rumahnya selama 12 jam. Setelah dilakukan evakuasi selama 3 jam lamanya,korban akhirnya bisa diselamatkan.
"Dokter, korban mengalami sesak nafas." Ujar salah seorang mahasiswa kesehatan yang ikut menjadi relawan. Kini-mahasiswa itu membantu Aurra memberikan pertolongan pertama untuk korban.
"Kita harus bantu dengan memberikan tindakan pertolongan pertama." Ujar Aurra-saat melihat korbanya kesulitan bernapas. Bersamaan dengan itu tabung oksigen yang di peruntukan untuk para korban telah habis. Jadi, bagaimanapun caranya Aurra harus membantu pernapasan korban dengan cara yang biasa atau tradisional.
"Bapak, bisa dengar saya?" Tanya Aurra yang hanya di beri respon kedipan mata.
"Kalau bapak bisa dengar saya, coba untuk bernapas secara teratur. Bisa bapak?" Aurra memberinya intruksi secara pelan, sambil memperhatikan laju deru napas korban.
Kemungkinan besarnya, korban hampir kehabisan di tempatnya tertimbun. Seseorang bisa meninggal karena kekurang oksigen yang memasok keparu paru dan seluruh organ vital lainya. Biasanya keadaan itu bisa di sebut mati lemas. Keadaan saat tubuh kita kekurangan oksigen, sehingga membuat kinerja beberapa organ terganggu secara fungsional.
__ADS_1
"Dokter, korban tidak bernafas. Nadinya lemah." Ujar mahasiswi tersebut mulai risau.
"Dokter, denyut nadi korban sudah tidak ada."
Aurra tahu, tanpa banyak kata ia harus mengatakan kenyataan pahit ini.
Korban yang sudah dinyatakan hilang sejak 12 jam yang lalu, harus meninggal karena sesak nafas. Aurra menduga, ada komplikasi di paru-paru korban, sehingga menimbulkan kematian. Padahal korban tidak memiliki luka fisik yang nampak serius diseluruh anggota badanya. Seperti dugaan diawalnya, korban mengalami gangguan fungsi pàru-paru.
"Innalilahi wainnalilaji roji'un." Ujar Aurra sambil mengusap sejenak wajah koban yang telah berpulang.
"TIDAKK, BAPAK TIDAK PERGI KEMANA MANA!!" teriak wanita paruh baya yang merupakan istri korban.
Semua orang di sana menunddukan kepalanya sejenak, sebagai tanda penghormatan kepada mereka yang telah berpulang.
"TIDAK! KAU PASTI SALAH PERIKSA IBU DOKTER?!" Ujarnya tak terima.
"Maaf ibu, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tuhan sudah berkehendak lain." Tutur Aurra.
Wanita paruh baya yang tengah menangis, di peluk putrinya itu memberontak. Mendekati Aurra dengan air mata mengalir dan ketidak percayaan.
"KAU PASTI SALAH DUGA, DIA TAK APA APA!"
ujarnya emosi.
Aurra hanya bisa menunduk kecil. Kematian memang hal yang tak terduga. Semuanya merupakab kehendak-Nya juga misteri-Nya. Sebagai mahluknya, kita hanya bisa menerima ketentuan-Nya dengan lapang dada.
"Maaf ibu, tapi bapak sudah berpulang." Ujar Aurra
"TIDAK, BISA BISANYA KAU BILANG BEGITU."
Ujar ibu tersembut marah, sambil mendorong Aurra.
Aurra yang tidak siap dengan dorongan tiba tiba itu, membuat tubuhnya terhuyung kebelakang.
"Dokter Aurra?!"
BRUG
"Astagfirullah haladzim." Lirih wanita hamil tersebut, sambil mengelus perut buncitnya. Berharap jika dua nyawa di sana terlindungi dan baik baik saja.
"A-nda baik baik saja dokter?" Tanya mahasiswa tadi-yang bernama Sisi tersebut. Sisi terlihat sangat khawatir, beberapa orang juga nampak prihatin melihat Aurra yang mendapatkan tindakan kurang sedap tersebut.
"Ahk."
Ringis Aurra tak tertahankan, saat perutnya dililit rasa sakit. Bayi bayinya bergerak tak karuan, menambah nyeri dinding peritnya.
"A-ada apa, apa perut anda sakit dokter?"
Tanya Sisi cemas.
Beberapa pria yang berdiri di sana mulai mendatangi. Melihat keadaan dokter yang tengah hamil tersebut, untuk memberikan bantuan. Sedangkan si ibu yang mengamuk tadi,sudah di tangani dan di bawa bersama jasad suaminya.
"Ahk." Ringis Aurra, saat rasa sakit itu mulai kembali merengguh pertahananya.
Bayi bayinya, Aurra hanya cemas akan keadaan mereka. Sambil memeluk perutnya sendiri, Aurra berdoa didalam hati demi keselamat buah hatinya. Hingga kesadaranya terenggut sekalipun, bibirnya tak henti hentinya bergumam. Sayup sayup, ia bisa mendengar namanya dipanggil berulang kali.
"Aurra..."
"Aurra..."
"Dek?!"
○●○●○
Hallo guys😊😊
Update lagi nih😊😊 Maaf ya, baru update. MAS juga belum bisa update dua hari ini. Maaf juga, yang nyari di GC belum tak balas, aku lagi bayak urusan didunia nyata. Maaf ya🙏🙏
Ok, jangan lupa like, komen dan vote ya😊😊
sampai jumpa besok ya😊😊
Sukabumi 29 Juni 2020
__ADS_1
13.18