Cakrawala

Cakrawala
Episode 9


__ADS_3

Menjalankan perintah, gue mengajak Khanza berkeliling barak dan menunjukkan tempat untuknya beristirahat. Tidak ada yang spesial dari markas ini. Bahkan gue jamin, kamar yang ditempain Khanza saat ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kamarnya di Jakarta. Terlebih lagi, dia harus berbagi kamar dengan mbak Egi, bodyguardnya.


 


"Kamar mandinya di mana?"


 


"Di luar" jawab gue singkat.


 


"Hah? Nggak ada kamar mandi dalem?"


 


Gue menggeleng, "Ini bukan di Jakarta bu dokter"


 


"Ya kali gue pake kamar mandi di luar. Trus gantian sama cowok-cowok gitu?"


 


"Untuk kamar mandi perempuan ada di klinik. Karena lebih banyak jumlah lelaki di sini jadi hanya kamar mandi yang di klinik yang dipakai perempuan"


 


Khanza memutar bola matanya kesal.


 


"Mesin cuci?"


 


"Hanya ada satu. Itupun sering macet karena mesinnya sudah tua. Bisanya kami lebih memilih mencuci baju di sumur."


 


"Pake tangan?"


 


"Bukan. Pakai mulut" jawab gue sarkas.


 

__ADS_1


"Pa an sih. Ditanyain bener-bener juga"


 


"Ya mau pakai apa lagi kalau bukan tangan, bu dokter. Jadi begini ya bu dokter, di sini bukan Jakarta. Nggak ada mall, nggak ada laundry, nggak ada cafe. Kanan hutan kiri hutan. Listrik mati sudah biasa. Sinyal hilang timbul. Bahkan kadang-kadang ular masuk tanpa permisi"


 


"Hah? Ular?"


 


"Nggak cuma ular. Kadang malah babi hutan, kalajengking, lintah.."


 


"Stop. Nggak usah disebutin lagi. Gue pusing dengernya. Sekarang lo periksa kamar gue. Pastikan kamar gue bersih dan nggak ada makhluk-makluk kayak yang lo sebutin tadi!"


 


Gue tertawa geli, "Tenang. Kamar lo udah dibersihin. Jadi di jamin nggak bakalan ada apa-apa"


 


Gue melangkah ke dalam kamarnya, membuka jendela kayu yang menghalangi masuknya sinar matahari. Kamar itu menjadi terlihat lebih terang dari sebelumnya.


 


 


Khanza berjalan mendekati gue yang berdiri di dekat jendela. Dia menghadapkan wajahnya keluar. Menikmati pemandangan pegunungan hijau yang tersaji nyata di depannya. Hal yang tidak bisa dia jumpai di Jakarta.


 


Gadis itu menghirup dalam-dalam udara segar di pucuk bukit ini. Memanjakan matanya dengan nyiur hijau yang membentang sejauh mata memandang.


 


"Nggak inget lagi kapan terakhir kali gue lihat pemandangan kayak gini" curhatnya tiba-tiba.


 


"Lo belum tau aja di luar sana. Banyak tempat-tempat yang bahkan lebih menawan dari pada di sini."


 


"Oh ya?"

__ADS_1


 


"Lo pernah ke Bali kan? Bali, Lombok, Nusa Tenggara, semua berada pada gugusan pulau yang sama. Ya, kurang lebih kayak gitulah nuansanya"


 


"Beneran? Pokoknya lo harus ajak gue ngedate keliling pulau ntar"


 


Hah? Apa? Ngedate? Bikin gue salah tingkah aja.


 


"Saya di sini kerja bu dokter"


 


"Bodo. Kalau nggak mau gue cium nih. Mau?"


 


Gue cuma kedip-kedip. Mau nolak mubadzir, mau iya-in gengsi. Tuh kan, gue diketawain bu dokter lagi. Emang paling hobi dia bikin gue salah tingkah kayak gini.


 


Tapi senyum gadis itu luntur seketika melihat pemandangan yang ditangkap kedua matanya. Di balik jendela terpampanglah dua sejoli yang sedang asyik melumat bibir satu sama lain. Buat gue ini pemandangan biasa, tapi ekpresi jijik terpahat jelas di wajah Khanza.


 


"Mereka berdua pacaran?" tanya gadis itu ke gue begitu mengalihkan matanya dari Satriya dan Talitha yang sedang mencumbu satu sama lain.


 


Gue mengangguk, "Lo udah lama kenal Talitha?"


 


"Nggak usah dibahas. Bikin muak aja. Bagus deh kalau dia pacaran sama mama boy itu."


 


"Hah? Mama boy? Maksudnya... Pak Satriya?" tanya gue keheranan. Ya masak yang dipanggil 'boy' Talitha, nggak mungkin kan. "Lo kenal pak Satriya?"


 


"Eh.. apa? Ah, enggak. Enggak kok"

__ADS_1


 


Entah mengapa gue merasa jawabannya sangat bertolak belakang dengan gelagat di raut wajahnya.


__ADS_2